Edinburgh

Edinburgh
Last Greeting



Matahari sudah terbit dari sekitar pukul lima pagi. Dua hari telah berlalu, dari semenjak insiden pembatalan pernikahan oleh Aaron terhadap Blaire. Gadis cantik berambut pirang itu pun mencoba untuk bersikap biasa, meski tak dapat dipungkiri bahwa ada satu sisi yang terasa hilang dari hatinya.


Entah akan seperti apa, hubungan antara Keluarga Shuterland dengan Keluarga Walsh nantinya setelah kejadian tersebut. Satu yang pasti, Blaire ataupun Viktorija tak melihat keberadaan Anette atau kedua anaknya di lingkungan itu dalam dua hari ini. Mereka seperti bersembunyi dari pandangan semua orang.


Akan tetapi, lain dengan pagi itu. Viktorija yang terbiasa melakukan jogging, kebetulan melewati jalanan depan kediaman Keluarga Walsh. Wanita paruh baya tersebut tertegun untuk sejenak, sambil memandang ke arah rumah yang dulu merupakan tempat tinggal Christian. Viktorija melihat ada kesibukan yang tak biasa di dalam sana.


Dari kejauhan, dia menyaksikan para penghuni rumah yang berlalu-lalang ke sana kemari, seperti tengah membereskan sesuatu. Namun, tentu saja dia tidak berani untuk masuk dan bertanya secara langsung. Karena tak ingin apa yang dilakukannya diketahui sang pemilik rumah, Viktorija pun memutuskan untuk melanjutkan aktivitas olahraga pagi hingga dia tiba di kediamannya.


Di dalam sana, tampaklah Blaire yang sudah menyibukan diri di dapur. Gadis itu tak ingin terus larut dalam kesedihan. Walaupun rencana pernikahan antara dia dan Aaron bukan atas dasar cinta, tapi rasa kehilangannya atas pria itu tetap saja ada. Bagaimanapun juga, Aaron adalah sosok sahabat dan penolong yang baik di kala dirinya berada dalam saat-saat buruk dan hampir terpuruk.


"Selamat pagi, Blaire. Kupikir kau belum bangun," sapa Viktorija sambil menyeka bulir-bulir keringat yang membsahi keningnya.


"Selamat pagi, Bu. Kau tahu bahwa aku sudah menghilangkan kebiasaan buruk itu dari semenjak memiliki Ainsley," balas Blaire seraya menoleh sejenak kepada sang ibu, yang saat itu duduk di salah satu kursi meja makan. Viktorija merasa lelah. Walaupun kondisi fisiknya masih tampak bugar, tapi usia senja tetap tak dapat dirinya tutupi dengan apapun.


"Aku melihat ada hal yang berbeda di kediaman Keluarga Walsh pagi ini," ucap Viktorija sambil mengisi gelas dengan air mineral.


"Sejak kapan kau menjadi penguntit, Bu?" Blaire yang tengah asyik dengan pekerjaannya, berkata dengan tanpa menoleh kepada sang ibu.


"Aku tidak sengaja melihatnya barusan. Entah apa yang sedang mereka lakukan, tapi seluruh penghuni rumah sepertinya sedang sibuk. Apa menurutmu Aaron akan segera menikahi kekasihnya?" Viktorija meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.


Mendengar penuturan sang ibu, Blaire pun menghentikan sejenak segala aktivitas. Dia lalu menoleh kepada Viktorija. "Sudah seharusnya Aaron menikahi Cathy, Bu. Kau tahu sendiri betapa berat menjalani kehamilan tanpa kehadiran seorang pasangan. Aku tak ingin wanita lain merasakan hal yang sama denganku, meskipun kenyataannya memang masih banyak yang harus mengalami hal seperti itu." Blaire kembali mengalihkan perhatian pada pekerjaan yang belum selesai. "Cathy beruntung karena pria itu adalah Aaron," ucap Blaire lagi.


"Apa kau tidak merasa beruntung karena pria yang menghamilimu adalah Christian?" Pertanyaan yang terdengar begitu lugas dilontarkan oleh Viktorija. Wanita itu memang tak suka berbasa-basi.


"Tentu saja bukan itu maksudku, Bu. Namun, keadaannya jelas berbeda," sanggah Blaire. Gadis itu kembali menghentikan pekerjaan yang sedang dia lakukan, kemudian berbalik dan menghadap sepenuhnya kepada sang ibu. "Christian mengatakan bahwa setelah ini, aku tak harus lagi dihantui perasaan balas budi terhadap Aaron. Namun, kupikir ...."


