
sesampainya didepan kamar Kiara,dewa mengetuk pintu kamar Kiara.Mendengar ketukan pintu,cepat cepat Kiara menghapus air matanya.
"Ki,mas masuk ya?"ucap Dewa
iya
"Iya mas masuk aja"teriak Kiara.
"Lagi ngapain yank?"tanya Dewa kemudian duduk diranjang kiara.
"Gak ngapa ngapain kok mas"ucap Kiara menghindari kontak mata dengan Dewa.
"Kamu gak apa apa yank?"
"emang aku kenapa mas?"tanya Kiara.
"Mas tau semuanya sayang,tadi pak utama udah telpon mas.Dia udah ceritain apa yang terjadi tadi."tutur Dewa,Kiara hanya bisa menunduk dan air matanya menetes kembali.
"Sttttttt...kok malah nangis sih"ucap Dewa lalu memeluk Kiara,hati Dewa pun terasa perih melihat Kiara yang seperti ini.
"Ajeng marah sama aku mas,aku gak ada niat untuk ngerebut orang tuanya.Aku tau rasanya kehilangan orang tua,aku tau rasanya orang tua kita direbut orang lain.Aku tau banget gimana sedihnya,gimana kehilangan nya.Makanya aku gak mungkin ngelakuin itu apalagi sama sahabat aku sendiri."Kata Kiara dengan air mata mengalir deras.
"Mas ngerti Ki,mungkin Ajeng lagi sensitif aja jadi dia kayak gitu.Nanti mas bantu buat jelasin ya sama Ajeng"ucap Dewa sambil mengelus punggung Kiara.
"Gak usah mas,biar aku sendiri aja yang nyelesaiin. Aku gak mau Ajeng jadi salah paham lagi sama aku,kalo mas ikut ikut."
"Ya udah,sekarang hapus air matanya. Itu ingusnya sekalian. Kamu jelek tau kalo kamu nangis gini"goda dewa,membuat Kiara tertawa.
"Makasih ya mas,udah selalu ada buat aku."ucap Kiara.
"Iya sayang,mas akan selalu ada buat kamu.mas akan buat kamu bahagia selamanya.Mas gak akan ninggalin kamu sendirian"ucap Dewa kemudian mengecup kening Kiara.
Untuk sesaat Kiara lupa dengan masalahnya,ia bahagia ada seseorang yang selalu ada untuknya.
"Ya udah biar kamu gak sedih lagi,gimana kalo kita jalan jalan naik motor."ajak Dewa.
"Mau kemana mas?"
"Muter muter aja,mumpung malam Minggu"
"Ya udah kalo gitu aku mau ganti baju dulu. Mas keluar gih"ucap Kiara
"Mas mau disini aja"kata Dewa
"Hmmm...ya udah kalo mas mau disini,aku aja yang keluar"kata Kiara sambil memicingkan matanya.
"Iya iya,mas keluar.huffttt kamu gak seru yank"ucap Dewa kemudian keluar dari kamar Kiara.
Tak lama kemudian Kiara turun kebawah,menemui Dewa yang ada dihalaman sedang memanaskan motornya.
"Udah siap yank?"tanya Dewa
"Iya mas,"jawab Kiara dengan mata yang masih bengkak karena kelamaan menangis.
"Ya udah berangkat yuk"ucap Dewa kemudian memakaikan helm pada Kiara.
Menang pesona Dewa tidak ada matinya,meskipun cuma pakai kaos dengan jeans robek robek pun terlihat ketampanannya.
Meskipun setiap hari melihat Dewa mata Kiara tak pernah berkedip saat melihat Dewa dengan dandanan santai seperti ini.
Setelah berpamitan pada pak Usub,motor Dewa melaju menuju jalan besar. Seperti biasa,Kiara duduk dibelakang dengan tenang.Tangannya memegang jaket Dewa,tanpa memeluknya.
Motor Dewa pun terus melaju entah kemana tujuannya. Sesekali Dewa melihat Kiara dari kaca spion nya.
Kiara tampak diam,tatapannya nanar. Dewa menarik tangan Kiara agar memeluk pinggang,sontak membuat Kiara tersadar dari lamunannya.
Dengan erat Kiara memeluk pinggang Dewa. Saat itu pula ia teringat kejadian dengan Ajeng tadi sore.kiara pun kembali menangis.
Dewa yang tau Kiara sedang sesegukan pun memelankan motornya.Ia mengusap tangan Kiara yang ada diperutnya. Dewa membiarkan Kiara meluapkan apa yang ia rasakan.
Lama Kiara menangis dibalik punggung Dewa,Kiara sudah tampak tenang.air matanya sudah tak mengalir kembali.
