
Setelah pria tadi tak terlihat lagi, Viktorija segera mendekat kepada Blaire. Dia menyentuh pundak anak gadisnya yang segera tersadar dari lamunan. Blaire pun menoleh dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. "Katakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya wanita paruh baya, yang masih terlihat menarik di usia tak muda lagi tersebut.
"Tidak ada apapun, Bu. Dia mungkin teman lama Christian. Aku rasa, mereka sama-sama dari Meksiko, karena ada kemiripan dari tekstur wajah dan juga logat bicaranya," sahut Blaire menjelaskan. Dia tak berani mengatakan hal lain yang lebih dari itu.
Namun, seperti yang telah gadis berambut pirang itu duga. Sang ibu tak akan percaya begitu saja dengan apa yang dia jelaskan tadi. "Kau pikir aku bodoh, Sayang? Nada bicara pria itu menyiratkan sesuatu yang ... astaga kenapa terdengar sedikit menyeramkan di telingaku?" ujar Viktorija seraya meringis kecil. "Apa kau tahu siapa sebenarnya Christian Alvarez Teixeira?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu padaku, Bu?" Bukannya menjawab, Blaire justru malah balik bertanya kepada sang ibu.
"Entahlah, Blaire. Apa kau tidak merasa bahwa ada banyak sekali hal yang pria itu sembunyikan dari kita ... maksudku kita sebagai tetangga dekatnya," pikir wanita paruh baya tadi.
Sedangkan Blaire tak segera menanggapi ucapan sang ibu. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Apa yang Viktorija pikirkan memang benar adanya. Tak dapat dia pungkiri, bahwa Christian merupakan seorang pria dengan sejuta tanda tanya. Tiba-tiba, ingatan Blaire tertuju pada satu nama yang Christian sebutkan kemarin. Pandora. Siapakah wanita itu?
Akan tetapi, Blaire tak sempat melanjutkan lamunannya tadi, ketika dia melihat sosok yang kini selalu mengusik hati serta pikiran itu muncul dan berjalan ke arahnya. Christian selalu terlihat tampan dan juga luar biasa dengan pembawaannya yang dingin.
"Aku belum minum kopi hari ini," ucap Christian, saat sudah berdiri di depan meja pemesanan. Seperti biasa, dia memasukkan kedua tangan pada saku jaketnya.
"Memangnya kau dari mana?" tanya Blaire. Sikap gadis itu sudah mulai luwes di hadapan pria tampan tersebut. Dengan segera, Blaire memesankan kopi kesukaan Christian kepada sang ibu yang sudah beranjak ke dapur sejak tadi, saat Blaire sibuk termenung sendiri.
"Ada sedikit urusan. Aku harus segera membuka toko," ujar pria bermata abu-abu tadi tanpa melepas pandangan dari paras cantik Blaire. Hal itu membuat si pemiliknya menjadi salah tingkah. Niat Blaire untuk menyingkirkan Christian dari dalam hati dan pikiran, sepertinya akan gagal jika pria itu terus saja muncul dengan sejuta aura penuh godaan.
Beberapa saat kemudian, pesanan Christian telah selesai. Tanpa banyak bicara apalagi melakukan kontak mata, Blaire segera menyodorkan kopi yang menjadi kesukaan pria di hadapannya. Sementara Christian masih menatap lekat ke arah gadis cantik di hadapannya. Dia merasakan satu yang janggal, karena Blaire seperti tengah menghindarinya. "Apa kau baik-baik saja, Blaire?" tanya pria tampan itu kemudian.
"Ya tentu. Aku tak apa-apa," jawab Blaire mengarahkan pandangan ke segala arah.
"Syukurlah kalau begitu," balas Christian lagi. Dia meraih kopi pesanannya dari atas meja, kemudian meletakkan uang tepat di sebelah wadah kopi tadi. Tanpa berbasa-basi lagi, Christian segera membalikkan badan. Pria itu bermaksud untuk keluar dari kedai.
"Tunggu, Chris!" cegah Blaire membuat Christian langsung tertegun. Dia lalu menoleh, tapi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lagi-lagi, caranya memandang ke arah Blaire seketika menimbulkan percikan-percikan aneh yang gadis itu sesali, karena dia merasa begitu lemah sehingga tak kuasa untuk melawan perasaannya.
Namun, si pemilik mata hijau tadi berusaha untuk menyingkirkan hal tersebut meskipun sulit. Dia menunjukkan diri untuk terlihat biasa saja. "Tadi, ada seseorang yang mencarimu," ucap Blaire kemudian.
"Siapa?" tanya Christian seraya memicingkan matanya.
"Seorang pria yang menyebut dirinya Black Rifle," jawab Blaire. "Katanya, dia menunggumu untuk bertemu sebulan lagi dari sekarang," ujar Blaire lagi.
Sementara Christian tak segera menjawab. Dia berdiri terpaku untuk beberapa saat, sambil terus menatap ke arah Blaire. "Apa lagi yang dia katakan?" tanya Christian penasaran.
"Tidak ada. Dia hanya mengatakan itu," sahut Blaire seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Terima kasih," balas Christian. Dia kembali melanjutkan langkah menuju pintu dan benar-benar keluar dari dalam kedai. Sungguh sikap yang sangat aneh bagi Blaire.
