
Christian berdiri dengan gagah di pinggir jalan depan rumah Blaire. Dengan kedua tangan yang masih berada di dalam saku jaket, dia mendongak dan memandang lekat gadis cantik yang memunculkan wajahnya dari jendela. Tak ada kata atau sapa. Christian hanya menatap dari kejauhan.
Sedangkan si pemilik paras cantik pun sama saja. Blaire hanya terpaku memandang ke bawah, pada seseorang yang selama ini sangat dia rindukan. Ingin rasanya gadis itu berlari keluar, lalu menghambur ke dalam pelukan seorang Christian yang hangat serta menenangkan. Namun, perasaan sakit dan kesepian telah mencegahnya.
Blaire menuruti apa kata hati yang merajai dalam dada. Dia segera menutup kaca jendela, termasuk dengan tirainya. Gadis itu lalu bersandar pada dinding dengan perasaan tak menentu. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk segera naik ke tempat tidur. Blaire pun berbaring di sana dan menutupi seluruh tubuh menggunakan selimut. Dia memaksakan diri agar segera terpejam, meskipun terasa begitu sulit.
......................
Mentari bersinar hangat di musim semi yang indah. Blaire menuntun Ainsley menyusuri trotoar. Mereka berdua tengah berjalan menuju kedai. Sementara Viktorija sudah berangkat terlebih dahulu, karena Blaire harus menunggu hingga putranya terbangun. Baru saja ibu dan anak itu tiba di tempat tujuan, sebuah sedan hitam yang merupakan milik Aaron berhenti di sana.
"Aku menjemput ke rumah, tapi ternyata kalian sudah berangkat lebih dulu," ujar Aaron setelah keluar dari dalam mobil. Wajah tampan pria itu selalu terlihat cerah nan berseri.
"Ya. Hari ini Ainsley bangun setengah jam lebih cepat dari biasanya," sahut Blaire tanpa melepaskan genggaman tangan dari sang anak.
"Aku akan membuat dinosaurus lagi, Paman." Ainsley ikut menimpali.
"Oh baguslah," sahut Aaron. Dia menyentuh pucuk kepala Ainsley dan bermaksud hendak mengacak-acak rambutnya. Namun, dengan segera anak itu bersembunyi di balik tubuh sang ibu. Aaron pun hanya tergelak saat menanggapi hal itu.
Sesaat kemudian, perhatian pria berambut pirang tadi kembali tertuju kepada Blaire. Tak akan bosan bagi dirinya untuk memandangi paras cantik ibunda Ainsley tersebut. "Aku akan ke kantor dulu. Hari ini rencananya aku akan pulang lebih awal," ucapnya.
"Kenapa? Apa kau ada masalah?" tanya Blaire mencoba bersikap perhatian.
"Tidak juga. Tak ada yang serius," jawab Aaron. "Aku hanya ingin mengajak kalian bertiga untuk pergi jalan-jalan," jelasnya.
"Bertiga?" Blaire tampak mengernyitkan kening.
"Ya. Kau, Ainsley, dan juga ibumu. Bagaimana, Blaire?" Aaron memamerkan senyumannya yang terlihat sangat menawan.
"Oh baiklah. Aku akan mengatakannya pada ibu," sahut gadis itu.
Aaron pun mengangguk. Dia menatap Blaire dengan lekat. "Aku pergi dulu," ucapnya kemudian. Tanpa diduga, dia tiba-tiba mencium Blaire meski tidak terlalu lama. Namun, apa yang dilakukannya tentu saja membuat si gadis terkejut. "Maaf, Blaire. Aku tidak bisa menahan diri," ucap Aaron pelan.
Sedangkan Blaire hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Dia pun mengangguk pelan. "Berhati-hatilah," pesannya.
"Tentu," balas Aaron. "Sampai nanti, Jagoan!" Setelah berpamitan pada ibu dan anak tadi, dia pun bergegas masuk ke mobil. Tak berselang lama, sedan hitam itu pun melaju dengan anggun diiringi tatapan menerawang dari Blaire.
Aaron begitu baik serta perhatian. Dia juga sangat tampan. Apalag kini secara finansial dirinya sudah terbilang mapan. Dia adalah sosok sempurna untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Namun, entah mengapa perasaan Blaire belum sepenuhnya tertuju kepada si pemilik mata biru tersebut.
"Ayo masuk, Bu," ajak Ainsley sambil menarik-narik tangan sang ibu. "Hai, Paman!" seru Ainsley riang. Dia melepaskan tangannya dari pergelangan Blaire, kemudian berlari ke arah di mana Christian berada.
Blaire pun segera mengalihkan perhatian ke arah mereka. Rupanya, sejak tadi Christian menyaksikan adegan antara dia dengan Aaron. Blaire pun menggigit bibir bawahnya. "Ainsley, kemarilah!" panggil Blaire.
"Aku ingin bersama paman, Bu," jawab Ainsley. Dia bahkan memegangi celana jeans yang Christian kenakan.
Dengan wajah merengut, Ainsley melepaskan tangannya dari Christian. Sebelum menghampiri sang ibu, dia sempat mendongak dan memandang ke arah pria yang juga tengah melihat kepada dirinya. "Ekor dinosaurusku lepas, Paman. Bisakah kau buatkan lagi?" pinta anak itu.
