
'BAAMM!!', Pak Uwo menghentakkan satu kakinya ke tanah, menciptakan gelombang kejut dengan radius seratus meter, semua yang berada di sekitarnya langsung terbang melayang.
"Hati - hati, orang itu sepertinya kuat", sang pemimpin menghimbau para bawahannya.
"Kalau kalian pintar, seharusnya sekali lihat sudah mengerti", ucap pak Uwo santai.
Para Goblin dan tuyul yang terlempar banyak yang tak sadarkan diri.
Namun jumlah mereka bertambah terus, banyak bala bantuan yang muncul dari sela - sela tebing.
Mereka beramai - ramai mengeroyok pak Uwo. Meskipun ukuran mereka berbeda jauh, namun para makhluk kecil ini tak kenal rasa takut.
Sekali pukul, sepuluh tuyul terhempas, namun dua puluh lagi langsung muncul.
Mereka menggigit, dan menusuk - nusuk tubuh pak Uwo dengan belati berkarat.
Pak Uwo mulai kewalahan.
...----------------...
Ratna memusatkan pikirannya untuk mencari aura Erina, namun sangat ia sangat kesulitan karena tempat Erina berada saat ini telah di isolasi menggunakan kekuatan dari raja Goblin.
Ia tak menyerah dan tetap mencari ke seluruh pelosok tempat itu.
...----------------...
Di kereta kuda.
"Kenapa mereka lama banget sih? perasaanku tidak enak", ucap Lucifer.
"Saya juga, bagaimana kalau kita menyusul?", usul Emily.
Lucifer mengangguk, mereka berdua bergegas memacu kereta kuda lalu masuk ke wilayah pedesaan yang suram itu.
...----------------...
Erina kelelahan karena tak dapat mengaktifkan kekuatannya, dan sekarang para goblin jadi tahu apa benda gaib yang dibawanya.
"Tarik tubuhnya ke atas!", perintah Rajho.
"Kyaaaa..", tubuh Erina terangkat, tangan dan kakinya ditarik oleh tali - tali yang mengikatnya dengan kuat.
Rajho yang bertubuh tambun bangkit dari kursinya, menapakkan kaki besarnya lalu mendekati Erina yang tak mampu bergerak.
Ukuran tubuh Rajho sepantaran dengan pak Uwo, tingginya sekitar lima meter.
Ia membelai pipi Erina menggunakan jari besarnya yang kotor.
"Sudah, tak perlu berusaha lagi nona manis, aku sudah melihat semuanya"
"Uukkhh..", Erina masih berusaha, kali ini ia mencoba memanggil Kronos seperti waktu sebelumnya.
Namun sekeras apapun ia berusaha, keadaan yang terjadi tidaklah sama.
"Kenapa? kenapa nggak bisa? kakeek tolong akuu!?", Erina menggumam.
Rajho menggenggam sesuatu di atas kepala Erina, ia mencoba menarik keluar benda gaib yang dibawa Erina yang berbentuk mahkota, yaitu tiarna fatchach.
"Ohoho akhirnya tempat ini akan memiliki benda gaib, dan aku akan bisa menguasai para raksasa! ohohoho..", Rajho sudah sangat percaya diri.
"Tak akan kubiarkaaan", Erina berusaha menahannya.
"Kau takkan berhasil menahannya nak, aku lebih kuat darimu"
Namun meski sudah berusaha, Rajho juga tak dapat mengambil mahkota itu dengan mudahnya, sehingga ia menjadi kesal.
"Sebenarnya siapa sih bocah ini? kenapa dia bisa sekuat ini?"
Erina berniat untuk tetap fokus menggenggam aura dari benda gaib dengan pikirannya, agar tidak bisa dicuri dengan mudah, juga untuk mengulur waktu agar rekan - rekannya dapat menemukan lokasinya.
Karena Rajho berfokus di mahkota, Erina juga mengarahkan auranya ke cincin Anelle de Batalla untuk mencari Ratna, namun akibatnya ia mengeluarkan terlalu banyak energi.