Namun, gadis itu tak ingin ambil pusing. Dia memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaan di kedai, hingga tak terasa sudah tiba waktunya untuk tutup.
"Bu, aku ingin ke perpustakaan dulu," ucap Blaire meminta izin. Dia berdiri sambil memperhatikan sang ibu yang tengah mengunci pintu kedai.
Blaire yang hari itu sedikit lebih pendiam dari biasanya, hanya mengangguk sambil tersenyum manis saat menanggapi ucapan sang ibu. Mereka pun kemudian berjalan dengan arah yang berlawanan. Namun, ketika melewati depan toko milik Christian, gadis itu tertegun sejenak sambil menoleh ke arah bangunan bercat hitam tersebut.
Entah disadari atau tidak oleh Blaire, bahwa Christian juga tengah menatap ke arahnya dari dalam toko. Pria itu kemudian berjalan mendekat pada pintu, lalu membuka dengan tidak terlalu lebar. "Masuklah," ajaknya.
Blaire yang tadinya hendak ke pergi ke perpustakaan, tiba-tiba mengalihkan tujuan. Bagai kerbau dicocok hidung, dia menurut saja. Blaire berjalan masuk ke dalam toko tadi. Gadis itu berdiri dengan sikapnya yang terlihat salah tingkah.
"Di luar dingin. Kau hendak ke mana?" tanya Christian.
"Aku akan ke perpustakaan," jawab Blaire.
"Sudah kukatakan jangan pergi seorang diri," tegur pria berambut gelap itu seraya berjalan mendekat.
"Ibuku masih punya pekerjaan di rumah. Lagi pula, jika dia menemaniku ke sana, maka aku hanya akan disuruh untuk membaca buku tentang pentingnya menjaga lingkungan," ujar Blaire.
"Kalau begitu biar aku yang akan menemanimu," ucap Christian menawarkan diri.
"Tidak usah," tolak Blaire dengan segera.
"Kenapa?" tanya Christian heran. Dia menatap Blaire dengan semakin intens, seakan tak ada objek lain yang menarik baginya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ... aku hanya tak ingin ... apa kau pergi sejak pagi, Chris?" Blaire tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Ya, aku bahkan bertemu dengan nyonya Shuterland," jawab Christian, "memangnya kenapa?" tanya pria itu penasaran.
"Aku melihat bayangan seseorang di dalam rumahmu. Namun, dia langsung menghilang ketika diriku mendekat," sahut Blaire menuturkan. "Ya, Tuhan. Siapa kau sebenarnya? Kenapa sulit sekali untuk bisa mengenalimu? Siapakah pria dengan mantel dan topi fedora hitam itu? Siapa Black Rifle? Lalu siapakah juga seseorang yang ada di dalam rumahmu?" cecar Blaire dengan tanpa henti. Gadis itu melawan tatapan lekat Christian. Blaire berharap ada satu jawaban yang dapat membuat dirinya menjadi mengerti.
"Tak ada siapa pun di dalam rumahku. Kau mungkin hanya salah lihat, atau bisa jadi itu merupakan pantulan dari bayangan dari tempat lain," bantah Christian.
"Aku tidak sebodoh itu, Chirs!" sergah Blaire kesal karena dia berpikir bahwa pria di hadapannya masih saja tak bersedia untuk jujur. "Aku melihat sendiri dengan jelas," sanggah Blaire tegas, "dan pria aneh itu ... bahasa tubuhnya terlihat sangat menakutkan ...."
"Apa dia melakukan sesuatu terhadapmu?" tanya Christian menunjukkan raut khawatir. Tak biasanya pria itu memperlihatkan ekspresi lain selain wajah datar yang dingin.
Sedangkan Blaire yang sedikit kebingungan, langsung saja menggeleng. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu bermaksud untuk membalikkan badan dan berlalu dari sana.
Akan tetapi, dengan segera Christian menahannya. Dia meraih pergelangan tangan gadis cantik tersebut kemudian menarik dengan paksa, hingga Blaire kembali mundur. "Jika kau tak ingin kutemani, maka tak akan kuizinkan untuk pergi seorang diri," tegas Christian penuh penekanan.
"Siapa dirimu? Kau tidak berhak mengatur apapun yang ingin dan tidak untuk kulakukan!" tolak Blaire dengan tak kalah tegas.
Blaire tak tahu bahwa sikap kerasnya tersebut justru membuat Christian merasa terpancing. Dia merengkuh pinggang gadis itu, kemudian mendekapnya dengan erat. Pria tampan bermata abu-abu tersebut tak memberi celah sedikit pun kepada Blaire untuk melakukan perlawanan. Gadis cantik berambut pirang tadi seketika takluk dalam dekapan lengan kekar Christian.
Seakan telah menjadi candu, lagi-lagi sang pemilik toko barang antik itu kembali mencium Blaire dengan dalam. Dia melu•mat bibir gadis tersebut. Berbeda dengan dua ciuman sebelumnya, kali ini Christian terlihat jauh lebih agresif dan seakan begitu bernafsu. Pria tampan itu mengangkat tubuh ramping Blaire, kemudian mendudukkannya di atas meja. Lihai, kedua tangan Christian melepas chesterfield coat yang Blaire kenakan.