Edinburgh

Edinburgh
The Watcher



Christian tertegun, kemudian menoleh kepada gadis berambut pirang di sebelahnya. Sorot mata tajam pria bermata abu-abu itu seakan menguliti wajah cantik Blaire.


“Ehm.” Blaire refleks mundur beberapa langkah. Gadis itu menjadi agak takut melihat ekspresi tak bersahabat dari pria yang mengaku bernama Christian tersebut. “Maksudku … kau tahu bukan bahwa banyak rumor yang beredar tentang dirimu. Seperti yang kuceritakan tadi,” jelasnya terlihat ragu.


Sedangkan Christian tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya berbalik meninggalkan Blaire seraya mendengus pelan.


“Hei!” Blaire yang tak mengenal kata putus asa, segera menyusul langkah lebar Christian dan kembali berjalan di sisinya. “Jadi, menurutmu bagaimana tentang rumor-rumor yang beredar? Apakah itu benar adanya?” desak gadis berpostur semampai itu lagi.


“Aku tak harus mengatakan apapun. Terserah saja orang mau bicara apapun yang mereka inginkan. Aku sama sekali tak peduli!” tegas Christian. Langkahnya semakin cepat meninggalkan Blaire, ketika gadis itu menoleh sejenak ke arah jalan raya.


Namun, Blaire seketika menjadi kebingungan, saat pria rupawan misterius tadi menghilang dari pandangannya dengan begitu cepat.


“Astaga! Baru juga beberapa detik aku mengalihkan perhatian darinya, tapi dia sudah tak ada,” gumam si pemilik mata hijau itu pada diri sendiri. “Kau semakin menguatkan kecurigaanku, mr. Christian,” desisnya seraya merogoh ponsel dari dalam mantel, kemudian menggeser layarnya yang sudah berada di genggaman.


Blaire membuka percakapan grup. Dia mengabarkan tentang apa yang sudah dirinya dapatkan pada teman-teman yang lain. Para gadis yang selama ini merasa penasaran terhadap si tampan nan misterius itu.


Namanya Christian. Sepertinya dia memiliki kemampuan khusus di atas manusia normal.


Dia mencengkeram tanganku dengan kuat sekali.


Blaire mengetik pesannya panjang lebar. Tak berselang lama, teman-temannya yang berjumlah lima orang di dalam satu grup tersebut segera berebut membalas pesan yang dia kirimkan.


Kau hebat sekali, Blaire. Kau bisa mendapatkan namanya. Apakah kau bisa sekalian mencari tahu berapa umur Christian?


Sebuah balasan dari Eileen.


Kenapa dia sampai mencengkeram tanganmu? Apa yang sudah kalian berdua lakukan? Ya, Tuhan. Aku tidak sanggup membayangkan semua ini.


Sandra ikut menanggapi.


Blaire sudah hendak membalas pesan dari Sandra, ketika dia merasakan tepukan pelan di pundak. Gadis itu mengira bahwa Christian kembali menghampiri dirinya. Akan tetapi, dia harus kecewa ketika berbalik dan melihat sosok berbeda dari yang dia bayangkan.


Adalah seorang pemuda dengan usia yang sepertinya sama dengan Blaire. Dia merupakan pemilik rambut pirang dan bermata abu-abu, sama seperti milik Christian. Pemuda itu berdiri di belakang Blaire yang kini telah membalikkan badan padanya. “Apa maumu, Adam?” tanya gadis cantik itu dengan wajah ketus. Blaire pun seakan tak ingin menanggapi pemuda tadi. Dia langsung saja berbalik dan hendak pergi dari hadapannya.


"Tunggu, Blaire!" Secepat kilat, tangan kanan Adam meraih pergelangan gadis bermata hijau itu. Namun, dengan segera Blaire menepiskannya. "Oh, maaf." Adam mundur beberapa langkah. Dia terlihat salah tingkah ketika Blaire menatapnya dengan tajam. "Aku hanya ingin bicara," ucapnya.


"Tentang apa?" tanya Blaire biasa saja.


"Apa kau belum memiliki jawaban untuk ... untuk ...." Adam terlihat bingung.


"Astaga." Blaire mengeluh pelan. "Bukankah sudah kuberikan jawaban yang sama sebanyak tiga kali?"


Sementara Blaire hanya memutar bola matanya. Dia sudah terlalu malas untuk menanggapi pemuda-pemuda yang selalu saja menggoda dan seakan memaksa dirinya agar bersedia menjalin hubungan dengan mereka. Blaire mengeluh pelan. Dia tidak bisa terus-menerus seperti ini. Gadis itu harus memikirkan sebuah cara.


"Aku benar-benar minta maaf, Adam. Kau tahu bahwa aku tidak bisa dan tak mungkin menerima cinta dari pria manapun," tegas Blaire. Selalu kalimat seperti itu yang terucap pada setiap pemuda yang menyatakan cinta padanya.


"Selalu saja sama. Apa kau tak memiliki kalimat yang lain, Blaire?" protes Adam seraya menggeleng tak percaya.


