
Erina yang geram, menantang Samael untuk berduel. Sedangkan yang lainnya sedang terluka dan sulit bertarung.
"Erina, tolong jangan gegabah!", pinta Asmodeus yang berdiri sambil memegang lengannya yang terluka.
"Kau istirahat saja Mo! biar aku yang mengurus ini", ucap Erina dengan nada tenang.
"Haha..kau begitu yakin nona muda, aku tahu kau siapa dan latar belakangmu, tapi itu takkan cukup kuat untuk melawan seorang Ressurected Archangel seperti aku".
"Coba saja, malaikat palsu!".
"Apa!?", Samael menjadi geram.
Erina dan Samael sama - sama mulai mengeluarkan kuda - kudanya dan saling menatap dengan serius.
"Sial, luka karena meteor ini tak bisa sembuh dengan mudah", keluh Damien.
"Iya, ini karena meteor itu mengandung kekuatan Archangel", ucap Succubus.
Samael mengeluarkan tombaknya, dan mulai menyerang Erina lebih dulu.
Erina mampu menahan serangannya dengan mengeraskan bagian tubuhnya, lalu balas memukulnya, meskipun kekuatannya tak seberapa.
Samael mulai memahami kekuatan Erina, Ia pun menggunakan kecepatannya untuk menyerangnya.
Ia tahu unsur cahaya tak begitu berpengaruh karena Erina memiliki unsur tanah lebih dominan, makanya Ia menggunakan serangan fisik.
Erina kewalahan menahan serangan Samael, tubuhnya mulai luka - luka.
"Erina! panggil bantuan seperti biasanya!", teriak Damien.
"Tidak! aku akan menyesaikannya sendiri!".
"Akh..kenapa dia jadi keras kepala begitu?".
Samael tersenyum, "Kau tahu ya bahwa kau tidak bisa memanggil bantuan karena aku sudah membuat penghalang dimensi?".
"Aku gak tahu, aku hanya ingin segera membereskan ini agar teman - temanku bisa kembali".
'Sraak', Erina tersungkur, perutnya terkena serangan telak dari Samael.
"Padahal aku belum memakai sepuluh persen kekuatanku lho".
"Hei malaikat gadungan!", teriak Clara dari kejauhan.
Samael yang kesal dengan sebutan itu, langsung menyerang Clara dengan serangan tombak.
Namun, itu tembus pandang.
"Hei, disini bodoh!", Clara berada di tempat yang berbeda lagi.
Tombaknya dilempar lagi dan menembus lagi.
Rupanya Clara memakai kemampuan yang Ia dapatkan dari Wukong untuk mengalihkan perhatian Samael.
"Hmm..kau mau mencoba membodohiku rupanya, manusia rendahan".
Ketika Samael teralihkan, Damien bersama Succubus yang terluka mengambil kesempatan untuk menyerangnya.
Tak seberapa hasilnya, mereka berdua langsung dipentalkan menggunakan hempasan energi, dan Clara pun ikut terkena.
"Ahahahaha...makhluk - makhluk bodoh, kalian pikir bisa melawanku dengan kekuatan yang hanya segitu?".
Saat selesai tertawa, Samael menyadari di perutnya ada sebilah pedang yang merah membara.
Asmodeus yang menusuknya.
Samael pun terlihat sempoyongan, area yang tertusuk mulai nampak menghitam.
Namun tiba - tiba, "Huahahahaha..".
Ia tertawa sambil berpose, dan pedang itupun terlepas jatuh dari perutnya, lukanya kembali tertutup dengan sempurna.
"Bahkan, sekelas petinggi neraka pun sudah tidak mampu", Samael mendekati Asmodeus yang berlutut.
Tangan Samael mengeluarkan sebilah pedang yang bercahaya kuning.
Saatnya, mengakhiri kedudukanmu Asmodeus.
'Slashh..', dalam sekejap kepala Asmodeus terpenggal dan terjatuh ke lantai.
"Ahahahahaha..segini saja? ahahahaha...".
Semua yang ada di ruangan tersentak tak mampu berkata - kata, hanya shock melihat situasi yang terjadi.
Sang uskup pun ikut tertawa.
Mata Erina terbelalak, semua suara tak terdengar lagi di telinganya, semua cahaya jadi buram di matanya.
Jantungnya berdegup tak beraturan.
Kemarahan dan kesedihan, semua perasaannya menjadi satu dan mengambil alih kesadarannya.
Erina pun berubah menjadi sosok titan yang mengamuk, "Rrraaaaaaaaaaarrrghh..."
Samael cukup terkejut dengan sosok itu.
