
Keesokan paginya, Erina bangun paling awal dan bersiap - siap, Ia begitu ceria seolah tak terjadi apapun semalam.
"Guys bangun guys, kita lanjutkan
petualangan kita!"
Seraya menggedor kamar para pria.
Erina kembali ke kamar dan melihat Succubus yang masih di dalam selimut, kemudian menarik selimutnya
"Hei mbak, udah siang nih, cepat mandi lalu kita sarapan"
"Ngghh..."
Succubus yang matanya sembab masih setengah sadar.
Ia lalu memegang bibirnya sendiri, mengingat kejadian malam tadi.
...----------------...
Setelah bersiap, mereka semua keluar dari penginapan lalu menghampiri sebuah kedai yang khusus menyediakan sarapan.
Makanan di sana cukup bisa diterima oleh semua orang, karena bukan makanan yang tradisional.
Lalu disaat mulai makan, Asmodeus dan Succubus tampak termenung dan menatap ke bawah. Erina menegur mereka
"Eh kalian kenapa lesu banget sih? masih ngantuk? emang pada tidur jam berapa sih? liat tuh pak Behe, makannya lahap banget"
Behemoth yang sadar dirinya dipanggil langsung merasa canggung.
"Aku sudah dapat info dari Alexei tentang
desa - desa di Rusia",
Asmodeus memberikan ponselnya kepada Erina.
"Waah bagus - bagus banget",
Erina melihat foto - foto desa itu dengan kagum.
Ada lima desa yang diberikan oleh Alexei.
1. Vyatskoye
2. Nikola-Lenivets
3. Esso
4. Pogost
Atsagat
Erina menatap layar ponsel selama beberapa menit, memperhatikan semua detail tentang informasi yang diberkan.
Erina menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Perasaanku mengatakan.. Ia ada di desa Vyatskoye", Erina yakin.
"Apa? itu tiga ratus kilometer dari Moskow! itu perjalanan yang sangat jauh, kita seperti kembali ke awal", Asmodeus menggeleng.
"Kenapa kau bisa yakin bahwa di sana adalah lokasinya?", tanya Succubus.
"Di sini ada keterangan bahwa ini merupakan desa tua yang indah yang terletak di daerah Yaroslavl yang berjarak sekitar tiga ratus kilometer dari Moskow. Dan banyak bangunan bersejarah disana karena dulunya merupakan bagian dari daerah perang", jawab Erina.
"Memang itu ada hubungannya?", Succubus semakin bingung.
"Hmm.. sebenarnya aku pun tak tahu, hanya perasaanku yang mengatakan demikian"
"Apalagi perjalanannya membutuhkan waktu lebih dari lima hari, bagaimana ini?"
"Ah momen seperti ini adalah saat dimana Kau mengingat ketika masih menjadi astral, melewati laut pun hanya satu kedipan"
Timpal Behemoth dengan mulut penuh makanan
"Laut kau bilang?", Asmodeus tampak memikirkan sesuatu.
"Kalau tidak salah, lautan itu memiliki batas dimensinya sendiri. Disana bisa terjadi pergolakan ruang dan waktu yang bahkan tak terdeteksi dari akhirat, makanya Levi sering berada disana"
"Jadi, kesimpulannya adalah?"
Erina penasaran setelah mendengar penjelasan Asmodeus.
"Yaa.. kalau menurutku sepertinya kita bisa meminta Levi untuk membantu kita, dengan membuat portal atau semacamnya, tapi tanpa bisa diketahui oleh Lucifer"
"Jadi dia tak akan terpengaruh mantra perjanjian? wah kalau benar itu sangat hebat", Erina mulai bersemangat.
"Tapi kalau tidak salah ya, aku tidak yakin juga"
"Tapi bicara soal Leviathan, kemarin saja kamu bahkan hampir mati saat memanggilnya"
"Dan ternyata, dia datang karena panggilanmu, bukan karena aku", Asmodeus mengeluh.
Mereka pun memikirkan apa rencana yang cocok, tanpa harus menghabiskan perjalanan berhari - hari.
...----------------...