Blaire mengernyitkan kening. Gadis cantik itu berpikir untuk beberapa saat. Harus diakui bahwa apa yang Adam katakan memang benar. Akan tetapi, Blaire terlalu malas untuk mencari alasan lain.


Beberapa saat kemudian, gadis dengan chesterfield coat cokelat itu tersenyum simpul. "Begini, Adam," ucap Blaire setelah terdiam dan memikirkan sesuatu. "Sebenarnya, aku telah memiliki seorang kekasih. Dia merupakan pria dewasa dan juga sangat tampan ...." Blaire kembali berpikir. Paras rupawan nan misterius milik Christian, hadir dalam ingatannya saat itu. Gadis cantik bermata hijau tersebut kemudian tersenyum sendiri.


"Dia ... dia ...memiliki sorot mata yang sangat tajam dan juga penuh dengan teka-teki. Sikapnya membuatku merasa penasaran untuk dapat lebih meng ...." Blaire terdiam. Tak seharusnya dia banyak bicara. "Ah, sudahlah! Aku harus segera pulang," ujar Blaire seraya membalikkan badan. Dia bermaksud untuk pergi dari hadapan Adam.


"Tunggu, Blaire!" Adam masih berusaha mencegah gadis cantik itu.


Dengan sikap yang terlihat malas-malasan, Blaire berbalik ke arah Adam sembari bersedekap. "Apa lagi yang kau inginkan? Aku lelah dan ingin segera menikmati segelas coklat hangat di rumah, lalu beristirahat," ucap gadis itu. Kalimat yang meluncur dari bibirnya saat itu, kembali menyiratkan sebuah penolakan. Entah apakah Adam dapat memahaminya atau tidak.


Sejenak, Blaire tercenung seraya menatap lekat kepada Adam. Pemuda di hadapannya tersebut memang cukup tampan. Dia termasuk salah satu idola di kampus tempat dirinya belajar dulu. Akan tetapi, Adam bukanlah tipe Blaire. Pria idaman gadis itu adalah ....


"Ah." Gadis itu mende•sah pelan. Betapa lucunya hidup ini, pikir Blaire dalam hati. Apa yang Adam lakukan padanya sekarang, sama persis dengan sikap yang dirinya tunjukkan terhadap Christian. Dia dan Adam, sama-sama menerima penolakan yang membuat hati terasa kesal.


"Baiklah, kuberi kau satu permintaan. Aku akan mengabulkannya. Namun, hanya untuk malam ini!" tegas Blaire. Jari telunjuknya terangkat dan dia arahkan ke wajah tampan Adam.


"Benarkah?" sahut Adam seolah tak percaya. Mata abu-abunya seketika membulat sempurna. "Sebenarnya aku memang hendak mengajakmu ke suatu tempat malam ini," ujarnya kemudian terlihat sumringah.


"Ke mana?" tanya Blaire. Sebelah dari alis gadis itu terangkat.


"Mark mengundangku ke pesta di rumahnya. Kupikir, suasana akan lebih ceria jika aku bisa mengajakmu untuk ikut serta," jawab Adam dengan ekspresi penuh harap.


"Baiklah. Kita berangkat!" Blaire pun menepati perkataannya. Dia akan memberikan kesempatan pada Adam untuk dapat mengajaknya bersenang-senang, hanya untuk malam itu saja. Setidaknya, apa yang Blaire lakukan kali ini bisa membuat rasa bersalah dan tidak tega dalam hati menjadi sedikit berkurang.


Gadis itu berjalan di samping si pemuda, sembari melingkarkan tangan kanannya di lengan Adam. Sementara tangan kiri, berada di dalam saku mantel yang dia kenakan. Blaire mencoba untuk terlihat bahagia, meskipun ada rasa risih yang mulai mendera. Tak pernah terbayangkan jika dia akan pergi berdua dengan pemuda yang sudah ditolaknya sebanyak lima kali.


"Aku harap kita tidak pulang terlalu malam, karena ibuku tak akan menyukainya," ucap Blaire sambil terus melangkah.


"Kau tidak usah khawatir, Blaire. Aku akan mengantarkanmu pulang sebelum nyonya Shuterland tiba di rumah," sahut Adam dengan perasaan luar biasa. Pemuda yang memiliki tinggi beberapa senti di atas Blaire tersebut, tak henti-henti menyunggingkan sebuah senyuman. Seandainya ini merupakan sebuah mimpi, maka dia rela untuk tidak terbangun lagi.


Pada akhirnya, mereka berdua tiba di depan sebuah bangunan dua lantai dengan arsitektur khas Skotlandia. Rumah itu terlihat cukup megah, jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada di wilayah tempat tinggal Blaire.


Tanpa melepas senyuman bahagia, Adam mempersilakan gadis idamannya untuk masuk. Blaire pun mengikuti dengan senang hati. Tanpa mereka sadari, sepasang mata abu-abu dengan raut wajah yang dingin, mengikuti serta mengawasi keduanya hingga tiba di sana.