
Erina dan Damien berlari bersama, melintasi tempat - tempat yang terlihat asing dan aneh, Erina masih belum percaya bahwa ini adalah akhirat, Ia butuh banyak penjelasan namun Ia tak mendesak dan hanya mengikuti alur perjalanan.
Damien memperlambat langkahnya, kemudian berhenti di semak - semak.
"Oke, kita istirahat sebentar, di depan sana ada gerbang untuk berpindah alam, kita hanya harus masuk ke dalam sana"
"Tapi sebelum itu, bisakah kau menjelaskan situasinya? sebelum aku bertambah bingung",
pinta Erina.
Damien pun menjelaskan tentang Erina yang benar berada di akhirat, disebabkan oleh sebuah kesalahan teknis disaat pengambilan nyawa, dan sekarang Ia harus kembali ke dunia sebelum jiwanya benar - benar diambil.
"Wah, jadi yang kupikirkan waktu di mobil itu benar - benar terjadi ya",
Erina termenung sesaat.
"Kau berpikir untuk bunuh diri?"
"Iya.."
"Ckckck...tidak ada yang pantas mati sebelum waktu yang ditentukan, bunuh diri itu sangat
dilarang tahu", Damien menasehati.
"Maaf, tapi aku merasa sudah tidak berguna dan ingin mati saja"
"Bodoh! banyak yang sudah mati menyesal ingin hidup lagi", Damien agak kesal melihat Erina yang begitu putus asa.
Padahal sepenglihatan Damien, Erina memiliki kesempurnaan fisik, terlepas dari apapun yang menimpanya, karena Ia belum mendengar cerita tentang kehidupannya di dunia.
"Pokoknya nanti kau juga harus cerita kenapa sampai ingin bunuh diri, mungkin itu yang mempengaruhi takdirmu bisa sampai berada disini"
Erina mengangguk, lalu mereka melanjutkan perjalanan.
Di depan ada gerbang yang dijaga oleh dua prajurit berwujud tengkorak yang memegang tombak dan memakai baju zirah seperti pasukan dari kerajaan abad pertengahan.
Erina terlihat khawatir, "Wah mereka sepertinya kuat, bagaimana cara melewatinya?"
Damien terlihat percaya diri, Ia melangkah maju mendekati kedua penjaga itu.
"Hei! berhenti! tak boleh ada yang masuk kesini!!", gertak kedua penjaga seraya mengacungkan tombaknya ke arah Damien.
"Kau mau apa?! hati - hati!", Erina bersembunyi di belakang semak - semak.
"Saatnya mencoba barang baru ini", Damien mengeluarkan sabitnya, lalu dengan gelang yang diberikan Asmodeus, sabitnya menjadi lebih sempurna dan terlihat kuat.
Ia bersiap dengan kuda - kuda untuk menyerang, "Maaf ya para penjaga, ini urusan yang mendadak"
Damien mengayunkan sabitnya, dengan satu sabetan Ia menghancurkan kedua tengkorak penjaga dengan mudah.
Erina melihat kejadian itu dan takjub
"Wah kau hebat, tapi...kasihan juga penjaga itu, apa tak bisa kalau dibicarakan baik - baik?"
"Ya jelas gak bisa! karena mereka sudah diatur agar menyerang siapapun yang ingin masuk, kecuali para petinggi"
"Jadi kita sedang melanggar peraturan sekarang?"
"Keberadaanmu disini saja sudah merupakan pelanggaran. Tapi karena sudah dapat perintah dari Asmodeus jadi harusnya aman"
"Apa Asmodeus seorang petinggi?"
"Iya"
"Pantas saja badannya sangat tinggi", Erina tersipu.
Damien berekspresi malas.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam gerbang. Di dalamnya terdapat sebuah lubang besar seperti sumur yang berisikan pusaran cahaya berwarna putih.
"Ini apa?", tanya Erina.
"Ini adalah portal perpindahan alam, cara instan untuk pergi dan masuk ke akhirat"
"Aku harus masuk **ke dalam sini?"
"Iya, cukup pikirkan lokasi yang akan kau tuju secara rinci, jangan sampai salah, dan pooff!kau tiba dalam sekejap"
"Seperti teleportasi dalam film**?"
"Ya begitulah, tapi ini nyata"
"Tidak, aku hanya sedang bermimpi"
"He? kau masih tak percaya?", Damien bingung.
"Tapi meskipun mimpi tetap menakutkan rasanya", Erina menatap lubang itu dengan perasaan ragu.
"Tenang, aku akan menemanimu", Damien mengulurkan tangannya.
Erina menatap Damien, "padahal aku baru mengenalmu, bahkan.....kita belum saling kenal"
"Aaa sudahlah!", Damien yang jengkel segera memeluk Erina erat - erat lalu menjatuhkan diri ke dalam portal.
