
"Apa kau akan melanjutkan tidurmu, Chris?" tanya Blaire. Nada bicaranya menyiratkan bahwa dia seolah tengah membutuhkan teman untuk bicara.
Christian pun dapat menangkap bahasa tubuh Blaire dengan baik. Pria itu kemudian melihat ke dalam kamar, di mana Ainsley sudah tertidur dengan lelap. Dia lalu menutup pintu rapat-rapat, dan berdiri sambil menyandarkan punggung pada dinding. "Kenapa sikap nyonya Shuterland berubah drastis padaku?" tanyanya setengah bergumam. "Dia bahkan tak menegur atau memarahimu saat melihat kita berciuman sewaktu di rumah sakit."
"Kau sudah mengetahui jawabannya, Chris," sahut Blaire pelan. "Ibu memang sudah membebaskanku, apalagi setelah dia melihat seberapa besar rasa tanggung jawab yang kau tunjukkan saat merawat Ainsley."
"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Christian lagi.
Blaire terdiam sejenak. Dia seperti tengah menimbang-nimbang, serta memikirkan setiap rangkaian kata yang akan dirinya sampaikan kepada Christian. "Aku merasa bingung akan sesuatu," ucap Blaire kemudian.
"Tentang apa?" tanya Christian menatap lekat wanita muda yang telah mengenakan pakaian tidur, dilengkapi sepasang sandal bulu bermotif beruang panda.
"Tentang Aaron," jawab Blaire semakin pelan. Suaranya terdengar kian dalam, dan hanya seperti sebuah bisikan.
Christian pun segera membetulkan sikap berdirinya. Dia lalu menyandarkan lengan kiri, dengan posisi badan yang menghadap sepenuhnya kepada Blaire. "Apa yang terjadi?" tanya pria itu kemudian.
Sementara Blaire masih tampak ragu. Dia membalas tatapan lekat ayah dari putranya untuk sesaat, sebelum memutuskan mengalihkan pandangan demi mencari kekuatan agar dapat bertahan dari godaan si pemilik mata abu-abu itu. "Aaron ... dia tahu kita berciuman di rumah sakit. Ini adalah kali kedua dirinya melihat kebersamaan kita yang ... astaga, Chris ...." Blaire terlihat begitu galau. "Apakah menurutmu aku patut disalahkan?"
"Kenapa kau harus merasa demikian?" Christian balik bertanya.
"Aaron tak marah sama sekali. Dia bahkan bersikap biasa saja, seperti yang kau lihat tadi siang." Blaire kemudian terdiam sejenak. "Aku mencium bau parfume wanita di pakaiannya," ucap gadis itu lagi.
"Apakah calon suamimu juga telah berselingkuh?" tanya Christian dengan begitu lugas.
"Hey, kenapa kau memakai kata 'juga'? Aku tidak berselingkuh darinya. Aku hanya ...." Blaire kembali kehabisan kata-kata. Dia lalu mengempaskan napas pelan dan dalam.
"Kenyataannya kau tak menolak dan bahkan menikmati setiap kali kita berciuman," ujar Christian dengan tenang, tapi membuat Blaire semakin merasa tak nyaman. Gadis itu menunduk, menyembunyikan rasa malu. Apa yang Christian katakan memang benar adanya.
"Kenapa kau harus memaksakan diri jika memang merasa tak nyaman? Kurasa, Aaron pasti tengah berada di titik terlemah dalam kehidupan percintaannya saat ini. Mencintai seseorang yang tak memliki perasaan serupa terhadap kita ... itu pasti sangat menyakitkan. Kalaupun dia mencari pelarian, kupikir itu bukan sebuah kesalahan. Aaron pria yang tampan dan juga mapan. Dia ramah terhadap setiap orang. Bayangkan jika situasi seperti ini terus berlangsung hingga kalian menikah." Christian masih dengan tatapannya yang menghujani paras cantik Blaire.
"Pernikahan tanpa adanya landasan cinta. Kau mungkin bisa memaksakan diri. Namun, pria yang menjadi pasanganmu adalah seorang manusia hidup dan memiliki otak. Aaron bukan pria yang bodoh. Aku takut jika hal seperti ini terus berlangsung, justru rasa sakit yang awalnya diterima Aaron akan berbalik padamu, Blaire." Tak biasanya Christian bicara dengan panjang lebar.
