
Di lantai ketujuh nampak seperti aula besar dengan langit - langit yang teramat tinggi, lalu ada benda berbentuk persegi berada di tengah - tengahnya, ukurannya sebesar tubuh manusia biasa.
Dari seluruh lantai di menara ini, lantai inilah yang paling bagus dan mewah, namun auranya terasa sangat berat.
Tiba - tiba lantainya bergetar seolah ada gempa.
Namun itu adalah langkah kaki.
Langkah kaki dari sesuatu yang amat besar.
"Salam sejahtera wahai manusia, dan makhluk tuhan yang lainnya", terdengar suara besar yang menggema di seluruh ruangan.
Suara itu terdengar sangat lembut dan menenangkan hati.
Sesosok raksasa setinggi tiga puluh meter muncul dari balik kegelapan.
Succubus, Clara, dan Leiva sangat terkejut sehingga mereka refleks langsung berpelukan dan Erina di tengah - tengahnya tak berekspresi.
Damien berada dalam posisi siaga, Ia belum pernah melihat makhluk berukuran sebesar itu. Bahkan Satan, raja iblis yang berukuran titan tak sampai sebesar itu.
Damien memberanikan diri untuk menjawab, "Salam sejahtera untukmu wahai Adam".
Clara terlihat cukup terkejut, "A..anda adalah Adam sang manusia pertama?"
"Ya, begitulah adanya", jawab Adam.
Sosok Adam adalah seorang pria timur tengah paruh baya, dengan pakaian seperti kain zaman dahulu.
"Jadi...selamat sudah bisa sampai kesini, ini adalah kelompok paling ramai yang pernah datang kesini"
"Sebelumnya aku ingin bertanya, apa niat awal kalian semua untuk datang kesini?"
Damien maju ke hadapan Adam.
"Wahai Adam, aku mewakili kelompok ini sebagai juru bicara, namaku Damien Cordova, malaikat maut dan juga pelindung".
"Baik, silahkan dilanjutkan saudara Damien".
"Sebenarnya kami kesini membantu nona Erina Muriella, untuk menetralisir kekuatan yang telah dilimpahkan kepadanya".
"Hmm..sangat menarik, belum ada yang pernah melakukan itu sebelumnya".
"Ah begitukah? tapi apa hal itu mungkin dilakukan?".
"Tentu saja! apapun mungkin di aula kekuatan, disini bersemayam segala macam kekuatan dari berbagai lapisan dimensi".
"Jadi..kekuatannya nanti akan disimpan di kristal - kristal ini?"
"Iya, tapi tergantung kapasitasnya, kalau tak bisa disimpan dalam kristal, akan langsung disalurkan kembali ke alam, demi kelangsungan hidup planet ini".
Damien melihat ekspresi Erina yang datar, tatapannya benar - benar ksosong.
"Permisi wahai Adam, apakah seorang iblis juga boleh mengajukan pertanyaan?", tanya Succubus.
"Disini semua makhluk ciptaanNYA adalah sama".
"Apakah...ehmm..kami yang berhasil sampai disini, bisa mendapatkan kekuatan juga?".
"Tentu saja, semua yang berhasil sampai kesini memiliki hak yang sama yaitu boleh mendapatkan satu kekuatan".
Semua orang kecuali Erina saling bertatapan, itu adalah hal yang baru mereka ketahui, karena mereka pikir hanya Erina yang berhak atas itu.
"Tapi..apakah ada persyaratannya?".
"Hahaha..iya, starat dan ketentuan berlaku. Apa kalian siap untuk mendengarkannya?".
Semuanya mengangguk.
"Oke, berikut ini syarat dan ketentuannya".
1. Semua jenis makhluk yang sampai di lantai
ketujuh menara kekuatan, berhak
mendapatkan kekuatan yang diinginkan.
2. Kekuatan yang dipilih bergantung kepada
ketersediaan. Jika yang dipilih tidak tersedia
maka akan diberikan yang paling mendekati.
