
"Ayo turunlah," suruh Aaron sambil menggunakan isyarat tangan. Dia juga menunjukkan sebuah wadah dari plastik khusus. Entah apa isi dari kotak makanan yang dibawa oleh pria berambut pirang tersebut.
Setelah mengempaskan napas pelan, Blaire pun menutup kembali menutup jendela kaca kamarnya. Dia menuruti permintaan Aaron. Gadis itu mengendap keluar dari kamar, kemudian menuruni anak tangga dengan perlahan. Blaire tak ingin membangunkan sang ibu. Wanita itu pasti sudah teramat lelah menjalani hari-harinya di kedai.
Blaire tak ingin lagi menambah beban Viktorija. Dengan kehamilan di luar rencana ini saja, sudah menjadikan sebuah tamparan keras bagi janda cantik itu. Untuk selanjutnya, Blaire tak ingin lagi membuat ibu yang teramat dia sayangi menjadi semakin sedih dan kecewa.
Sesampainya di ruang tamu, Blaire membuka pintu depan secara perlahan. Dia lalu menutupnya kembali saat dirinya sudah berada di teras. Tampaklah Aaron yang berdiri di anak tangga sambil membawa sekotak pizza berukuran besar. “Aku membawakanmu camilan,” ujarnya seraya tersenyum lebar, "dan ini makanan buatan ibuku, katanya bagus untuk wanita hamil. Kau bisa menghangatkannya di microwave." Aaron menyodorkan kotak makanan yang tadi dia tunjukkan.
Setitik lesung pipi di sebelah kanan bibirnya semakin menambah tingkat ketampanan sulung dari tiga bersaudara tersebut. Seandainya Blaire tak pernah bertemu dengan Christian, mungkin dia akan terpesona oleh keindahan fisik dan karakter Aaron yang baik juga hangat.
“Astaga, Aaron. Dari mana kau tahu bahwa aku selalu kelaparan di tengah malam?” Blaire tampak terharu. Namun, tanpa sungkan dia mengambil kotak berwarna putih itu lalu membukanya di meja teras.
“Masih teringat jelas dalam ingatanku saat ibu tengah hamil Natalie. Tiap malam dia selalu mencari makanan di dapur. Berkali-kali ibuku membuka dan menutup pintu kulkas. Akan tetapi, anehnya makin banyak mengonsumsi sesuatu, maka dia akan terlihat semakin lapar,” jelas Aaron seraya terkekeh pelan.
“Itu benar sekali. Aku harus bersiap-siap untuk kenaikan berat badan secara drastis,” ujar Blaire sambil mengunyah sepotong pizza.
“Tidak apa-apa, Blaire. Semakin si ibu merasa nyaman dan bahagia, makhluk kecil di dalam rahimmu pasti akan ikut merasakan hal serupa,” ujar Aaron.
“Apakah yang kau katakan itu juga berasal dari pengalaman hamil nyonya Walsh?” Blaire mengernyitkan kening sembari membuat mimik wajah yang lucu.
Aaron kembali terbahak, lalu menatap Blaire dengan lekat. “Percaya atau tidak, apa yang dirasakan oleh seorang ibu pasti juga ikut dirasakan oleh bayi yang dikandungnya. Saat ibu mengandung Sabrina, ibu masih hidup berbahagia dengan ayah. Ketika itu, ibu lebih banyak tertawa. Ketika Sabrina lahir sampai berusia dewasa, dia jarang sekali sakit. Sabrina juga tumbuh menjadi gadis yang ceria,” tutur Aaron.
“Namun, seiring berjalannya waktu, ibu dan ayahku jadi lebih sering bertengkar. Ditambah lagi dengan kebiasaan mabuk-mabukan ayah yang membuat ibuku semakin tenggelam dalam kesedihan akibat ulahnya. Lalu, lahirlah Natalie. Adikku itu sering sakit-sakitan sampai usia balita. Alasannya karena ketika sedang mengandung, ibuku sering sekali menangis dan merutuki nasib,” lanjut Aaron. Sorot matanya sama sekali tak lepas dari wajah cantik Blaire.
“Begitukah?” Blaire berhenti mengunyah, kemudian meletakkan potongan pizza tadi kembali ke kotaknya.
“Hidup harus terus berjalan, Blaire. Sesedih apapun itu,” ucap Aaron. “Ibuku dulu mengira bahwa dia tak akan mungkin bertahan tanpa ayah. Namun nyatanya … lihatlah dia kini. Hidup ibu menjadi jauh lebih bahagia tanpa kehadiran pria itu.”
Blaire menunduk, meresapi kata-kata bijak Aaron. Seandainya bisa, pasti dia akan melupakan sosok Christian. Akan tetapi, pria tampan nan misterius tersebut sudah terlanjur masuk terlalu dalam ke hati dan pikirannya.
“Tak ada yang abadi, Blaire. Sekalipun kesedihan. Semua itu pasti akan berlalu. Senang, sedih, kecewa, marah, terpuruk, semuanya akan berlalu. Percayalah padaku,” ujar Aaron sambil memberanikan diri menyentuh tangan gadis cantik bermata hijau itu.
