
“Jika memang kau merasa tak dihargai apalagi sudah mengetahui bahwa Blaire ternyata mencintai pria lain, lantas mengapa kau masih memaksakan diri untuk tetap menikah dengannya, Nak?” Anette sama sekali tak habis pikir, dengan keputusan yang telah diambil oleh Aaron.
Bagi Anette, itu merupakan sebuah permasalahan yang sangat mudah. Namun, entah mengapa sang anak menjadikannya sebagai sesuatu yang terasa rumit. “Apakah kau ingin mencari tantangan dalam hidupmu, dengan menempatkan diri dalam situasi seperti ini, Aaron?”
“Apa maksud Ibu? Aku tidak membutuhkan sebuah masalah untuk membuat hidupku jauh lebih menantang,” bantah pria berambut pirang tersebut dengan segera.
“Ini maksudku, Aaron! Kau! Cintamu terhadap Blaire!” Anette berbicara dengan raut serta sorot mata yang terlihat begitu gemas atas sikap putra sulungnya.
Sementara Aaron tak segera menanggapi. Pria dengan postur tinggi tapi tak memiliki bentuk tubuh seatletis Christian tersebut, berjalan mendekat ke arah jendela kamar. Dia menyandarkan lengannya, di sisi kaca dengan kusen kayu berukuran tidak terlalu lebar itu. Aaron memandang ke luar. Tatapan sepasang mata biru pria tampan tersebut, menembus suasana yang selalu sepi di area perumahan tempat tinggal mereka.
Sebuah helaan napas panjang, meluncur begitu saja dari bibir sulung tiga bersaudara tadi. Aaron tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman yang terlihat aneh. Ada kegetiran dalam lengkungan yang seharusnya menjadi penanda sebuah kebahagiaan. Namun, tidak dalam senyumannya kali ini.
“Sekian lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Lebih dari lima tahun lamanya, diriku bersabar hanya untuk menunggu sebuah jawaban ‘iya’ dari Blaire. Ketika hal itu telah kudapatkan, haruskah aku mundur dan melepaskan kesempatan untuk dapat memiliki dia sepenuhnya?” Aaron mengalihkan pandangan kepada sang ibu yang masih berdiri menatap dirinya dengan heran.
“Aku mencintai Blaire, itulah kenyataan yang selama ini menjadi pegangan dalam penantian panjang yang telah kujalani. Aku menginginkan dia, tak peduli meskipun hati dan cinta gadis itu belum sepenuhnya dapat kumiliki. Setidaknya, apa yang menjadi perjuanganku tak berakhir dengan sia-sia.” Aaron kembali memandang ke luar jendela.
“Apa yang terjadi antara diriku dengan Cathy, itu memang seharusnya tak pernah kulakukan. Namun, tak ada manusia yang sempurna, Bu. Anggaplah diriku sedang tersesat. Akan tetapi, kali ini aku telah kembali menemukan jalan pulang.” Tatapan Aaron kembali menerawang jauh, menembus masa-masa di mana untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis cantik pemilik mata hijau itu.
Setelah mendengar apa yang Aaron katakan, Anette memilih untuk diam dan berpikir selama beberapa saat. Sebagai seorang ibu, ada keresahan yang teramat besar atas jalan hidup yang dipilih oleh putra sulungnya tersebut. Namun, Aaron sudah sangat dewasa. Otak pria itu bekerja dengan baik dan pasti dapat mencerna segala bentuk informasi yang masuk, meski sekecil apapun.
Akan tetapi, cinta memang menjadi sebuah kata yang tak jarang terdengar menakutkan, walau menjanjikan sebuah perasaan indah tiada tara. “Jika memang keputusanmu sudah bulat untuk menikahi Blaire dengan segala risiko yang ada, maka aku tak akan menghalangi sama sekali. Aku menyukai gadis itu. Dia sangat baik. Aku juga menyayangi Ainsley dan menganggapnya seperti cucu kandung sendiri. Begitu juga dengan Viktorija. Kami berteman baik. Astaga ….” Anette merapatkan kedua tangan, kemudian wanita itu dekatkan pada mulut layaknya seseorang yang sedang berdoa. Ada kebimbangan besar yang tersirat dalam bahas tubuh ibu tiga anak tersebut.
Aaron pun sepertinya dapat membaca keresahan yang tergambar pada bahasa tubuh sang ibu. Dia lalu tersenyum kecil sembari berjalan mendekat. Aaron berdiri di hadapan wanita yang telah melahirkannya. Pria itu memegangi kedua lengan Anette, sambil melayangkan tatapan lembut penuh kasih. Ya, itulah Aaron Walsh. Pria ramah dan murah senyum yang baik hati. Sebuah karakter yang membuat Blaire merasa terikat atas nama balas budi.
“Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Aku adalah seorang pria, dan akan bertanggung jawab atas segala hal yang telah kulakukan selama ini. Aku berjanji akan menyelesaikan urusan dengan Cathy sebelum hari pernikahan tiba. Aku sudah mengambil keputusan dan memantapkan hati, mengambil segala risiko yang ada. Blaire adalah segalanya bagiku meskipun dia ….” Aaron tertunduk lesu.
