
"Siapa ini?" tanya Blaire. Dia menautkan alis, setelah mendengar bahwa suara seorang wanitalah yang menjawab panggilannya tadi.
"Catriona McKay. Saat ini, Aaron sedang berada di apartemenku ... um ... maksudku ... tolong jangan berpikir yang tidak-tidak ... dia ... dia ...." Cathy terdengar kebingungan saat harus memberikan penjelasan kepada Blaire.
Ibunda Ainsley pun terdiam untuk beberapa saat, sebelum kembali bersuara. "Apakah aku bisa bicara langsung dengan Aaron?" tanya Blaire.
"Aaron sedang tidur. Dia mabuk berat dan juga ... kondisinya sangat kacau," sahut Cathy.
"Maksudmu?" Blaire balik bertanya.
"Dia ... tadi ada kericuhan di pub, dan Aaron terlibat di dalamnya. Dia dipukuli oleh beberapa pengunjung lain, sehingga saat ini dirinya mengalami luka-luka. Namun, aku sudah mengobati meskipun ...."
"Tolong beritahukan di mana alamatmu," pinta Blaire menyela penjelasan dari Cathy.
Sesaat kemudian, gadis yang berprofesi sebagai seorang bartender itu pun, mengirimkan alamat apartemen yang dirinya tempati lewat pesan singkat. Dia juga menyertakan foto Aaron dengan sejumlah luka di wajahnya. Akan tetapi, tentu saja Blaire tak mungkin pergi ke manapun. Dia tak bisa meninggalkan Ainsley seorang diri, berhubung Christian sedang kembali ke Edinburgh untuk membawa perlengkapan pribadinya.
Untuk beberapa saat, Blaire duduk termenung, sementara jarum jam sudah menunjukkan lewat dari pukul sembilan malam. Suasana di dalam rumah sakit pun begitu senyap, meski sesekali terdengar suara langkah kaki dan hak sepatu para petugas medis yang masih beraktivitas.
"Apa yang kau lakukan, Aaron?" gumam Blaire sambil menopang kening. Beberapa saat kemudian, gadis itu menerima sebuah pesan masuk dari Sabrina. Adik pertama Aaron tersebut kembali menanyakan perihal keberadaan sang kakak yang tanpa kabar dan bahkan tak bisa dihubungi lagi.
Jangan khawatir. Aaron menginap di apartemen milik temannya. Dia masih berada di Glasgow.
Seperti itulah pesan balasan yang Blaire kirimkan kepada calon adik iparnya.
Tak berselang lama, Christan pun telah kembali. Pria itu membawa sebuah tas jinjing dengan ukuran tidak terlalu besar. Dia juga memberikan makanan untuk Blaire. "Kau pasti belum sempat makan malam," ujarnya.
"Aku tidak bisa keluar. Saat kau pulang ke Edinburgh, Ainsley terus merengek. Selain itu ...." Blaire tak melanjutkan kata-katanya. Dia juga terdengar mengempaskan napas pelan penuh keluhan.
"Kenapa, Blaire?" tanya Christian penasaran. Dia mengalihkan sejenak perhatiannya dari Ainsley yang saat itu sudah tertidur lelap.
"Aaron," jawab Blaire pelan.
"Ada apa dengan calon suamimu?" tanya Christian lagi. Mimik wajah pria itu memang tampak biasa saja. Akan tetapi, dari nada bicaranya terdengar bahwa dia kurang begitu suka ketika harus membahas calon suami ibu dari putranya.
"Dia berada di suatu tempat dalam keadaan mabuk berat dan juga babak belur," jawab Blaire terdengar lesu.
"Astaga." Christian berdecak pelan. "Pria-mu itu pasti berulah macam-macam saat mabuk. Kuharap bukan karena dia menantang orang lain untuk berkelahi," ujar Christian yang kembali teringat akan sikap Aaron, pada malam di mana calon ayah tiri Ainsley tersebut menantang dirinya berduel.
"Entahlah, Chris. Setahuku, Aaron bukan seorang peminum. Dia pria yang baik dan juga hidup sangat teratur. Entah mengapa akhir-akhir ini tingkahnya menjadi seperti itu dan tak jarang bersikap kekanak-kanakan." Blaire menggeleng pelan, kemudian membuka makanan yang Christian bawakan untuknya. Walaupun saat itu hati dan pikiran gadis cantik tersebut sedang berada dalam keresahan, tapi Blaire harus tetap mengisi perut.
"Kenapa Aaron harus merasa demikian? Kau adalah ayah kandung Ainsley dan juga ... ah sudahlah." Blaire kembali melanjutkan santap malamnya.
