Happy Ending In My Life

Happy Ending In My Life
PART 7



Pagi itu matahari enggan menunjukan diri nya,gerimis yg turun sejak tadi malam pun masih enggan untuk berhenti.


Pagi itu pun Kiara masih bersembunyi didalam selimutnya.Mata kiara seperti dilem,susah untuk dibuka.


Sudah beberapa hari terakhir,Kiara sedikit tidak enak badan.Dan hari ini bukannya membaik tapi Kiara merasa lebih parah.


Kiara mencoba untuk bangun.Badan Kiara sangat lemas,pusing,dan demam.Kiara melirik jam dinding disamping nya.Jam menunjukan pukul 08.30.Karna hari Minggu kiara pun memutuskan untuk tidur kembali,berharap setelah bangun badannya enakan.


****


Pukul 13.00 Kiara bangun dari tidurnya.Badan kiara sedikit pun tidak membaik.


Setelah bangun kiara pun bergegas mempersiapkan diri untuk bekerja.Rencananya sebelum berangkat ia akan mampir ke klinik yg tak jauh dari kost nya.


Setelah selesai,kiara meninggalkan kamar kostnya yg tidak luas itu.Kiara berjalan dengan sedikit tertatih.


Kepala kiara yg terasa pusing membuatnya berjalan lamban,sesekali ia berhenti untuk mengumpulkan tenaga.Ingin rasanya ia kembali berbaring di kasur tipis nya,tapi karena tanggungjawab,mau tak mau kiara harus berangkat.


Sesampainya Kiara di Klinik,Kiara segera mendaftar.Setelah mengantri cukup lama,akhirnya giliran untuk Kiara diperiksa.


"Selamat siang Dok"sapa Kiara


"Siang,bisa saya bantu"sapa Dokter Wulan ramah.


Setelah menceritakan kondisi nya,Kiara pun diminta untuk berbaring untuk diperiksa.Setelah diperiksa Kiara pun kembali duduk didepan Dokter Wulan.


"Dari hasil pemeriksaan saya, kemungkinan kamu menderita tipes.Tapi untuk lebih pasti kamu bisa melakukan tes darah."kata Dokter Wulan.


Kiara pun mengikuti saran Dokter Wulan untuk melakukan tes darah.Tak butuh waktu 1 jam hasil tes pun keluar.


Dokter Wulan melihat dengan seksama hasil tes itu.


"Kiara kesini dengan siapa?"


"Saya dok?,"jawab kiara terputus.Karna dia bingung harus menjawab bagaimana.


"Iya kamu,kesini dengan siapa?dimana orang tua kamu?atau wali lainnya,orang yg lebih dewasa dari kamu.?"


"Saya kesini sendiri dok,orang tua saya sedang bekerja."jawab kiara bohong.Karna tak ingin menjelaskan keadaan nya.


"Oke kalo begitu,saya akan menjelaskan pada kamu.Dari hasil tes memang benar kamu positif tipes.Dan setelah melihat kondisi kamu yg lemah,saya sarankan kamu untuk dirawat disini."


"Maaf dok,kalo seumpama saya rawat jalan gitu gimana Dok?"tawar kiara.Dokter Wulan pun hanya diam sambil menimbang permintaan Kiara.


"Karena sebentar lagi saya harus mempersiapkan diri untuk ikut ujian nasional Dok"jelas Kiara.


"Baik lah kalo itu mau kamu,tapi ingat kamu harus istirahat yg cukup,makan yg teratur,untuk sementara jangan makan yg kasar kasar dulu,usahakan makan bubur dan yg terpenting jangan lupa obatnya diminum."pesan Dokter Wulan.


"Baik dok,saya akan ingat pesan Dokter"kata Kiara dengan wajah yg pucat.


Setelah kiara menebus obat,Kiara pun meninggalkan klinik itu.Ia berhenti dihalte untuk menunggu angkot.


Tak lama angkot pun datang,dengan hati hati Kiara menaiki angkot.Kiara duduk di bangku paling belakang.


Kiara menyandarkan kepala nya di kaca belakang.Matanya yg sayup menatap keluar jendela.


15 menit kemudian angkot yg ditumpangi kiara berhenti tepat didepan Kafe tempat Kiara bekerja.


