My Heart From Hell

My Heart From Hell
Inevitable Opponent



Semua orang terdiam menyaksikan peristiwa tersebut.


Arai pun bingung, apakah sudah harus menyatakan kemenangan Wita atau belum.


"OO.. HO HO HOO..MESKIPUN CUMA CAMILAN TAPI LUMAYAN JUGA", Wita tertawa besar.


"A.. apa dia sudah?", tanya Ratna ke pak Uwo.


"Belum, dia tak akan menyandang gelar orang nomor satu di akhirat kalau mati semudah itu", jawab pak Uwo yakin.


"Huh.. itu kan dulu, sekarang dia hanya astral rendahan", Hilda mencibir.


"Heei genduut! keluarkan papikuu!!", Erina menangis histeris, Emily menahannya.


"Tunggu saja, dia pasti akan kembali lagi", ucap Emily menenangkan.


Beberapa menit sudah berlalu.


"HEI WASIT, KENAPA BELUM MENYATAKAN KEMENANGANKU!!??", Wita nampak jengkel.


Arai terdiam sesaat.


"Hmm.. masih belum.."


"BELUM APANYA? DIA SUDAH DICERNA OLEH.. EH.. ARGHH..", Wita nampak kesakitan.


"AAHH PERUTKU SAKIT, NGAPAIN BOCAH ITU DI DALAM!?"


Erina sangar berharap Lucifer akan keluar dengan selamat.


Wita berlari berputar - putar di arena karena sakit perut, dan menyebabkan gempa hebat.


"UUKKH.. WUEEEEKKHH..", Wita memuntahkan isi perutnya ke atas bagaikan air mancur raksasa.


Lucifer melompat keluar dalam wujud tikusnya.


"Papi! aku tahu kau pasti selamat!", Erina bersorak bahagia.


"Iyuuhh sangat menjijikkan di dalam sana", Lucifer yang berlumuran cairan perut merasa sangat jijik.


"KURANG AJAR! KAU SEHARUSNYA KELUAR SEBAGAI KOTORANKU!!", Wita mengamuk.


Ia mendekat ke arah bangku penonton, lalu mengambil beberapa astral level rendah dengan genggaman besarnya.


"Kyaaa.. toloong, jangan nonaa Witaa!", mereka panik.


"Hei, bukankah itu melanggar!?", tanya Ratna.


"Biarkan saja, itu tak termasuk dalam peraturan", ucap Hilda santai.


Wita akan memakan lima astral muda sekaligus. Ia menggigit kepala mereka seperti memakan tauge.


Erina dan Emily tak mampu menyaksikannya.


"HHOOAAAAHH...", tubuh Wita bercahaya dan bertambah besar. Ia mendapat kekuatan ganda.


"Oh, ini buruk", ucap Lucifer lemas.


Wita langsung menyerang dengan ganas dan tak kenal ampun, Lucifer sangat kewalahan menghindarinya meskipun dengan wujud tikusnya. Namun gerakannya menjadi lebih lincah.


"AKULAH YANG TERKUAT, AKULAH SANG BENCANA ALAM!!", Wita terus membabi buta.


Wita menghujam tangannya ke tanah. Arena langsung rusak seperti terkena meteor.


Saat lengan Wita menjulur dibawah, Lucifer dengan sigap berlari di atasnya menuju ke wajahnya.


"Rasakan ini!!",


Lucifer melompat dan hendak menyerang mata Wita agar ia buta.


Namun.


'Set'


Wita menggenggam ekor tikus Lucifer.


"Aah siaal", Lucifer meronta.


"TIKUS KECIL SIALAN, TEMPATMU ITU DI BAWAH TANAH!!"


"BAMM!!"


Lucifer di banting ke tanah dengan sangat kuat, suaranya menggema ke seluruh ruangan.


Lucifer kembali ke wujudnya, namun tak sadarkan diri.


Erina berlari masuk ke arena.


"Papii.. bangun papi, bangun!", ia berlinang air mata.


Arai menghampiri dan mengecek keadaan Lucifer.


"Peserta Lucifer Morningstar dari sudut timur tidak sadarkan diri, dianggap tidak bisa melanjutkan duel. Kemenangan milik Wita Nengisi!!"


"OO..HO..HO..HO, SEGITU SAJA SANG RAJA NERAKA",


Wita kembali ke tempatnya.


Erina dibantu Emily membawa Lucifer dan dibaringkin di bangku tunggu.


Ratna bergegas menghampiri mereka untuk memastikan keadaanya.


Pak Uwo juga hendak pergi, namun ditahan oleh Hilda.


"Bagaimana ini Ratna?", Erina terisak.


Ratna memeriksa denyut nadi Lucifer.


"Begini, kemungkinan ia mengalami koma. Tidak akan sadarkan diri untuk waktu yang lama".


"Astaga, astral juga bisa koma ya?"


"Begitulah. Lalu, apa kau tetap mau melanjutkan ini atau berhenti saja?", tanya Ratna.


Erina berdiri, "Sudah sampai sini aku tak akan mundur, aku akan menghadapi siapapun yang jadi lawanku!"