Sementara Christian menanggapi permintaan Ainsley dengan tersenyum simpul. Dia pun mengangguk pelan. Setelah melihat tanggapan darinya, Ainsley melangkah malas ke arah sang ibu. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kedai, anak itu sempat menoleh lalu melambaikan tangan.
Christian mengangkat tangannya sebatas perut, sebagai balasan. Dia masih berdiri di depan toko, hingga ibu dan anak tadi tak terlihat lagi. Setelah itu, barulah pria tersebut kembali masuk. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tengah membersihkan tempat tersebut. Christian hendak menciptakan suasana baru di dalam toko yang sekian lama dirinya tinggalkan.
"Jangan katakan jika aku harus pergi ke dokter mata," ucap Viktorija yang tampaknya memperhatikan adegan tadi dari dalam kedai.
"Ibu tidak salah lihat," sahut Blaire. Dia tak banyak bicara lagi. Blaire langsung saja berdiri di balik meja pemesanan, karena kedai sudah mulai buka. Sambil menunggu pembeli yang datang, dia berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja. Blaire memperhatikan Ainsley yang tengah asyik bermain.
Merasa bosan, Blaire kemudian membuka laci meja nomor dua. Dari dalam sana, dia mengeluarkan sebuah buku yang dulu sempat dilemparkannya ke dalam keranjang sampah. Gadis itu lalu membuka lembar demi lembar dari buku tebal tadi, hingga dirinya menemukan sebuah potret lama antara Christian dan Pandora. Blaire memperhatikan foto yang sudah tampak usang tersebut. Sesekali, dia memicingkan mata dan mencoba menelaah makna dari foto yang sedang dirinya pegang.
"Bu, aku ingin ke toilet." Suara Ainsley seketika membuyarkan renungan Blaire. Gadis itu pun tersadar. Dia lalu memasukkan kembali foto tadi ke dalam salah satu halaman buku, kemudian meletakkannya begitu saja di atas meja.
"Ayo, cepatlah," ajak Blaire dengan segera. Dia menuntun sang anak ke sisi lain kedai. Sementara Ainsley sudah berkali-kali menyentuh bagian belakang tubuhnya sambil berjalan menuju toilet.
Sepeninggal Blaire, meja pemesanan pun menjadi kosong. Christian yang saat itu masuk dan hendak membeli kopi kesukaannya, harus tertegun untuk beberapa saat. Dia mengedarkan pandangan, sebelum akhirnya memutuskan untuk menekan bel.
Tak sampai lima detik, Viktorija muncul dari dapur. Wanita paruh baya tersebut seketika memasang raut tak suka saat melihat keberadaan Christian di dalam kedainya. Namun, sebagai seseorang yang memiliki akal sehat, Viktorija tentu tak akan tiba-tiba melempar pria tampan itu dengan sepatu pantofel yang dia kenakan. "Christian," sapanya dengan raut dan nada bicara yang terdengar aneh. "Ada yang bisa kubantu?" tanya wanita yang selalu setia dengan rambut pendek tersebut.
"Apa kabar, Nyonya Shuterland?" Christian menyapa balik, meskipun nada bicaranya yang sangat mencerminkan karakter seorang Christian. Sangat berlainan dengan Aaron.
"Kabarku sangat baik," sahut Viktorija. "Aku beruntung karena tak mengalami patah hati yang menyakitkan seperti Blaire," ujar wanita itu penuh nada sindiran.
Sedangkan Christian tak ingin menanggapi apalagi terpancing. Dia seorang pria yang tak harus merasa sakit hati, karena sebuah kalimat bernada menyindir. "Syukurlah jika Anda baik-baik saja," balas Christian kemudian.
"Kupikir kau tak akan kembali kemari," ujar Viktorija lagi terdengar cukup sinis.
"Aku menyukai tempat ini. Karena itulah aku memutuskan untuk kembali," balas Christian yang masih tetap terlihat tenang dan datar.
Sementara Viktorija masih menunjukkan tatapan sinis, yang berbalut sebuah senyuman keterpaksaan. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Black coffee. No sugar," jawab Christian masih dengan nada dan ekspresi yang sama.
"Tunggu sebentar," balas Viktorija. Ekor matanya tampak begitu tajam dan seakan ingin mengiris sedikit demi sedikit bagian tubuh Christian.
Namun, lagi-lagi pria itu tak peduli. Tatap matanya justru tertuju pada buku di atas meja. Adalah sebuah benda yang dia berikan pada senja itu, setelah dirinya selesai bercinta dengan Blaire untuk pertama kali.
Angan Christian pun melayang jauh pada beberapa tahun silam. Dia terpaku memikirkan sesuatu yang menariknya ke kota itu lagi, sebuah tempat yang telah jauh ditinggalkan. Namun, Christian segera menepiskan segala hal tentang semua yang telah terjadi antara dirinya dan Blaire. Terlebih karena Viktorija sudah kembali membawa pesanan.
Tanpa banyak bicara, pria itu segera meraih kopinya. Dia lalu meletakkan sejumlah uang di atas meja, kemudian digeser ke hadapan Viktorija. "Terima kasih," ucap Christian singkat. Dia lalu membalikkan badan, sebelum akhirnya harus tertegun karena mendengar suara Blaire. Gadis itu tengah mengomel kepada Ainsley karena sesuatu alasan.