Siang harinya.
Mereka berempat berada di pinggir sebuah dermaga, kali ini dermaganya sangat ramai karena memang ini kota yang aktifitas perairannya sangat besar.
Mereka sudah bersepakat untuk mencoba memanggil Leviathan tapi tanpa mengorbankan nyawa siapapun.
Erina mengarahkan cincinnya ke laut, dan mencoba memanggil Leviathan di dalam hatinya, Ia menutup matanya dan melakukannya dengan sepenuh hati.
Yang lain melihat ke arahnya dengan penuh harap.
......................
Beberapa menit kemudian, tiba - tiba banyak sekali lalat yang berdatangan, dan langsung mengerubungi mereka.
Mereka sibuk mengusiri para lalat itu, namun Erina berusaha tetap berkonsentrasi dengan yang sedang dilakukannya.
"Ah! Aku tahu ini ulah siapa, Beelzebub! keluarlah kau!", teriak Asmodeus.
Lalu muncullah seekor lalat raksasa berwarna coklat, ukurannya sebesar manusia dewasa dan berbau sangat menyengat.
"Kyaaaa..."
Erina berteriak ketakutan dan jijik.
Lalat itupun berubah wujud menjadi seorang manusia. Pria bertubuh tambun dengan jubah yang sudah robek - robek, penampilannya sama sekali tidak mengesankan seorang petinggi neraka.
"Akulah Beelzebub, sang penguasa udara, ada apa kalian memanggilku?"
"Penguasa udara apanya, kau kan penguasa sampah", Asmodeus mencibir.
"Huh, masih untung aku mau menampakkan diri di depan kalian para manusia biasa yang tidak jelas tujuan hidupnya ini", Beelzebub terlihat kesal.
"Hei kami kan tidak memanggilmu, tapi Leviathan"
Erina menambahkan.
"Ya mau bagaimana, aku mendengar sinyal yang kau keluarkan, jadi sekalian saja aku datang. Lagipula aku sebenarnya mencari orang ini di neraka, tapi katanya sedang cuti", Beelzebub menunjuk Asmodeus.
"Kau mau bayar hutang kan?"
Beelzebub mengarahkan pandangannya ke Erina, lalu mendekatkan dirinya, Erina sedikit menjauh,
"Oh, jadi ini gadis yang menghebohkan seluruh akhirat itu?"
"Hei jangan terlalu dekat, k**au akan membuatnya bau**",
Asmodeus mendorong Beelzebub.
"**Ah bocah ini, sebenarnya aku sangat kesal karena kau membuat kehebohan, tapi apa daya karena kita di kubu yang sama"
"Kurasa ini bagian dari jalan takdir akhirat"
"Begitu ya? lalu kau yakin sudah cling
dengannya**?"
Asmodeus mengangguk dengan mantap.
Beelzebub kemudian menunjuk Behemoth dan Succubus, "Lalu apa urusannya dengan kedua orang ini? Lucifer sibuk mencari kalian tahu"
Behemoth dan Succubus saling bertatapan dengan ekspresi khawatir.
"Pokoknya, sekarang ini adalah situasi yang cukup rumit. Tapi intinya kami ingin membantu Erina untuk menemukan Ibunya. Namun jika ada astral yang bersedia untuk membantunya, maka Ia akan kehilangan kemampuannya"
Asmodeus menjelaskan.
"Hmm.. a**ku paham, lalu kalian ingin mencari Levi karena mengetahui ada titik kosong di
lautan bukan**?"
"Jadi itu benar adanya ya?!", Asmodeus mulai bersemangat.
"Itu benar, nah s**ekarang tinggal pilihannya, aku akan membantumu memanggilkan Levi atau tidak**"
Asmodeus menyadari bahwa Beelzebub adalah orang yang malas membantu orang lain jika itu menyusahkan dirinya sendiri.
"Tapi, daripada itu, ada satu hal yang sebenarnya paling kubenci"
kata Beelzebub.
"Apa itu?"
"Perselisihan antar kubu"
"Kau ingin kubu atas dan bawah berdamai?"
tanya Asmodeus.