Blaire tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Ainsley yang sudah bangun, tampak hadir di sana. Anak itu menuruni tangga, lalu duduk di undakan terakhir. Wajah dan tampilan Ainsley masih terlihat sangat lusuh. Rambutnya pun acak-acakan. Dia menyandarkan kepala pada pegangan tangga. Ainsley juga seperti masih mengantuk.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Blaire. Dia bergegas menghampiri putra semata wayangnya, kemudian merengkuh tubuh mungil anak itu. Blaire lalu menggendong dan mendudukkan Ainsley pada salah satu kursi di


meja makan.


"Selamat pagi, Ains. Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau bermimpi indah?" tanya Viktorija hangat.


"Aku tidak bermimpi apapun, Nenek," jawab Ainsley dengan suara parau. "Apakah hari ini ayah akan kemari, Bu?" tanyanya.


"Entahlah. Apa kalian ada janji?" Blaire balik bertanya. Namun, Ainsley tak sempat menjawab, karena saat itu terdengar suara ketukan di pintu.


"Biar aku yang membukanya," ucap Viktorija seraya beranjak dari duduk. Dia berjalan ke dekat pintu. Wanita berambut sebahu itu tertegun sejenak, saat dia melihat Keluarga Walsh lah yang datang berkunjung. "Anette?" sapa Viktorija ragu. Dia bimbang harus bersikap bagaimana terhadap sahabat dekatnya tersebut.


"Selamat pagi, Viktorija. Maaf karena kami bertamu pada jam seperti ini." Anette tersenyum kaku. Senyuman yang sangat dia paksakan. Ibunda Aaron tersebut pun sepertinya merasa canggung.


"Masuklah." Viktorija membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Dia mempersilakan Anette dan kedua anaknya, yaitu Aaron serta Sabrina untuk masuk. Viktorija juga mengarahkan mereka agar duduk di sofa.


Akan tetapi, Aaron tak memilih untuk duduk. Dia terpaku beberapa saat, ketika melihat Blaire yang sedang berdiri di dekat Ainsley. Dengan langkah pelan, Aaron menghampiri Ainsley yang sedang duduk di meja makan. "Bagaimana kabarmu, Jagoan?" sapa Aaron dengan senyum lebar. Raut wajah serta bahasa tubuhnya dibuat setenang mungkin, seperti biasa ketika dia menyapa putra semata wayang Blaire tersebut.


"Paman ke mana saja? Kenapa tidak datang lagi kemari?" Ainsley balik bertanya dengan polos. Dia memang tak mengerti akan situasi yang terjadi antara sang ibu dengan Aaron.


"Aku sibuk, Boy. Lihatlah, aku membawakanmu sesuatu." Aaron segera menunjukkan kantong berukuran cukup besar yang sejak tadi dia jiniing.


"Kemarilah, Jagoan." Aaron merentangkan tangan, menunggu Ainsley memeluknya. Tanpa harus diminta, Ainsley segera menghambur ke dalam pelukan Aaron. Pria yang tadinya akan menjadi ayah sambung bagi anak itu pun, mendekap erat tubuh mungil bocah dengan warna rambut sama dengannya. Setitik air mata mengalir membasahi pipi, lalu terjatuh di sudut bibir.


Blaire yang melihat hal itu, segera memalingkan wajah. Perasaan gadis itu pun tak kalah sakit karenanya. Bagi seorang Blaire, kebaikan hati Aaron memang tak sebanding dengan kesalahan yang telah diperbuatnya. Satu hal yang menjadi kekecewaan Blaire adalah karena Aaron harus menjalin hubungan diam-diam bersama Cathy, bahkan hingga gadis asal Inggris itu mengandung.


“Jaga baik-baik semua mainan yang sudah kuberikan. Itu hanya sebagian kecil dari bukti rasa sayangku terhadap kau, Ains. Aku telah jatuh hati dari semenjak dirimu dilahirkan. Waktu itu kau menangis, dan aku menggendongmu ….” Aaron mengurai pelukannya, lalu memandang wajah polos anak yang sudah dia anggap seperti darah daging sendiri.


Tanpa diduga, Ainsley mengusap air mata yang membasahi pipi dari pria yang selama ini dirinya panggil dengan sebutan paman. Ainsley bahkan mengecup kening Aaron. “Aku menyayangimu, Paman,” ucapnya seraya kembali memeluk pria itu.


Melihat hal itu, Viktorija dan Anette hanya dapat menyentuh sudut mata yang basah. Siapa yang mengira bahwa semua akan berakhir seperti ini. “Kami sudah memutuskan untuk pindah rumah. Semua perabot akan diangkut oleh jasa ekspedisi sebentar lagi. Namun, sebelum pergi kami ingin bertemu dengan kau, Blaire, dan tentunya Ainsley,” ucap Anette seraya kembali menyeka sudut mata yang tak henti-henti meneteskan butiran bening tanda kepedihan hati.


