
Karena tak bergerak, Asmodeus perlahan mulai tenggelam, warna air yang gelap membuatnya langsung menghilang dari pandangan Erina, dan itu membuat Erina gelisah.
Satu menit pun berlalu, Erina mulai berkeringat, air tampak tenang, tak ada pergerakan sedikitpun, Ia mulai berteriak memanggil Asmodeus, namun tak ada reaksi.
Ia berusaha untuk menunggu lagi.
Karena merasa tak sabar, Erina yang panik mulai mengobok - obok air dengan tangannya. Sudah hampir dua menit.
Lewat dari dua menit, tiba - tiba 'splaaashh' Asmodeus muncul dari dalam air, Erina berusaha menariknya keatas dermaga dengan sekuat tenaga.
Bibirnya sudah mulai membiru, nafasnya sesak dan tubuhnya menggigil, Erina tak tega melihatnya.
"Hei, sudah cukup! kita coba ide yang lain saja"
"Ti..tidak..biarkan aku mencobanya..sekali...lagi.."
ucapnya dengan bibir yang gemetar.
"Tolonglah, kalau Kamu mati disini semua jadi sia - sia", Erina mulai sedih.
"Kamu...harus percaya...padaku"
Asmodeus mencoba untuk meyakinkan Erina.
Ia memegang lengan Erina dengan tangan yang basah dan dingin.
Erina menggeleng, Ia tidak setuju untuk melanjutkan rencana ini karena rasanya sangat tidak masuk akal.
Asmodeus terus memohon, dan Erina akhirnya menyetujuinya dengan berat hati.
Asmodeus, terjun kembali ke dalam laut, Erina melihatnya dengan sangat khawatir.
Ia menunggu lagi, tak ada suara ataupun riak di air, tak terasa waktu sudah berlalu lebih dari dua menit.
"Aakhh.. ini benar - benar menyebalkan.."
Erina geram dan tidak bisa bersabar lagi, lalu Ia menuju ke pinggir dermaga, dan mulai berteriak,
"LEVIATHAAANNN!!!"
Erina berteriak sambil mengacungkan lengan dengan cincin yang terpasang di jarinya.
"LEVIATHAAANNN...DATANGLAAH! KUMOHOON", Erina berteriak dengan suara yang mulai serak.
Orang - orang yang lewat mungkin menganggapnya seperti orang gila, atau juga anggota sebuah kultus yang sedang melakukan ritual aneh.
Asmodeus juga berteriak di dalam air memanggil Leviathan namun tidak terdengar Erina, karena kedalaman laut di bibir dermaga kira - kira mencapai enam meter.
Setelah kira - kira hampir tiga menit berlalu, Erina berniat ingin masuk ke dalam laut juga, biar mereka mati bersama saja, pikirnya.
Namun Ia meneriakkan nama Leviathan untuk yang terakhir kalinya sambil mengacungkan cincinnya ke udara, dan kali ini cincinnya yang berwarna jingga mengeluarkan cahaya sangat terang.
'Jebuuurrrr' ombak besar menerpa dermaga, Erina terpental jatuh.
Muncullah Leviathan yang bertubuh tegap dan berotot menggendong Asmodeus yang terkulai lemah dan tak sadarkan diri.
Leviathan meletakkan tubuh Asmodeus yang membiru di dermaga, Erina langsung menghampiri dan menggoyang - goyangkan tubuh kekasihnya itu.
"Makasih ya, makasih banget udah mau datang", Erina terharu.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih? memanggilku tiba - tiba"
Leviathan merasa agak kesal.
"Nanti akan kuceritakan, tapi sekarang tolong dia dulu", ucap Erina.
Leviathan menaruh tangannya di dada Asmodeus. Tangannya bercahaya dan tiba - tiba seluruh air yang membasahi Asmodeus terserap semua, dan langsung menyadarkannya.
Erina yang bahagia langsung memeluknya penuh haru.
Lalu Erina pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Leviathan menggeleng - gelengkan kepalanya saking tidak habis pikir mengenai keputusan yang dibuat oleh kedua orang itu.
Asmodeus yang sudah sadar, tersenyum dan merangkul Leviathan.
"My bro! thank you for coming my bro", ucapnya dengan penuh rasa syukur.
"Halah mabro mabro, tindakan kalian itu sudah diluar nalar tahu, kalau misalkan aku sedang tidak di sini kau pasti sudah mati!"
