My Heart From Hell

My Heart From Hell
The Wish



Asmodeus menyampaikan semua informasi dan rencana yang Ia ingin lakukan kepada kedua rekannya.


"Jadi, kalau kami menyetujui untuk membantumu, kekuatan kami akan langsung hilang ya?"


Leviathan berfikir.


"Baiklah, kami tidak akan membantumu"


Kata Beelzebub yang kemudian pergi menghilang dalam kepungan lalat.


"Iya, apa untungnya juga buat Kami"


Leviathan menceburkan dirinya ke laut


Erina terkejut dengan kejadian itu.


"Eh kok begini? apa yang mereka lakukan? apa begini yang namanya rekan?"


Asmodeus hanya mengacungkan jarinya kepada Erina, menyuruhnya untuk menunggu.


Beberapa saat kemudian, ada sekumpulan lalat berkerumun diatas sebuah speedboat berwarna putih yang terparkir di dermaga.


"Ayo kita naik itu"


Asmodeus menunjuk speedboat tersebut.


......................


Ketika semua sudah diatas speedboat, semua terdiam.


Asmodeus memperhatikan sekelilingnya,


"Behemoth, coba lepaskan tali pengikat itu!"


Behemoth pun melepas tali yang menahan boat tersebut.


"Lalu, memangnya k**amu bisa mengendarai ini**?"


tanya Erina.


"Ngg.. tidak juga, ini hanya inisiatifku saja, karena aku lihat lalatnya Beelzebub berkerumun disini, jadi kupikir kita harus naik ke sini"


"Manatau karena disini ada sampah yang belum dibuang"


Erina menunjuk tempat sampah kecil yang isinya masih penuh.


"Ah benar juga", Asmodeus menggaruk kepalanya.


Sesaat kemudian, tiba - tiba kapal mulai bergerak perlahan, arus laut yang menggerakkannya.


"Semuanya pegangan!", teriak Asmodeus.


Dalam sekejap mereka menempuh kecepatan hampir delapan puluh kilometer per jam dengan speedboat yang mesinnya bahkan tidak dinyalakan.


Mereka semua berpegangan dan merasa pusing karena mabuk laut.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di tengah lautan luas yang berwarna biru, tidak ada daratan disekitarnya, hanya hamparan laut biru yang luas.


"Jadii.. kita sudah berada di tempat yang tidak akan terdeteksi oleh siapapun bukan?"


tanya Succubus.


"Sepertinya begitu, dan kita hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu"


Kira - kira empat puluh lima menit mereka terombang - ambing di tengah laut, menunggu ketidakpastian, dan hampir merasa putus asa.


Namun kapal mulai bergerak memutar, disebabkan oleh pusaran air yang perlahan semakin besar.


"Oh, ini adalah pusaran dimensi, ini mirip dengan gerbang perpindahan di akhirat, tak kusangka Levi bisa membuat ini", Asmodeus terkejut.


"Apa kita akan ditelan oleh pusaran ini?"


tanya Erina khawatir.


"Iya, ini adalah pusaran yang menembus ruang dan waktu, kita bisa kemanapun dengan ini, maka...pikirkanlah lokasi yang terbaik untuk kita tuju"


"Ke kastil Alexei di Moskow!"


Erina berkata dengan yakin.


"Hei kami tak tahu mengenai tempat itu"


ucap Behemoth.


"Iya, kami kan awalnya masuk dari kereta"


tambah Succubus.


Mereka berfikir sejenak, lalu Behemoth membuat keputusan yang mengejutkan.


"Sepertinya kita akan berpisah disini"


Asmodeus, Erina, dan Succubus melihat ke arah Behemoth dengan ekspresi terkejut.


"Kalian mau kemana? apa kita gak bisa


bersama - sama lagi?"


Erina nampak sedih seperti akan berpisah dengan teman lama.


"Kalau memang takdir menentukan, makan Kita akan bertemu lagi", kata Behemoth dengan bijak.


Succubus terdiam sesaat, lalu bicara kepada Behemoth dengan ragu, "tapi aku.."


Behemoth megang pundak Succubus,


"Sue, sepertinya sudah cukup kita mencampuri urusan mereka, kita juga punya urusan yang harus diselesaikan"


Succubus sebenarnya ingin menolak ajakan Behemoth, namun Ia pun tak kuasa untuk bertahan karena merasa tak memiliki alasan yang kuat.


"Terima kasih tuan Asmodeus dan Erina, sudah memberikan kami pelajaran yang


begitu berharga"


ucap Behemoth sambil mengulurkan lengannya.


"Justru Kami yang berterima kasih karena sudah dibantu"


Asmodeus menyalami Behemoth dengan kuat.


Erina menggenggam tangan Succubus, dan menatap matanya dengan haru,


"Sampai ketemu lagi ya, meskipun singkat tapi terima kasih banyak"


"Sama - sama, aku tidak menyangka ada yang mau menganggapku teman, padahal jelas - jelas aku sainganmu",


Mereka berpelukan sebentar.


Behemoth merangkul Succubus, mereka saling memberi kode tentang tujuan mereka, kemudian menjatuhkan diri ke pusaran air yang deras.


Erina melihat ke air, langsung tidak nampak apapun di pusaran yang gelap dan deras itu.


"Aku takut"


"Tenang, a**da aku di sisimu**"


Mereka berpelukan kemudian menjatuhkan diri ke air.


Gelap


Sesak


Pusing


Cahaya silau


Mereka berdua terbangun tepat di depan gerbang kastil Alexei yang mereka pernah datangi, dengan basah kuyup.


"Ah menyebalkan, kenapa gak terfikir soal basah kuyup ini"


Asmodeus mengeluh.


"Nanti kita pinjam baju Alexei"


Salah seorang penjaga kastil yang mengenal mereka langsung mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk.


......................


Setelah berganti pakaian,


"Nah, sekarang bagaimana pergi ke tempat yang tiga ratus kilometer lebih jauhnya"


"Coba hubungi Alexei"


"Oh iya"


Asmodeus mengambil ponselnya.


"Ah, ponselku gak bisa menyala"


"Punyaku juga"


..."Jangan - jangan rusak karena terendam air?"...


"Wah betul juga"


"Sekarang aku jadi kesal dengan Levi"


"Hei, biar bagaimanapun dia kan sudah membantu kita, perjalanan enam hari jadi satu jam saja lho"


"Ya tapi tetap saja"


Setelah diminta, akhirnya seorang anak buah menghubungi Alexei, dan membicarakan soal kendaraan.


"Hei, kalian pakai saja mobilku, pilih yang kalian suka yang ada di garasi", ucap Alexei santai.


"Benarkah, wah kau baik sekali"


Erina sumringah mendengarnya.


"Iya setelah memilih yang kau mau, berikan telponnya pada Yuri, dia yang akan mengurus sisanya"


Lalu Yuri sang anak buah kepercayaan Alexei mengantar Erina dan Asmodeus menuju ke garasi di basement kastil.


...----------------...


Beberapa menit berjalan, mereka tiba di area garasi yang begitu luas dan membuat keduanya takjub.



Di sana terdapat berbagai kendaraan mewah yang terparkir mulai dari motor, mobil, bus, speedboat, hingga jet pribadi.


"Waaah benar - benar beruntung ya kalau punya saudara bangsawan", Asmodeus menitikkan air liurnya melihat koleksi Alexei.


"Iya, aku bersyukur masih bisa mendapat bantuan dari orang baik"


"Bukankah kita bisa cepat sampai jika memakai itu?", Asmodeus menunjuk pesawat jet berwarna putih.


