
"Apa maksudmu, Bu? Kau lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja." Aaron kembali menyunggingkan senyuman manis nan lembut kepada sang ibu, wanita yang selama ini telah berjuang demi dia dan kedua adik perempuannya. "Aku hanya merasa sedikit lelah," ucap Aaron beralasan.
"Apa yang membuatmu merasa lelah? Apakah pekerjaan?" tanya Anette lagi. Wanita paruh baya yang selalu bersikap ramah terhadap siapa pun itu, masih melayangkan tatapan penuh selidik kepada putra sulungnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedikit ... um ... butuh penyegaran," sahut Aaron. Dia berusaha menutupi kegelisahannya di hadapan sang ibu. Aaron kemudian setengah membungkukkan badan, lalu menopang kening dengan kedua tangan yang bertumpu pada siku di atas paha.
"Apa yang membebanimu, Aaron?" tanya Anette lagi. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia dapat merasakan keresahan dari putra sulungnya tersebut. "Entahlah, tapi aku merasa bahwa kau dan Blaire sedang menyembunyikan sesuatu," pikir Anette seraya mengernyitkan keningnya.
Sementara Aaron tak segera menanggapi ucapan sang ibu. Pria itu kemudian turun dari tempat tidur. Dia berpindah ke lantai, lalu duduk bersimpuh di hadapan Anette. Aaron membenamkan paras tampannya di atas pangkuan sang ibunda.
Dengan segera, Anette membelai rambut pirang putra yang kini menjadi tulang punggung di keluarga mereka. Aaron adalah seorang pekerja keras. Sebuah karakter yang bertolak belakang dengan sifat ayahnya dulu.
Suatu kebanggan bagi Anette, karena dirinya memiliki anak seperti Aaron. Selain pekerja keras, putra sulungnya tersebut juga merupakan seorang pria yang baik. Ya, Anette belum mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Aaron, sebagai sarana untuk melampiaskan kemarahan serta rasa sakit dari kecemburuannya terhadap sosok Christian.
"Apa kau ada masalah, Nak?" Anette menanyakan hal yang sama sekali lagi.
"Masalah akan selalu ada bagi semua orang yang masih hidup, Bu," jawab Aaron diplomatis.
"Ya, aku tahu itu," balas Anette tanpa menghentikan belaian lembutnya di rambut Aaron. "Seberapa besar, Nak?" tanya wanita itu kemudian.
Sementara Aaron tak segera menjawab. Dia hanya menyembunyikan wajahnya dalam pangkuan sang ibu. Berat rasa hati pria itu untuk membalas tatapan penuh kasih, dari wanita yang telah melahirkannya tersebut. Aaron juga merasa ragu, untuk mengutarakan keluh kesah yang mengganjal di hati dan pikiran.
"Apakah karena pria itu? Ayah kandung Ainsley yang tiba-tiba datang kembali," terka Anette. Dia berkata dengan sangat hati-hati, karena tak ingin jika putranya merasa tersinggung.
"Apa yang Ibu pikirkan saat melihat dia? Maksudku Christian." Kali ini, Aaron memberanikan diri untuk mengangkat wajah, kemudian menatap sang ibu tercinta.
"Aku begitu terkejut. Ternyata pria itu memang ada ... maksudku ... ya ... dia kembali." Anette kebingungan merangkai kata-kata. Wanita paruh baya tersebut hanya tersenyum, kemudian mengempaskan sebuah keluhan pendek.
"Blaire sangat mencintai pria itu. Perasaannya terhadap Christian tak pernah berubah, meskipun dia pernah dicampakkan dengan begitu saja. Blaire masih sangat mencintainya." Aaron mengulang kata yang sama, demi menegaskan kepada sang ibu.
"Bukan hal yang sulit untuk dapat mengetahuinya, Bu. Aku sering melihat seperti apa sorot mata yang Blaire layangkan, ketika dia sedang memandang Christian. Sangat berbeda dengan sikapnya terhadapku," tutur Aaron penuh sesal. "Selama ini, aku selalu sabar menunggu Baire agar dapat membuka hati sepenuhnya padaku. Namun, entahlah. Aku tak yakin. Apalagi Christian kini selalu berada di dekat dia dan menjadikan Ainsley sebagai alasan."
