
"Peraturan duel ini cukup sederhana, empat lawan empat, yang bisa membuat lawan tersungkur tiga kali adalah pemenangnya, kalian bebas menggunakan kekuatan apapun, asalkan tidak keluar, atau menghancurkan tempat ini".
Ratu Hilda membacakan peraturannya.
"Bagus, empat lawan empat berarti tidak ada Rangda seperti yang dikhawatirkan Ratna", ucap Erina.
"Belum tentu, bagaimana kalau pengaturannya acak", jawab Lucifer.
"Ah benar juga, lagipula empat lawan empat, bagaimana nasib kita?"
Lucifer melangkah maju dan mengangkat tangannya di depan ratu, "yang mulia, bagaimana jika kami kekurangan orang?"
"Pilihlah siapapun yang ada di ruangan ini kalau mereka ada yang mau, kecuali Saruwo, Ratna, apalagi aku", jawab Ratu.
"Baiklah yang mulia", Lucifer melangkah mundur, lalu menoleh ke sekitarnya.
Namun hanya pandangan merendahkan yang ia dapatkan.
"Kacau ini, sudah pasti tak ada yang mau bergabung dengan kita"
"Benar, bagaimana ini papi? apa kita berdua saja sanggup? kekuatanmu ada beberapa kan?"
"Jadi tikus dan mengeluarkan akar pohon? mungkin hanya akan jadi bahan tertawaan"
"Aku juga punya pengendali raksasa, tapi tak tahu memakainya bagaimana"
"Ah, aku ada ide tentang itu!"
Lucifer membisikkan sesuatu kepada Erina, dan Erina terlihat menyetujuinya.
"Bagaimana? apa tim orang luar sudah siap?", tanya ratu.
"Ah belum, kami belum menemukan..."
"Saya akan bergabung!", terdengar suara seseorang dari balik kerumunan.
Erina dan Lucifer celingukan mencari asal suara tersebut.
Lalu muncullah seseorang bertubuh mungil, berambut pendek dan berkacamata dari balik kerumunan.
"EMILY!!!", Erina berteriak kegirangan.
Ia langsung menghampiri Erina, dan Erina segera memeluknya.
"Beruntungnya ada orang yang kukenal di sini, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik saja, sebenarnya aku baru datang jadi tak tahu apa yang terjadi, tapi karena melihatmu di sini jadi aku ingin membantu"
"Ah terima kasih Emily, kau sudah lama bereinkarnasi di sini? apa pekerjaanmu sekarang?"
"Belum lama, aku sekarang hanya bagian bersih - bersih di istana"
"Hahh.. kau kan sangat pintar, masak sih?"
"Begitulah, keadaan sudah berubah"
Lucifer mendekat dan berbisik, "ngomong - ngomong kalau boleh tahu, apa kekuatanmu sebelumnya?"
"Pengetahuan, makanya dulu aku bekerja di perpustakaan akhirat, dan menjadi penganggungjawab berkas - berkas penting"
"Lalu sekarang?"
"Aku bisa bersih - bersih dengan cepat"
Lucifer menepuk jidatnya sendiri, ia merasa kehadiran Emily mungkin tak akan banyak membantu mereka.
"Emilia, kau baru di sini kan? apa benar kau bersedia membantu mereka dalam duel ini?", sang ratu memastikan.
"Benar ratu, saya bersedia"
"Baiklah kalau begitu, bersiaplah di sudut sana. Kita akan mulai dalam beberapa menit"
Saat menunggu, Erina berulang kali berusaha untuk menatap pak Uwo, namun pak Uwo selalu memalingkan wajahnya untuk menghindar.
Ratna kemudian mendatangi mereka lagi, lalu menyuruh untuk mengambil gulungan berisi nomor yang acak.
Emily nomor satu, Erina nomor dua, dan Lucifer nomor tiga.
"A.. apa aku yang maju pertama?", tanya Emily yang mulai khawatir dengan situasinya.
"Belum tentu, karena akan dipilih secara acak nantinya", Ratna menjawab.
......................
Waktu untuk duel telah dimulai, di sudut timur ada Erina, Lucifer, dan Emily yang berdiri dengan wajah tegang.
Di sudut barat ada Ratu dengan ekspresi datar, pak Uwo yang gelisah dan Ratna yang khawatir.
Lalu muncul seorang astral berwujud kepala wanita dengan isi perut yang menjuntai, atau biasa disebut kuyang, ke tengah arena.
"Perkenalkan, namaku Arai Bakena, dan aku adalah wasit untuk perhelatan kali ini", ucap kuyang tersebut memperkenalkan diri.
Lucifer berbisik kepada Erina, "bagaimana mau jadi wasit kalau dia saja tidak punya tangan?"
"Hushh.. papi! dia pasti punya kemampuan khusus"
"Nah pertama - tama, ratu akan melemparkan dadu untuk menentukan siapa yang pertama maju",
Arai melayang ke arah ratu, lalu mengeluarkan dadu kecil dari mulutnya. Tanpa merasa jijik, ratu menggenggam dadu tersebut lalu mengangkatnya tinggi - tinggi.
Ratu melemparkan dadu tersebut ke tanah, lalu bergulir dengan kencang.
Mereka bertiga merasa sangat tegang.
Dadu pertama berhenti, angkanya menunjukkan angka satu.
"Silahkan dari sudut timur, peserta nomor satu maju", ucap Arai.
"Aakhh.. benaran aku duluan", Emily yang tadinya percaya diri kini merasa gusar.
"Em, jangan memaksakan dirimu, kalau mau mengundurkan diri juga tak apa", ucap Erina seraya memegang pundak Emily.