"Aku bingung. Aku sudah bertekad bahwa tak akan menarik kata-kata yang telah kuucapkan. Kau tahu sendiri bahwa diriku telah mengambil keputusan, untuk melanjutkan rencana pernikahan kami pada pertengahan musim panas ini." Blaire terlihat resah.
Sedangkan Christian terus memandangnya dengan sorot aneh. Pria itu masih bertahan pada posisinya yang seperti tadi. "Semua keputusan ada di tanganmu, Blaire. Tak ada siapa pun yang berhak untuk memaksakan kehendaknya."
Christian lalu menarik napas dalam-dalam. "Kurasa sebelum semuanya terlambat, akan lebih baik jika kau berbicara dan membahas hal ini dengan lebih serius. Yakinkan dirimu lagi atas keputusan besar yang akan kau ambil. Bagaimanapun juga, aku adalah ayah kandung Ainsley, dan aku sangat mencintaimu. Jangan buat hal yang seharusnya mudah, menjadi rumit dan berbelit-belit. Itu hanya akan membuat hidupmu terasa semakin sulit dan tidak nyaman."
Seusai berkata demikian, Christian lalu menegakkan tubuh tegapnya. "Ini sudah terlalu malam, Blaire. Sebaiknya kau segera tidur dan beristirahat. Jangan khawatirkan Ainsley. Aku akan menjaganya dengan baik."
Blaire yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan segala ucapan dari Christian, tak berniat untuk membantah. Dia mengangguk, kemudian beranjak ke dekat pintu. Blaire membuka lalu melihat ke dalam kamar yang telah dipenuhi oleh mainan milik Ainsley. Sebagian besar mainan itu merupakan hadiah dari Aaron.
Setelah memastikan bahwa putranya tidur dengan nyaman, Blaire pun memutuskan untuk kembali ke kamar. "Selamat malam, Chris," ucapnya sebelum berlalu dari hadapan pria dengan t-shirt hitam itu.
"Selamat malam, Blaire," balas Christian. Dia mengantarkan gadis berambut pirang tadi, dengan tatapan matanya yang sulit untuk diartikan. Namun, sesaat kemudian sebuah senyuman simpul terlukis di sudut bibir Christian. "Aku hanya ingin kau bahagia, Blaire," gumamnya sebelum kembali ke dalam kamar.
......................
Pagi-pagi sekali, Christian sudah terbangun. Dia bahkan telah membantu Ainsley yang ingin ke kamar mandi. Semua itu Christian lakukan tanpa melibatkan Blaire sama sekali. Pria itu benar-benar membuktikan ucapan, saat mengatakan bahwa dia akan mengganti waktu lima tahun yang hilang selama dirinya tak ada di dekat sang anak.
Kesibukan di dapur pun mulai terdengar. Blaire tengah menyiapkan sarapan seorang diri. Sedangkan Viktorija masih bersiap-siap untuk berangkat ke kedai.
"Selamat pagi, Sayang," balas gadis berambut pirang tersebut. Dia menghentikan sejenak aktivitas yang sedang dirinya kerjakan, kemudian menghampiri Ainsley. "Astaga, kau sudah tampan dan rapi. Lihatlah rambutmu ini." Blaire tersenyum lebar melihat penampilan putranya.
"Ayah yang menyisir rambutku. Katanya, harus tetap rapi sampai nanti sore dia kembali lagi kemari," jawab Ainsley membuat Blaire tertawa renyah.
"Ah baiklah. Aku tak akan mengusiknya. Aku tak ingin bermasalah dengan ayahmu," canda Blaire. Dia terlihat ceria di hadapan Ainsley.
Sikap Blaire yang demikian, tak luput dari perhatian seorang Christian. Dia lalu mendekat kepada ibu dari putranya. Pria itu pun kemudian bertanya sesuatu. "Sejak kapan kau menjadi pintar berpura-pura, Nona Shuterland?"
"Dari semenjak kau pergi tanpa pamit sama sekali," jawab Blaire dengan enteng.