Setelah itu,Kiara pun menuju keruangan khusus karyawan.Disana kiara memakan nasi bungkus yg sempat ia beli diwarung setelah dari Klinik tadi. Selesai makan kiara pun menimum obat nya.


"Ki,kamu gpp?kamu pucat banget Lo Ki"tanya Dian saat melihat Kiara yg sedang mengelap meja.


"Gpp kok Mbak.Aku cuma sedikit gak enak badan"jeles Kiara.


"Kamu sudah minum obat Ki?"


"Udah kok Mbak"


"Ya udah kamu istirahat dulu aja dibelakang,mumpung lagi sepi"


"Iya Mbak habis bersihin ini"kata Kiara sambil melanjutkan bersih2 nya.


Hari itu hanya sedikit pelanggan yg datang.Dan kesempatan itu digunakan kiara untuk beristirahat.


Kiara duduk disalah satu bangku,ia meletakan kepalanya yg berat diatas meja.Udara yg dingin dari luar karena gerimis ditambah AC,menusuk hingga ketulang,sehingga membuat kiara sedikit menggigil.


Lonceng dipintu pun berbunyi,dengan berat Kiara mengangkat kelapanya dari meja.


"Selamat datang"sapa Kiara dan Dian kompak.


Kiara melihat Dewa baru saja masuk dengan rambut dan pakaian yg sedikit basah karena geremis.


Seperti biasa jantung Kiara pun tak bisa tenang.seakan ingin loncat keluar.


Setelah memesan Dewa pun duduk ditempat favorit nya.meskipun jarang senyum dan jarang ngomong tapi pesona dewa mampu menghipnotis semua mata memandang.


"Selamat menikmati Mr."kata Kiara setelah meletakan kopi diatas meja.


Sebenarnya sejak datang tadi Dewa sudah mengamati wajah kiara.


"Are you oke?"tanya Dewa pada Kiara.


"Iya,saya baik baik saja.Kalo begitu saya permisi"kata Kiara,sebelum sempat berbalik tangan Dewa pun berhasil memegang tangan kiara.


"Wajah kamu pucat banget,dan badan kamu juga panas,kamu sakit?."tanya Dewa,tersirat kekhawatiran Dimata Dewa.


"Saya baik baik saja"kata Kiara sambil menepis tangan Dewa dan bergegas pergi.


Bukan bermaksud untuk tidak sopan, Kiara takut akan pingsan kalo lama lama dekat dengan Dewa.


Mata Dewa masih melihat punggung kiara yg berjalan menjauh.


****


Setelah pulang dari kafe, Kiara tidak pergi ke restoran seperti biasa.Dan hari itu Dian pun mengantar pulang Kiara sampai kosan karena khawatir.


Setelah mengucapkan terima kasih Kiara pun perlahan menaiki satu persatu tangga menuju kamar kost nya yg berada dilantai 3.


Dari jauh kiara mendengar ribut ribut dilantai 3.


" Nah ini dia anak nya datang!."kata salah satu penghuni kost.


"Ada apa ya Pak?"tanya Kiara pada pemilik tempat kost.


"Begini nak Kiara,saya mendapat laporan dari Mbak Ratih kalo dia kehilangan sejumlah uang,dan dia berkata kalau kamu yg terakhir masuk ke kamar kost nya sebelum uangnya hilang."jelas Pak Budi(pemilik kost)


"Maaf Pak,tapi saya tidak mengambil uang itu"kata Kiara.


"Alah maling mana ada yg ngaku,jelas jeles setelah kamu masuk ke kamar ku,uang ku hilang"tuduh Ratih.


"Tapi beneran Mbak,aku gak tau masalah uang itu.Dan aku pun gak ngambil.Kemarin setelah anter cucian aku langsung keluar.Aku beneran gak ambil,"


"Udah geledah aja,"


"Usir usir"


Terdengar kata kata yg kasar dari orang orang itu.Merekan pun memaksa untuk mengeledah kamar kost Kiara.


Setelah mengacak2 kamar Kiara mereka pun tidak menemukan apa yg mereka cari.


"Udah usir aja,takutnya ada yg kecurian lagi"kata salah satu orang itu.


Setelah mendengar itu semua orang yg berkumpul didepan kamar kiara pun ikut ikutan.Terdengar keributan ditengah malam.