Kiara tak tau sampai dimana mereka sekarang. Yang Kiara rasakan hanyalah hawa yang mulai dingin.Perlahan motor Dewa pun berhenti disebuah toko baju.
"Turun dulu yank"ucap Dewa.
"Kita sekarang dimana mas?"tanya Kiara dengan wajah bengepnya.
"Kita udah sampai dipuncak sayang"kata Dewa,sambil tersenyum.
"Kita dipuncak mas?"tanya Kiara lagi.
"Iya sayank,"jawab Dewa sambil mencubit hidung mancung Kiara.
"Terus ngapain berhenti disini?"
"Mas mau beliin kamu jaket,punya kamu ini tipis banget takutnya kamu nanti kedinginan"kata Dewa,kemudian menggandeng tangan Kiara untuk masuk kedalam toko.
Saat berada didalam toko,semua mata tertuju pada mereka berdua.seperti biasa Dewa menjadi pusat perhatian karena ketampanannya,sedangkan Kiara saat ini menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang sembab.
"Hp mana HP"sahut pelayan satunya,sibuk mencari HPnya.
"Kamu layanin mas nya,aku disini ngerekam dia.nanti kita masukin ke toktik."lanjut pelayan toko saat sudah menemukan hp nya.
"Kamu aja,aku gak bisa bahasa Inggris."
"Udah ngomongnya sama cewek itu aja,"
Kemudian dengan deg degan pelayan toko itu menghampiri Dewa dan Kiara.
"Go... good night Mr."sapa pelayan toko sok pake bahasa Inggris.
"I need a thick jacket for my girlfriend"
"What...?"tanya pelayan toko yang kebingungan.
Melihat wajah pelayan toko membuat Kiara menahan tawanya.
"Issstt...mas,gak usah pake bahasa Inggris kasihan mbaknya jadi bingung"ucap Kiara sambil memukul lengan Dewa pelan
"Pilihkan jaket yang paling tebal untuk dia"ucap Dewa.
"Baik pak,"
"Bisa ngomong pake bahasa Indonesia to,"gumam pelayan toko sambil memilihkan beberapa model jaket yang super tebal.
"Ini pak jaketnya"
"Coba dipake yank"ucap Dewa sambil memberikan sebuah jaket berwarna hitam.
"Mas,ini gak ketebalan?"ucap Kiara saat melihat jaket yang dipilih Dewa.
"Udah dipake aja,nanti malam.disini makin dingin"ucap Dewa.
Mau tak mau Kiara pun mencoba jaket itu.Setelah dirasa cocok Dewa pun segera membayar jaket itu,lalu keluar dari toko.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju bukit bintang. memang benar kata Dewa semakin malam udara disana semakin dingin.
Kiara memasukan tangannya kedalam kantong jaket Dewa.Sesekali tangan Dewa ikut masuk kedalam sana.
Tak perlu waktu lama,mereka pun sampai di bukit bintang. sebuah dataran yang menyajikan pemandangan ribuan lampu.Kiara terlihat takjub melihat keindahan yang ada didepannya.
"Bagus gak yank?"tanya Dewa menanyakan pendapat Kiara.
"Bagus banget mas,aku belum pernah ketempat kayak gini"ucap Kiara dengan senyum yang lebar.
"Gimana perasaan kamu yank?"ucap Dewa kemudian memeluk Kiara dari belakang.
"Mas jangan kayak gini, nanti diliatin orang"ucap Kiara sambil melepas pelukan Dewa.
"Biarin,biar mereka ngiri liat kemesraan kita"ucap Dewa sambil mempererat pelukan dipinggang Kiara.
"Gimana perasaan kamu yank?"tanya Dewa ulang.
"Aku udah mendingan kok mas,makasih ya udah ngajak aku jalan jalan"ucap Kiara sambil menyandarkan kepalanya di dada Dewa.
"Syukurlah,mas sedih tau liat kamu nangis kayak tadi."
"Maaf ya mas,udah buat mas kwatir".
Mereka kini menikmati waktu mereka berdua sambil melihat gemerlip lampu kota yang ada dibawah mereka.
Tak Teresa waktu sudah semakin larut,satu persatu pengunjung disana pergi.hanya tinggal beberapa pasangan yang stay disana,salah satunya adalah Dewa dan Kiara.
"Balik yuk mas,udah malem"ajak Kiara sambil melihat jam tangannya.
"Ya udah yuk"ucap Dewa kemudian pergi ketempat parkiran.
Mereka pun pergi dari tempat itu menuju villa milik Dewa.
.
.
.
...
..
....
..
bersambung