"Baiklah." Christian seakan tak memiliki jawaban lain. Dia hanya mengatakan satu kata itu. Terlebih, karena Viktorija telah muncul di ruang makan.
"Selamat pagi semua," sapanya yang terlihat begitu segar dan ceria. "Hai, Ains. Kau sangat tampan pagi ini. Seandainya aku adalah gadis kecil berusia lima tahun, maka diriku pasti sudah jatuh cinta padamu," gurau wanita paruh baya tersebut sambil mencium kening cucu kesayangannya. Sementara Ainsley hanya menautkan alis. Dia tampak tidak memahami ucapan dari sang nenek.
"Sarapan sudah siap, Bu. Maaf karena kau harus mengurus kedai seorang diri," sesal Blaire.
"Ah sudahlah. Lupakan hal itu. Lagi pula, aku harus membiasakan diri. Jika nanti kau sudah menikah, aku tak yakin bahwa Aaron akan mengizinkanmu tetap bekerja," ujar Viktorija seraya duduk di salah satu kursi pada meja makan kayu yang terlihat sangat khas. "Bergabunglah untuk sarapan bersama kami, Chris." Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan kepada Chrsitian yang masih berdiri di belakang kursi roda Ainsley.
"Tidak usah, Nyonya. Aku akan segera ke toko," tolak Christian dengan halus.
"Aku juga akan ke kedai. Jika mau, kita bisa berangkat bersama ke sana," balas Viktorija tanpa menoleh kepada pria asal Meksiko tadi. Dia tengah menyiapkan piring, lalu mengisinya dengan menu sarapan yang tersedia.
"Ibuku benar, Chris. Sebaiknya kau ikut sarapan bersama kami," timpal Blaire dengan tatapan penuh arti.
Jika sudah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Blaire, Christian pun tak bisa menolak. Dia tersenyum samar, kemudian mendorong kursi roda Ainsely ke dekat meja. Sementara dirinya duduk di dekat sang anak.
"Ini sarapanmu, Ains." Blaire menyodorkan makanan dalam piring khusus ke hadapan putranya yang makin tenggelam terhalang tinggi meja. "Astaga, aku tidak bisa melihatmu," canda gadis itu yang berbalas tawa dari semua.
"Apa Ibu sedang mengejekku pendek?" protes Ainsley sambil merengut.
"Kau tidak pendek, hanya belum setinggi kami," ujar Christian membuat Blaire dan Viktorija kembali tertawa. Kehangatan pun begitu terasa, di meja makan pada santap pagi saat itu.
Beberapa saat kemudian, Viktorija dan Christian telah berpamitan. Mereka berangkat bersama. Blaire tak bisa membayangkan kecanggungan yang dirasakan oleh pria itu saat harus berinteraksi dengan ibunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Akan tetapi, Aaron belum juga datang ke sana. Biasanya, pria itu akan mampir untuk menyapa Ainsley sekaligus mengantarkan mereka ke kedai. Namun, tidak untuk hari ini. Blaire pun tak ingin berburuk sangka. Dia pikir, mungkin karena selama beberapa waktu kemarin Ainsley berada di rumah sakit, sehingga Aaron lupa dengan kebiasaannya.
Gadis itu kemudian meraih ponsel di atas meja. Dia lalu menghubungi calon suaminya tersebut. "Kau tidak mampir kemari?" tanya Blaire heran.
"Ah maaf, Blaire. Aku berangkat ke Glasgow pagi-pagi sekali," sahut Aaron singkat.
"Tadinya aku ingin bicara sebentar denganmu, untuk membahas rencana pernikahan kita. Kau tidak lupa bukan bahwa pertengahan musim panas kurang dari sebulan lagi ...." Blaire menjeda kata-katanya, ketika mendengar suara seorang wanita. Apa yang dikatakannya memang tidak terlalu jelas, tapi Blaire masih dapat menangkap sedikit dari ucapan wanita di seberang sana.
"Aaron, di mana handuk yang tadi kau pakai?"
"Suara siapa itu?" tanya Blaire penuh selidik.
Namun, Aaron tidak menjawab. Dia justru mematikan sambungan teleponnya dengan begitu saja, membuat rasa penasaran dalam hati Blaire menjadi kian bertambah.