
Pukul enam pagi, Arina terbangun di meja kerjanya dengan kepala pusing, rasanya tidurnya sangat tidak nyaman.
Ia mengecek dua sofa yang berada di lobby depan, dan ternyata hanya ada Daniel di sana.
"Ah, sepertinya ayah sudah pulang", pikirnya.
Arina pun bersiap untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
Di lobby ia bertemu dengan pak Yanto yang baru datang.
"Lho, mbak. Kok udah datang aja?"
"Saya dari semalam pak, tuh pak bos lagi tepar", Arina menunjuk ke arah Daniel yang sedang terkapar di sofa.
"Ooh ya ya, dulu sebelum mbak Arina masuk sini, saya yang ngurus pak Daniel kalau kayak begini"
"Nah saya mau pulang mandi dulu pak, nanti ke sini lagi secepatnya"
"Kalau capek izin aja mbak"
"Gak apa - apa pak, nanti mau ada meeting sama klien soalnya"
"Baik kalau begitu mbak"
Arina bergegas dan memesan taksi online.
......................
Dalam setengah jam ia sudah tiba di apartemennya.
Ketika masuk ke rumah Arina melihat ibunya yang sedang menyiapkan masakan. Ia segera menghampiri dan mencium baunya.
"Hmm.. sup kesukaanku", Arina berbinar.
"Kamu.. tidur di mana nak?"
"Di kantor bu, oh iya ayah udah pulang?"
"Gak ada tuh dari semalam"
"Hmm.. kemana ya dia?"
"Kenapa? tumben nyariin bapakmu?"
"Semalam aku yang bawa dia dari bar, mabuk berat. Jadi kubawa ke kantorku sementara, tapi tadi pagi udah nggak ada"
"Entahlah, mungkin ke tempat judi kali, atau ke rumah simpanannya", ibunya menjawab dengan cuek.
Arina menghela nafas panjang.
"Kamu makan dulu nih, habis itu mandi", ibunya menyiapkan semangkuk sup hangat.
Arina tersenyum, lalu segera menyantapnya karena ia sangat lapar.
Setelah selesai makan, Arina beranjak dari kursi lalu mengambil handuknya untuk mandi.
"Nak, ibu mau ada yang dibicarakan sama kamu"
"Soal apa bu?", Arina hendak menghampiri ibunya yang sedang duduk di sofa.
Namun tiba - tiba ponselnya berbunyi, masuk notifikasi pesan dari Daniel.
"Meeting dimajukan jadi jam 10! cepat ke kantor!"
Arina membaca pesan itu langsung terkejut, "Duh bu, aku harus segera ke kantor nih"
"Cepat banget, padahal kamu udah semalaman di kantor", ibunya terlihat lesu.
"Maaf ya bu, pembicaraannya ditunda dulu, kalau mau nanti kita makan siang di resto dekat sini aja, aku yang traktir"
"Baiklah, kabarin ibu aja"
Arina lalu bergegas mandi, bersiap dengan pakaian kerjanya, berdandan lalu kembali berangkat kerja dengan taksi online.
Sepanjang perjalanan ia memikirkan, kira - kira apa yang ingin dibicarakan oleh ibunya. Dari nada suaranya tedengar Ia sangat lelah dengan segala yang terjadi.
......................
Arina sampai di kantor, dan langsung disambut oleh Daniel yang sudah berdiri di lobby.
"Ayo langsung berangkat!", ucap Daniel seraya mengirim pesan di ponselnya, menyuruh sopirnya untuk segera datang.
Ternyata sang sopir mengabarkan bahwa istrinya sedang sakit sehingga ia tak bisa pergi ke kantor. Daniel langsung merasa kesal.
"Astaga, ada - ada aja"
"Kenapa mas?"
"Gak ada sopir, jadi harus nyupir sendiri"
"Oh gitu"
"Gue harus sambil nyiapin berkas - berkas nih di mobil, gimana nih!?"
"Saya bisa nyetir kok mas, kasih tahu alamatnya aja"
Daniel menatap wajah Arina dengan tidak yakin, "Gue gak percaya kalau perempuan yang nyetir".
