
Untuk beberapa saat, pria berambut pirang itu diam termenung sambil memandangi layar ponsel milik Blaire. Aaron kemudian meletakkan kembali telepon seluler tadi di atas meja. Dia lalu memandang ke arah Viktorija yang sedang tersenyum di dekat Ainsley.
Setelah itu, perhatian pria bermata biru tersebut berpindah kepada Christian yang tampak biasa saja, dan berdiri dengan senyuman seadanya. Entah apa yang membuat Christian terlihat begitu istimewa di mata seorang Blaire. Dalam pikiran Aaron, dirinya merasa jauh lebih manis dan juga ramah meskipun kemarin sempat bersikap di luar kendali. Namun, lagi-lagi Aaron tak mendapat jawaban. Hatinya justru terasa kian hancur, saat melihat Blaire terlihat begitu bahagia. Apakah ciuman dari Christian begitu luar biasa, sehingga dapat membuat calon istrinya tampak sumringah dan bersemangat.
Pandangan Aaron kembali beralih kepada Viktorija. Wanita paruh baya tersebut mengetahui apa yang Blaire lakukan dengan Christian. Namun, dia masih terlihat tenang dan seakan membiarkan. "Astaga," gumam putra sulung Anette Walsh tadi teramat pelan. Aaron merasa ingin berteriak dan memaki setiap orang, atas sandiwara yang telah mereka lakukan di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, Aaron memutuskan untuk beranjak dari sofa yang dia duduki. Pria berambut pirang itu lalu menghampiri Blaire yang sedang berada di tepian ranjang. Saat itu, gadis cantik tersebut tengah merapikan mainan Ainsley di atas pangkuan bocah lima tahun tersebut.
Tanpa ada ucapan apapun terlebih dulu, Aaron yang sudah berdiri di dekat Blaire, segera saja menarik lengan calon istrinya agar berdiri. Tindakan yang dilakukan pria itu bahkan tampak seperti sebuah pemaksaan, terlebih saat dirinya mencium ibunda Ainsley tadi secara kasar.
"Aaron!" Blaire melepaskan dirinya dengan setengah memaksa. "Kenapa kau?" tanya Blaire heran. Namun, calon suami gadis cantik tersebut tak memberikan jawaban apapun.
Christian serta Viktorija pun cukup terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh pria itu. Apalagi setelah mencium Blaire dengan cara seperti tadi, Aaron langsung saja memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Dia bahkan tak berpamitan sama sekali kepada semua yang berada di sana.
"Kenapa lagi dia?" Viktorija mengernyitkan kening karena tak mengerti. Wanita paruh baya berambut pendek itu, memandang aneh kepada Blaire yang hanya tertegun dan tampak berpikir.
Sementara Christian juga turut menatap lekat kepada Blaire, yang terlihat malu dan tak nyaman akibat sikap Aaron tadi. Gadis itu kemudian memilih untuk berjalan ke dekat meja di mana ponselnya berada. Saat itu, alat komunikasi canggih tersebut tampak menyala. Seketika, Blaire terbelalak. Dia lupa bahwa dirinya belum menutup aplikasi percakapan, bersama sang ibu beberapa saat yang lalu.
Blaire kemudian meraih benda tadi. Ada sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor milik Aaron. Gadis itu pun segera membukanya.
Apa kau puas, Blaire?
Isi pesan yang dikirim oleh Aaron hanya berupa pertanyaan seperti itu. Akan tetapi, terasa menyakitkan saat Blaire membacanya. Gadis bermata hijau tersebut kemudian mengeluh pelan. Dia menyadari kesalahan dan juga keteledoran yang sudah dilakukan. "Apa kau ingin makan pizza sekarang, Ains?" tawarnya seraya menoleh kepada Ainsley. Dia tersenyum manis untuk menyembunyikan segala keresahan yang kini datang menghinggapi.
"Aku mau, Bu," jawab Ainsley.
Blaire pun meraih kotak pizza berukuran jumbo tadi, lalu membawanya ke dekat Ainsley. Dia kembali berpura-pura ceria di hadapan semua orang. Blaire tertawa lebar sambil menikmati potongan pizza yang Aaron bawakan untuknya dan Ainsley. Gadis itu menyantap setiap potongan bersama putra kesayangannya.
Akan tetapi, mata tajam seorang Christian tak bisa dibohongi. Pria itu mengetahui dan dapat merasakan dengan jelas, bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan ibu dari putranya tersebut. Namun, Christian memilih untuk tidak berkata apapun.
Hingga menjelang sore, ternyata Aaron tak kembali lagi ke rumah sakit. Padahal, sesuai rencana tadi pagi bahwa dia akan pulang ke Edinburgh bersama Viktorija. Namun, hingga lewat pukul lima sore, calon ayah tiri Ainsley tersebut tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Ada apa dengan calon suamimu, Blaire?" Berkali-kali Viktorija menanyakan hal itu, tapi Blaire tak memberikan sebuah jawaban yang pasti.
Sementara orang yang sedang ditunggu, saat itu sedang berada di apartemen milik Catriona McKay alias Cathy. Aaron kembali memperlihatkan tampilannya yang sangat kacau di hadapan bartender cantik tersebut.
"Biar kuantar. Aku ingin sedikit menyegarkan pikiran di sana," sahut Aaron menawarkan jasa.
"Ah tidak!" tolak Cathy dengan segera. "Aku tak ingin kau datang ke sana dengan membawa masalah pribadi, lalu kau akan mabuk berat lagi dan membuat keonaran. Luka lebam di wajahmu saja bahkan belum sepenuhnya hilang."
"Aku janji hanya akan minum." Aaron berkata dengan nada setengah membujuk.
"Tidak, Aaron!" Cathy tetap menolak dengan tegas. "Jika memang kau sedang ada masalah, sebaiknya bicarakan itu dengan kepala dingin. Ibuku pernah mengatakan bahwa sebelum dia menikah dengan ayahku, ada seribu satu hambatan yang datang menghampiri mereka. Namun, karena niat dan tekad keduanya sudah benar-benar bulat, maka pernikahan itu tetap terlaksana dengan lancar. Hingga saat ini, kedua orang tuaku bahkan telah memiliki sepasang cucu kembar yang lucu," tutur Cathy dengan diiringi senyum manis, saat membayangkan kedua orang tuanya yang berada jauh di kota Manchester, Inggris.
"Tidak semudah itu," bantah Aaron lesu. "Aku tidak tahu seberapa besar niat Blaire untuk menikah denganku. Dia seperti meremehkan perasaan dan menganggap ini sebagai sesuatu yang tidak penting sama sekali."
"Aku rasa gadis itu terlihat baik dan juga ramah. Dari cara dia berbicara, sepertinya calon istrimu adalah orang yang mudah bergaul dan bersahabat dengan siapa saja," ujar Cathy masih dengan camilannya.
“Ya bersahabat.” Aaron tersenyum getir, lalu mengempaskan dirinya ke atas sofa dan duduk di sebelah Cathy. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan kepala menengadah. Mata biru pria itu nanar menerawang ke langit-langit ruangan.
“Blaire memang selalu memandangku sebagai seorang sahabat. Sejak awal, sorot mata yang dia layangkan tak pernah berubah. Berbeda dengan ketika dia menatap pria itu,” racau Aaron pelan sambil mengempaskan napas dalam-dalam, kemudian memejamkan mata.
“Bukankah kalian akan segera menikah?” Cathy yang awalnya asyik dengan camilan, sekarang fokus memperhatikan Aaron.
“Aku juga tidak mengerti kenapa dia harus menerima lamaranku.” Aaron kembali membuka mata, lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
Sedangkan Cathy hanya terdiam sembari terus menatap wajah tampan Aaron dengan lekat. “Jika kau yang melamar, kurasa wanita manapun akan sulit untuk menolak,” kelakarnya kemudian.
“Apa maksudmu?” Aaron mengangkat kepalanya, lalu menoleh pada Cathy.
“Well, maksudku siapa yang tak terpesona olehmu yang tampan dan mapan. Mungkin itu salah satu alasan Blaire menerima lamaranmu,” pikir Cathy.
“Aku rasa bukan karena itu,” sahut Aaron ragu. Bimbang rasa hati pria tampan tersebut, untuk mengungkapkan permasalahan cinta yang pelik kepada gadis berambut pirang di sebelahnya.
“Lalu apa?” tanya Cathy terlihat sangat penasaran. “Katakan saja. Jangan dipendam. Lebih baik kau mengeluarkan semua beban hatimu padaku daripada harus mabuk dan berbuat onar.”
“Cathy, aku ….” Aaron terdiam sejenak. Dia mempertimbangkan lebih dulu, sebelum akhirnya menceritakan kisah yang berlangsung sejak beberapa tahun silam. Aaron memulai ceritanya dari ketika dia bertemu dengan Blaire untuk pertama kali. Ada binar indah di mata sulung tiga bersaudara tersebut, saat mengenang saat-saat di mana dirinya menjadi teman setia yang selalu ada untuk gadis itu.
Kisah pun terus bergulir hingga tiba pada saat Blaire hamil dan melahirkan. Aaron juga mengungkapkan betapa dia sangat menyayangi Ainsley, dan telah menganggap anak itu seperti darah daging sendiri. Namun, ternyata semua harapan indahnya terempaskan seketika, saat Christian kembali hadir di antara dirinya dan Blaire.