“Memangnya kalian akan pindah ke mana?” tanya Viktorija. Wanita itu terlihat jauh lebih tegar dari Anette.


“Glasgow,” jawab Anette. “Aaron sudah membeli sebuah hunian di sana. Tadinya, rumah itu akan dia tempati setelah menikah, tapi ….” Anette terdiam sejenak. “Semua sudah terjadi dan tak perlu disesali lagi. Aku hanya berharap agar kau, Blare, dan juga cucuku Ainsley selalu dilimpahi banyak kebahagiaan. Bagaimanapun juga, kita sudah menjadi sebuah keluarga sejak lama. Kau adalah sahabat yang baik, Viktorija. Aku juga sangat menyayangi Blaire dan Ainsley. Kalian bertiga ….”


“Bu.” Suara Aaron menyela ucapan Anette. “Para petugas dari jasa ekspedisi sudah tiba.” Aaron mengangguk pelan, sebagai isyarat kepada sang ibu untuk pergi dari sana.


Anette pun membalas dengan hal yang sama. Wanita paruh baya tersebut segera berdiri, kemudian memeluk Viktorija dengan erat. Deraian air mata mengalir deras dari pelupuk kedua sahabat tersebut. Ada banyak kenangan indah selama kebersamaan yang mereka jalani.


Begitu pula dengan Blaire. Dia tak pernah menyangka bahwa Aaron dan keluarganya akan memutuskan pindah dari sana. Sebegitu besar pengaruh yang ditimbulkan dari retaknya hubungan mereka. Blaire kemudian meraih tangan Ainsley yang sedang asyik dengan mainan barunya. Dia memberanikan diri berjalan mendekat ke ruang tamu. Blaire memandang Anette dan Sabrina secara bergantian. Gadis itu pun menghampiri wanita yang dirinya anggap sebagai ibu kedua. “Nyonya Walsh,” sapa Blaire dengan suara bergetar.


Anette menoleh, kemudian tersenyum. Tanpa banyak bicara, dia segera memeluk Blaire. Tangisnya kembali pecah, terutama saat dia memeluk serta menciumi Ainsley. Namun, hal itu tak berlangsung lama, karena Aaron segera merengkuh tubuh mungil Ainsley kemudian mengangkatnya. Pria tampan tersebut bahkan mendudukkan Ainsley di atas pundak, lalu membawanya berjalan keluar. Anak itu pun tertawa riang. Begitu juga dengan Aaron yang terlihat jauh lebih ceria.


Namun, senyuman pria tampan itu seketika memudar, ketika melihat sosok Christian yang berdiri gagah di depan pagar. Seperti biasa, ekspresi ayah kandung Ainsley tersebut selalu tampak datar dan dingin. “Apa ada acara di rumah Anda, Nyonya Walsh?” tanya Christian seraya memiringkan kepala, sebab posisi Anette waktu itu berada di belakang Aaron.


“Tidak ada acara apa-apa, Tuan Christian. Kami hanya sedang menyiapkan pindahan rumah,” jawab Anette dengan nada bicara yang dibuat setenang mungkin. Namun, raut sedih tetap tak dapat dia sembunyikan.


“Pindah?” ulang Christian setengah tak percaya.


“Ayah, apa kau tak merindukanku?” Pertanyaan Ainsley seketika mengalihkan perhatian Christian. Terlebih saat bocah yang masih berada di pundak Aaron itu, terlihat meminta berpindah ke gendongan Christian.


“Tentu saja, Ains. Karena itulah aku datang kemari,” sahut Christian seraya mengulurkan tangan kepada Ainsley. Sedangkan Aaron membantu menurunkan bocah tampan itu.


“Jadi, kalian berniat untuk pindah?” tanya Christian lagi, sesaat setelah Ainsley bergelayut nyaman di lengan kokoh ayahnya.


“Ya. Aku ingin memulai hidup baru di Glasgow.” Aaron lebih dulu menjawab seraya melirik pada sang ibu.


“Begitulah, Tuan Christian.” Anette berusaha untuk tersenyum, meskipun air mata kembali menetes.


“Apa kau yakin, Aaron?” Lirih suara Christian, sehingga hanya Aaron lah yang mendengar kalimat pria Meksiko tersebut.


“Menjauh dari Blaire sepertinya sudah menjadi keputusanku,” bisik Aaron seraya mendekat pada Christian. “Bukankah sudah ada dirimu di sisinya?”


“Lalu, bagaimana dengan rumahmu?” tanya Christian lagi penasaran.


“Kami berencana untuk menjualnya,” jawab Aaron mantap.


“Kalau begitu, biar kubeli saja rumahmu,” ujar Christian. “Berapa pun harga yang kau tawarkan, maka pasti akan kuterima," ucap pria itu lagi dengan sangat yakin.