Happy Ending In My Life

Happy Ending In My Life
PART 106



pagi itu suasana kamar hotel Kiara sudah sangat sibuk.Terlihat beberapa orang sedang sibuk merias Kiara dan beberapa lainnya sedang mengurus baju yang akan Kiara pakai.


meskipun acaranya masih jam 8 nanti tapi mereka sudah terlihat sibuk.


Tok...tok..


tak lama Dian masuk dengan kebaya yang sudah Kiara persiapkan untuk Dian dan beberapa orang lainnya.


"mbak Dian udah Dateng?"sapa Kiara


"iya Ki,sekalian bareng mas Danu."


"berarti mas Dewa juga sudah Dateng donk?"


"iya Ki,dia baru siap siap diruangan sebelah"


"oooh...ya udah mbak duduk dulu aja"


"iya Ki,ya ampun kami cantik banget Ki"


"makasih mbak,ini berkat tangan kak Ivan yang make up in."


"gak lah,emang dari sananya kamu udah cantik dikasih sedikit make up aja langsung keluar auranya.emang gak salah milih si Dewa"


"kak Ivan bisa aja,aku jadi malu."


Dengan teliti Ivan kembali merias wajah kiara.Butuh waktu 1jam untuk menyelesaikan riasan kiara,kemudian by giliran penata rambut memake over rambut Kiara.


tiba tiba pintu kamar Kiara diketuk,buru buru mbak Lastri membuka pintu.Terlihat Dewa yang berdiri tepat didepan pintu kamar Kiara.Dewa sudah tak sabar ingin melihat Kiara.


"maaf tuan mau ngapain?"tanya mbak Lastri sambil menghalangi pintu


"Aku mau liat kiara,bentar aja"ujar Dewa


"non Kiara nya lagi dirias jadi gak bisa diganggu"ucap Lastri dengan beraninya


"ya udah kalo gitu biarin aku liat dia dari luar ya mbak"pinta Dewa.


"Maaf tuan,ini masih dalam masa dipingit jadi gak boleh ketemu dulu.jadi silahkan tuan tunggu sebentar lagi"ucap Lastri kapan lagi ia bisa mengerjai majikannya seperti ini.


Dewa bersikeras ingin bertemu Kiara tapi Lastri mempunyai sejuta cara untuk menghalangi nya.Kemudian dengan lemas Dewa kembali kekamarnya sendiri.Lastri pun tersenyum melihat tingkah majikannya itu.


"siapa mbak?"tanya Kiara saat melihat Lastri masuk.


"oh tetangga sebelah,udah gak sabar pengen ketemu belahan jiwanya"ucap Lastri.


mendengar itu Kiara hanya tersenyum sambil membayangkan wajah kecewa Dewa karna dilarang untuk bertemu Kiara.


Tak lama kemudian Kiara selesai dirias, kemudian ia dibantu oleh beberapa pegawai Ivan untuk ganti pakaian.Dengan cepat Kiara sudah menjelma menjadi pengantin yang sangat cantik.


Kiara tampak terlihat anggun Dengan balutan kebaya dengan ekor yang terlihat kebahagiaan diwajah Kiara.


"wahhh...kamu cantik banget Nok"puji mbok.


"iya non,Kalo tuan liat pasti gak kedip"ucap Bibi.


Kiara hanya tersipu malu mendengar pujian dari orang orang yang ada diruangan itu.


1 jam kurang,sebelum acara dimulai Kiara sudah siap menunggu diruang tunggu.Disana sudah tersedia tv guna melihat kegiatan ditempat acara.


Saat tengah menunggu,tiba tiba pintu ruangan tunggu dibuka dengan kasar.Terlihat mami dan Jessy dengan membawa bodyguard terlihat masuk kedalam ruangan.Kedatangan mereka sontak membuat orang yang ada didalam kaget.


Tanpa aba aba para bodyguard meminta semua orang keluar kecuali kiara.mau tak mau semua orang pun keluar,didalam hanya tinggal Kiara,mami Dewa dan Jessy adik Kiara .


"Mami"sapa Kiara,yang masih terlihat syok


"siapa yang kamu panggil mami?"kata mami


"maaf kan saya,maksud saya..."ucap Kiara terpotong


"alah udah jangan banyak omong,kedatangan kita kesini buka untuk memberi restu ataupun selamat untuk kamu.Tapi kita kesini untuk hancurin pernikahan kamu"ucap Jessy penuh amarah.


"Jessy jangan seperti itu,kita main halus aja"ucap mami dengan aura yang menakutkan


"Kalo sama dia gak bisa halus mam,buktinya selama ini kita udah halus tapi dia gak tau diri masih aja deketin kakak".


"heh denger ya,kita mau Lo batalain pernikahan ini kalo tidak kita yang akan hancurin kehidupan Lo"ancam Jessy.


