
"Apa yang sudah kau putuskan?" tanya Succubus
"Kau pergi menyeberang duluan dengan bapak ini, lalu aku akan menyusul"
"Ha? ide yang aneh, mau nyusul pakai apa? lihat di sini gak ada apa - apa selain rawa - rawa"
Erina berbisik "Aku akan mencoba menggunakan kekuatanku untuk menyeberang"
"Hei, jangan bodoh, aku tahu kau belum bisa mengontrol kekuatanmu itu, resikonya sangat besar"
Erina memegang kepalanya sambil memejamkan mata "entah kenapa aku mendapat firasat bahwa kekuatanku akan muncul"
"Ah, pokoknya aku gak akan pergi, pak kau bisa pergi duluan kalau mau"
"Tidak, Sue, percayalah padaku kali ini" Erina memohon
"Nope! aku tak percaya, aku tak akan kehilangan siapapun lagi" Succubus bersikukuh
"Pak, apakah di sini pernah muncul bulan putih?" tanya Erina
"Bulan putih hanya muncul dua minggu sekali, tapi hari ini harusnya muncul"
"Memang apa rencanamu?" tanya Succubus
"Waktu itu, kekuatanku muncul saat bulan purnama bukan? nah sekarang aku mau mencoba memanggilnya lagi, saat kemarin bulan muncul, aku merasakan sedikit gejolak, namun karena itu bulan berwarna merah, jadi dorongannya kurang kuat"
"Aku...takut kalau kau menjadi monster itu lagi"
"Kali ini berbeda Sue, aku merasa bisa mengendalikannya kali ini"
Succubus membuka kalung jimatnya dan memberikannya kepada Erina
"Kau adalah tokoh utama dalam perjalanan ini, jadi...kalau aku mati pun tidak apa - apa"
"Enak aja! kau juga harus menemaniku sampai akhir!"
"Apa kau yakin tidak ikut menyeberang?"
"Yakin!"
"Oke, aku akan mempercayai intuisimu kali ini"
"Nah gitu dong, pak tolong seberangin dia ya"
"Baik neng"
Succubus naik ke kapal rapuh itu dengan hati - hati, kemudian pria itu mulai mendayung
"Aku tunggu kau di seberang" ucap Succubus
Perlahan mereka menghilang dibalik kabut
Erina kembali sendirian, Ia merenung sejenak, apa keputusan yang telah dibuatnya benar atau malah menjerumuskan temannya.
...----------------...
Malam pun tiba, Ia tak dapat mendengar kabar apapun dari Succubus
Mulai terdengar bunyi - bunyian hewan seperti jangkrik, katak, dan sebagainya
Angin dingin berhembus, air sungai mulai sedikit bergejolak, nampaknya seperti akan datang badai
"Ah aku ngapain sih malah berdiam disini, aku harus memikirkan solusinya"
Erina mengeluarkan kunci gerbang, cahayanya berwarna biru ketika diarahkannya tepat ke seberang sungai itu
"Aku tak tahu sungai ini seberapa panjang, seberapa dalam, atau apa yang ada di dalamnya, tapi aku harus melewatinya sebelum meluap"
Tak berapa lama, Ia mendengar bunyi cuitan, suaranya mirip suara kelelawar, namun lebih besar
Dan sesuai dugaan, kelelawar raksasa yang nampaknya haus darah terlihat bertengger terbalik diranting pohon
"Oh gawat, mulai ada hewan besar - besar lagi, mana aku gak punya senjata lagi"
Erina menyadari bahwa bulan berwarna putih menampakkan dirinya dari balik awan hitam, bulan purnama seperti di dunia tempatnya berada
"Ayolah bulan, bantu aku!"
Kelelawar yang bertengger mulai menyadari keberadaan Erina, dan mulai terbang mendekat
"Mati aku" Erina pasrah karena sudah tak bisa menghindar
Kelelawar semakin mendekat, Erina memejamkan matanya dan berteriak
Tiba - tiba Ia melakukan reflek
Meneriakkan sebuah nama yang tiba - tiba terlintas di benaknya tanpa alasan yang jelas
Sebuah nama yang jika dipanggil, akan mendatangkan wujudnya
Nama itu adalah
"LEVIATHAAN!!!"