Blaire juga tak menolak, ketika tangan Aaron yang terasa hangat dan nyaman menggenggam jemarinya dengan lebih erat. “Aku akan membantu menemanimu melewati masa-masa berat ini,” ucap Aaron kemudian.
“Apa kau tak merasa risih, Aaron?” tanya Blaire ragu.
“Risih kenapa?” Aaron balik bertanya sembari menggeleng tak mengerti.
“Seiring kehamilanku yang kian besar, para tetangga akan semakin banyak bertanya-tanya. Mereka akan mencari informasi dari mana saja tentang keadaanku. Tidak menutup kemungkinan jika mereka mengira bahwa kau adalah ayah dari bayi ini,” jawab Blaire sambil mengangkat satu alisnya.
Bukannya menanggapi, Aaron malah terbahak. “Aku malah senang seandainya mereka mengira bahwa bayi yang kau kandung adalah anakku, Blaire,” sahutnya penuh senyum.
Namun, senyuman itu seketika menghilang ketika tetangga cantiknya itu memandang Aaron dengan heran. “Um ... maksudku, aku ….” Aaron menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia menyadari bahwa dirinya telah salah bicara.
“A-aku?” Aaron menunjuk hidungnya sendiri.
“Ya, seperti yang kau katakan tadi. Kau tak masalah jika dianggap sebagai ayah dari bayi ini.” Blaire meringis lucu, lalu tertawa geli. “Lagi pula, kasihan ibuku yang sudah terlalu lelah mengurus kedai. Aku tak ingin merepotkannya untuk mengurusi perkara kecil seperti ini,” lanjut Blaire lagi.
"Tentu saja, Blaire!” seru Aaron antusias. “Aku akan mengantarkanmu, asalkan jadwal ke dokter tidak bertabrakan dengan jam kerjaku.”
“Tentu saja tidak. Aku akan menunggu sampai kau pulang kerja, lalu kita akan pulang bersama-sama,” sahut Blaire. Wajahnya kini menjadi jauh lebih ceria dibanding sebelumnya.
Blaire tahu bahwa Aaron adalah pria sejati yang selalu berpegang teguh pada janji yang sudah dia ucapkan. Terbukti sejak saat itu, pria tampan tersebut tak pernah lalai mengantarkan Blaire memeriksakan janinnya ke dokter.
Hingga waktu berlalu sedemikian cepat dan usia kandungan Blaire sudah memasuki trimester ketiga. Tak sekalipun Aaron absen dalam menemani gadis itu di setiap pemeriksaannya. Dia bersikap seperti seorang suami pada istrinya yang tengah hamil tua.
Aaron juga tak peduli ketika banyak orang yang mengira bahwa dialah yang telah menghamili Blaire. Seperti saat itu ketika nyonya Clarkson mencegatnya sepulang dari kantor. “Apakah hubungan kalian baik-baik saja? Kudengar bahwa putri nyonya Robertson tengah berusaha mendekatimu,” ujarnya dengan ekspresi yang terlihat begitu serius.
“Biar kukatakan sesuatu padamu, anak muda. Jangan sampai kau tergoda oleh Sharon Robertson. Gadis itu memang cantik, tapi sepertinya dia tak sebaik Blaire. Ingat, kekasihmu itu akan melahirkan sebentar lagi,” tegur nyonya Clarkson sambil mengacung-acungkan jemarinya.
“Tentu, Nyonya. Aku jelas tak akan mungkin berpaling dari Blaire. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan bayi kami,” jawab Aaron sambil tersenyum simpul.
“Oh ya?” Mata keriput nyonya Clarkson terbelalak sempurna. “Berapa usia kandungannya?”
“Saat ini telah memasuki bulan kesembilan, Nyonya. Seharusnya dalam waktu dekat Blaire sudah harus melahirkan,” jawab Aaron sambil berusaha bergeser agar bisa melewati nyonya Clarkson yang menghadang jalannya.
“Jadi, sekarang kau mau ke mana?” tanya wanita tua itu lagi.
“Aku akan melihat keadaan Blaire. Kebetulan hari ini nyonya Sutherland sedang ada jadwal seminar ke luar kota.” Aaron mengangguk sopan, sebelum setengah berlari meninggalkan tetangga senior tetsebut.
Aaron sedikit was-was ketika lampu rumah Blaire masih belum dinyalakan. Padahal hari sudah menjelang petang dan keadaan di luar sudah gelap. Segera saja dia mengetuk pintu rumah Blaire dengan cukup kencang. Akan tetapi, tak ada jawaban. Dia pun mencoba menghubungi ponsel Blaire.
Cukup lama terdengar nada sambung hingga akhirnya Blaire mengangkat telepon.
“Aaron.” Suara gadis itu terdengar seperti sedang terengah-engah.
“Blaire? Apa yang terjadi? Kenapa rumahmu masih gelap?” tanya Aaron.
“Perutku sakit sekali, Aaron. Aku tidak bisa turun dari ranjang,” jawab Blaire lemah.
“Astaga! Bagaimana caranya aku masuk ke dalam rumahmu?” Panik, Aaron berjalan mondar-mandir di depan rumah Blaire.
“Buka saja. Pintunya tidak dikunci,” jawab Blaire, kemudian mengakhiri panggilannya.