Happy Ending In My Life

Happy Ending In My Life
PART 32



Kiara sedang bermain kartu bersama Danu dan Adit di atas bale.Terlihat wajah Danu yang sudah penuh bedak karna kalah main.Terdengar tawa mereka saat salah seorang dari mereka mendapat hukuman.


"Melihat Kiara tertawa seperti itu, Ibu jadi senang.Sudah lama Kiara tak tertawa lepas seperti itu.Kasihan anak itu"Ucap Mbok saat melihat Dewa keluar.Kemudian Dewa duduk dikursi sebelah Mbok.


"Kamu pasti tau kan apa yang Kiara alami?"tanya Mbok pada Dewa ,dan dewa pun hanya mengangguk.


"Kiara dulu anak yang ceria,periang dan jahil,tapi kemudian ia berubah jadi anak yang pendiam,dan menyendiri.Andai nyonya tidak meninggal mungkin Kiara tak akan menderita seperti ini"


"Ibu gak pernah membayangkan kalo tuan tega membuang darah dagingnya sendiri.Kiara anak yang sangat tuan sayangi.Tapi entah kenapa sikap tuan jadi berubah setelah tuan menikah lagi."


"Dia terlihat kurus,gak seperti dulu.Pasti hidup nya dikota sangat menderita". Kata Mbok sambil menoleh melihat Dewa.


"Setau saya,setelah ia pulang sekolah ia harus kerja di kafe,setelah itu lanjut kerja diRestoran."jelas Dewa,terlihat kesedihan Dimata Mbok.


"Ibu berniat untuk merawat Kiara disini, Ibu gak mau kiara menderita lagi.Ibu akan mencoba memberi ia yang terbaik meskipun hidup ibu sederhana seperti ini.Tapi setelah melihat kamu,ibu jadi tenang.ibu yakin kamu bisa memberi apa yang Kiara butuhkan."


"Ibu tau,kalo kamu punya perasaan terhadap Kiara,jadi ibu titip Kiara sama kamu.Buat ia bahagia,jangan sakiti dia lagi.Sudah lama ia merasakan kesedihan,saatnya buat dia untuk bahagia."kata Mbok sambil mengelus bahu Dewa.


"Iya Bu,sebisa mungkin saya akan berusaha menjaga dan buat Kiara bahagia."Ucap Dewa penuh keyakinan.


"Makasih,Ibu jadi tenang."Kata Mbok dengan senyum diwajahnya.


"Ya udah,ibu masuk dulu".pamit Mbok kemudian berjalan masuk rumah.


kemudian Dewa menghampiri Kiara, Danu dan Adit.


"Sini mas ikut main!".kata Kiara sambil menggeser duduknya.


"Gak,mas liat aja"kata Dewa kemudian duduk disamping Kiara.


Dewa hanya duduk diam sambil memperhatikan mereka bermain.Dan kali ini Adit yang harus kena hukuman,dengan semangat Kiara dan Danu mengoleskan bedak dimuka Adit.


Kiara pun tertawa puas saat melihat wajah Adit belepotan. Permainan baru pun dimulai,setelah Adit mengocok kartu kemudian ia membagi kepada Kiara dan Danu .


"Aduh.."kata Kiara saat melihat nilai kartunya.Kemudian Dewa pun ikut melihat kartu yang didapat Kiara,dan Dewa hanya tersenyum sekilas.


"Ayo Ki buka kartu kamu, hahahahaha...dari tau kamu yang paling sombong"Kata Danu tertawa saat melihat ekspresi Kiara.


"Buka Ki...aku udah gak sabar buat bedakin kamu"Ujar Adit.


Kemudian Danu membuka kartunya, disusul oleh Adit.Memang kali ini Dewi Fortuna tak memihak pada Kiara,karna kartu yang didapat Kiara paling kecil diantara ke tiganya.


Adit dan Danu pun tampak gembira,karna saat pembalasan dendam mereka akhirnya tiba juga.


"Ayo...sini dandan dulu"kata Adit sambil menaburkan bedak ditangannya.


"Ampun Mas,jangan dibedaki ya. Nanti kalo aku jelek gimana?entar gak laku dong"kata Kiara memelas.


"Udah gak usah dimelas melasin,hukum harus ditegakkan.Liat ni muka ku Ampe kayak donat celup gini."Kata Danu yang sudah siap dengan bedak ditelapak tangannya.Kemudian Kiara bersembunyi dibelakang badan Dewa.


