
Blaire menghela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Entah apa yang akan dia lakukan, setelah mengetahui hasil tes yang menunjukkan bahwa dirinya postif hamil. "Apa lagi ini?" gumam gadis itu tak percaya. Untuk meyakinkan diri dengan hasil yang dia dapat pagi ini, Blaire berniat mengunjungi seorang dokter kandungan.
Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya. Dia menyimpan alat pendeteksi kehamilan tadi dengan baik dan rapi di dalam laci meja wastafel. Setelah membasuh wajah dan menggosok gigi, Blaire kemudian bersiap-siap. Niatnya untuk pergi ke suatu klinik khusus ibu dan anak sudah bulat.
"Selamat pagi, Blaire," sapa Viktorija. Dia sudah selesai menyiapkan sarapan di atas meja. "Udara sangat dingin. Pakailah baju yang tebal," saran wanita paruh baya tersebut.
"Iya, Bu," sahut Blaire seraya duduk. Pagi itu dia tak banyak bicara. Pikirannya tak karuan. Blaire tak tahu harus mengatakan apa, andai pemeriksaan dari dokter nanti menyatakan bahwa dirinya memang benar-benar hamil.
"Bu," ucap Blaire pelan setelah beberapa saat terdiam.
"Ya," sahut Viktorija seraya mengarahkan pandangan kepada sang putri. Dia menghentikan sejenak santap paginya. Viktorija menangkap ada sesuatu yang janggal pada sikap gadis itu. "Apa kau baik-baik saja, Blaire?" tanyanya. Insting keibuan wanita paruh baya tersebut mulai bekerja.
"Aku tidak apa-apa. Um ... aku ... hari ini aku akan mencari kado untuk ... untuk Aaron." Blaire tertawa pelan. "Dia teman baruku, tetangga kita yang baik dan ramah, juga ...." Blaire terdiam.
Sementara Viktorija terus memperhatikan bahasa tubuh putri semata wayangnya tersebut. Lagi-lagi, dia merasa aneh. "Apa kau baik-baik saja, Blaire?" Viktorija kembali menanyakan hal yang sama.
Sedangkan Blaire yang telah selesai sarapan, segera berdiri kemudian meletakkan piring kotor di dalam bak pencuci dan membilasnya dengan bersih. "Aku hanya merasa bingung harus memberikan hadiah apa untuk Aaron," ucap gadis itu seraya mengeringkan tangan, dengan lap yang digantung dekat rak piring kecil dari stainless.
"Aku rasa dia akan menyukai apapun yang kau berikan," sahut Viktorija. Dia segera melanjutkan sarapan yang tertunda.
"Baiklah. Akan kupikirkan nanti saat di jalan," ucap Blaire lagi. Dia lalu berjalan ke dekat lemari khusus untuk mengambil mantel serta topi rajut. Setelah mengenakan semua yang tadi dirinya keluarkan dari dalam lemari, Blaire kembali ke dekat Viktorija. Gadis itu mencium pipi sang ibu dengan hangat. "Aku pergi dulu, Bu. Aku tak akan lama," pamitnya.
"Hati-hati, Blaire," pesan Viktorija dengan setengah berseru, berhubung Blaire sudah berada di dekat pintu dan hampir keluar.
Namun, gadis itu sempat menoleh, lalu mengangguk pelan dengan diiringi sebuah senyuman lembut. Blaire pun melambaikan tangan sebelum menutup pintu dengan rapat.
Berat rasanya kaki Blaire untuk melangkah keluar dari dalam rumah. Sesekali, gadis itu tampak menyentuh sudut mata yang basah. Setelah beberapa waktu dia berhasil mengembalikan senyuman cerianya, kini dirinya harus kembali menitikkan air mata kepedihan.
Angin berembus dengan sangat dingin. Rasanya begitu menusuk hingga ke dalam tulang. Namun, hal itu tak membuat hati si gadis merasa terusik apalagi hingga tersakiti. Blaire pun terus melangkah dan tak menoleh ke belakang. Dia melawan udara dingin itu sendirian, berjalan dengan tenang, meskipun hatinya teramat resah. Rasa was-was yang ada dalam dada kian membesar, ketika Blaire telah tiba di klinik yang dia tuju dan melakukan pendaftaran.
"Semoga saja alat pengetes kehamilannya salah," gumam Blaire pelan. Dia lalu berdiri, ketika namanya telah dipanggil untuk masuk.
Di dalam ruangan yang terlihat begitu nyaman, telah duduk seorang dokter wanita seusia Viktorija. Blaire tersenyum ramah, dan menjawab beberapa pertanyaan sang dokter tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan menstruasi. Setelah itu, dia pun dipersilakan untuk berbaring pada tempat tidur khusus. Barulah sang dokter mulai memeriksa dan menyatakan bahwa dirinya memang benar-benar hamil.
Lemas, tubuh gadis itu seakan tak memiliki tenaga saat keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Blaire melangkah gontai meninggalkan klinik tadi. Namun, dia harus tetap berusaha untuk berdiri.
Kembali menyusuri jalanan kota Edinburgh, langkah kaki Blaire terhenti pada sebuah persimpangan. Dia ingat bahwa Christian pernah mengajaknya melihat matahari tenggelam di dekat sungai. Tanpa berpikir dua kali, gadis itu pun segera menuju ke sana.
Masih terlihat jelas dalam benaknya, ketika Blaire duduk berdua dengan pria bermata abu-abu itu di atas rerumputan tepi sungai. Sungguh merupakan senja yang indah, ketika dia merasakan betapa hangatnya seorang Christian yang biasa bersikap dingin. Blaire pun segera memalingkan wajah.
"Blaire, kau sangat cantik dan memiliki mata yang indah." Suara berat Christian terdengar begitu jelas di telinganya.
Blaire pun seketika membuka mata. "Christian!" pekiknya sekencang mungkin. Dia tak peduli meskipun ada orang lain yang menganggap dirinya aneh. "Kau di mana?" Blaire menurunkan tubuhnya dalam posisi duduk bersimpuh. Dia juga membenamkan wajah dengan dalam, sehingga air mata berjatuhan dengan deras di atas punggung tangannya.
Untuk beberapa saat, Blaire bertahan dalam posisi seperti tadi. Dia tak peduli meskipun gerimis turun dengan semakin lebat. Namun, lama-kelamaan gadis itu tersadar. Dia pun segera bangkit, kemudian menyeka air mata yang bercampur dengan tetesan hujan yang kini turun cukup deras.
Di bawah guyuran air hujan, Blaire melangkahkan kaki. Dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Blaire tak sanggup jika harus berhadapan dengan Viktorija. Entah penjelasan seperti apa yang harus dia berikan kepada sang ibu.
Hujan turun dengan semakin deras. Trotoar yang dipijak pun terlihat basah, seperti tubuh Blaire yang kini telah diisi dengan dua nyawa. Perlahan, gadis itu memegang perut dan mengusapnya. Blaire menghela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. Dia lalu mempercepat langkah, agar segera tiba di rumah.
Menjelang sore, Viktorija sudah pulang. Hari itu dia menutup kedai lebih awal, karena merasa khawatir dengan putrinya yang dia tunggu di kedai tapi tak kunjung datang. Ternyata, Blaire tengah sibuk di dapur. Gadis itu baru selesai membuat croisant. Viktorija pun memperhatikannya dengan raut tak percaya.
"Sudah kuduga jika kau tak baik-baik saja, Blaire," ucap janda cantik tersebut.
Blaire yang baru menyadari kehadiran sang ibu, segera menoleh. Dia lalu tersenyum. "Sudah pulang, Bu? Tumben sekali, padahal ini baru jam ...." Blaire mengarahkan pandangan ke arah jam dinding.
"Aku menunggumu dan kau tak datang," sela Viktorija dengan segera. "Kau membuatku khawatir, tapi ternyata ... apakah kau sengaja membuat ini demi merayakan ulang tahun Aaron?" Viktorija menautkan alisnya.
"Ah tentu saja tidak, Bu," bantah Blaire. "Aku membuat ini untuk kita berdua," sahutnya. "Kupikir dalam cuaca seperti ini kita membutuhkan banyak camilan agar badan terasa lebih hangat ... ya, setidaknya itu yang kurasakan. Makan camilan bisa menghangatkan badan." Blaire menggerakkan bola matanya dengan tidak beraturan.
"Ya apapun alasannya, tapi itu benar. Camilan memang dibutuhkan dalam cuaca seperti ini," balas Viktorija membenarkan. Dia lalu mendekat kepada Blaire yang tengah menyusun kue-kue di atas wadah. "Katakan padaku, apa kau menemukan sesuatu yang bagus? Maksudku hadiah untuk Aaron."
Blaire tertegun sejenak setelah mendengar pertanyaan tadi. Dia lalu menoleh kepada sang ibu. Gadis itu pun menggeleng pelan. "Aku tidak jadi mencari hadiah untuknya, karena ... karena aku memiliki urusan lain," sahut Blaire yang telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Urusan apa itu?" tanya Viktorija penasaran.
Blaire tak segera menjawab. Bimbang rasa hatinya untuk berkata jujur kepada sang ibu. Namun, bagaimanapun juga Viktorija harus mengetahui yang sebenarnya. "Bu, aku ...." Keraguan itu kembali datang dan membuat Blaire terdiam beberapa saat.
"Kenapa?" tanya Viktorija dengan tatapan lekat pada anak gadisnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Blaire lagi.
"Katakan saja," balas Viktorija.
"Aku hamil," jawab Blaire dengan lugas.