My Heart From Hell

My Heart From Hell
Feelings



Dimaki - maki selama satu setengah jam oleh sang supervisor, Damien hanya terus - terusan meminta maaf, sambil berjalan berputar - putar di dalam ruangan, Erina menjadi tidak enak hati melihatnya karena merasa itu bagian dari kesalahannya.


Setelah teleponnya ditutup, telinganya terlihat merah, Damien yang lelah kemudian menceritakan bahwa Ia diberi satu kesempatan lagi, jika gagal maka Ia akan kehilangan pekerjaannya, Erina pun memberikan semangat agar Ia tak menyerah.


Malamnya, buku hitam Damien tiba - tiba mengeluarkan cahaya, rupanya Ia langsung mendapat pekerjaan dari bagian listing, hatinya merasa lega.


"Yes! untung tempatnya dekat banget, berangkat dulu ya"


"Dekat? dimana?", Erina jadi penasaran


"Dikamar depan, nomor 1302"


"Hah, itu kan kamarnya Anna!"


"Iya, ini namanya memang Anna, sepertinya dia mau gantung diri"


Erina shock bukan main mendengarnya


Ia segera meraih tangan Damien dan memohon, "Ka..kau bisa menghentikan dia kan? bunuh diri itu dilarang kan!?, seperti katamu"


"Iya memang betul, tapi ini memang pekerjaanku, jadi tak bisa diganggu gugat, ini kesempatanku untuk memulihkan nama baik"


Erina terus memohon dan menahan Damien untuk tidak melakukan tugasnya dan menyelamatkan Anna dari niat buruknya, namun Damien bersikeras bahwa ini pekerjaan penting baginya.


Tengah malam, mereka berdua sudah berada di depan kamar 1302.


"Damien kumohon, kau temanku kan? tolong jangan ambil nyawanya! selamatkan dia! dia masih muda"


"Erina maaf, tapi itu pilihannya, dan Aku hanya menjalankan tugas".


Damien masuk menembus pintu,


Erina berusaha membuka namun pintunya dikunci ganda, Ia terus berusaha sambil menangis, namun tak berhasil.


Di dalam kamar, Damien melihat kamarnya gelap dan begitu berantakan. Di tengah ruangan Anna sedang berdiri diatas sebuah kursi kayu dengan tali terikat di lehernya, Ia menangis tersedu, terdengar suara Erina dari luar menggedor pintu namun Anna tak bergeming.


Damien berfikir, orang yang bunuh diri biasanya akan menjadi jiwa hitam yang penasaran atau bergentayangan karena sulit untuk dibawa ke akhirat oleh malaikat maut, jadi Ia akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menangkapnya setelah dicabut dari tubuhnya.


Damien menghitung mundur sambil melihat jam tangannya, "5, 4, 3, 2, 1"


Anna menendang kursinya dan mulai mengerang kesakitan karena lehernya yang terjerat tali.


Damien tersenyum dan mengeluarkan sabitnya, Ia bersiap.


Namun diluar dugaan, pintu masuk berhasil didobrak Erina menggunakan pemadam api.


Ia berlari, menaruh kursi dan langsung memeluk Anna, kemudian segera melepaskan talinya. Mereka berdua berpelukan sambil menangis di lantai


Damien yang melihat situasi itu, hanya berdiri diam dengan perasaan yang campur aduk, karena Ia telah gagal lagi dalam tugasnya.


"Maaf, maafin Aku Dam, tapi ini gak bisa kubiarkan terjadi", Erina meminta maaf kepada Damien sambil menangis, Damien hanya bisa pasrah.


......................


Di balkon kamar Erina, Damien merenung sambil menatap langit dan cahaya lampu - lampu gedung dimalam hari.


"Kenapa Bro? kayaknya stress banget?"


Sesosok Genderuwo bertubuh tinggi besar muncul di sebelah Damien, bulunya panjang berwarna coklat, mata merah menyala dan taring yang menyembul dari mulutnya.


"Biasalah Bro, masalah pekerjaan"


"Pekerjaan memang susah ya? nih ada


rokok menyan, mau gak?", Genderuwo itu menawarkan sekotak rokok dengan bau yang khas.


"Wah pas banget, sudah lama tak merokok", Damien mengambil sebatang rokok dan Genderuwo itu menyalakannya dengan api dari jarinya..l


"Ini memang paling pas disaat stress"


mereka pun merokok berdua di balkon sambil bercerita, rupanya Genderuwo itu adalah penghuni lama dari semenjak apartment ini belum dibangun. Kemarin disaat astral bermunculan, Ia tak muncul karena sedang ada tugas di tempat lain.


Jika sebuah tempat tidak ada tetua atau penunggu senior yang mengatur, maka banyak astral lain yang bisa datang dan mengganggu. Astral level rendah memang masih menggebu - gebu untuk mengganggu manusia.


"Jadi, kau kan sudah lama disini? apa kau tahu tentang Erina? siapa dia sebenarnya?"


"Ya, tentu saja Aku tahu, Aku sangat menghormatinya karena kekuatannya begitu besar"


"Kekuatan?", Damien bingung.


"Iya, aura yang dipancarkannya itu menyimbolkan Ia menyimpan kekuatan begitu besar, namun belum muncul, makanya hidupnya berat dan sering tertimpa musibah"


"Kau tahu kekuatan macam apa yang dimilikinya?"


