
"Kekuatan apa yang gue dapet setelah ngalahin monyet itu?", tanya Clara.
"Ya gak tahu, gue kan gak lihat dia bisa ngapain aja", jawab Erina.
"Hmm..skill dia itu bisa memperbanyak diri"
"Nah, nanti kalau ada pertarungan lagi bisa dicoba tuh"
"Wokee..seru juga disini rupanya"
"Yah lo belum dapet bagian yang buruk - buruknya sih".
Erina memberitahukan kepada semua kelompoknya, bahwa dia akan kembali ke kapal untuk menemui Succubus, Leiva, dan Varlo.
Karena sudah mengetahui arah perjalanannya, maka semua setuju untuk ikut Erina kembali ke kapal bajak laut yang digunakannya untuk ke pulau ini.
Di perjalanan, Asmodeus mengajak Erina ngobrol.
"Na..gimana cerita tentang Levi?", tanya Asmodeus.
"Kamu harus tanya langsung sama Sue yang menyaksikan kejadiannya langsung. Tapi, kalau saat ini, dia bisa muncul saat kupanggil hanya saja wujudnya basilisk, bukan manusia"
"Bisa bicara gak?"
"Nggak"
"Hmm..berarti dia masuk ke dalam fase Theta"
"Apa itu artinya?"
"Fase tingkatan gelombang otak kita, tingkatan ini yang menentukan kesadaran kita apakah kita terpaut dari raga atau sudah lepas..ah agar lebih jelas, lebih baik Emily saja yang menjelaskan, dia tahu tentang apapun"
Asmodeus memanggil Emily, dan memintanya menjelaskan kepada Erina.
"Jadi begini.."
Ada 5 fase gelombang otak yang menentukan kesadaran.
1. Gamma, Kesadaran dan raga masih bersatu dan dalam kondisi yang sepenuhnya terkoneksi.
2. Beta, Kesadaran yang terpengaruh oleh faktor dari luar raga, bisa menyebabkan putus koneksi, seperti kelelahan, emosi, sedih, kerasukan, dsb.
Alpha, Kondisi tidur, dimana kesadaran lepas sebagian dan bisa pergi jauh, namun masih ada ikatan kuat pada raga sehingga dapat kembali.
4. Theta, kesadaran terpisah sepenuhnya dari raga, namun masih memiliki memori lama, dan masih bisa terikat pada raga yang baru. Bisa dikategorikan seperti arwah penasaran.
5. Delta, Kesadaran terpisah sepenuhnya dari raga, tidak memiliki memori, dan keterikatan pada raga manapun. Ini adalah kondisi seseorang yang telah wafat.
"Woah, penjelasannya menarik juga. Kalau begitu, semua yang gugur disini bisa dibilang dalam fase Theta, karena mereka semua bisa muncul dalam wuju yang lain, namun masih memiliki memori yang sama"
"Benar"
"Tapi..apa mereka bisa kembali lagi ke raganya yang lama dan bersikap seperti dulu lagi?"
"Kalau itu saya kurang tahu, sepertinya harus ada izin dari entitas yang lebih tinggi"
"Baiklah Emily, terima kasih untuk penjelasannya".
...----------------...
Mereka semua tiba di area pantai.
Di bibir pantai terlihat Succubus yang berdiri bersama Varlo dan Leiva.
Succubus menggendong Varlo yang tak sadarkan diri, dan Leiva menangis di sebelahnya.
Erina segera menghampiri mereka, "Kenapa? gimana Varlo?"
"Maaf..", ucap Succubus lirih.
"Maaf kenapa? Varlo bangun yuk! kamu lagi tidur ya?", Erina menggoyangkan tubuh Varlo yang dingin.
"Aku..tak bisa menyelamatkannya..Varlo sudah pergi", Succubus terisak.
Erina menutup mulutnya dengan tangan, tak kuasa menahan tangis.
"Tapi...tapi Ia pasti masuk ke fase Theta juga kan?, jadi Ia bisa kupanggil lagi, benar kan Sue?"
"Entahlah..."
"VARLO!"
"VARLO!!"
"VARLO DATANGLAH!"
Erina terus berteriak memanggil nama Varlo, namun tak ada yang terjadi.
"Erina, sudahlah..biarkan dia pergi dengan tenang", Damien menepuk pundak Erina.
Erina tersungkur di pasir, "Tapi...tapi..dia masih sangat muda"
Leiva memeluk Erina, lalu menangis bersama.
Yang lain hanya terdiam.