"Tapi...saya gak bisa ngelakuin itu"


"bukanya kamu sudah liat kalo Dewa sudah dijodohkan dengan orang lain.Kenapa kamu gak ninggalin dia,aku kira selama ini kamu pinter tapi ternyata sama saja"ucap mami


"maaf nyonya,saya tidak akan membatalkan pernikahan ini karna saya dan mas Dewa saling mencintai"ucap Kiara


"cinta?bisa makan apa kamu dengan cinta?"kata mami


"tapi seenggaknya mas Dewa bahagia bersama saya"


"bahagia?jaman sekarang yang membuat orang bahagia itu cuma uang,bisa ngasih apa kamu buat Dewa"


"saya memang gak bisa ngasih apa apa buat mas Dewa tapi saya bisa buat mas Dewa bahagia dengan cinta yang saya punya"


"naif sekali kamu,kalo kamu gak mau batalin pernikahan ini biar aku yang hancuin"ucap mami sinis


"Maaf saya tetap akan melanjutkan pernikahan ini"ucap Kiara ,baru pertama ia melawan seperti ini.


karna memakai high heels membuat Kiara tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya,sehingga ia jatuh dengan perut yang menghantam keras ujung tumpul meja yang ada disana.seketika Kiara merasakan rasa sakit yang teramat sangat.Dan tanpa sadar darah segar pun keluar dari tubuh Kiara


melihat kiara yang sudah bersimbah darah,membuat mami dan Jessy panik dan segera meninggalkan Kiara yang sedang kesakitan.


"aku ..tolong.."rintih Kiara


mendengar Kiara kesakitan semua orang yang diluar pun segera masuk.Dan betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Kiara saat ini.


mereka pun panik,Ivan segera berlari menemui Dewa yang sudah siap duduk didepan penghulu.Setelah mendengar kabar dari Ivan,dewa segera berlari menemui Kiara.Wajahnya pucat dan panik.


"Nok,kamu kenapa?"tanya si mbok


"akh...sakit mbok,perut Kiara sakit banget"ucap Kiara wajahnya sudah memutih.


Dewa yang baru sampai pun terkejut melihat Kiara yang sedang dikerumuni banyak orang, kemudian ia segera mendekati Kiara.Tanpa pikir panjang Dewa segera mengendong Kiara untuk membawanya kerumah sakit.


"Danu siap kan mobil"perintah Dewa


"siap bos"kata Danu dan segera berlari.


"mas,sakit mas."rintih Kiara


"iya sayang kita kerumah sakit sekarang ya."


"Dito,bantu cek semua Cctv dihotel ini"


"baik Mr."ucap Dito sekertaris Dewa.


sesampainya dilobi, Dewa segera menuju mobil yang sudah standby di luar.


Dan mobil itu dengan cepat meninggalkan hotel,disusul oleh mobil lainnya.dijalan terlihat sedikit macet,membuat perjalanan mereka menuju rumah sakit terhambat.Ditambah rintihan kesakitan dari Kiara menambah kepanikan mereka.


"tahan ya sayang sebentar lagi kita sampai dirumah sakit"ucap Dewa yang tak henti menggenggam tangan Kiara.


"Selamat kan anak kita mas,aku gak ingin kehilangan dia"ucap Kiara lirih.


"Iya sayang,"


Saat tengah genting tiba tiba lampu lalulintas Pun berubah menjadi merah.membuat Danu yang taat berlalu lintas pun menjadi galau,antara terus dan berhenti.


"udah terjang aja"ucap Dewa


tanpa pikir lagi Danu menginjak gas dan mobil pun kembali berjalan.Belum lama mereka berjalan tiba tiba mobil mereka dihadang oleh polisi,yang membuat mereka mau tak mau akhirnya berhenti.Dan kaca mobil pun ditekuk,Danu dengan cepat menurunkan kaca mobil.


"selamat pagi,anda tau anda sudah melanggar lampu merah.bisa tunjukan surat surat nya"


"maaf banget pak,ini darurat saya harus cepat cepat membawa pasien kerumah sakit.dia mengalami pendarahan."ucap Danu,polisi itu pun menengok kekursi belakang


"oh maaf,mari saya kawal sampai rumah sakit"ucap polisi baik hati itu.


polisi pun segera kembali memotornya,dan tak lupa menyalakan sirine untuk membuka jalan.Berkat bantuan polisi itu Kiara bisa cepat sampai dirumah sakit.


Sampai dirumah sakit Dewa segera mengendong Kiara sampai ke UGD.Melihat pasien yang berlumuran darah segera suster dan dokter segera mengangani kiara.lalu Dewa pun diminta untuk menunggu diluar.


Dengan pasrah Dewa segera keluar,hatinya terasa hancur melihat kondisi kiara.ini lah pertama kalinya Dewa sangat terpuruk.Ia berdoa didalam hati untuk keselamatan Kiara dan buah hati mereka.


Tak lama si mbok,mbak Lastri, Dian, Danu,dan orang tua sahabat Kiara pun datang menemui Dewa yang terduduk dilantai.penampilannya pun sudah tak karuan,tak seperti beberapa jam lalu yang terlihat rapi dan tampan.


"gimana keadaan Kiara?"tanya si mbok


"Kiara baru diperiksa mbok"ucap Dewa


"yang sabar ya nak,semoga mereka berdua baik baik saja"ucap si mbok


Terlihat kekewatiran dari wajah mereka,mereka berharap tidak terjadi apa apa pada Kiara dan anak nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung