Edinburgh

Edinburgh
Accident



Pagi yang cerah di hari Minggu. Christian membuka toko barang antiknya dengan perasaan yang tak karuan. Dia lalu melihat kedai kopi yang masih tutup. Christian pun mengembuskan napasnya pelan.


Terbayang olehnya saat Blaire memakai baju pengantin dan mematut dirinya di depan kaca.


Pria rupawan asal Meksiko tersebut menggelengkan kepala dengan pelan, mencoba mengempaskan perasaan dan pikiran yang menyakitkan tadi. Sepertinya akan lebih baik jika dia memusatkan perhatian pada Ainsley, begitu yang Christian pikirkan saat itu.


Namun, ternyata hal itu tak semudah yang dia pikirkan. Bayangan Blaire terus menari-nari di benaknya. Christian pun mengalihkan semua keresahan tadi dengan membersihkan kaca depan serta merapikan bagian dalam toko. Dia menata ulang barang-barang yang dirinya pajang dalam rak dan etalase, lalu mengelap sampai semua tampak mengkilap.


Aktivitas Christian terhenti, saat dia melihat Viktorija berjalan dengan terburu-buru. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut membuka rolling door, lalu memutar kunci. Setelah itu, Viktorija membuka pintu kedainya lebar-lebar dan mulai membereskannya. Semua dia lakukan seorang diri.


Terbersit dalam pikiran Christian untuk membantu ibunda Blaire tersebut. Tanpa berpikir dua kali, dia menutup pintu toko, lalu bergegas menuju ke kedai. Christian masih tetap tersenyum saat Viktorija menyambutnya dengan wajah ketus. “Kedai belum buka, jadi belum bisa melayani pesananmu,” ujar wanita itu.


“Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu,” sahut Christian seraya membantu Viktorija menurunkan kursi-kursi yang terbalik di atas meja, lalu menatanya.


“Apapun yang kau lakukan, tidak akan membuatku bersimpati padamu,” ujar wanita paruh baya itu.


“Aku ke sini tidak untuk mencari simpatimu, Nyonya. Aku hanya ingin menunggu sampai kedai benar-benar dibuka sambil membantumu,” balas Christian seraya tersenyum samar.


Viktorija sempat melotot. Akan tetapi, wanita itu segera mengalihkan perhatiannya pada tempat lain. “Kalau begitu, selagi kau berada di sini tolong sapukan lantai kedaiku,” suruh Viktorija sembari berlalu ke bagian dalam kedai dan keluar beberapa saat kemudian sambil membawa peralatan kebersihan. “Pinggangku nyeri sejak tadi malam. Jadi, tidak ada salahnya untuk meminta bantuanmu.” Sengan seenaknya, Viktorija menyodorkan tongkat sapu berbahan besi dan satu set alat pel pada Christian.


“Baiklah. Aku masih memiliki waktu setidaknya sampai setengah jam ke depan untuk membuka toko.” Christian tersenyum, lalu menerima tongkat sapu dan pel tadi. “Apa kau tidak ingin menukar sapumu yang sedikit ketinggalan jaman dengan sapu elektrik, Nyonya?” tanyanya.


“Tidak. Aku tidak ingin menyumbang emisi karbon di bumi kita yang sudah semakin tua ini,” sahut Viktorija sambil berbalik meninggalkan Christian. “Akan kubuatkan kau kopi, gratis!” serunya dari bagian dalam ruangan kedai.


Christian lagi-lagi hanya menyunggingkan senyuman kecil saat menanggapi sikap Viktorija. Dia lalu kembali fokus menyapu lantai dan mengepelnya sampai bersih hingga ke tiap sudut ruangan. Christian baru selesai melaksanakan tugas, bersamaan dengan ibunda Blaire yang keluar untuk membawa beberapa toples bahan yang akan digunakan untuk meracik kopi dari dalam meja. Dia kembali ke dalam dan meletakkan toples-toples tadi di sisi mesin pembuat kopi.


“Mana lagi yang harus kubersihkan, Nyonya Sutherland?” tanya Christian sopan.


“Sudah selesai semuanya. Kau bisa duduk dengan tenang di sana,” tunjuk Viktorija pada sebuah meja yang berada di dekat jendela.


“Apakah plakatnya sudah bisa kubalik menjadi tulisan ‘open’?” tanya Christian.


“Yes, please.” Viktorija mengangguk setuju. Dia lalu memakai apron dan mulai sibuk membuatkan pesanan sang tetangga kedai. Dia sempat melihat Christian yang telah selesai memutar plakat, lalu duduk di tempat yang sudah dipilihkan oleh Viktorija dari jendela kecil pada dinding. Pria itu tampak melamun dengan pandangan mata menerawang.