"Aku mengerti Ratna, terima kasih"


Ratna pergi ke tengah arena lalu berbicara dengan Arai. Arai mengangguk.


"Baik, jadi pertandingan akan kita lanjutkan kepada peserta nomor dua silahkan maju"


Erina berwajah serius, dan melangkah perlahan masuk ke arena.


Emily merasa khawatir namun tak bisa berbuat apa - apa.


"Kalau sudut timur kalah lagi, maka ini akan menjadi pertandingan terakhir, namun jika menang, akan diadakan ronde tambahan"


"Tak perlu ronde tambahan, ini akan berakhir di sini", ucap ratu dengan angkuh.


"Cih, sombong banget sih orang itu, kesal aku", Erina mengungkapkan kejengkelan di dalam hatinya.


"Dari sudut timur, Erina Muriella sang penghancur akhirat, melawan dari sudut barat... eh siapa dari sudut barat yang mulia?", Arai bertanya karena ratu belum melempar dadu.


Erina mencoba mengingat, kalau menurut Ratna, harusnya dari jajaran para petarung, yang tersisa adalah si suster ngesot yang paling lemah. Erina pun merasa percaya diri.


Ratu Hilda berdiri, lalu menunjuk Erina, "Tak perlu melempar dadu. Rangda, selesaikanlah dengan cepat"


"HEEEE.. RANGDA!?!?", Erina dan Emily terbelalak.


Ratna dan pak Uwo juga tercekat karena ucapan Hilda.


Semua penonton langsung berbisik satu sama lain.


"Apa perlu sampai memanggil nona Rangda?"


"Memangnya sekuat apa si Erina itu?"


"Apa ratu sekhawatir itu?"


"Sepertinya sangat mubazir untuk memanggil nona Rangda hanya untuk duel seperti ini?"


Erina dan Emily mendengar semua desas - desus itu. Sepertinya memang Rangda adalah yang paling tidak diharapkan untuk menjadi lawannya.


"Rangda! apa kau tidak dengar?", ratu memerintahkan dengan lantang.


Semua orang menoleh ke sekelilingnya, tak nampak kehadiran sosok Rangda di area itu, bahkan auranya tak terasa.


Erina menelan ludah. Ia tak lagi berfikir rasional, ia hanya akan melakukan apapun semaksimal mungkin meskipun harus mengakhiri hidupnya.


"RANGDA!", sudah tiga kali ratu memanggil sambil menunjuk ke arah arena tempat Erina berdiri.


Para penonton kembali berbisik - bisik.


"Kalau beliau ada di sini, bukankah auranya akan terasa?"


"Bukan cuma terasa, kalau ia datang, kau pasti hanya ingin mati saja. Auranya benar - benar dapat membunuhmu"


"Memangnya kau pernah lihat langsung?"


"Tidak sih, cuma cerita dari orangtuaku"


"Iya, tidak banyak orang yang pernah melihatnya, ia bagaikan dongeng"


"Orangtuaku dulu juga bercerita kalau nakal akan dimakan oleh Rangda"


Emily mulai merasa orang - orang ini agak berlebihan, mungkin mereka memang bertujuan untuk menjatuhkan mental Erina.


"Akan kupanggil sekali lagi, Rangda!"


Semua diam, seluruh ruangan hening.


"Hilda sudahlah, tak perlu sejauh ini", pak Uwo berusaha membujuk Hilda.


"Diam kau!"


"Rangda, kalau kau tak muncul juga, apa perlu kupanggil, RATNA!"


Ratna tercekat.


Erina dan Emily ternganga.


Semua penonton terkejut.


Hilda menoleh ke arah Ratna yang berdiri di sampingnya.


"Kau punya telinga kan?"


"Aku.. tidak.. bisa..", Ratna menggigil.


"Aku memang tak butuh kau Ratna, aku butuh Rangda!"


Mata Hilda bercahaya berwarna putih.


Ratna langsung seperti terhipnotis. Ia melangkah perlahan menuju ke arena.


"Ra.. Ratna? ada apa sebenarnya?", Erina bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"AKU BUKAN RATNA!", suara Ratna mendadak berubah.


Hilda mengangkat tangannya, dan tubuh Ratna mulai bercahaya.


"AAAAKKHHH...", Ratna berteriak kesakitan.


"Stop! jangan sakiti Ratna!"


"Diam! dia bukan orang yang kau kenal!"


Sosok Ratna mulai berubah.


Aura yang dikeluarkannya benar - benar berat dan negatif. Membuat semua energi terkuras, dan menjadi cepat lelah.


Erina juga langsung merasakannya. Sosok ini benar - benar berbeda dari yang pernah dihadapinya sebelumnya.


Mungkin kekuatan ini hampir sama dengan seorang petinggi neraka.


Wujud Rangda adalah sesosok monster berwajah mengerikan. Matanya bulat besar dan berwarna semerah darah, taring dan idahnya sangat panjang. Tubuhnya tinggi dan kurus ditutupi bulu - bulu putih, panjang kuku - kukunya melebihi panjang tubuhnya.


Erina benar - benar merasakan aura ingin membunuh yang kuat.