"Sue, dimana kapal Barbossa?", tanya Damien sambil melihat ke kanan dan kiri.
"Dia mengusir kami dan pergi begitu saja"
"Dasar gak tahu diri, udah dibantu malah begitu", Damien menjadi jengkel.
...----------------...
Pada sore hari, setelah semuanya berdiskusi dan sepakat, jasad Varlo akan dikremasi.
Jasadnya ditaruh di tumpukan kayu, lalu Asmodeus mengeluarkan pedangnya dan mulai membakarnya.
"Varlo Araghio, kau adalah pahlawan dari klan Roviolo, kau telah membantu kami melewati banyak rintangan, semoga arwahmu diterima di tempat yang terbaik".
Erina menebarkan bubuk dari botol ramuan Lily, lalu apinya membesar dan terlihat gumpalan cahaya yang mengarah ke langit.
"Aku akan melanjutkan perjuanganmu!", ucap Leiva dengan penuh tekat.
"Baik, sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan, bagi yang belum siap, harap angkat tangannya!", ucap Asmodeus.
Tidak ada yang mengangkat tangannya.
"Karena semua sudah siap, dan kita tak tahu apa yang akan dihadapi di depan, maka aku akan mulai mengabsen semuanya berikut kemampuannya"
1. Damien, Malaikat maut
Senjata: Sabit
Skill: Pertarungan cepat, mengambil nyawa
2. Erina, Keturunan iblis putih
Senjata: Fisik
Skill: Wujud titan, Memanggil astral hewan,
kekuatan tersembunyi
3. Succubus, Iblis merah
Senjata: Pecut, jarum racun, bola api
Skill: Pertarungan udara, mempengaruhi pria
4. Dewi, Astral malaikat
Senjata: Cahaya
Skill: Terbang
5. Emily, Astral librarian
Senjata: Buku
Skill: Pengetahuan
6. Pak Uwo, Genderuwo
Senjata: Kuku dan taring
Skill: Berserk
7. Leiva, Manusia biasa
Senjata: -
Skill: menggunakan sabit
8. Clara, manusia biasa
Senjata: -
Skill: Menggunakan adegan di film,
kemungkinan bisa memperbanyak diri
Asmodeus, Petinggi neraka
Senjata: Pedang api
Skill: Banyak.
"Baiklah, dan kita masih bisa mendapat bantuan dari Levi, Behemoth, dan Lily juga bukan? oh iya bagaimana dengan Alexei?"
"Aku belum coba memanggil Alexei, tapi aku akan mencobanya nanti"
Clara menghampiri mereka, "Oke mau sampai kapan diskusinya? kita bisa berangkat sekarang"
Setelah bersiap - siap, semua melanjutkan perjalanan ke arah dalam goa dan tempat harta.
"Tadi, apakah sulit mengalahkan pemimpin di tempat ini?", tanya Erina kepada Clara.
"Cukup mudah, mungkin karena kami semua kuat - kuat", Clara menjawab dengan sok.
"Hmm..begitu ya, bagus lah, semoga kita tak perlu kehilangan orang lagi".
Ketika memasuki ruangan yang tadinya terdapat harta karun begitu banyak, kini telah menjadi kosong melompong.
Semuanya terkejut, namun Clara cukup tenang karena Ia telah mengambil beberapa keping emas.
Sebelum naik ke tangga untuk ke tingkat berikutnya, tiba - tiba muncul sang pria misterius.
"Halooo..halo..apa kabarnya?"
"Kau lagi", ucap Succubus jengkel.
"Iya, saya lagi. Nah, sekarang saya akan memastikan..hmmm...satu, dua..tiga", pria itu tampak menghitung jumlah rombongan.
"Oke, karena ada yang bergabung dengan jalur khusus jadi sekarang ada sembilan orang ya? . Tiga pria dan enam wanita, kenapa lebih banyak wanitanya? apakah para pria lebih lemah?"
Succubus menghampiri pria itu tanpa ragu, Ia menarik kerah bajunya dan menatap dengan marah, "Kau, jangan asal bicara ya! para pria berkorban agar wanitanya bisa selamat"
"Maaf..maaf..saya kan hanya menyampaikan saja, oke jadi...di tingkat selanjutnya, akan benar - benar tanpa ampun, jadi siapkan strategi kalian sebaik mungkin, karena kemungkinan selamat sangat kecil"
Mendengar pernyataan tersebut, semua orang mengeluarkan ekspresi khawatir dan saling mentap satu sama lain.
Cobaan apalagi yang akan dihadapi Erina dan kawan - kawan?.