Ia bisa mati jika mencoba lebih dari itu.
"Aarggh menyebalkan sekali wanita ini! kalian! ganggu dia agar konsentrasinya hilang!", perintah Rajho kepada para anak buahnya.
Para goblin dan tuyul pun segera bergerak, mereka menusuk - nusuk tangan, kaki, dan tubuh Erina dengan belati - belati kecil.
"Aaakkhh..", Erina muntah darah. Energinya sudah terkuras habis.
Rajho berhasil mendapatkan mahkotanya.
"Ohohoho, luar biasa. Eh tapi kok..."
Ia menelisik mahkota itu dan merasa curiga karena warnanya yang pudar.
"Cih ini bukan yang asli, ini hanya pembagian kekuatan", Rajho kesal.
"Tuan, ini cincinnya", salah seorang goblin yang mengambil cincin dari jari Erina.
Erina telah tertunduk tak berdaya.
"Sial, cincinnya juga bukan yang asli, kalau begini aku juga tak bisa menggunakannya sebagai media", Rajho mencampakkan mahkota dan cincinnya.
Rajho mengangkat dagu Erina dengan jarinya.
"Kukira kau berharga, rupanya hanya sampah. Kau akan menjadi makanan para goblin dan tuyul di sini"
"Ah benarkah tuan? kami bisa memakan daging segar ini?", para goblin kegirangan.
"Ya makanlah, sudah lama bukan?", Rajho berkata seraya kembali ke singgasananya.
Puluhan goblin dan tuyul dibanjiri air liur, mereka berebut siapa yang akan memakannya duluan.
Akhirnya terjadi pertengkaran hebat antar mereka sendiri.
Namun bebeberapa berhasil mengoyak daging di lengan dan paha Erina.
Erina sudah tak merasakan apa - apa. Jiwanya pasrah akan takdir apapun yang menimpanya.
Tiba - tiba mahkota dan Cincin itu bersinar sesaat.
Rajho terkejut, "Hah? apa itu? ah, hanya perasaanku saja".
Tiba - tiba tanah dan langit - langit di goa itu bergetar.
'BAAMM', pak Uwo turun dari langit - langit yang runtuh.
Para goblin terpental.
Tak jauh di sebelahnya, Ratna juga muncul.
Ratna langsung menghampiri Erina.
"Kurang ajar, jadi ini makhluk kotor yang melukai nona", mata pak Uwo merah menyala, ia memasuki mode berserk.
"Hohoho.. rupanya ini rekan - rekan si wanita sampah ini. Genderuwo dan seorang kunti ya? kalian tak akan mampu melawan sang raja goblin"
"Iya Wo, semoga ia masih mampu bertahan", Ratna berusaha menggendong Erina.
"Hei! kau juga makhluk besar menjijikkan, kau hanya genderuwo rendahan!"
'Sraatt.. Bruuaaakkk', serangan pak Uwo yang secepat kilat langsung merubuhkan Rajho.
"Ukhh, berani juga rupanya, menyerangku ketika lengah", Rajho yang geram kemudian mengeluarkan tombak hitam yang terbuat dari batu khusus yang merupakan senjata utamanya.
"Tombak ini dapat menyerap kekuatanmu karena terbuat dari pecahan 'Stone of Qabiletti'"
"Rraaaarggh.."
Raungan pak Uwo yang telah terbakar emosi, tak lagi mempedulikan perkataan Rajho, ia hanya menyerang membabi buta.
Rajho berusaha menahannya, kekuatan mereka berimbang karena fisik yang serupa.
Ratna di satu sisi, menggendong Erina sambil menghalau para goblin yang tak ada habisnya, ia cukup kewalahan.
"Bertahanlah Erina! kau pasti kuat!"
Ratna berlari menelusuri goa.
Ia merasakan tubuh Erina yang semakin panas.
Setelah berhasil agak menjauh dari kejaran para goblin, Ratna merebahkan tubuh Erina yang penuh luka di tanah.
