
Christian mengenggam erat jemari Blaire, kemudian menciumnya dengan dalam. Tatap mata pria tampan tersebut, kembali tertuju kepada wanita yang telah berhasil mengubah seluruh hidupnya dengan cinta. Selama ini, Christian selalu menjauhkan diri dari ikatan semacam itu. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tanpa meninggalkan kesan apapun.
Lain halnya ketika dia singgah di Edinburgh. Sebuah wilayah yang tidak seluas New York atau Kota Meksiko. Namun, di sanalah dirinya justru menemukan sesuatu yang membuat dia datang lagi untuk menjemput sesuatu yang dirinya tinggalkan. “Aku kembali untukmu. Sebenarnya diriku merasa ragu, apakah kau masih bisa kudapatkan atau tidak setelah sekian lama diabaikan. Namun, Tuhan masih berbaik hati. Apalagi setelah kutahu ternyata ada Ainsley di antara kita. Harapanku begitu besar.” Christian seperti tak memiliki kata-kata lagi untuk dapat meyakinkan Blaire.
“Maafkan aku, Chris,” ucap Blaire lirih. Dia menangkup paras tampan Christian, kemudian menciumnya sesaat. “Kita akan segera menikah. Makin cepat akan semain baik. Dengan begitu, segala keresahan dalam hatiku pun akan segera sirna.” Blaire tampak ingin menepiskan segala keresahan hatinya.
“Aku mencintaimu. Aku telah jatuh hati dari semenjak pertama kali melihat pria aneh ini.” Blaire kembali berkata. Dia menyunggingkan senyuman di antara rasa haru yang mendera.
Sementara Christian pun membalasnya dengan hal sama. Sesaat kemudian, perhatian si pemilik mata abu-abu tersebut beralih kepada Ainsley. Anak itu masih diam tak memahami percakapan kedua orang tuanya. “Bagaimana jika kita pergi ke Glasgow. Kita akan mencari gaun pengantin untukmu?” tawarnya seraya kembali mengarahkan pandangan kepada Blaire.
“Kapan? Apakah aku diajak?” Ainsley yang sejak tadi menyimak obrolan kedua orang tuanya, terlihat sangat antusias. Kali ini dia paham dengan apa yang Christian katakan.
“Ah, Sayang.” Blaire merengkuh putra semata wayangnya. “Mana mungkin kami meninggalkanmu,” ucap wanita berambut pirang tersebut dengan lembut.
“Ya, tentu saja. Namun, sebelum itu kau harus membersihkan dirimu dulu,” timpal Christian seraya mengacak-acak rambut pirang Ainsley. Namun, setelah itu Christian segera merapikannya kembali.
Sejak hari itu, Blaire dan Christian disibukan dengan persiapan pesta pernikahan mereka. Dari hal terpenting hingga yang dianggap tak begitu perlu. Namun, Christian membebaskan Blaire untuk mengatur segala sesuatunya sesuai dengan yang gadis itu inginkan. Sebagai seorang wanita, Blaire tentunya memiliki impian indah tentang sebuah pernikahan idaman. Dia merancang segalanya atas bantuan dari jasa Wedding Planner.
Tanpa terasa, hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Sebuah gereja yang telah dipilih oleh Blaire dan Christian, menjadi saksi bisu acara pemberkatan dipersatukannya jalinan cinta antara dua sejoli tersebut.
Blaire tampil cantik dengan gaun pengantin pilihannya. Kali ini, gadis itu mengenakan sebuah gaun lengan tiga per empat. Desain baju pengantinnya sangat sederhana, karena tanpa ada pernak-pernik penghias. Blaire sengaja memilih itu dengan alasan bahwa dia telah menyerahkan cinta, hidup, dan segalanya kepada Christian, hingga tak ada yang tersisa selain kesucian serta ketulusan tanpa embel-embel apapun.
Gadis cantik itu berjalan menuju altar dengan veil yang menutupi wajahnya. Penutup kepala tersebut menyamarkan kecantikan Blaire dari semua mata. Namun, tidak dari pandangan seorang Christian yang telah menunggunya, dengan sebuah harapan besar atas kehidupan yang lebih baik. Pria asal Meksiko tadi tampak sangat gagah dan begitu berbeda, dengan tuksedo serta tatanan rambut jauh lebih rapi dari biasanya. Perhatian Christian pun tak dapat teralihkan dari sosok semampai yang berjalan semakin mendekat.
Christian saat itu masih berdiri dengan sikap teramat kalem. Dia sempat mencubit punggung tangannya sendiri. Pria tampan tersebut masih tak percaya. Seperti sebuah mimpi, ketika dia dapat melihat Blaire berdiri di sampingnya, dalam balutan gaun putih sakral yang akan menuntun mereka pada sebuah tujuan tertinggi dalam hidup.