"KYAAAAAA....", Erina berteriak sambil menutup matanya, rasanya seperti sedang menaiki jet coaster. Berputar, pusing, dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Erina pingsan selama beberapa menit.
Setelah sadarkan diri, Ia membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur dan kepalanya sakit.
Erina memperhatikan tangan dan kakinya, memastikan bahwa badannya masih utuh.
Setelah melihat sekeliling, hatinya merasa lega setelah melihat tempat yang dikenalinya lagi, ruang tengah apartemennya.
Erina pun tersenyum sendiri, merasa senang karena menyadari semua yang terjadi hanya mimpi belaka.
Lalu Ia menjatuhkan dirinya di sofa dua dudukan berwarna krem dari bahan suede yang sudah robek - robek. Ia menghela nafas lega.
"Wah, jadi ini tempat tinggal si wanita yang ingin bunuh diri itu, kelihatan cukup bagus", Damien mendadak muncul dari belakang sofa, membuat Erina terjerembab.
"Ka...kau? kau nyata!?", Erina terbelalak, tak percaya dengan matanya.
"Kan sudah kubilang"
"Jadi...aku benar - benar?"
"Iya, semua yang kau alami dan lihat itu nyata, hanya berbeda alam"
"Kau, kau malaikat maut sungguhan?"
Damien merasa jengkel, Ia pun mengeluarkan sabitnya untuk meyakinkan Erina.
"Oke..oke..cukup, ini benar - benar membingungkan bagiku, aku ke akhirat dan diikuti oleh malaikat maut"
"Baiklah, bagaimana kalau kau cuci muka atau mandi untuk menyegarkan pikiranmu?", Damien menyarankan.
"Ngghh..benar juga...... kau duduk disini saja", Erina bangkit dan menunjuk sofa tempatnya duduk tadi.
Damien memperhatikan sekeliling, interiornya semua rapi dengan warna - warna yang lembut, banyak buku - buku dan kardus yang diikat dan ditumpuk seperti hendak dibuang. Ia menyadari kalau Erina tadinya tidak tinggal sendirian di apartmen ini.
"*Kyaaaaaa**aaa*..."
terdengar teriakan Erina dari kamar mandi, Damien kaget dan beranjak dari sofa.
Erina berlari ketakutan keluar kamar mandi, hanya menggunakan handuk saja, kemudian langsung memeluk Damien.
Damien jadi salah tingkah, "Eh..ke..kenapa? ada apa di kamar mandinya?"
"I..itu diatas kamar mandi, ada yang hitam - hitam ngelihatin hiiii..", tubuh Erina gemetar, Ia sangat ketakutan.
Damien bergegas masuk ke kamar mandi, Ia melihat ada sesosok pria kecil, kepalanya botak, kulitnya berwarna hitam, dan matanya merah menyala, menempel di langit - langit.
Makhluk itu tersenyum dengan cabul, Damien menjadi geram dan membentaknya, "Heh dasar tuyul mesum! pergi kau!"
Tuyul itu berlari keluar sambil melompat, Erina panik lalu naik ke atas meja makan.
Damien berhasil menangkapnya, lalu memegang kakinya secara terbalik, Ia memperlihatkannya kepada Erina.
"Ii..iya benar, kalau dikamar mandi selalu gak tenang seperti ada yang ngelihatin"
Tuyul tersebut lepas dan mencoba kabur, namun Damien langsung mengibaskan sabitnya, dan tuyul itupun menghilang.
"Apa itu tadi makhluk halus? aku jadi bisa melihat yang seperti itu?", tanya Erina dengan gemetar.
"Ya, sepertinya perjalanan ke akhirat menghadiahkanmu sesuatu"
"Oh bagus, aku tidak bisa lebih beruntung lagi"
wajah Erina terlihat sangat terbebani, Ia menuju ke kamar mandi lagi untuk meneruskan mandinya.
Damien iba melihat Erina.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang cukup santai dan handuk yang menutupi rambutnya, Erina ke dapur dan memasak sesuatu.
"Maaf ya cuma ada ini, soalnya Aku gak pernah terima tamu, apalagi cowok"
Erina menaruh sebuah mi instan dalam kemasan gelas, dengan rasa ayam bawang yang baru diseduh di atas meja tepat di depan Damien.
Damien pun memperhatikan makanan itu dengan seksama, baunya tercium harum, belum pernah ada yang memberikannya makanan sebelumnya,
"Sebenarnya...Aku gak perlu makanan sih"
"Oh iya minumnya lupa"
Erina berbalik mengambilkan air minum
Betapa terkejutnya ketika kembali mie instant itu sudah kosong sampai kering.
"Hah dikemanain mi nya? dibuang ya?"
"Nggak kok, udah habis..enak juga makanan manusia rupanya"
Erina lupa kalau Damien bukanlah manusia, semua yang dilakukannya mungkin berbeda dari manusia dan menjadi agak sulit diterima akal sehat, namun Erina akan mencoba memahaminya.
Erina memakai handuk putih yang dilipat di rambutnya, tanktop hitam, hotpants pink rumahan, dan Ia duduk di depan meja menghadap ke Damien, mereka diam kira - kira lima menit, sebelum akhirnya Erina membuka percakapan, karena banyak sekali pertanyaan di kepalanya.
"Jadi...Aku boleh mulai bertanya?"
"Ngg..iya silahkan saja"
"Katanya kau malaikat maut, tapi kenapa wujudmu gak mengerikan seperti yang sering dikatakan orang - orang?"
Damien agak bingung menjawabnya, namun Ia membeberkan faktanya,
"Yaa..sebenarnya kami semua punya wujud asli, namun diperbolehkan memilih satu wujud yang menyerupai manusia untuk ditunjukkan, agar bisa membaur. Kalau mau lihat wujud asliku juga boleh"
"**Ah, sepertinya tak usah, hmm..lalu apa kau kelihatan oleh semua orang atau hanya aku yang bisa lihat?"
"Hanya kau, dan orang - orang yang mata batinnya telah terbuka"
"Itu gawat, tapi okelah, semoga aku bisa terbiasa. Lalu kalau sistem pengambilan nyawa itu gimana prosesnya**?"
Damien meminta kertas dan pulpen, kemudian menuliskan penjelasan tentang struktur pengambilan nyawa.
1. Bos besar: menentukan waktu kematian.
2. Divisi takdir: menentukan cara kematian.
3. Departmen listing: membagikan tugas kepada malaikat maut.
4. Malaikat maut: mengambil jiwa sesuai yang
ditentukan.
5. Bagian pengecekan: Memastikan jiwa yang
diambil benar.
6. Jiwa dibawa ke antrian untuk ditimbang
dosa dan kebaikannya.
7. Jiwa menuju gerbang masuk surga dan
neraka.
(*semua itu adalah fiktif, tidak menyangkut kepada agama / kepercayaan apapun)
Erina membaca tulisan Damien, "Woaah..jadi begitu ya, Aku baru tahu, jadi kalau ada satu kesalahan bakal merembet ke yang lain dong ya?"
"Yup betul, makanya Asmodeus bersikeras untuk memperbaikinya"
"Oh iya, Asmodeus itu sebenarnya siapa? namanya terdengar tidak asing? dia seperti sudah mengenalku"
"Nah sekarang penjelasan tentang para petinggi neraka"
"Neraka? jadi apakah dia itu iblis?"
"Iya kurang lebih begitu"
"Apa semua pangeran iblis setampan itu?" wajah Erina jadi memerah.
"Eerrggh...kalau itu sih aku gak tahu ya, belum pernah ketemu semua sih"
Ada tujuh tingkatan neraka dengan para petinggi yang menjadi pemimpinnya, mereka mewakili tujuh dosa besar manusia.
1. Asmodeus - N*fsu
2. Leviathan - Iri hati
3. Beelzebub - Kerakusan
4. Belphegor - Kemalasan
5. Mammon - Keserakahan
6. Satan - Kemarahan
7. Lucifer - Kebanggaan
"Karena kantor Asmodeus paling atas jadi dekat dengan lobby akhirat, Dia kadang suka patroli di daerah situ jadi bisa melihat kalau ada yang janggal"
"Oh begitu, berarti ada para petinggi versi surga juga dong?"
"Iya, tapi para petinggi surga begitu misterius dan sangat tertutup. Mereka tak suka berinteraksi kalau tak penting, dan lagi mereka sangat bercahaya, jadi kalau mereka muncul silau banget".
Setelah Damien bercerita, Erina juga turut bercerita tentang kehidupannya sampai larut malam.
"Hoaaahhm..Aku ngantuk banget, capek, kau gimana jadinya? apa harus disini terus?"
tanya Erina.
"Yaa gimana ya? aku diberikan tugas untuk menjaga Erina"
"Menjaga dari apa?"
"Dariii..enggh..dari makhluk halus yang gangguin kayak tadi"...
"Hiihh..amit - amit, semoga gak ada yang
aneh lagi. Yasudah kau tidur di sofa aja ya, mau diambilin selimut gak?"
"Gak usah, malaikat maut gak tidur kok"
"Okay Damien, Aku tidur dulu ya, besok harus kerja..Good night"
Erina masuk ke kamarnya.
Damien termenung sendiri, bingung harus melakukan apa.
Tak lama berselang, tiba - tiba para makhluk halus muncul entah darimana dan berlomba - lomba ingin masuk ke kamar Erina.
Damien yang melihat itu langsung bersiaga dan mengusir mereka satu per satu.