
Keesokan paginya, langit biru dan cuaca cerah.
Dari apartment berlantai 13 di pinggiran kota Jakarta, polusi dan suara berisik tidak terlalu terasa, suara burung pun kadang terdengar meskipun sayup - sayup.
Erina tinggal di apartment yang gedungnya sudah cukup lama, jadi perawatannya juga tidak begitu bagus. Ia tinggal disana sejak berusia 15 tahun, karena rumah orangtuanya harus digusur akibat pembangunan jalan tol.
Pagi ini Ia bangun jam 6 pagi, bersiap untuk pergi ke kantor. Ketika keluar kamar, Ia melihat Damien yang terlelap di sofa sambil mendengkur kencang.
"Yaampun katanya malaikat maut gak butuh tidur"
Erina tidak tahu Damien telah menghadapi malam yang panjang.
Lalu Iapun menyiapkan telur dadar dan susu untuk Damien, kemudian turun untuk ke parkiran mobil.
Saat membuka pintu Ia melihat beberapa karangan bunga duka cita kecil di dekat pintunya, namun Ia tidak melihat namanya, pikirnya itu kiriman untuk tetangganya, jadi Ia cuek dan hanya berjalan terus.
Di parkiran Erina mencari - cari mobilnya. Hampir setengah jam Ia tak juga menemukannya, Ia mulai panik, bahkan sampai lupa untuk cek ponselnya terlebih dahulu.
Seketika Ia teringat lalu segera mengambilnya di tas kecil yang dibawanya,
...57 missed calls...
...45 unread messages...
Erina terkejut dengan jumlah orang yang menghubunginya.
Kemudian datang seorang satpam yang berjaga di parkiran itu. Ia sudah agak tua dan bertubuh pendek, mereka biasa bertegur sapa ketika Erina akan berangkat bekerja.
Tapi sang satpam itu melihat Erina dengan berbeda, tatapannya menyiratkan ketakutan.
"Ha..hantuuu...", bapak satpam itu lari terbirit - birit setelah melihat Erina.
Erina sangat bingung sambil melihat kanan kiri, siapa yang dilihatnya sebagai hantu?
Kemudian Ia melihat pesannya lagi, semua berisikan pertanyaan dimanakah dirinya, karena mobilnya masuk ke sungai dan pengemudinya tidak ditemukan, sudah lebih dari satu bulan.
Betapa terkejutnya ketika fakta bahwa Ia hanya berada satu hari di akhirat rupanya di dunia sudah lebih dari satu bulan.
Bahkan muncul berita kalau pemilik mobil kuning sudah meninggal terseret arus sungai dan jenazahnya tidak dapat ditemukan.
Erina terduduk dan bersedih, Ia tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.
Damien pun muncul dan berjongkok di depan Erina yang sedang menunduk.
"Dengan begini, anggaplah kau memulai hidup yang baru, lagipula katamu kantor lama itu kontraknya sudah gak diperpanjang lagi kan?"
"Oh iya..sampai lupa kalau sudah dipecat, haaaahh..yasudah, balik ke kamar lagi aja deh"
"Kita bahas dulu aja rencana kedepannya kau mau ngapain"
Seketika Damien bersikap seperti penasihat kehidupan.
Sesampainya di lantai atas, Erina melihat karangan bunga itu, dan disana tertera namanya, rata - rata dari klien yang pernah bekerjasama dengannya saat dikantor lama, beberapa juga berasal dari rekan kerjanya.
Erina muram membaca semua tulisan - tulisan yang tertera di sana.
Tiba - tiba, pintu kamar tetangga Erina terbuka dan seseorang keluar. Seorang perempuan muda berumur dua puluhan dengan gaya yang tidak modis, rambut dikepang dua dan kacamata bulat.
"Akkh..kak Erina! kak Erina masih hidup!"
perempuan itu langsung memeluk Erina tanpa ragu.
"Eh, Anna, kau gak menganggap Aku hantu?"
"Ya nggaklah! Aku yakin kak Erina masih hidup"
Anna berlinang air mata.
Anna adalah teman seperjuangan Erina di apartemen ini karena kurang lebih nasib mereka sama, kehilangan orangtua di usia muda. Makanya Erina menganggapnya seperti adik sendiri, meskipun Anna masih memiliki ayah yang memberikannya uang, namun mereka tak tinggal bersama karena ayahnya sudah menikah lagi.
"Aku takut banget waktu denger berita mobil kak Erina kecelakaan, kukira kita gak bakal ketemu lagi, karena cuma kak Erina yang bisa bikin aku semangat"
"Loh, pacarmu gimana? si Zaki"
"Dia lagi mau fokus ujian semester katanya, jadi gak bisa ketemuan"
Erina tahu sekali watak laki - laki yang mulai bersikap cuek, ghosting, lalu minta putus.
"Yasudah ke kamarku yuk, kita ngobrol - ngobrol, tapi kakak lagi ada tamu"
Erina pun memperkenalkan Damien kepada Anna, Anna bingung karena Ia tak melihat siapapun disana.
Damien memejamkan mata, sambil menggelengkan kepala.
"Akh ya aku lupa", Erina tak ingat fakta bahwa laki - laki yang menginap di rumahnya, yang Ia kira bisa dipercaya, ternyata tak bisa dilihat orang lain.