Nama dari orang yang menurut berita, sudah tiada
Namun
Tiba - tiba dari dalam sungai muncul seekor basilisk, ular raksasa berkepala naga yang langsung menerkam kelelawar itu melewati atas kepala Erina
Terjadi pergulatan, karena kelelawar itu melawan
Kedua hewan itu saling menancapkan taringnya, dan merobek kulit lawannya
Erina yang di dalam posisi terdesak, bingung harus pergi kemana karena Ia berada di tengah - tengah hewan raksasa yang sedang bertarung
Kurang lebih sepuluh menit berlalu, kelelawarnya berhasil dibunuh oleh Basilisk
Basilisk itu menatap ke arah Erina dan terdiam, sisiknya berwarna hijau, dan bola matanya berwarna emas yang sebesar bola sepak
"Ah, apakah kau Levi? jadi kau masih hidup?"
tanya Erina
Namun makhluk itu hanya diam tak bergeming
Erina mendekatinya perlahan, kepala Basilisk itu menunduk, menandakan Ia menghormati Erina
Erina juga menunduk sedikit
"Terima kasih ya sudah menolongku Levi" Erina membelai sisik Basilisk dengan lembut
"Sekarang, bawa aku menyeberangi sungai ini ya"
Erina dengan hati - hati menaiki tubuh Basilisk, Ia menunjuk arah yang dituju, kemudian makhluk itu mulai berenang
"Levi, apa ini perwujudan dari arwahmu? atau apa? aku tak mengerti, tapi kau datang saat kupanggil, jadi yah kuanggap kau adalah Levi yang kukenal ya"
Erina menyusuri sungai diatas badan seekor ular raksasa. Sungai itu yang diluar dugaan, ternyata sangat besar, dan sangat dalam, jika tenggelam di dalamnya, tak akan dapat ditemukan lagi
Suasana di tengah - tengah aliran sungai itu cukup mencekam, di kejauhan nampak kilauan - kilauan dari mata hewan buas, Erina menjadi waspada
"Apa Sue udah sampai ya? tapi bahkan tepian sungainya belum nampak, sebenarnya seberapa luas sungai ini ya?"
Tiba - tiba, awan hitam mulai menitikkan airnya, hujan deras langsung mengguyur Erina
"Ah, aku tak sempat pakai jas hujan, yasudahlah"
Perasaan Erina menjadi tidak enak. Rupanya t, ada yang mengepung mereka, selusin buaya yang sebesar bus sekolah mulai berenang mendekat
"Oh, tak boleh santai sebentar rupanya" Erina jadi kesal
Basilisk waspada dan bersiap menyerang para buaya yang mendekat
"Kau mau bertarung di tengah - tengah sini? yang benar saja?"
Dan benar saja, para buaya mulai menyerang, Senjata Basilisk adalah ekornya yang berduri dan rahangnya yang dipenuhi gigi setajam pisau dapur. Namun buaya itu ada belasan ekor.
Basilisk bergerak kesana kemari, tubuhnya yang seperti ular lebih mudah bermanuver di air, Ia menggigit, menusuk, bahkan membelit para buaya sampai mati.
Erina susah payah berpegangan pada duri di badan Basilisk agar tak terjatuh dan tenggelam di sungai
Basilisk mulai tampak kewalahan, beberapa buaya berhasil dikalahkan, namun masih banyak yang lainnya
Erina mulai mencoba melakukan hal yang random lagi, Ia mengangkat kunci gerbang yang bercahaya dan mulai berteriak
"PERGILAH KALIAN!"
Tak lama, para buaya yang tadinya antusias menyerang, tiba - tiba berbalik badan dan berenang menjauh.
"Woah, aku jadi seperti tarzan" Erina kagum dengan skill barunya yaitu dapat mengendalikan hewan.
Hujan reda, dan bulan mulai hilang tertutup awan.
Di depan mulai nampak tepian sungai
Erina turun dari badan Basilisk, Basilisk mundur perlahan dan masuk kembali ke dalam air
"Thanks ya, nanti kalau kupanggil datang lagi ya"
Di depannya, Erina melihat banyak gubuk - gubuk terbuat dari rumput dan kayu, ini nampak seperti sebuah desa, dan penerangan dari api obor di setiap pintu masuk gubuk.
Di gubuk yang paling besar, muncul sesosok makhluk yang keluar, pakaiannya seperti suku terpencil, dan itu bukan manusia.
Dengan badan licin dan bersirip, bentuk mereka mirip seperti manusia ikan.
"Selamat datang di desa penghuni rawa nona" ucap makhluk yang nampak memiliki posisi sebagai kepala desa disana.