"Namun, kalian akan segera menikah. Kau tak harus merasa khawatir. Setelah Blaire menjadi istrimu, kau bisa membawanya dari sini. Bukankah dirimu sudah menemukan rumah yang cocok di Glasgow? Kurasa Viktorija pun tak ada masalah dengan hal itu," pikir Anette tanpa ada pikiran macam-macam.
Akan tetapi, Aaron justru menanggapi ucapan sang ibu dengan sebuah senyuman getir. Dia menggeleng pelan, seakan membantah ucapan sang ibu yang dirasa terlalu ringan. Kenyataannya, apa yang terjadi tak semudah seperti mengeluarkan kata-kata dari dalam mulut.
"Andai semuanya bisa sejalan dengan apa yang kita inginkan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidaklah seperti itu, Bu," sesal Aaron. Dia kembali membenamkan wajahnya di atas pangkuan Anette.
"Seberat apa, Nak?" tanya Anette yang merasa kian penasaran.
"Semuanya mungkin akan menjadi lebih baik, andai diriku tak memiliki harapan yang terlalu besar terhadap Blaire. Segala sesuatunya tak akan menjadi terasa pelik dan begitu membebani, jika saja aku tak memaksakan perasaan ini. Aku sadar bahwa segala perhatian lebih yang kuberikan untuk Blaire dan juga Ainsley, telah menimbulkan rasa ingin balas budi dari Blaire terhadapku. Namun, pada akhirnya aku tak sanggup. Keteguhan yang selama ini kupertahankan hancur seketika. Semuanya. Aku tak memiliki kebanggan lagi, atas perasaan tulus yang kupersembahkan hanya untuk Blaire." Aaron membenamkan wajahnya dengan semakin dalam. Tanpa terasa, air mata menetes dan membasahi rok span yang Anette kenakan.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Aaron?" tanya Anette dengan raut tak mengerti. Wajah tua ibu tiga anak tersebut, menyiratkan banyak pertanyaan yang disertai rasa ragu. Anette juga tampak bingung. "Apa yang sudah kau lakukan, Aaron?" desaknya.
Namun, Aaron tak segera menjawab. Dia hanya terisak pelan. Pria tampan tersebut seakan tak dapat berkata apapun, karena semua penjelasan yang dimilikinya tertahan oleh sebuah beban besar. Hal itu telah menghimpit dada Aaron, dan membuat pria tampan tadi menjadi sangat tersiksa.
"Kenapa kau menangis, Aaron? Apa yang telah kau lakukan sehingga harus menyesal dengan sangat dalam seperti ini?" Anette kembali mendesak Aaron, meski semua pertanyaannya tak juga mendapat sebuah jawaban dari pria itu.
"Katakan, Aaron!" Anette yang merasa penasaran, akhirnya menjadi kalap dan hilang kendali. Tak pernah dia berkata dengan suara tinggi pada ketiga anaknya. Namun, sikap Aaron kali ini telah mengusik rasa keibuan, serta menempatkan dia dalam sebuah pikiran tak karuan. Terlebih dari semenjak Blaire menghubunginya kemarin, Anette sudah memikirkan hal yang macam-macam atas hubungan percintaan putra sulungnya tersebut.
"Bu, aku ...." Aaron mengangkat wajahnya. Sepasang mata biru pria itu tampak basah oleh titik-titik kepedihan atas cinta yang tak sesuai dengan harapan. "Bu, aku ... aku telah melakukan sebuah kesalahan yang teramat besar. Namun, sayangnya diriku merasa kesulitan untuk menepiskan segalanya. Aku ... aku merasa nyaman dalam hal itu."
"Tidak, Nak. Jangan katakan jika kau ...." Anette menangkup paras tampan sang anak dengan penuh kasih. Kedua alis wanita paruh baya itu terangkat, hingga keningnya pun berkerut. Anette menggeleng pelan.
"Maafkan aku, Bu. Maaf ...." Aaron menatap sang ibu dengan sayu. "Aku telah mengkhainati Blaire dengan wanita lain," ucapnya.