Kiara masih merusaha keras untuk menjelaskan kalo dia tidak mengambil uang itu.


Namun karena desakan dari penghuni kost,dan ancaman dari mereka.Mau tak mau Pak Budi pun memutuskan untuk mengusir Kiara malam itu juga.


Kiara masih berusaha membela diri,dengan tenaga yg masih tersisa.


"Kiara,Bapak percaya kalo kamu gak mengambil uang itu.Bapak tau kalau kamu itu anak baik.Tapi maafkan Bapak, Bapak terpaksa melakukan ini"kata Pak Budi dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Pak,saya mengerti posisi Bapak.saya mengucapkan banyak terima kasih karena Bapak sudah mau percaya pada Saya.Terima kasih karena Bapak sudah mau menerima saya disini."kata Kiara.


"Gak usah banyak ngomong pergi sana"ucap seseorang.


Kiara pun membereskan barang2nya yg tak banyak jumlahnya dan memasukannya kedalam tas ransel.


Kiara berjalan keluar kamar kost dengan membawa 1 tas ransel yg digendongnya,1 tas yg dijinjing,dan boneka beruang yg ia peluk.


Kiara menuruni tangga diiringi cacian dan hinaan dari penghuni kost lainnya.


Kiara berjalan dengan penuh kehati hatian,selain lemas pusing airmata nya pun sudah mengenang didepan matanya menghalangi pandangannya.


Kiara bingung harus kemana,dengan perasaan yg campur aduk.Ia berjalan mengikuti langkah kaki nya


Kiara berhenti sejenak,ingin rasanya ia merebahkan badannya yg seperti tak bertulang.


Kiara lalu melanjutkan jalannya,belum jauh ia berjalan.Air dari langit pun turun,tak mau basah karena hujan Kiara pun memaksakan diri untuk berlari mencari tempat untuk berteduh.


Untungnya tak jauh dari sana ada Halte, Kiara pun berteduh disana.


Hujan turun dengan lebat saat Kiara sudah sampai dihalte.Angin dan petir seakan menjadi teman kiara yg duduk seorang diri di Halte.


Udara kian terasa dingin,ditambah dengan cipratan air hujan karena angin yg kencang.


Kiara merasakan kepalanya yg pusing.kemudian ia merebahkan tubuhnya kursi tunggu halte.


Ia mengeratkan boneka yg ia peluk.Disaat seperti ini lah kiara merasakan ingin mengakhiri hidupnya.


Hidup seorang diri,bertahan hidup dengan segala keterbatasannya yg ada terkadang membuatnya merasa sangat capek.


Disaat seperti ini ingin rasanya mendapat perhatian,kasih sayang dari orang orang tercinta.Tapi apa daya,entah kemana perginya.


"Ayah Ki kangen sama ayah"


"Bunda Ki kangen.bawa Ki pergi Bunda"tutur Kiara sebelum matanya terpejam.


Malam itu hujan semakin deras,sebuah mobil hitam berjalan dengan pelan,karena berbahaya ngebut saat badai terjadi.


Dengan hati hati pengendara itu memperhatikan jalan.ia menengok ke kanan dan kiri untuk melihat situasi.


Ia melaju dengan perlahan,tak lama tiba tiba ia menghentikan mobilnya.kemudian ia memundurkan mobilnya tepat didepan halte.


Pengendara itu melihat kiara yg sedang meringkuk diatas tempat duduk.


Tanpa pikir panjang pengendara itu turun dari mobilnya dan memeriksa keadaan kiara,tanpa memperdulikan hujan saat itu.


Ia mendekati tubuh kiara.Setelah mengamati,orang itu mencoba membangun kan Kiara,tapi Kiara pun tak kunjung bangun.


Lalu orang itu menyingkirkan rambut yg menutupi wajah Kiara,dan betapa kagetnya orang itu saat mengetahui bahwa itu Kiara.


"Ki... Kiara bangun"kata orang itu.Kiara masih tidak merespon.


"Ki badan kamu panas banget,kita harus ke Rumah sakit sekarang."


"Mr.Dewa,"kata kiara singkat lalu tak sadarkan diri kembali.


Setelah itu Dewa pun menggendong Kiara dan memasukan barang2nya bawaan Kiara kemobil.


Kemudian mobil Dewa pun melaju menuju Rumah sakit.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


bersambung