"Mas dewa tolong.."Kata Kiara seperti anak kucing yang akan dimangsa oleh serigala.


"Kalo kalian ingin menghukum Kiara,lakukan saja pada ku"kata Dewa jadi tameng Kiara.


"Oke dengan senang hati,kalo memang itu mau kamu aku tidak akan sungkan"kata Adit kemudian mengoleskan bedak dimuka dewa.


"Maaf ya bos,ini peraturan jadi mau gak mau harus dijalankan.Maaf ya bos,jangan dipotong gaji saya ya bos"Kata Danu agak takut.


Melihat wajah tampan Dewa penuh bedak,membuat Kiara ingin tertawa tapi ia coba untuk menahannya.


"maaf ya mas,gara gara aku wajah ganteng Mas Dewa jadi kayak kue moci gini".Kata Kiara sambil menghapus bedak yang ada diwajah dewa.


"Hahahaha kue moci dia bilang.kecil kenyal kenyal donk"kata Adit yang tertawa saat mendengar kata kata Kiara.Danu pun tak kalah hebohnya.


"Aku lakuin itu agar kamu tidak disentuh oleh 2 lelaki Itu"bisik Dewa tepat ditelinga Kiara.


Setelah itu permainan pun selesai. Setelah mencuci wajahnya,Danu dan Adit pergi tidur.Sedangkan Dewa ia pergi menyusul Kiara yang masih duduk diatas bale.


"Kamu gak tidur Ki?"Tanya Dewa sambil menyampirkan jaket dibahu Kiara.


"Bentar lagi mas,aku masih pengen menikmati suasana ini.Suasana yang gak bisa aku dapet di ibukota."


"Aku kangen dengan suasana seperti ini mas,adem,damai,bikin hati tentram."lanjut Kiara.


"Dulu waktu malam bulan purnama seperti ini,aku sama Ayah dan Bunda sering banget duduk dihalaman itu.Gelar tikar,duduk duduk sambil cerita.Aku yang waktu itu masih kecil suka banget lari larian disitu."cerita Kiara sambil menunjuk rumah yang ada disampingnya,tersirat kesedihan Dimata Kiara,kemudian Dewa merangkul bahu Kiara memberi kekuatan.


"Tadi sebelum kesini,aku pikir rumah ini sudah berubah,sudah dirombak jadi bentuk baru.Tapi ternyata gak ada yang berubah,cuma pohon mangga yang ada didepan aja yang udah ditebang "


"Kamu senang Ki disini?" tanya Dewa.


"Heem...gak pernah aku membayangkan bisa balik ketempat ini lagi,aku juga gak nyangka bisa ketemu Mbok disini.Aku seneng benget, ternyata masih ada orang yang sayang sama aku"


"Kalo kamu mau,kamu boleh kok nginep disini selama 1 Minggu"kata Dewa.


"Gak lah mas,Aku kan mesti sekolah. Nanti ketinggalan pelajaran lagi".


"Ya udah kalo gitu,nanti pas liburan sekolah kamu boleh main kesini".


"Beneran mas,makasih ya.Walaupun Mbok orang lain,tapi aku udah anggep Mbok kayak ibu ku sendiri.Aku sayang si Mbok"kata Kiara masih ada kesedihan Dimata Kiara,tapi entah apa penyebabnya


"Tadi pagi kamu kemana ki?"tanya Dewa mengalihkan pembicaraan


"Tadi pagi aku cuma jalan jalan disekitar apartemen aja kok mas,tapi karna keasikan liat pemandangan jadinya jalan terlalu jauh dech"ucap Kiara.


"Masak,gak gara gara menghindar dari mas?" Selidik Dewa.


"Menghindar?kenapa harus menghindar dari Mas?"kata kiara sedikit gugup.


"Ya gak tau,cuma perkiraan Mas aja.Mungkin gara gara mas nembak kamu kemarin,jadi karena malu kamu hindarinas"tebak Dewa.


"Duh mas Dewa ini anak dukun pa ya,kok tebakannya tepat"gumam Kiara lirih.


"Gak kok Mas,aku gak hindarin Mas kok.Kayak bocah aja cuma kayak gitu aja terus menghindar"elak Kiara dengan nada gugup.


"Masak sich"ledek dewa sambil tersenyum jahil.


Melihat tawa Dewa,Kiara pun hanya memonyongkan mulutnya.Dan Dewa pun gemas melihat Kiara seperti itu.


..


.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung