My Heart From Hell

My Heart From Hell
Land of Banshee



Ratna membukakan gerbang untuk masuk ke tanah para astral wanita. Meskipun segan pak Uwo juga ikut masuk.


Erina mulai sadarkan diri, ia takjub saat melihat sekelilingnya, lalu merasa senang karena tempat ini terasa nyaman baginya.


Seperti pedesaan yang asri, bentuk rumah - rumahnya sederhana namun cantik. Banyak taman bunga, air terjun dan juga tempat berbelanja. Meskipun di alam baka, namun tempat ini merupakan idaman para wanita.


Sejauh mata memandang, penghuni tempat ini memang semuanya adalah wanita dengan segala wujud yang bermacam - macam.


Ada yang kurus, ada yang sebesar truk, pendek seperti kucing, dan setinggi gedung. Ada yang berwajah sangat cantik seperti miss universe, ada pula yang mengerikan seperti barong.


Pak Uwo, Lucifer dan Erina berjalan di tengah dipandu oleh Ratna, dan mereka dipandangi oleh seluruh penghuni tanah itu selayaknya parade yang sedang berlangsung.


Lucifer yang dulunya angkuh, kini menundukkan kepalanya dan memutup wajahnya karena merasa tak nyaman dengan tatapan tajam para wanita.


Beberapa di antara wanita di sana yang memang pernah menjadi korban Lucifer, berbisik satu sama lain, saling membicarakan pria yang mirip dengan orang yang mereka kenal itu.


Pak Uwo juga merasakan ketidaknyamanan yang sama, ia sangat berharap tidak bertemu dengan mantan istrinya yang sebenarnya masih ia cintai.


Lucifer berbisik kepada Erina dan pak Uwo, mengatakan agar mereka sebaiknya menyembunyikan identitas satu sama lain agar tidak terjadi kehebohan.


...----------------...


Mereka tiba di depan sebuah bangunan yang merupakan istana tempat tinggal penguasa di Land of Banshee.


"Nah kita telah sampai di istana, sekarang mari bertemu dengan yang mulia ratu", ucap Ratna.


"Perasaan saya tidak enak", ucap pak Uwo.


"Tenanglah pak, nanti akan aku temani", Erina menepuk bahu pak Uwo untuk menenangkannya.


...----------------...


Mereka bertiga masuk ke dalam istana yang elegan dengan komposisi interior berwarna hitam, putih, dan merah.


Semua penjaga disana adalah wanita, mereka memberi hormat kepada Ratna.


"Sekarang pangkatmu sudah tinggi juga ya Ratna?", tanya pak Uwo.


"Tentu, sekarang aku adalah tangan kanan ratu, menjaga gerbang hanyalah sampingan"


Pintu ruangan ratu telah terbuka, di atas singgasana terlihat seorang wanita anggun yang bertubuh tinggi, rambutnya hitam berkilau, wajahnya begitu cantik dan kulitnya halus bercahaya. Ia memakai gaun merah menyala yang panjang sampai ke lantai.


"Beri hormat kepada ratu kuntilanak merah".


Erina, Lucifer, dan pak Uwo menunduk memberi hormat kepada ratu, mengikuti Ratna.


"Yang mulia, saya membawa beberapa orang pendatang yang hendak meminta izin untuk melewati wilayah kita ini", ucap Ratna kepada sang ratu.


Sang ratu berdiri, tanpa berkata - kata, ia melayang mendekati ketiga orang itu.


Ia mendekati Lucifer, "kau! berdirilah, jelaskan siapa dirimu!"


Lucifer berdiri dengan canggung, "nama saya, Lu... Luciano, saya hanya astral biasa yang ingin melewati dunia ini untuk memasuki akhirat bersama rekan - rekan"


"Apa keperluanmu di akhirat?", tanya ratu dengan mendekatkan wajahnya.


"Sa.. saya hanya diminta membantu meredakan situasi di akhirat karena kasus yang disebabkan oleh beberapa penguasa neraka baru - baru"


"Hmm.. ya memang, pihak akhirat merekrut banyak orang untuk membantu situasi yang sangat kacau di sana, namun aku tak ingin ada orangku yang ke sana, karena kami tak ingin terlibat dengan kesalahan yang dibuat para penguasa itu"


Sang ratu mendekatkan wajahnya kembali ke Lucifer, "sepertinya wajahmu tidak asing"


"Ah, wajah saya memang pasaran yang mulia"


Sang ratu memicingkan matanya dan memasang wajah sangat curiga,


"Tidak - tidak, kau seperti petinggi neraka, kau mirip seperti Lucifer"


"Sepertinya hanya kebetulan yang mulia"


"Hmm.. apalagi, Lucifer menghilang setelah kejadian di neraka, dia pasti melarikan diri karena ia pengecut"


Lucifer hanya diam, meskipun egonya tersenggol. Ia agak merasa marah, namun tetap mencoba bersabar.