“Apakah kau tahu jika sekarang Blaire tengah berada di butik bridal untuk mencoba gaun pengantinnya?” tanya Viktorija ketika menyerahkan satu cup kopi pada Christian. Dia berdiri tegak sambil melipat dada di hadapan pria rupawan itu.


“Ya, Nyonya. Aaron kemarin sudah berpesan padaku untuk tidak mencari Ainsley, karena putraku ikut bersama mereka ke Glasgow hari ini,” jawab Christian kalem.


“Aku memang tidak mengharapkan apapun, Nyonya. Aku sudah belajar cukup banyak dari pengalaman masa lalu, jika pengharapan itu sama artinya dengan membuat diri ini kecewa.” Sorot mata Christian terlihat tenang, tetapi menyiratkan kesedihan.


“Namun, aku akan tetap berjuang untuk Ainsley,” pungkas pria itu sebelum berdiri dan memandang ke jendela lain yang mengarah ke tokonya. “Permisi, Nyonya. Terima kasih untuk kopinya.” Christian mengangguk sopan, lalu bergegas meninggalkan kedai dan juga Viktorija tanpa menoleh lagi.


Sementara wanita paruh baya itu masih tercenung seraya terus memperhatikan Christian, sampai tubuh tegapnya menghilang ke dalam toko. Viktorija menjadi gamang. Entah sikapnya selama ini terhadap ayah kandung Ainsley tersebut merupakan suatu hal yang benar atau tidak. Sebagai seorang ibu, dia hanya mengharapkan kebahagiaan bagi putri satu-satunya.


Seperti yang tampak pada paras Blaire saat itu. Dia tengah menatap cermin besar seukuran dirinya, yang berjumlah tiga buah dan terletak di depan serta samping kiri dan kanan. Wajah Blaire seakan menunjukkan rasa tak percaya yang teramat besar ketika melihat bayangan sendiri.


“Ibu cantik sekali!” seru Ainsley ceria.


“Benarkah itu, Sayang?” Blaire segera menoleh kepada sang anak yang melompat-lompat di sampingnya.


“Bagian punggungmu terlalu terbuka, Blaire. Aku ingin gaun pengantin yang simpel, tetapi sedikit tertutup di bagian belakang dan juga depan,” ujar Aaron yang tiba-tiba berdiri di belakang calon istrinya.


“Punggung yang terbuka dapat ditutupi oleh rambut panjang, Tuan. Kusarankan rambut nona Sutherland, digerai dan dibentuk ikal,” sahut salah seorang pegawai bridal.


“Nanti banyak yang akan terpesona melihat rambut indah Blaire. Tidak. Aku tidak setuju,” tolak Aaron seraya menggelengkan kepala. “Aku ingin gaun yang lain saja.”


“Astaga, Aaron.” Blaire berdecak kesal. Dia tak pernah menyangka jika sosok calon suaminya tersebut ternyata sangat posesif.


“Kau terbiasa mengenakan pakaian yang tertutup, Blaire.” Aaron memaksakan pendapatnya.


“Justru karena itu, aku ingin tampil berbeda di hari pernikahanku.” Gadis berambut pirang itu juga tak mau kalah.


“Aku ingin ibu memakai gaun pengantin bergambar kartun saja. Ibu pasti akan terlihat jauh lebih cantik,” celoteh Ainsley yang ikut menimpali perbincangan orang-orang dewasa di hadapannya.


“Ya ampun.” Pasangan kekasih itu lalu terbahak mendengar kalimat lucu Ainsley.


Namun, Blaire dan Aaron kembali melanjutkan perdebatan, ketika Ainsley beringsut menjauh dari sana. Mata bulatnya yang lucu dan menggemaskan, menangkap truk es krim yang melintas di depan butik bridal. Ainsley pun berlari keluar tanpa sepengetahuan sang ibu. Bocah itu menyapu pandangan ke segala arah untuk mencari truk es krim tadi.


“Itu dia!” Ainsley bertepuk tangan riang saat truk bergambar es krim berukuran besar berhenti di seberang jalan dari tempatnya berdiri. Dia terbiasa dengan jalan perumahan yang lengang di lingkungannya, sehingga Ainsley langsung menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan kanan.


Akan tetapi, bersamaan dengan kaki kecilnya yang menginjak aspal jalan raya, saat itu pula sebuah sedan melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Seketika, kendaraan tadi menabrak tubuh mungil Ainsley hingga dia terlempar beberapa meter jauhnya.