3. Bagi insan yang sudah terlanjur membuat
perjanjian untuk menara, tidak dapat memiliki
kekuatan.
4. Kekuatan untuk menguasai dunia dan
membangkitkan orang mati tidak dapat
dimiliki.
5. Level kekuatan yang diberikan akan
disesuaikan dengan alam tempat tinggal
masing - masing.
6. Kekuatan yang didapat tidak akan langsung
dapat dipakai, namun membutuhkan
pelatihan agar dapat dikuasai dengan baik.
7. Bagi insan yang ingin mentetralisir
kekuatannya, akan diberikan satu permintaan
apapun selain permintaan kekuatan.
"Nah, siapa yang ingin lebih dulu?", Adam bertanya.
Erina menatap Leiva lalu tersenyum, "Leiva, majulah lebih dahulu, sudah sepantasnya kau mendapatkan sesuatu dari sini".
"Be..benarkah? aku boleh?", Leiva terlihat ragu - ragu.
"Kemarilah nak, berbaring disini. Tak ada yang akan menyakitimu", ucap Adam.
Leiva pun berbaring di atas altar yang terbuat dari batu putih yang halus.
"Leivana Evalora, putri dari seorang petani Roviolo. Hei..ayahmu dulu pernah mendapatkan kekuatan disini. Apa kau mengetahuinya?".
"Iya aku tahu".
"Apa kau tahu jenis kekuatannya?".
"Tidak, aku tidak mau tahu, yang pasti Ia meninggalkan kami begitu saja setelah mendapatkan kekuatannya".
"Hmm..begitu ya..sangat disayangkan".
"Aku..tidak ingin seperti dia, aku ingin menjadi kuat dan bisa membangun desa dan juga klan Roviolo menjadi lebih maju".
"Jadi... yang kau inginkan adalah?"
"Kemampuan untuk bisa memajukan peradaban".
Erina dan yang lainnya cukup terpana dengan jawaban Leiva.
"Baiklah itu mungkin, sekarang tutup matamu!, ah tapi sebelumnya, kau bisa mengucapkan selamat tinggal kepada rekan - rekanmu dulu".
"Jadi kita semua akan berpisah disini?", tanya Leiva seraya turun dari batu tersebut.
Ia langsung berlari lalu memeluk Erina dengan sangat erat hingga menangis.
"Kak...terima kasih, terima kasih banyak untuk semuanya".
"Ngg..nggak..aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau bantu kita sampai sejauh ini, bahkan sampai kehilangan saudaramu".
"Aku yakin Varlo sudah tenang di sisi lain".
"Sekarang, pergunakanlah kekuatanmu dengan bijak ya, jadilah pemimpin yang didambakan semua orang".
"Pasti! aku pasti akan membuat semua lebih baik, ini juga berkat kak Erina dan yang lainnya".
Leiva pun memeluk Succubus, Damien, dan Clara.
"Selamat tinggal kakak - kakak semua, semoga kita ketemu lagi suatu hari nanti", Ia melambaikan tangan sambil naik keatas altar batu.
Leiva menutup matanya kemudian dari atasnya muncul sebuah kristal raksasa berwarna indigo yang berada di dalam sebuah silinder, dan silinder itu menyalurkan cahaya silau yang dikeluarkan oleh kristal tersebut.
"Aaaaakkkhh...", Leiva terlihat menggeliat seperti kesakitan.
Setelah beberapa menit, Ia kehilangan kesadarannya, kristalnya bergeser dan terbuka sebuah lubang di atap ruangan itu.
Tubuh Leiva terangkat perlahan lalu menghilang dari tempat itu.
"Wahai adam, apa Ia sudah kembali ke tempat yang semestinya?", tanya Erina.
Adam mengangguk sambil tersenyum.
"Baik, yang berikutnya".
Erina menepuk pundak Clara, "Clar...lo duluan ya".