Sementara Christian pun kembali memusatkan perhatian pada sang anak. Kondisi Ainsley meski sudah dinyatakan stabil oleh tim dokter, tapi belum memperlihatkan perubahan yang terlalu signifikan. “Ainsley masih terlalu lemah untuk dipindahkan ke rumah sakit di Edinburgh,” ujar pria asli Meksiko itu tiba-tiba.
“Tidak apa-apa. Jika kau sibuk, kita bisa bergantian menjaganya,” sahut Blaire yang sudah selesai dengan makan malam tadi. Dia lalu bangkit dari duduknya. Gadis itu kemudian membuang kotak makanan yang terbuat dari bahan daur ulang, ke dalam tempat sampah berbahan stainless di sudut ruangan. Saat berbalik, Blaire melihat Christian yang memandang penuh arti padanya. “Kenapa?” tanya gadis cantik itu keheranan.
“Apa kau tidak keberatan jika berada di kota ini lebih lama?” Christian malah balik bertanya.
“Pertanyaanmu aneh sekali, Chris. Ainsley adalah putraku. Akan kulakukan apapun untuknya. Jangankan di sini, mengikuti Ainsley hingga ke kutub utara pun aku tetap bersedia,” jawab Blaire tegas.
“Lalu, bagaimana dengan pesta pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini?” Christian yang awalnya duduk di samping ranjang Ainsley, memilih untuk berdiri dan berjalan mendekat kepada Blaire.
“Jujur saja jika saat ini aku tidak bisa memikirkan yang lain selain Ainsley, Chris,” Blaire mende•sah pelan seraya menunduk dalam-dalam.
“Termasuk rencana pernikahanmu?” tanya Christian memastikan.
“Ya. Termasuk dengan rencana pernikahanku,” sahut Blaire mengulang kata-kata ayah kandung Ainsley tersebut.
“Lalu, bagaimana dengan Aaron?” Pria rupawan itu seakan tak puas dengan jawaban yang sudah Blaire berikan padanya.
“Aku akan berbicara dengan Aaron. Semoga dia bisa memahami dan bersedia untuk menunda pernikahan kami,” jawab Blaire tanpa ragu. Dua orang anak manusia itu lalu terdiam untuk beberapa saat. “Besok pagi, aku akan menjemput Aaron dan melihat keadaannya. Bolehkah aku menitipkan Ainsley sebentar padamu?” pintanya kemudian.
“Tak perlu berbicara seperti itu, Blaire. Aku adalah ayah kandung Ainsley. Tanpa kau minta pun, aku akan selalu menjaganya,” ujar Christian dengan nada yang datar, tetapi terdengar begitu lembut dan menenangkan di telinga gadis bermata hijau itu.
“Terima kasih, Chris.” Blaire tersenyum manis. Setidaknya satu beban dalam hidupnya bisa berkurang saat itu. Dia hanya berharap agar Aaron mengerti dan tak keberatan dengan keputusan yang akan dirinya ambil.
Malam pun tak terasa berlalu dengan begitu cepat. Sesuai dengan rencana yang telah dibuat, Blaire akan menyusul Aaron menuju alamat yang sudah dia dapatkan dari Cathy. Setelah berpamitan pada Christian dan juga Ainsley, gadis berambut pirang itu melangkah cepat meninggalkan area rumah sakit.
Apartemen yang dihuni oleh Cathy terletak cukup jauh dari rumah sakit. Butuh setengah jam dengan menggunakan taksi sampai tiba di depan gedung lima belas lantai tersebut. Ragu-ragu, Blaire melangkah masuk dan terus menuju lift. Dia lalu menekan tombol lantai yang dituju.
Tak berselang lama, pintu lift terbuka. Blaire berjalan menuju sebuah pintu bernomor sama, dengan yang tertulis pada pesan dari Cathy tadi malam. Gadis cantik itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sebelum mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Tanpa harus menunggu terlalu lama, pintu pun terbuka. Wajah cantik seorang wanita yang Blaire perkirakan seumuran dengannya, menyembul dari baliknya. Rambut gadis itu juga sama pirang, tapi jauh lebih panjang. “Apakah kau Blaire?” tanya wanita muda itu setelah memperhatikan ibunda Ainsley dari ujung kepala hingga kaki.
“Ya. Aku ingin menjemput Aaron,” jawab Blaire seraya tersenyum kaku.
“Masuklah,” ucap wanita yang tak lain adalah Cathy. Dia membuka lebar-lebar pintu yang awalnya hanya separuh. Tepat pada saat Blaire melangkah masuk, saat itulah Aaron keluar dari dalam sebuah kamar dengan keadaan bertelanjang dada.