"Tapi sebelumnya aku kan sudah meminta bantuanmu seandainya kami terdesak"
"Iya, tapi mana aku tahu kalau kau malah jadi manusia, auramu jadi tak bisa terdeteksi tahu"
"Tapi kau datang karena mendengar panggilanku kan?"
"Tidak, suara yang kudengar adalah suara Erina. Aku merasakan kekuatan dan tekad yang besar dari suaranya"
Asmodeus dan Erina terkejut mendengar pernyataan itu.
Erina melihat cincinnya, "tadi, cincin ini bersinar terang dan aku merasakan ada sesuatu seperti dorongan yang tak biasa di dalam diriku"
"Sepertinya cincin itu telah memicu tubuhmu untuk mengeluarkan potensi yang tersembunyi", ucap Leviathan.
Kedua lelaki itu pun menatap Erina dengan kagum, Erina jadi salah tingkah ditatap dua pria tampan itu
"Hei kenapa malah ngeliatin aku sih? ayo kita jalankan rencana berikutnya"
Lalu Asmodeus menceritakan bahwa mereka telah kehabisan uang dan tidak memiliki petunjuk yang dapat membantu pencarian mereka.
Namun Leviathan tidak bisa membantu mereka secara langsung karena itu akan membuatnya terjerat ke dalam mantra perjanjian iblis.
"Kurasa kalian harus bertemu dengan anak Lucifer yang tinggal disini"
"Serius!? ada anak Lucifer juga disini?"
Erina merasa bersemangat.
"Ya, keturunannya memang ada dimana - mana, mungkin tersebar di seluruh benua"
"Dasar tukang beranak", ucap Erina dengan perasaan jengkel.
"Bisa dibilang dia adalah saudaramu
juga, dan kabarnya dia adalah seorang keturunan bangsawan, nah kalau kalian bertemu dengannya, semoga saja dia mau membantu, karena kalau yang membantu bukan astral, Ia tak kena pengaruh mantra bukan?"
"Benar, tapi memang siapa namanya?"
"Aku tidak tahu juga, hanya mendengar
desas desus"
"Ah ayolah, nanggung banget sih infonya"
"Hmm.. coba cari saja daftar nama para bangsawan di rusia dan cari yang kira - kira cocok"
"Itu tidak masuk akal".
Sesaat kemudian Asmodeus menemukan sebuah ide yang sangat brilian,
"Hei kau mau mati ya!?",
Leviathan terpancing emosinya.
Erina jadi penasaran dan berbisik
pada Asmodeus, "rahasia ini soal apa?"
"Ini soal mantannya", balas Asmodeus dengan senyum licik.
"Oke cukup! begini saja, aku akan berusaha berkomunikasi dengan astral setempat untuk mencari siapa yang harus kalian temui"
Leviathan memejamkan matanya selama tiga puluh detik.
"Oke, beres! kalian tinggal tunggu saja"
"Beres apa? siapa yang kita tunggu? kau tak memberi kami uang?", tanya Asmodeus memaksa.
"Nggaklah, itu bukan urusanku"
Leviathan masuk ke air dan menghilang.
Erina masih terlihat khawatir karena meskipun sudah dibantu, wujud dari bantuan itu belum jelas.
Tidak lama kemudian, muncul dua orang pria berbaju hitam yang mengejar mereka di bandara tempo hari, kali ini mereka menggunakan mobil sedan hitam mewah.
"Mo.. mereka yang kemarin, ayo cepat lari"
"Akhhh.. kenapa pakai datang sekarang sih"
Erina dan Asmodeus berlari menghindari kejaran orang asing itu, merek menunduk sambil melewati parkiran mobil di dekat dermaga.
Namun ketika sedikit lagi sampai ke motel,
di depan mereka berhenti sebuah mobil sedan hitam, dan muncul dua orang yang langsung menutup mulut mereka dengan sapu tangan. Seketika keduanya langsung merasa lemas dan tak sadarkan diri.
...----------------...
Asmodeus tersadar, Ia melihat sekeliling. Suasananya seperti di dalam kastil, kastil yang kira - kira dibangun pada abad pertengahan, namun dengan setting interior klasik yang lebih modern.
Ia terduduk di sebuah kursi makan yang besar, di depannya ada meja makan selebar enam meter dengan berbagai hidangan mewah diatasnya.