Sang ratu menuju ke arah Erina, "kamu, berdirilah! sebutkan namamu!"


"Nama saya.. Arina, saya juga hanya astral biasa yang diajak oleh saudara Luciano"


Sang ratu memperhatikan Erina dari kepala hingga kakinya.


"Kamu.. kamu cantik, kamu bisa tinggal di land of banshee jika kamu ingin"


"Te.. terima kasih untuk tawarannya yang mulia"


"Saya.. baik - baik saja"


"Tapi.. ada yang aneh, aura kehadiranmu tidak seperti astral. Apa kau roh seorang manusia?"


"Saya.. astral biasa yang mulia", Erina mulai panik.


"Baiklah kalau begitu, sekarang yang terakhir. Kau seorang genderuwo kan?", sang ratu mendekati pak Uwo.


"Benar, yang mulia", jawab pak Uwo tanpa menatap wajah sang ratu.


"Hmm.. aku seperti mengenal suaramu, kenapa kau nampak sangat tegang dan berkeringat?"


"Pfft..", Ratna menahan tawa.


"He.. kau? kau adalah?", sang ratu mulai mencurigai pak Uwo sambil berusaha menatap wajahnya.


"Iya ini saya yang mulia ratu Hilda, saya Saruwo", pak Uwo memperlihatkan wajahnya.


Lucifer dan Erina kaget, saling bertatapan lalu berbisik, "sang ratu adalah mantan istrinya!?"


"Akh..", ratu Hilda menutup mulutnya dengan tangannya, ia cukup terkejut dengan kehadiran mantan suaminya tersebut.


Hilda nampak salah tingkah, ia segera kembali ke singgasananya.


"Kau.. mau apa kau ke sini?", tanyanya seraya memalingkan wajah.


"Saya, hanya menjaga.. maksudnya saya mengikuti perintah untuk datang ke akhirat yang mulia"


Hilda terdiam.


"Ehem.. bagi seluruh penjaga di ruangan ini agar segera keluar!", perintah Ratna.


"Baik nona"


Seluruh penjaga yang berjumlah sepuluh orang segera menuruti perintahnya.


Setelah pintu tertutup, dan hanya tinggal mereka berlima di dalam


"Heeeiiii.. kenapa harus kaku banget sih!?", Ratna berbicara santai dan segera merangkul pak Uwo.


"Saya.. tak tahu kalau nyonya Hilda adalah ratunya sekarang"


"Ya memang, aku juga tak menyangka, Hilda yang dulu selalu menyangkal akan jadi ratu, sekarang malah berada di singgasana itu"


"Ratna, sebaiknya kau tak bicara macam - macam", ucap Hilda.


"Ah ayolah, sudah tak ada orang lain di sini, aku tahu kok kau kangen sama Uwo"


"HUSHH!!", wajah Hilda memerah dan ia tampak kesal pada Ratna.


"Kenapa kita tak ingat masa - masa muda kita dulu, sedikit nostalgia tak masalah kan? waktu kita masih bermain dan bergentayangan bersama, tak ada beban dan tanggung jawab, mengganggu manusia, mengerjai hewan - hewan"


"Ratna! itu adalah masa lalu, sekarang kita telah jadi bagian dari sistem pemerintahan alam baka tingkat dua, tolong ingat itu!", ucap Hilda tegas.


"Ah, begitulah Hilda sekarang, sangat kaku dan menyebalkan", Ratna mencibir.


"Yang mulia, ah bukan.. Hilda, bisakah aku menyampaikan sesuatu? tapi bukan sebagai ratu dan rakyatnya?", tanya pak Uwo.


Mendengar pernyataan pak Uwo, Ratna segera merangkul Lucifer dan Erina, "Nah yuk kita keluar dulu, biarkan mereka mendapat privasinya di sini"


Ratna beserta Erina dan Lucifer keluar ruangan, menyisakan pak Uwo dan Hilda yang sama - sama terdiam.


...----------------...


Di luar ruangan.


"Ratu Hilda cantik bangeettt.. aaah kenapa pak Uwo harus berpisah dengannya?", tanya Erina.


"Kehidupan pernikahan memang rumit, makanya aku malas menikah", jawab Ratna.


"Iya benar", tambah Lucifer.


"Jadi, kalian dulu teman main ya?"


"Iya aku dan Hilda sudah sahabatan dari kecil, lalu Saruwo muncul ke tempat ini melalui pintu belakang secara tak sengaja, lalu kami bertiga jadi dekat dan sering main bareng. Dia juga suka mengajak kami berkeliling alam baka, jadi kami bisa tahu banyak tempat"


"Hmm.. kehidupan astral memang menarik ya"


"Ha? kau bicara seolah kau bukan astral"


"Ahh.. maksudku..", Erina panik.