“Jika memang keputusanmu sudah bulat, maka pergi dan temui gadis bernama Cathy yang kau ceritakan tadi. Bicaralah baik-baik dengannya, Nak. Kumohon, jangan pernah meninggalkan kesan buruk di hati gadis itu,” pesan Anette seraya menangkup paras tampan putra sulungnya. Setelah itu, Anette mengecup hangat kening Aaron, sebelum wanita paruh baya tersebut memutuskan untuk keluar dari kamar.
Beberapa saat kemudian, calon suami Blaire tersebut sudah tampil rapi. Aaron keluar dari kamar sambil memainkan kunci mobil yang dia bawa. Pikirannya kacau dan seakan tidak fokus sama sekali. Dia bahkan tak mendengar saat Sabrina menyapa. Aaron terus berjalan dan berlalu tanpa memedulikan sang adik.
Sekitar satu jam berada di perjalanan, akhirnya sedan hitam yang dikendarai oleh Aaron telah tiba di ibukota Skotlandia. Hiruk pikuk lalu lintas pun terasa begitu ramai, berbanding terbalik dengan suasana perumahan tempat tinggalnya yang terkadang mirip sebuah kota mati. Setelah memarkirkan kendaraan di tempat khusus, Aaron pun keluar. Dia berjalan sebentar menuju lift, untuk bisa tiba di lantai yang menjadi tempat tinggal Catriona McKay alias Cathy.
Berkali-kali, Aaron menggosok-gosokkan telapak tangan, demi mengurangi perasaan tak menentu dalam hatinya. Setiap dia datang ke tempat itu, benak pria bermata biru tersebut pasti akan langsung memutar rekaman kejadian panas nan menggairahkan antara dirinya bersama bartender cantik yang dia anggap sebagai teman.
Jantung Aaron pun berdegup dengan kencang, ketika pintu ruangan yang dia tuju dibuka dari dalam. Paras cantik Cathy dengan senyuman yang indah, muncul di baliknya. Seperti biasa, wanita muda itu selalu dengan tampilan yang seksi. “Hai, Aaron. Kupikir kau tak akan datang lagi kemari,” ucap Cathy saat menyambut kehadiran pria tampan tersebut di dalam ruang apartemennya.
“Apa kau sedang sibuk, Cathy?” tanya Aaron berusaha menepiskan rasa gugup dalam hati yang semakin mendera.
“Tidak. Aku tak memiliki banyak kegiatan yang terlalu berarti di siang hari. Kenapa? Apa kau ingin membuatku menjadi sibuk, Aaron?” Pertanyaan yang terdengar sedikit nakal, dan menyiratkan banyak makna di dalamnya. Cathy kemudian mengulurkan tangan, mempersilakan sang tamu istimewa agar segera masuk.
Dengan langkah gagah dan dibuat setenang mungkin, Aaron berjalan memasuki ruangan. Dia lalu duduk sambil menyilangkan kaki. Sementara Cathy segera memilih tempat, tepat di sebelah pria tampan tadi.
Anehnya, Aaron tak berusaha menghindar. Dia bahkan hanya pasrah, ketika Cathy meraih wajah dan membuatnya menoleh. Sebuah ciuman lembut pun berlangsung untuk beberapa saat. “Aku menyukaimu,” bisik Cathy dengan suara yang terdengar penuh godaan. Dia lalu menjalarkan sentuhan bibirnya pada leher. Cathy bermain-main di sana, mengisapnya perlahan, sehingga membuat Aaron mende•sah pelan.
Sepertinya, memang tak ada niat dalam diri Aaron untuk menolak segala perlakuan nakal Cathy. Buktinya, pria itu membiarkan saja ketika jemari lentik bartender cantik tadi mere•mas sesuatu di balik resleting celana panjang yang dia kenakan. Aaron bahkan terlihat menikmati segala perlakuan Cathy, yang kini mulai memanjakannya. Pria itu hanya duduk bersandar, dengan mata terpejam dan wajah yang sesekali mendongak ke langit-langit.
“Cathy, kau sangat pintar ....” Aaron tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Helaan napas berat berkali-kali meluncur dari bibir pria tiga puluh tahun tersebut. Tak henti-henti, Aaron membelai rambut panjang sang partner di atas ranjang.
“Ya ... terus,” racau pria berambut pirang tadi. Kenikmatan itu kian menjadi, menjalari seluruh tubuh dan seketika membuat Aaron terlupa akan segala hal. Cathy begitu lihai dalam memperlakukannya. Gadis cantik tersebut tak pernah gagal membuat Aaron merasa puas, dan seakan menjadi raja di atas awan. Keindahan serta rasa nikmat yang luar biasa pun, berhasil menerbangkan Aaron semakin tinggi.
“Apa kau ingin yang lain, Sayang?” tawar Cathy seraya menegakkan tubuh, lalu mendekatkan wajah kepada pria tampan yang hampir mencapai nirwana. Cathy melu•mat bibir si pria yang terlihat sudah gelisah, karena hasratnya terjeda dan belum tuntas. Tanpa menunggu jawaban dari Aaron, Cathy pun berdiri, kemudian menurunkan hotpants yang dikenakannya. Dia memiliki tugas yang harus diselesaikan.