Erina di sebelahnya baru saja terbangun, Ia juga langsung menoleh ke kiri dan kanan karena kebingungan.
"Kita diculik kan? tapi kenapa banyak
hidangan disini? dan kita gak diikat", tanya Asmodeus.
"Kurasa kita disuruh makan supaya gemuk, lalu organ kita akan dijual", ucap Erina dengan wajah ketakutan.
Mereka berdua mulai berspekulasi yang aneh - aneh.
Tak jauh, terlihat kedua orang yang menculik mereka, yang tampak seperti bodyguard berdiri di samping pintu mewah yang besar.
"господин Алексей войдет в комнату",
salah seorang bodyguard itu berbicara bahasa rusia dengan lantang.
Seketika pintu besar terbuka.
Erina dan Asmodeus melongok kearah pintu sambil menelan ludah, tak tahu nasib seperti apa yang akan mereka alami.
Muncullah seorang pemuda berambut pirang klimis dan memakai setelan jas mengkilap berwarna biru dongker. Badannya tinggi, kurus dan berkulit sangat pucat seperti mayat, perawakan wajahnya agak angker namun terlihat berusia dibawah tiga puluhan.
"Selamat siang tuan dan nona, maafkan atas penyambutan yang kurang hangat",
suaranya serak terdengar seperti anak yang baru melalui masa puber.
Asmodeus hanya diam dan memperhatikan pria itu, warna matanya sama seperti Erina.
Disaat ini Ia menyadari orang itulah keturunan Lucifer yang dimaksud oleh Leviathan.
"Perkenalkan, namaku Alexei Stanislav, pemilik kastil ini, dan keturunan ke tiga belas dari Lucifer Morningstar"
Erina ternganga mendengarnya, rupanya saudaranya benar - benar seorang bangsawan.
"Anak buahmu yang mengejar kami kemarin kan? apa kau tahu soal kedatangan kami?"
Asmodeus lantas bertanya.
"Ah iyaa.. sebenarnya aku sudah mengetahuinya dari peramal kami, bahwa akan ada anak Lucifer yang berkunjung, jadi aku menyuruh anak buahku menjemput kalian, tapi kalian malah lari. Untung tadi ada astral yang memberitahukan lokasi kalian"
"Apa itu yang disebut menjemput?"
"Maaf tapi disini gayanya memang begitu, karena kalian lari makanya jadi terpaksa dengan cara seperti ini, sekali lagi maaf ya"
Alexei menunduk.
Kemudian Ia mendekati Erina.
"Jadi Kau saudaraku ya? wah mata jingga ini , sudah lama tidak kulihat selain milikku sendiri"
Asmodeus masih penasaran,
"Hei kau tadi bilang keturunan ke tiga belas, memangnya berapa umurmu?"
Alexei tersenyum,
"umurku kira - kira tiga ratus tahun"
"Hmm.. apakah semua keturunan Lucifer akan terlahir sebagai makhluk abadi?"
"Tidak - tidak, ini karena ibuku adalah seorang keturunan vampir, jadi aku memiliki kemampuan regenerasi yang kuat, sehingga bisa bertahan selama itu, meskipun yaa harus rutin mengkonsumsi sesuatu."
..."Tapi ngomong - ngomong paman ini siapa ya?"...
Alexei mendekat ke Asmodeus.
"Dia adalah Asmodeus", ucap Erina.
Alexei seperti tidak mempercayai ucapan Erina, Ia memeriksa Asmodeus dari kepala sampai kaki.
"Se.. serius, ini Tuan Asmodeus sang petinggi neraka tingkat pertama?"
Asmodeus mengangkat dagunya dan menaikkan satu alisnya untuk menunjukkan wibawanya.
"Tapi kenapa terlihat seperti mas - mas biasa?"
Asmodeus langsung lesu.
"Ceritanya panjang, tapi aku akan memberitahu kalau kau bersedia mendengarkan, wahai saudaraku", Erina berbicara dengan cara yang agak formal
"Ah tidak usah kaku, aku akan
mendengarkan kok, sudah lama aku tak kedatangan tamu"
Erina pun menceritakan semua pengalamannya bagaimana akhirnya mereka bisa sampai disini, tapi tanpa memberitahukan bahwa Ia keturunan Lucifrr ke enam ratus enam puluh enam.