"Jangan gitu dong mas, gini - gini saya SIMnya gak nembak lho"
"Hmm.. okelah, gak ada pilihan lagi. Daripada terlambat lalu kehilangan klien sepenting ini"
Lalu mereka menuju ke parkiran, ada sebuah mobil sedan buatan jerman berwarna hitam mengkilap di sana.
Daniel segera membuka pintu, lalu memberikan kuncinya kepada Arina.
Arina terdiam melihat kuncinya yang nampak sangat mewah dan mahal.
"Gawat ini kalau sampai tergores", pikirnya sambil menelan ludah.
Daniel yang duduk di belakang, segera membuka laptopnya dan mengeluarkan setumpuk berkas - berkas dari kopernya.
Arina duduk di kursi pengemudi, ia memperhatikan sekelilingnya, belum pernah ia naik mobil semewah ini. Bahkan Ia belum mengerti cara mengemudikannya.
"Ayo cepat jalan! kita bakal terlambat kalau gak jalan sekarang!"
"Iya baik mas", setelah memperhatikan, ia menekan tombol untuk menyalakan, memasukkan gigi maju dan mulai mengendarai mobil itu dengan perlahan.
"Jangan pelan jalannya woy!"
"Si.. siap", Arina menginjak gasnya lebih dalam dengan perasaan was - was.
"Mas, ini klien yang di pabrik rokok itu kan?"
"Iya benar, cari di gps aja kalau gak tahu"
Arina berhenti sejenak untuk menyetel peta gps di layar tengah mobil.
Di perjalanan, Daniel sangat sibuk dengan laptop dan berkasnya. Arina mengintipnya sesekali melalui spion tengah.
Ternyata Daniel menyadari hal itu dan bertanya dengan ketus, "Apa lihat - lihat!?"
"Eh, nggak mas", Arina panik.
"Ck.. padahal semalam gak berdaya banget, kalau gak ditolongin udah gak tahu tuh nasibnya gimana", Arina bergumam dalam hatinya karena kesal.
"Lo tahu detail gak tentang kasus ini?" tanya Daniel tiba - tiba.
"Menurut lo benar gak kalau si CEO ini yang menggelapkan uangnya seperti yang dituduhkan rekan bisnisnya?"
"Kalau melihat sekilas dari laporan keuangannya sih memang ada beberapa aliran dana yang gak jelas kemana, tapi kita harus pastiin hal itu sama dia"
"Iya, kalau kita berhasil buktiin dia gak salah. Nama gue bakalan naik, soalnya ini kasus yang gede banget"
"Iya beritanya dimana - mana ya mas"
"Nanti lo harus catat semua pernyataan dia ya, jangan sampai kelewat"
"Oke siap mas"
Tiba - tiba di tengah jalan ada seorang kakek tua yang menyeberang jalan tanpa peringatan, Arina yang terkejut segera menginjak rem. Laptop Daniel dan berkas - berkasnya terlempar dan berantakan.
"Argh lo gimana sih!?", emosi Daniel meluap.
"I.. itu ada kakek - kakek nyeberang tiba - tiba mas"
Daniel langsung membereskan semua berkas yang berantakan.
Arina bergumam dalam hati, "Pertanda apa ya barusan? apa akan terjadi hal yang buruk?"
Tak lama, mereka sampai di lokasi yang dituju.
Mereka pun memulai wawancaranya dengan sang klien, sambil mengumpulkan pernyataan dan bukti - bukti.
......................
Setelah diskusi alot yang memakan waktu lebih dari tiga jam, mereka akhirnya pamit untuk pulang.
"Hmm.. tadi gak selancar dugaan gue, orang itu meragukan banget", Daniel tidak percaya diri.
"Jadi gimana ya mas?"
"Kita harus siapin argumen dan bukti - bukti yang kuat banget, jangan sampai bisa dibantah sama jaksa"
"Iya mas".
"Sidangnya kemungkinan mulai minggu depan, kita bakal banyak lembur"
"Saya siap mas"
Meskipun terlambat, sebelum berangkat pulang, Arina mengabarkan ibunya untuk bertemu di restoran yang tak jauh dari rumahnya.
......................