Lalu Anna curhat tentang keadaannya beberapa minggu terakhir ini, ayahnya tak lagi mengirimkannya uang, pacarnya mulai sering menghindar, dan di kampus nilainya menjadi turun.
Damien hanya memperhatikan keduanya dari jauh.
Setelah Anna pergi Damien bertanya,
"Jadi, anak itu senasib ya denganmu?"
"Ya..kurang lebih, aku gak mau dia jadi putus asa sepertiku kemarin"
"Bagus, kalau mentalmu sudah stabil Aku bisa pergi dan kembali bekerja lagi"
"Omong - omong soal pekerjaan, Damien, kau tahu gak rasanya kalau kehilangan pekerjaan?"
"Nggak, tapi kayaknya situasi ini mungkin bisa menyebabkan itu terjadi"
"Gara - gara Aku ya?"
"Yah Aku juga bukan yang terbaik dalam pekerjaan ini sih"
"Apa semua makhluk di akhirat punya pekerjaan?"
"Akan kujelaskan, jadi di akhirat itu ada...."
1. Greater being / bos besar: pencipta dan
pengatur segala.
2. Astral: lahir sebagai makhluk astral,
bentuknya bermacam - macam.
3. Jiwa putih: lahir sebagai manusia.
4. Jiwa hitam: jiwa manusia yang tersesat /
gentayangan.
Bentuk - bentuk Astral:
Manusia, Hewan, formless / acak,
malaikat dan iblis juga astral tapi tingkatannya berbeda.
Astral bisa memilih mau bekerja atau hanya gentayangan selamanya, karena astral sifatnya abadi, tidak perlu makan, tidur, dan hanya bisa mati jika dibunuh oleh astral yang tingkat kekuatannya lebih tinggi.
Setiap astral memiliki kekuatan khusus yang dianggap seperti sihir bagi manusia, seperti berubah bentuk, memunculkan benda, merubah wujud benda, berpindah / teleportasi. Makanya banyak manusia yang melakukan perjanjian dengan makhluk astral.
"Jadi, Apakah kau bekerja karena gak mau gentayangan gak jelas?"
"Hei, aku juga ingin kehidupan yang lebih baik, kalau kami bekerja, kami jadi bisa punya status sosial yang lebih bagus, dan juga bisa dapat tempat tinggal yang layak"
"Wah, ternyata sama seperti manusia ya"
"Iya, apapun makhluk yang diciptakan Bos Besar, semuanya harus berjuang untuk hidup".
"Begitu rupanya, eh iya, gimana nasib mobilku ya?", Erina tiba - tiba teringat mobilnya yang masuk ke sungai.
Akhirnya Ia dan Damien memutuskan untuk mencari mobilnya.
Setelah bertanya ke kantor polisi, merekapun mampir ke pusat pembuangan mobil bekas, disanalah Erina menemukan mobilnya yang sudah remuk, dan kemungkinan akan dihancurkan jika tak ada yang mau mengambilnya kembali.
Erina masuk ke dalam mobilnya yang sudah berbau tidak sedap, Ia memegang setirnya dan memorinya pun bangkit. Naik mobil bersama Ayah Ibunya, pergi berwisata ataupun sekedar membeli sesuatu. Orangtuanya sangat baik kepadanya, meskipun kadang Ia menyadari dirinya tidak mirip Ayah ataupun Ibunya, namun Ia tak pernah berburuk sangka.
"Dam!", Erina memanggil Damien yang sedang berdiri di luar mobil dengan menggunakan setelan kemeja dan celana kerja hitam serta sepatu pantovel hitam.
"Apa kekuatanmu bisa untuk memperbaiki mobil ini?", tanya Erina dengan tatapan memelas.
Damien tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya, Erina menghela nafas, nampaknya Ia harus merelakan mobilnya.
Merekapun bergegas untuk kembali ke apartemen, namun dijalan Erina memutuskan untuk mampir ke coffeeshop tempatnya bekerja sambilan untuk mengabarkan bahwa Ia baik - baik saja.
Di coffeeshop, pengunjung nampak ramai, namun kasir dan baristanya bukan orang yang dikenalnya, Ia celingukan mencari manajernya, pak Bong, tapi ternyata pak Bong telah menyerahkan kepemilikan coffeeshop itu pada seorang wanita muda.
"Erina!", terdengar suara seorang wanita.
Suara itu berasal dari seorang wanita muda berambut pendek berwarna ungu, dengan gaya berpakaian selayaknya wanita karir yang elegan.
"Eh, Clara kan?", Erina menunjuk wanita irtu dengan tidak yakin.
Rupanya pemilik cafenya yang baru adalah sahabatnya semasa SMA dulu. Merekapun bernostalgia dan banyak bercerita hingga petang, Erina juga boleh langsung bekerja lagi kapanpun Ia mau.
Mendengar berita baik, hati Erina menjadi sangat senang ketika kembali lagi ke apartemen, Ia melupakan kesedihannya sesaat.
Tiba - tiba terdengar dering ponsel, bukan ponsel Erina tetapi milik Damien.
Di layarnya tertulis 'Supervisor', wajah Damien menjadi tegang.