Erina menatap Asmodeus dengan sinis,


"**Kamu mau pergi ke desa dengan pesawat? yang benar saja"


"Ah benar juga, bagaimana kalau mobil berpenggerak empat roda saja, karena kita tak tahu bagaimana medan perjalanannya**"


Setelah memilih sebuah SUV buatan jerman yang cukup mahal, Asmodeus dan Erina dibantu oleh Yuri untuk menyiapkan perlengkapan dan perbekalan untuk perjalan jauh yang tak terduga.


Dan mereka pun berangkat.


...----------------...


Setelah satu jam perjalanan mereka mulai merasa kebingungan, karena ternyata banyak jalan yang ditutup, dan itu tidak tertera di peta digital dari ponsel yang mereka gunakan.


Dan matahari mulai terbenam.


"Kacau ini, kenapa kita jadi masuk ke hutan belantara begini?", Asmodeus melihat sekeliling nya sambil menyetir.


"Karena perubahan rute yang mendadak, jadi petanya bingung mengarahkan entah kemana", Erina yang bertugas melihat peta juga nampak kebingungan.


Asmodeus menepikan mobilnya, lalu meregangkan tangannya,


"Aku.. sebenarnya tidak ingin mengeluh, tapi tubuhku merasa benar - benar lelah "


"Iya, aku juga.. hari ini rasanya panjang sekali"


"Disini sangat gelap dan tidak nampak apapun, sepertinya Kita harus bermalam di mobil malam ini"


"Iya tak apa - apa, yang penting kita tetap


aman disini"


Asmodeus dan Erina merebahkan sandaran kursinya dan mencoba untuk rileks.


Asmodeus membuka kaca sedikit dan mematikan mesin mobil, udaranya cukup dingin


Hutan yang mereka lalui itu penuh dengan pohon pinus dan cemara yang padat.


Meskipun ada jalan, tapi itu masih berupa tanah berbatu dan tidak ada penerangan sama sekali.


Akan cukup berbahaya untuk berjalan di malam hari sekalipun memakai mobil yang mumpuni.


......................


Semakin malam, kabut mulai turun dan udara semakin dingin.


Erina memakai selimut bulu yang dipinjam dari Alexei tadi dan Asmodeus memakai jaket yang tebal.


"Mo.."


"Ya.."


"Akuu..."


"Kenapaa?"


"Aku lihat yang kamu dan Succubus lakukan


di malam itu"


Asmodeus tercekat, Ia sangat terkejut, Ia langsung salah tingkah,


"Ah.. itu.. aku.. sebenarnya..."


Erina tersenyum,


"Tenang aja, aku mengerti kok"


"Mengerti? mengerti soal apanya? aku bukan tipe iblis yang memainkan perasaan orang tahu!?"


"I know that"


"Lalu?"


"Jadi.. aku sudah tahu bahwa dia suka k**amu, bahkan nanti aku akan menitipkan kamu padanya ketika aku sudah tiada**"


"Ngomong apa sih!? menyebalkan"


Asmodeus membalik badannya.


"Sebenarnya, aku hanya ingin hidup sebagai manusia biasa yang normal dan bisa merasakan kebahagiaan yang layak, tapi sepertinya keadaan jauh lebih rumit"


Mereka terdiam sesaat.


"Sepertinya takdirmu memang sangat jauh berbeda dari harapanmu. Seandainya Damien tidak memesan sabit yang salah, semua ini tidak akan terjadi"


"Ah aku jadi kangen Damien, sedang apa ya


dia sekarang?"


"Mungkin sedang jalan - jalan dengan pacar barunya"


"Aku berharap dia menemukan kebahagiannya"


"Lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri?"


"Andai bisa selamat dari ini semua, aku ingin tinggal dengan kamu dan juga Ibuku, lalu kita hidup sebagai manusia biasa, seperti tak pernah terjadi apa - apa, sepertinya itu cukup untuk kebahagiaanku"


Asmodeus tersenyum, namun di hatinya Ia menangis, Ia tidak tahu apakah keinginan Erina dapat terwujud dengan segala keadaan yang kelak akan terjadi nanti.