Setelah sampai di kantor, Arina meminta izin untuk pergi lebih dulu. Meskipun segan, Daniel mengizinkannya.
...----------------...
Di sebuah restoran jepang yang menyajikan shabu - shabu dengan harga terjangkau, Arina duduk berhadapan dengan sang ibu.
"Ibu mau ngomong soal apa?", Arina bertanya selagi menyantap makanannya.
"Ibu.. ngg.. bagaimana ya..", Ibunya nampak sangat ragu - ragu menjawab.
"Soal ayah?", Arina menebak.
Ibunya mengangguk pelan.
"Huff.. jadi, apa yang akan ibu lakukan?"
"Ibu akan mengajukan cerai"
Kata - kata itu langsung menohok ke hati Arina. Itu adalah ucapan yang paling tidak diharapkannya, meskipun ia memahami hubungan kedua orangtuanya sangat buruk selama beberapa tahun terakhir ini.
"Ibu.. yakin?"
"Iya, ibu sudah memutuskan, kamu pasti tahu kan situasi yang terjadi di rumah?"
"Iya aku memang tahu, tapi aku tidak memahami kenapa kalian jadi seperti itu"
"Semua akibat keegoisan masing - masing yang tidak bisa dimaklumi lagi, kami memang tidak cocok"
"Begitu ya.. sebenarnya.. aku tak ingin ini terjadi, tapi melihat ibu selalu jadi bulan - bulanan, aku juga tak tega. Ayah juga sudah berusaha berubah, tapi adiksinya selalu menguasainya kembali"
"Iya kan? pada akhirnya semua akan percuma"
"Lalu, ibu akan bersama pria itu?"
Ibunya mengangguk pelan.
Arina menghela nafas yang sangat panjang, ia sangat menjadi tidak bersemangat.
...----------------...
Arina kembali ke kantornya di sore hari, Ia termenung sendirian.
Daniel yang baru kembali dari toilet melihat Arina yang seperti tak bernyawa.
"Hoi kenapa lo?! jadi zombie ya?", Daniel mengibaskan tangannya di depan wajah Arina.
"Ah.. eh.. gak apa - apa kok mas", Arina panik.
"Kemungkinan mulai persidangannya dipercepat, lo harus persiapin diri, jangan sampai down"
"Iya mas"
"Ya udah, gue mau cabut dulu, kalau lo begadang jangan lupa kunci kantor!", Daniel beranjak keluar kantornya.
"Oke mas"
...----------------...
Setelah termenung selama beberapa jam, Arina hendak meninggalkan kantornya.
Tara sang admin menghampiri Arina. "Lo kenapa? lagi ada masalah ya? muka pak boss juga rada gak enak gitu tadi kayaknya"
"Iya, lagi ada masalah keluarga. Terus, tadi kliennya juga agak ribet, jadi mas Daniel agak bete jadinya"
"Yah semoga aja kasus ini bisa berakhir dengan baik, soalnya banyak hutang yang harus dibayar"
"Iya doain gue juga ya Ra", Arina memelas.
"Fighting! lo pasti bisa!", Tara berusaha menyemangati.
Arina tersenyum seadanya.
...----------------...
Di jalan, Arina tidak memesan taksi online seperti biasanya, Ia hanya berjalan kaki.
Lalu ia tiba di bar yang tak jauh dari kantornya, tempat Daniel biasa melepas penat.
Arina masuk perlahan dengan kesadarannya sendiri. Ini bukan tempat yang akan dimasukinya jika ia sedang baik - baik saja.
Arina tak melihat Daniel yang berada di pojokan, namun Daniel langsung menyadari kehadiran Arina, karena Ia baru minum beberapa gelas bir saja.
Ia mengamati gerak - geriknya dari jauh. Daniel tahu Arina bukan seorang peminum, namun Ia memesan segelas tequila.
Arina meminum segelas tequila tersebut tanpa ragu, lalu ekspresinya nampak meringis.
Daniel yang melihat hal itu tertawa kecil.
Arina meminta segelas lagi lalu meminumnya tanpa ragu. Daniel segera menyadari ada yang tak beres, ia berniat untuk menghampiri Arina.