Beelzebub mengangguk.
Asmodeus sadar, kalau ini semua berakhir sesuai rencana Lucifer, mungkin tidak akan ada lagi perselisihan.
Namun Asmodeus sudah memiliki rencana untuk mengacaukan semuanya dan tidak memberikan Erina pada akhir dari misi ini,
yang dimana akan lebih memperparah hubungan antar kubu yang bahkan bisa menyebabkan perang besar.
"Aku pun tak tahu bagaimana cara membuat kedamaian bagi para petinggi neraka. Aku hanya mampu memperjuangkan yang ada di depan mataku", Asmodeus menatap Erina.
Beelzebub terdiam.
"Semua ini juga terserah padamu, kalau kau tak mau membantu, maka kami akan mencari jalan lain", Asmodeus menepuk pundak Beelzebub.
Beelzebub tersenyum, "Sebenarnya, tak ada alasan bagiku untuk tak membantumu. Karena kau selalu membantuku disaat susah dulu"
Asmodeus cukup terkejut dengan keputusan Beelzebub tersebut.
"Kalian bersiaplah, akan datang ombak besar menyerupai tsunami jika Leviathan muncul"
Kata Beelzebub seraya memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan.
Erina dan Asmodeus berpegangan tangan.
Succubus memeluk Behemoth.
Setelah beberapa menit, tak terjadi apa - apa
Mereka saling bertatapan.
Tiba - tiba muncul seorang pria dari belakang dan mengejutkan mereka, "Ah jadi disini rupanya kalian"
Semua orang bingung melihat pria itu.
Pria itu adalah Leviathan, dengan wujud seorang pria biasa dan kedatangan yang biasa saja.
"Hah? Levi kenapa kau datang begitu saja? padahal kami sudah bersiap untuk kedatangan yang epik", tanya Beelzebub.
"Ah begini, aku memang sedang melewati jalur darat, karena sedang menghindari sesuatu
di laut", Leviathan menggaruk kepalanya.
"Pasti mantanmu ya???"
Erina langsung berteriak dengan yakin.
Leviathan menatap Asmodeus dengan geram,
"Asmo dasar mulutmu itu ya"
Asmodeus hanya tersenyum.
"Hei nanti kalau bertemu dengan Nyi, aku akan coba membicarakan tentang hubunganmu dengannya", Erina berinisiatif.
"Bicara apa? memangnya kau kenal dia? memangnya kau tahu dia seperti apa?"
"Yaa.. aku hanya tahu dari cerita Asmo,
tapi aku akan memberikannya pengertian sebagai sesama wanita. Aku tahu Ia hanya takut kehilangan sosokmu yang begitu gagah
dan tampan"
Wajah Leviathan pun memerah,
"Aku.. sebenarnya masih menyayanginya, asalkan dia tak sebegitu posesifnya"
"I know, makanya pertemukan aku dengannya, aku ngefans tahu sama beliau"
"Kalau kau pergi ke pantai selatan dengan memakai baju berwarna hijau, maka kau akan bisa langsung masuk ke gerbang dimensi tempat istananya berada"
"Jadi mitos itu benar adanya ya?"
Leviathan mengangguk.
"Sayangnya, banyak manusia yang tidak bisa kembali karena tidak tahu jalan pulang. Dan berakhir dengan menjadi budaknya di sana. Tapi kalau kau, ak**u yakin pasti bisa pulang, bahkan.. kalau kekuatanmu sudah sempurna, kau bisa mengambil alih kerajaannya**"
"Ah, aku tak mungkin begitu",
Erina bertatapan dengan Asmodeus.
Ia merasa khawatir dengan rumor kekuatannya yang begitu besar yang bahkan bisa menggoyahkan akhirat. Apakah itu akan membuat orang - orang menjadi segan atau malah memusuhinya.
Asmodeus lalu mendekat ke Beelzebub dan Leviathan yang sedang menampakkan wujudnya sebagai manusia.
"Oke, jadi kubu atas sudah berkumpul sekarang, mari kita diskusikan sebuah rencana"
ucap Asmodeus.