"Hehe.. enak saja, tentu aku akan melakukan ini, toh aku belum lama di sini jadi belum terlalu mengenal mereka"
Emily melangkah menuju ke arena.
Erina nampak sangat khawatir.
Ratu mengangkat dadu kedua, melemparnya ke udara, dan bergulir dengan sangat banyak.
"Semoga bukan yang sulit", Erina mendekap tangannya sambil memohon.
Dadu mengeluarkan angka tiga.
"Yak, peserta nomor tiga dari sudut barat harap masuk ke arena", ucap Arai.
Emily yang telah berdiri di pinggir arena celingukan mencari siapa yang akan jadi lawannya.
Tiba - tiba suasana menjadi gelap, angin dingin bertiup kencang entah darimana.
Lalu salju mulai turun di satu tempat saja, sedikit demi sedikit membentuk boneka salju berbentuk sosok tubuh wanita.
Lalu boneka salju itu bergetar, dan di dalamnya nampak seorang wanita berambut putih panjang, seluruh tubuhnya nampak seperti mayat yang membeku. Ia menggunakan kimono serba putih.
"Baik, di sudut timur ada Emilia Windburg, sang cleaning service, yang akan melawan Mari Himeko, sang Yuki Onna dari sudut barat"
"Gawat, itu adalah seorang Yuki Onna, kabarnya dia yang terkuat ketiga di antara lima pilar", Erina semakin khawatir.
"Kurasa Emily tidak selemah kelihatannya", ucap Lucifer.
"Ya, aku juga berharap demikian"
Ratu kembali ke kursinya lalu tersenyum. Di sisinya berdiri pak Uwo dan Ratna yang sama - sama dilanda kekhawatiran.
Kedua petarung berdiri berdekatan dan Arai berada di tengah mereka.
"Kalian boleh menggunakan apapun senjata dan kemampuan kalian, asal tidak menghancurkan tempat ini, lalu hanya boleh menjatuhkan lawan sebanyak tiga kali, jangan sampai membunuhnya, kalau menyatakan menyerah, lawan akan langsung menang"
"Ka..kalau tak sengaja terbunuh bagaimana wasit?", tanya Emily cemas.
"Ya mau bagaimana, tapi sebisa mungkin jangan diniatkan membunuh, karena kami tak ingin ada kematian di tanah ini", jawab Arai.
"Baiklah.."
Emily menatap mata Mari Himeko yang putih dan dingin, ia merinding.
"Kedua peserta harap mundur, para penonton juga mundur, berikan area seluas mungkin untuk para peserta!"
"Fighting Emily! hati - hati!", teriak Erina.
Emily mengangguk.
Arai mengeluarkan lidah panjangnya sebagai tangan, "bersiap! kalau ada senjata, keluarkanlah sekarang"
Emily mengeluarkan sapu yang biasa ia gunakan untuk bersih - bersih.
Mari mengeluarkan sebilah pedang es yang begitu runcing.
Emily berkeringat banyak.
"MULAI!!", teriak Arai.
Keduanya hanya diam.
Emily dalam posisi sangat siaga, ia bersiap akan datangnya serangan dari manapun.
Posisi Mari diam seperti membeku.
Tiba - tiba ia sudah di samping Emily, menghujamkan pedangnya.
"Akkhh.. aku lengah", Emily menghindar dan langsung tersungkur.
"Satu poin untuk Mari Himeko!"
"Oh tidak, Emily dia bisa membuat duplikat dirinya, berhati - hatilah!", teriak Erina.
Emily menjadi lebih waspada dari sebelumnya, kali ini ia menyerang lebih dahulu.
"Hyaatt...", Emily menyabet sapunya sekuat tenaga, namun itu hanya menghempas boneka salju tipuan yang dibuat Mari.
Dari belakang, Mari menghunus pedang esnya tanpa ragu, namun Emily berhasil menghindar dan hanya terkena kacamatanya, namun ia terjatuh lagi.
"Dua poin untuk Mari Himeko!"
Erina menunduk, tak mampu menyaksikannya.
"Sial.. kacamataku!", Emily merasa marah.
"Tak ada yang boleh menyentuh kacamataku!"
Emily maju dengan sekuat tenaga dan tak diduga serangannya berhasil mengenai Mari.
Mari terjatuh namun langsung bangkit kembali dengan tanpa ekspresi.
"Satu poin untuk Emily Windburg!"
"Ayo maju sini! aku tidak takut!", Emily merasa sangat geram.
Mari menduplikat dirinya menjadi sepuluh dan mengelilingi Emily. Emily tak mengetahui mana yang asli.
Lalu badai salju hebat mulai muncul dan menutupi seluruh lokasi arena.
Semua orang tak mampu melihat apa yang terjadi bahkan sang ratu sekalipun.
"Hei Mari, tak perlu show off! langsung selesaikan saja!", perintah ratu.
"Emily waspada, ia menyerang dari tempat tak terduga!", teriak Erina.
Meskipun Emily tak mampu melihat di dalam badai itu, ia berusaha membuka mata. Dan ternyata benar serangan itu dari atas. Namun terlambat baginya untuk membalas ataupun menangkis serangan tersebut.
Ia hanya bisa menghindar sebelum tubuhnya terbelah dua oleh pedang es yang sangat tajam.
"Tiga poin dan kemenangan untuk Mari Himeko!"
Emily terduduk sambil memukul salju di bawahnya, ia kesal karena gagal.
Erina menghampirinya dan memeluknya, "tidak apa, yang penting kau selamat"
Ratu sudah memegang dadu untuk peserta berikutnya, ia segera melemparnya.
Muncul angka tiga.
Lucifer menyeringai, "akan kubantai para wanita sombong ini"
Erina sempat takut melihatnya, itu seperti Lucifer yang dikenalnya dahulu.