"Ah meskipun baru mengenalmu, aku tak tega sekali melihatmu begini".
Para goblin semakin mendekat, jumlah mereka ada ratusan.
Ratna bangkit, "Sial kalau begini tak akan ada habisnya. Aku juga tak bisa teleportasi lagi, jadi mau tak mau harus kulawan"
Ratna mengeluarkan dua buah belati dari balik lengannya, lalu menghadang ratusan goblin di depannya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Di tempat yang gelap, lalu berubah menjadi sebuah kamar.
"Erina, bangun! mau tidur sampai kapan?", terdengar suara sayup - sayup.
"Nggh.. siapa?, akh.. mama!", Erina segera memeluk Lily yang berada di hadapannya.
"Ya ampun kangennya..", ia menitikkan air mata.
"Kok aku nggak dipeluk juga?", terdengar suara seorang lagi dari sebelahnya.
"I.. ibuu!?", Erina lebih histeris lagi, melihat sosok ibu angkat yang merawatnya sedari kecil.
"Huaaaa....akhirnya bisa ketemu sama kaliaaan", Erina mencurahkan segala perasaannya selama ini, bahwa ia hanya seorang anak perempuan yang kesepian.
Setelah agak tenang, barulah mereka mengobrol.
"Kalau bisa bertemu seperti ini, berarti aku sudah benar - benar mati ya?", tanya Erina dengan wajah polos.
"Belum tentu, bisa juga ini hanya di alam pertengahan. Tapi sepertinya memang jiwamu benar - benar sudah di ambang", Lily menjawab.
"Kamu sudah berjuang dengan sangat keras nak, kamu hebat banget", ucap ibunya.
"Begitulah, sebenarnya aku lelah"
"Apa kamu sempat berfikir untuk berhenti?"
"Iya, aku pingin banget. Pingin bisa hidup tenang"
Lily dan ibunya saling bertatapan lalu tersenyum.
"Sayangnya, garis takdirmu memang bukan untuk hidup tenang nak"
"Aku tahu, makanya aku agak kesal, siapa sih yang memberiku takdir seperti ini?"
"Haha.. kamu nggak bisa mempertanyakan itu nak"
"Terus, aku harus apa sekarang?"
"Jalanmu masih panjang"
"Tapi aku terlalu lemah"
"Salah, kamu itu salah satu ciptaan terkuat"
"Tapi aku kalah terus, aku harus dibantu supaya menang"
"Bantuan itu datang bukan karena kamu lemah"
"Tapi karena kamu begitu berharga bagi orang - orang di sekitarmu"
"Begitu ya?"
"Iya benar, kami juga merasa begitu"
"Kalian berdua sudah berkorban banyak demi aku"
Lily dan ibunya tersenyum kembali.
Lalu Erina menoleh ke arah lain, nampak pemandangan samar - samar tentang situasi yang terjadi saat ini.
"Kalau aku lihat, Ratna dan pak Uwo sedang berjuang mati - matian gara - gara aku"
"Bukan gara - gara, tapi demi kamu"
"Ya sama sajalah, intinya aku telah menyusahkan banyak pihak, bahkan sampai menyebabkan kehancuran akhirat"
"Tidak, kami rasa itu adalah proses dari rentetan kejadian yang lebih rumit dari itu"
"Lalu, apa ibu dan mama tahu aku harus apa sekarang? tubuhku hancur, energiku habis, memakai kekuatan dari benda gaib pun tak berhasil lagi"
"Gunakan matamu!"
"Gunakan hatimu!"
"Gunakan pikiranmu!"
"Gunakan jiwamu!"
Ibu dan Lily bergantian mengucapkan kata - kata yang membuatnya semakin bingung.
Lalu kedua orang itu menghilang.
"Akhh sekarang aku sendiri lagi, aku harus apa? aku bingung, aku takut"
Jiwa Erina meringkuk menggigil di dalam kegelapan.