“Kau sangat cantik,” bisik Christian, ketika seorang pendeta tengah memberikan khotbah. Sedangkan Blaire hanya menanggapi dengan sebuah senyuman. Dia tersipu di balik veil yang dirinya kenakan.
Setelah berhasil memberikan godaan kecil kepada calon istrinya, Christian kembali mengarahkan perhatian ke depan. Dia mendengarkan semua yang pendeta katakan dengan khidmat. Hingga akhirnya, di hadapan seorang pendeta dan para tamu yang turut menjadi saksi pada acara pemberkatan tersebut, dua sejoli itu mengucapkan sumpah setia pernikahan sehidup-semati.
Merupakan sesuatu yang sangat mendebakan bagi keduanya, ketika Christian membuka penutup kepala yang Blaire kenakan. Tampaklah paras jelita gadis yang selama ini menjadi salah satu alasan, bagi pria asal Meksiko tersebut untuk menjalani hidup dengan jauh lebih baik.
Blaire terlihat sangat berbeda. Riasan wajah serta tatanan rambut gadis itu teramat menawan. Membuat Christian tak sabar untuk segera menciumnya. Sebuah senyuman penuh kebahagiaan pun terlukis indah di wajah kedua mempelai, dan juga mereka yang turut menyaksikan jalannya acara hingga selesai.
Pandora dan Bruce pun tampak hadir di antara para tamu undangan. Wanita cantik tersebut begitu terharu, karena sang kakak memutuskan untuk mengakhiri kesendiriannya. Itu merupakan sebuah keajaiban bagi wanita pemilik rambut gelap tersebut. Tak sia-sia dirinya datang jauh dari Amerika. Pesta pernikahan Christian dan Blaire berlangsung dengan lancar dan juga meriah. Pandora begitu menikmatinya.
Tak ada lagi kesedihan atas rasa kehilangan. Sirna sudah jejak-jejak kepedihan yang selama ini tertanam di hati Blaire. Semuanya berganti dengan sebuah tawa dari satu kebahagiaan, yang diharapkan dapat bertahan untuk selamanya.
...................
“Italia, Spanyol, Portugal, atau … bagaimana jika Amerika saja? Ada banyak tempat bagus yang bisa kita kunjungi untuk acara bulan madu.” Christian menatap penuh harap kepada sang istri, yang masih belum menentukan pilihan tujuan rencana bulan madu mereka.
Akan tetapi, saat itu Blaire masih terdiam dan tampak berpikir. Sebagai seseorang yang memiliki insting tajam, Christian sepertinya sudah dapat menebak arah pikiran wanita yang baru dinikahinya dua hari yang lalu. “Ya, sudah. Kau yang menentukan,” ucap Christian sesaat kemudian, sambil menyandarkan kepala. Posisinya saat itu mendongak ke langit-langit.
“Haruskah kita pergi jauh, Chris?” Blaire menoleh kepada sang suami, yang tampak memejamkan mata dalam posisinya tadi. Christian terlihat mengantuk dan juga kelelahan. Membuat Blaire mengernyitkan kening, kemudian mendekat dan langsung mencium pipi suami tercinta.
Christian segera membuka mata. Dia melirik wanita cantik di sebelahnya. “Semuanya terserah kau, Ratuku,” sahut pria itu, yang kemudian berbalas sebuah cubitan mesra di pinggang. Sepasang pengantin baru tersebut saling tertawa.
Sungguh merupakan pemandangan yang terlihat indah, tapi terasa janggal. Siapa sangka bahwa seorang Christian ternyata bisa bercanda dan juga tertawa lebar. Akan tetapi, hal itu tak berlangsung lama. Suara Ainsley terdengar di depan rumah. Dia muncul bersama Pandora dan juga Bruce. Mereka baru kembali dari kedai yang sudah buka kembali. “
Ayah!” seru Ainsley sambil berlari kecil. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan sang ayah.
Christian segera menegakkan tubuh untuk menyambut sang anak. Dia lalu mendudukkan bocah lima tahun tersebut di atas paha sebalah kanan. “Kupikir kalian tak akan kembali secepat ini,” guraunya saat Pandora dan Bruce telah masuk ke rumah.
“Astaga. Ini sangat luar biasa,” ucap Pandora berdecak takjub. Dia segera memilih tempat duduk tak jauh dari Christian dan Blaire.
“Apanya yang luar biasa, Pandora?” tanya Blaire penasaran.
“Aku dan Bruce sangat menyukai Edinburgh. Benar ‘kan, Sayang?” Pandora menoleh kepada suaminya yang telah ikut duduk.
“Ya, kau benar. Ini adalah kota yang sangat indah,” timpal Bruce. “Selama ini aku sering mengunjungi Eropa. Aku kerap pergi ke Swiss. Bagiku di sana terasa begitu damai. Namun, bagaimana bisa aku melewatkan kota ini?” Bruce mengernyitkan kening karena tak mengerti.