..."Tidak, karena cuma auranya saja yang terlihat"...


"Karena kau seorang tetua, jadi penglihatan auramu lebih baik daripada aku ya"


"Kalau kau berumur ribuan tahun, nanti juga kau akan mendapatkannya"


"Haha gila, itu masih sangat lama"


Di sisi lain gedung, ada Succubus yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka, tapi Damien tidak menyadarinya karena Ia menyembunyikan kehadirannya dengan kekuatannya sebagai mata - mata.


Setelah keadaan menjadi tenang, Erina memutuskan untuk mengajak Anna tidur bersama, dan besok Ia akan dijemput oleh kerabatnya dari luar kota.


Rupanya permasalahan Anna adalah pacarnya yang memutuskan untuk meninggalkannya


Meskipun Erina tahu betul perasaan itu, tapi Anna memiliki masalah lain yang bertubi - tubi sampai Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Erina lebih dari tahu soal perasaan itu.


Keesokan paginya, Erina mengantar Anna untuk dijemput tantenya di lobby bawah.


Setelah selesai, Erina dan Damien masuk ke dalam lift, "Aahh..lega juga akhirnya bisa mencegah kejadian buruk"


Lalu Ia melihat ke arah Damien yang menunjukkan ekspresi jengkel.


"Maafkan Aku! Aku akan melakukan apapun untukmu, asal jangan diambil nyawanya",


Erina membungkuk di depan Damien seperti orang Jepang.


"Ah, mana bisa kau memenuhi permintaan malaikat maut"


"Bisa dong! mau apa? kopi, pizza? bisa kutraktir, tabunganku masih ada"


Damien berfikir sejenak, lalu berkata dengan ragu, "Bagaimana......kalau berjalan - jalan? di taman yang ada bunga berguguran gitu"


"Jalan - jalan? denganku?"


Damien mengangguk.


"Hemm kau banyak menonton drama Korea ya? oke, itu permintaan yang mudah".


Mereka berdua pun pergi ke taman kota yang berlokasi tidak jauh dari apartemen Erina.


Sambil memakan es krim cone vanilla, Erina memakai baju kaos putih longgar, skinny jeans dan sandal jepit warna biru muda, rambutnya diikat.


"Jadi, tuan malaikat maut, kenapa memilih jalan - jalan di tempat yang berguguran bunga"


"Yaa Karena aku belum pernah merasakannya, kalau melihat adegan ini di drama sepertinya terlihat menyenangkan"


"Haha, lebih menyenangkan kalau perginya bersama pacar, memangnya kau tidak punya pacar?"


Damien terdiam.


"Tidak ya? kalau begitu apa ada orang yang kau suka? pasti ada dong ya, nanti kalau sudah jadian, ajak jalan seperti begini, dia pasti suka"


"I..iya"


Damien menjadi tersipu.


"Eh ngomong - ngomong, orang pada melihatku pasti mikirnya Aku orang gila karena ngomong sendiri, apa kau gak bisa menampakkan diri pada orang - orang?"


"Bisa kok", Damien memejamkan mata sesaat.


Erina tidak melihat ada perubahan, namun orang - orang di sekitar sudah tidak melihat keanehan karena Erina sudah jalan berdua sekarang.


Sesampainya di kamar, Damien tampak sangat kelelahan


"Loh, memangnya capek banget jalan begitu?"


"Bukan jalannya yang membuat capek, tapi menampakkan diri itu memakan banyak energi, Aku butuh istirahat"


Erina jadi merasa tidak enak hati lagi karena menyusahkan Damien, namun tidak dipungkiri kehadirannya lumayan mengisi kekosongan di hari - hari Erina.


Sebagai permintaan maaf, Erina memesan satu kilogram daging sapi, dan membuat yakiniku. Damien pun merasa sangat senang meskipun tubuhnya tidak butuh makanan, tapi Ia merasakan nikmatnya aroma makanan tersebut. Mereka makan berdua di meja, sambil meminum soda.


Damien memperhatikan Erina, Ia merasakan perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, perasaan punya teman untuk sekedar mengobrol maupun curhat. Selama ini Ia hidup sendiri dan kesepian.


Erina yang melihat Damien yang bengong sambil menatapnya, lalu mengibaskan tangan ke depan wajahnya, "Hey! kenapa Anda? kesambet ya?"


"Ah, nggak..gak apa - apa, dagingnya enak"


Damien salah tingkah.


Damien memikirkan entah sampai kapan mereka bisa bersam - sama, jadi Ia memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.


"Ngomong - ngomong, Aku udah gak ngeliat penampakan lagi beberapa hari ini, apa udah Kau usir semua?"


"Sudah dong, semuanya takut melihatku"


"Wah keren, yaudah nanti temenin Aku terus ya, jagain kalau ada makhluk halus lagi"


Wajah Damien memerah, Ia merasa nyaman berada di dekat Erina, Ia bahkan bisa melupakan stress akibat pekerjaannya.


Tidak lama disaat mereka sedang menikmati momen, bel pintu apartemen Erina berbunyi.


"Siapa ya yang datang jam segini?", Erina melongok ke arah lubang kecil untuk mengintip siapa tamu di pintu. Bukan main terkejut dirinya.


"Astaga itu Asmodeus! gawat! Aku belum dandan", Erina panik sendiri.


Damien yang melihat situasi itu mulai memiliki perasaan yang tidak enak.