"Oke, toh ini semua gue anggep cuma mimpi", tanpa ragu Clara naik keatas altar.
"Makasih ya Clar udah mau dateng dan bantuin gue".
"Sama - sama Na, itung - itung gue liburan, meskipun tempatnya aneh gini".
"Nah..Clara Natalia Soebagja, anak dari seorang pengusaha di Jakarta Selatan. Apa yang kau inginkan?", tanya Adam.
"Saya ingin memiliki kemampuan untuk menjadi wanita yang paling sabar, tangguh dan bisa membahagiakan anak dan suami saya sampai akhir hayat".
"Permintaan yang sangat manusiawi"
"Iya itu sudah cukup buat saya, oh iya sama kalau bisa, saya balik ke saat sebelum pergi ya, jadi suami saya gak sadar kalau saya pergi".
"Itu mudah"
"Bye Clara", ucap semuanya.
"Oh sebentar, Erina!"
"Kenapa?"
"Gue doain semoga lo ketemu sama jodoh yang baik ya".
Erina tersenyum, "Makasih ya Clar".
Clara pun memejamkan matanya dan disinari kristal, lalu pergi menghilang dari ruangan itu juga.
Mereka tinggal bertiga.
Erina menatap Succubus, "Sue, mau duluan?".
"Eh..eng..enggak, Damien aja duluan".
"Lah kok aku!? kau aja".
"Nggak, kau aja".
"Aku, ingin menyaksikan prosesi Erina", ucap Damien.
"Nggak Dam, aku berencana untuk jadi yang terakhir, so..kalian duluan aja gak masalah", ucap Erina.
Wajah Succubus terlihat gelisah, Ia menggaruk kepalanya seperti orang yang bingung.
"Kau kenapa Sue?", tanya Erina.
"Se..sebenarnya..akulah yang akan melihat prosesi Erina".
Erina jadi bingung, "Kenapa memangnya?".
"Karena Ia akan tetap disini", ucap Adam.
"Hahh!? maksudnya?".
"Saudari Succubus Marionetta telah membuat perjanjian untuk mengabdikan diri pada menara kekuatan ini".
"Apa!? kok bisa? kapan? kenapa kau ngelakuin itu?"
"Sebenarnya....waktu aku naik perahu sendirian itu...aku bertemu dengan seseorang, dan dia menawarkan kalau aku ingin kekuatanku kembali, aku harus tinggal dan mengabdikan diri disini".
"Oh my god..ja..jadi, kau bakal stuck disini? nggak bisa ke akhirat, nggak bisa ke bumi? bahkan ke neraka?".
Succubus mengangguk pelan.
Erina merasa sedih.
"Kukira..kita bakal ketemu lagi Sue, kau adalah sahabatku yang paling baik".
"Aku..yakin kita bisa ketemu lagi suatu saat nanti".
Succubus dan Erina berpelukan sambil menangis.
"Maaf karena gak bisa membantumu banyak, dan kau telah kehilangan banyak hal disini".
"Kau sudah lebih dari membantu Sue".
Setelah melepaskan pelukan Succubus, Erina memeluk Damien.
"Dam, kita yang paling awal ketemu".
"Iya, rasanya udah lama banget ya, semua karena sabit sewaan itu".
"Kurasa semua karena takdir".
"Benar sih".
"Kau adalah orang paling berani yang kukenal, maaf kalau awal - awal aku banyak menyusahkanmu, bahkan kau sampai kehilangan pekerjaan gara - gara aku".
"Aku rela kok, karena kau adalah cinta pertamaku, ah maksudku 'cinta bertepuk sebelah tangan' pertamaku".
"Ahh ayolah..aku sangat menghargai perasaanmu itu kok".
Succubus yang melihat kedua orang itu merasa sangat canggung.
"Jadi, kita berpisah disini? apa kita bakal ketemu lagi?", tanya Damien.
"Mungkin saja, dan kalau ketemu lagi mungkin aku bakal suka sama kamu".