“Mulai saat ini, kau harus lebih sering mengajakku kemari. Apalagi, kakakku ada di Edinburgh,” ujar Pandora manja.
“Ah, tentu,” balas Bruce tersenyum mesra. Terlihat jelas seberapa besar rasa cinta pria asal Amerika tadi kepada Pandora. Itulah mengapa Christian berani menyerahkan adiknya untuk dipersunting pria tersebut.
“Tidak,Chris. Aku masih memiliki banyak urusan di New York,” sahut Bruce. “Mengapa kalian tidak berkunjung ke sana?”
“Entahlah. Semuanya terserah Nyonya Alvarez,” balas Christian seraya melirik Blaire.
“Akan kupikirkan.” Blaire membalas lirikan sang suami, kemudian tersenyum padanya.
Sebuah senyuman yang tak akan pernah dia berikan lagi kepada pria manapun.
Cukup sudah penantian selama lima tahun bagi seorang Blaire Shuterland. Gadis itu telah mendapatkan jawaban dari segala tanda tanya akan masa depannya, yang selama ini begitu buram dan tak dapat dia gambarkan meski hanya dalam sebuah khayalan. Blaire tak berani berandai-andai.
Akan tetapi, kali ini dia telah merasa yakin. Blaire memantapkan hati. Bersama Christian, dia akan membawa Ainsley pada moment-moment indah yang sudah seharusnya anak itu dapatkan.
Seperti saat di mana mereka membawa bocah lima tahun tersebut berkeliling Edinburgh. Mereka mengunjungi banyak tempat yang menjadi destinasi wisata kota tersebut.
Ainsley terlihat begitu bersemangat. Anak itu tak tampak lelah sama sekali setelah diajak menjalani aktivitas padat sepanjang hari.
Hingga menjelang sore, acara jalan-jalan keluarga itu berakhir di sebuah tempat bernama Calton Hill, sebuah bukit yang beberapa tahun lalu pernah disinggahi oleh Christian bersama Blaire, beberapa hari sebelum pria itu meninggalkan Edinburgh.
Dari sana, mereka dapat menikmati pemandangan kota Edinburgh sekaligus suasana senja yang indah.
“Apa kau bahagia, Ains?” tanya Christian yang mendudukkan anak itu di atas pundaknya.
“Aku sangat bahagia, Ayah,” sahut Ainsley yang tak jua melepaskan senyuman ceria.
“Kau bisa melihat lanskap Kota Edinburgh secara jelas di puncak bukit ini, Sayang,” ucap Blaire seraya mengarahkan pandangan, pada hamparan luas kota kelahirannya yang indah dan penuh cerita. Dia sempat menoleh sejenak kepada Ainsley, lalu kembali menatap ke depan.
“Bagus sekali, Bu. Aku bisa melihat matahari tertidur,” celoteh Ainsley yang disambut dengan gelak tawa kedua orang tuanya.
“Terbenam, Nak. Bukan tertidur,” ralat Christian seraya menurunkan putranya. Pria itu kemudian mendudukkan sang anak di antara dia dan Blaire.
“Matahari tertidur, lalu besoknya akan terbangun lagi,” ujar Ainsley tetap percaya diri dengan istilah yang dia ucapkan tadi.
Kali ini, Christian dan Blaire hanya menanggapinya dengan senyuman. “Ya, Nak. Matahari akan selalu kembali esok pagi," sahut pria itu tenang.
Kedamaian tampak jelas pada pasangan pengantin baru tersebut. Christian dan Blaire saling menautkan jemari di belakang punggung Ainsley. Layaknya matahari yang menghilang di kala malam dan kembali bersinar keesokan harinya, begitu pula rasa cinta Christian yang hanya dia persembahkan untuk istri tercinta.
Cinta itu akan terus ada, walaupun sempat menghilang beberapa waktu lamanya.
Ke mana pun Christian pergi, pada akhirnya, hanya kepada Blaire dan Ainsley lah dia akan selalu kembali.
Edinburgh menjadi saksi dari salah satu ribuan kisah cinta yang terjadi di kota indah nan damai tersebut. Di sanalah, kehidupan dua insan bernama Christian Alvarez Teixeira dengan Blaire Shuterland dimulai, terhenti, kemudian kembali terajut dan berakhir pada sebuah ikatan suci pernikahan.
Kini, dua insan itu memantapkan hati untuk terus bersama. Menatap ke depan, melupakan masa lalu yang tak menyenangkan di kota tercinta penuh kenangan. Edinburgh, satu kota dengan sejuta cinta.
- **The End** -
Hai semua. Terima kasih karena sudah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir. Maaf untuk segala kekurangan dalam penyampaian , atau ada informasi yang tidak terlalu akurat. Semoga semuanya terhibur. Jangan lupa untuk mampir juga ke judul lain yang pasti tak kalah seru.
Salam Sayang,
🍒 Komalasari