Damien, Succubus, Clara dan Pak Uwo berkumpul bersama dengan keadaan yang penuh luka, mereka berlindung karena takut dengan amukan Erina.
"Kita hanya bisa berharap ini akan menjadi penyelesaiannya".
Erina mengambil sang uskup dengan tangan besarnya, lalu meremasnya hingga hancur.
"Kau..sebenarnya apa kau ini?", tanya Samael heran.
"Tidak penting aku apa, pikirkan saja tentang kehancuranmu".
Erina pun menyerang Samael dengan brutal.
Serangan demi serangan Samael tak mempan padanya, sehingga Ia pun mulai kewalahan.
Namun ketika merasa mulai terdesak, Samael mengeluarkan sebuah kristal ungu kecil, Ia letakkan di keningnya.
Kristal itu mulai bercahaya, dan perlahan tubuhnya mulai berubah bentuk, menjadi makhluk setengah malaikat setengah iblis.
"Ayolah, kita akhiri saja semua ini, berdamai dan kau bisa menghapus segala dosamu selama ini", Samael berbicara dengan suara yang lembut dari sisi malaikatnya.
Erina terdiam sesaat, lalu menundukkan kepalanya.
Samael mendekat perlahan dengan aura penuh kebaikan.
'BUAAKK!' Erina melayangkan tinjunya ke perut Samael.
"Aku tak perlu pengampunan darimu".
Diliputi kemarahan yang memuncak, Erina meninju Samael berkali - kali tanpa melihat sekeliling.
"Tu..tunggu!", Samael memohon.
'Buak..buak..buak'
Erina tak memberinya kesempatan.
Saat terdesak, Samael melebarkan sayapnya.
Sayap malaikat dan iblisnya.
Ia terbang tinggi menembus langit - langit.
"Haah..sudah jauh, sepertinya aman disini", pikir Samael.
Dalam hitungan detik, Erina sudah di depannya, terbang tanpa sayap.
"Ah..kau!?".
Samael dihajar habis diatas langit, kemudian dipukul sangat kuat hingga menghujam tanah layaknya meteor.
Samael tak mampu bergerak lagi, pandangannya mulai kabur.
Erina mendekat perlahan.
Asmodeus dan yang lainnya juga mendekat, Ia merasakan aura yang keluar dari tubuh Samael sudah sangat lemah.
"Samael, apa kau tahu apa kelemahan dari makhluk yang baru saja dibangkitkan?", tanya Damien.
"Tidak....yang baru saja dibangkitkan tak memiliki kelemahan", jawab Samael yang sudah sulit bicara.
"Salah, mereka sangat rentan seperti bayi".
Erina menginjak kepala Samael hingga hancur.
Muncul cahaya berwarna ungu gelap yang keluar dari jasad Samael, dan masuk ke tubuh Erina.
Erina kembali ke wujudnya semula dan langsung menangis.
Succubus menghampirinya dan memberinya pakaian.
"Ke..kenapa? kenapa tempat ini sangat menyebalkan?..huuaaa.."
Succubus memeluk Erina, semua yang tersisa sangat berduka ditengah kekacauan ini.
Tak diduga, pria misterius muncul di hadapan mereka.
"Wow, aku tak menyangka kalian bisa menyapu bersih lantai ini, padahal sebagian besar orang pasti gagal disini".
Semua orang tak ada yang memperhatikan pria misterius, padahal Ia akan menyampaikan informasi yang penting.
"Di lantai berikutnya, kalian tidak akan melawan siapa - siapa, melainkan bisa memilih akan membangkitkan siapa, rekan kalian yang gugur dalam perjalanan ini".
"APA!?", semuanya terkejut.
"Berapa orang yang bisa dibangkitkan?", Succubus langsung antusias dan menarik kerah pria itu.
"Kalau itu aku tidak tahu, itu hal yang ditentukan oleh petinggi lantai enam".
"Sebenarnya ada berapa lantai menara ini?"
"Kalian sudah sangat mendekati akhirnya, lantai terakhir adalah lantai tujuh".
Semuanya saling menatap.
"Baiknya disini kalian pikirkan baik - baik siapa yang akan dibangkitkan nanti, karena nanti disana akan diberikan batas waktu untuk menentukannya".
"Baiklah".
Pria itu menghilang.
"Sue, terlalu banyak yang sudah gugur, aku tak tahu harus bagaimana".
"Iya, apalagi kalau cuma bisa satu orang saja".
"Aku ingin mengembalikan semuanya".
"Pilihlah orang yang benar - benar berharga bagimu".
"Semua orang berharga bagiku".
Erina, Succubus, Damien, Clara dan Pak Uwo pun berdiam disana untuk beberapa saat untuk menenangkan diri.