"Pasti suka sebagai sahabat".
"Belum tentu, mungkin lebih".
Wajah Damien menjadi merah.
Tanpa ragu Ia mencium bibir Erina, Erina pun menikmati momen itu, dan mereka berciuman cukup lama.
Succubus memalingkan wajahnya.
"Makasih ya, aku merasa sangat lega", ucap Damien.
"Eh tapi, kalau seandainya kau berjodoh dengan mamaku di kehidupan setelah ini, jangan sakiti dia ya!"
"Haha..Iya Na, thanks for everything ya", Damien berjalan kearah altar lalu merebahkan dirinya.
"See you on the other side Dam".
"Sue, titip Erina ya!"
Succubus mengacungkan jempolnya.
"Damien Van Hel Cordova, seorang makaikat maut dan pelindung, apa yang kau inginkan?"
"Apa? Van Hel? bukankah itu nama keluarga pemburu vampir yang terkenal?", Damien terkejut.
"Ya, apa kau tak mengetahui silsilah keluargamu sendiri?", tanya Adam.
"A..aku nggak tahu, yang kutahu aku cuma anak yatim piatu yang harus hidup sendiri".
"Hmm..yasudah, kau bisa mencaritahu soal itu nanti di kehidupan berikutnya, sekarang apa yang kau inginkan?".
"Aku ingin menjadi pria yang bisa melindungi orang yang kusayangi", ucap Damien seraya menatap Erina.
"Baiklah!".
Kristal bercahaya, dan Damien pun pergi.
Erina mendekatkan dirinya ke altar, Ia melihat ke Adam.
"Wahai Erina Muriella, keturunan ke 666 dari iblis putih, keturunan dari titan Kronos, dan pemegang kunci kekuatan bulan merah. Kau memiliki hati yang bersih, namun juga kekuatan yang begitu besar. Proses ini tidak akan singkat, dan kau juga akan mengalami perubahan besar, kuharap kau siap dengan itu".
"Aku sangat siap, wahai Adam".
"Baiklah, prosesnya akan kumulai, dan nampaknya tak ada kristal yang mampu menampung kekuatanmu, jadi...ini akan langsung disalurkan kembali ke alam".
"Sue, temani aku".
Succubus mendekat dan menemani Erina.
"Sebutkan satu hal yang menjadi permintaanmu".
"Aku...ingin terbangun dan ini semua seperti tak pernah terjadi".
Succubus sangat mengerti kenapa Erina meminta hal tersebut, karena semua yang terjadi telah begitu membingungkan dan menyakitkan baginya, dan Ia hanya ingin melupakan semuanya.
Proses pun dimulai, Erina berteriak kencang, Ia nampak begitu kesakitan, tubuhnya bercahaya warna jingga.
Succubus tak tega melihatnya.
Semua kenangan, semua wajah orang yang pernah ada di hidup Erina, semua kejadian, semua perasan, senang, sedih, kesal, bingung, takut, sakit dan cinta. Semua muncul bersamaan dan campur aduk.
Erina benar - benar melewati semua kilas balik hidupnya.
Hingga akhirnya nampak wajah - wajah.
Ayah dan ibu angkatnya
Lily
Asmodeus
Damien
Succubus
Dan semua rekan seperjalanannya
Semuanya tersenyum.
Lalu menghilang...
Semua menghilang...
Gelap...
Gelap gulita.......
Hingga Ia tersadar karena cahaya yang masuk ke matanya.
Langit - langit berwarna putih.
Selimut hijau yang lembut.
Hingga suara wanita yang terdengar dari balik pintu,
"Naa..udah bangun belum? ibu udah buatin sarapan lho ini".
"Iya bu, udah bangun kok",
Ia pun bangkit dari kasur, memegang kepalanya yang agak terasa pusing, lalu keluar kamar.
Menyambut kehidupan baru yang sudah menunggunya.
...****************...
...------END OF SEASON 1-------...
...****************...