
Christian langsung menepikan kendaraan. Dia juga mematikan sejenak mesin mobilnya. Pria itu menoleh dan menatap Blaire dengan sorot aneh. "Untuk apa dia menemuimu? Kau tidak ada kaitan apapun dengan keluarga Sheldon ataupun keluarga Fraser." Christian memicingkan matanya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa mereka membuatku seakan menjadi seseorang yang penting," sahut Blaire seraya mengangkat kedua bahunya. Dia lalu melihat ke luar jendela, pada jalanan kota Edinburgh yang cukup ramai meskipun cuaca tarasa cukup menusuk. Segala keanehan yang kini datang dalam kehidupan seorang Blaire Shuterland, rasanya tak berarti apa-apa, ketika gadis itu teringat akan kejadian manis semalam. Blaire pun tersenyum sendiri.
"Apa kau sudah berbicara dengan Adam tentang hal ini?" tanya Christian lagi. Pria dengan jaket kulit hitam tersebut tampak sangat serius, dalam menanggapi laporan dari Blaire. Namun, lain halnya dengan si gadis, yang tengah hanyut dalam angan-angan indah dan nakal semalam.
"Blaire? Apa kau tidak mendengarku?" Suara Christian terdengar sedikit lebih tegas dari sebelumnya. Gadis berambut pirang itu pun tersentak. Dia segera mengalihkan perhatian kepada pria di belakang kemudi yang tengah serius menatap dirinya. "Aku bertanya padamu," ucap Christian lagi sedikit jengkel.
"Ah ya ...." sahut Blaire. Namun, tak lama gadis itu terdiam, karena dia tak menyimak apa yang Christian tanyakan tadi. "Apa?" Ragu, si cantik bermata hijau itu mengernyitkan kening seraya tersenyum dibuat-buat.
"Astaga. Kau ingin segera pulang, kan? Baiklah." Christian mengempaskan napas pendek. Dia harus jauh lebih sabar dalam menghadapi tipikal gadis seperti Blaire. Sang pemilik toko barang antik itu pun kembali menyalakan mesin mobilnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Namun, sikap Christian membuat Blaire merasa tak enak hati. Gadis itu pun segera memasang raut yang dipenuhi penyesalan. "Chris, kamu tadi bertanya apa padaku?" Walaupun ragu, tapi Blaire memaksakan diri untuk bertanya.
"Tidak penting," jawab Christian yang merasa jengkel.
"Astaga, kau ini ternyata jauh lebih sensitif dibandingkan wanita yang sedang PMS," balas Blaire menanggapi. Gadis itu melipat kedua tangan di dada sambil memasang wajah cemberut. Blaire mungkin berharap agar Christian bersikap manis seperti semalam, saat melihat dirinya merajuk karena sebuah bantal.
Akan tetapi, kali ini apa yang Blaire harapkan tidaklah terjadi. Christian masih diam seribu bahasa, bahkan hingga mobil yang dikendarainya telah berhenti di depan kediaman gadis itu. Lagi-lagi, Blaire berulah. Dia tak juga melepas sabuk pengaman apalagi turun.
Setelah menunggu hingga beberapa saat, akhirnya Christian merasa jenuh. Dia lalu menoleh kepada gadis yang masih memasang wajah cemberut sambil bersedekap. "Apa mobilku terlalu nyaman untukmu, Nona?" tanyanya dengan nada menyindir.
Mendengar sindiran yang bermakna pengusiran secara halus barusan, Blaire segera menoleh. "Aku tidak akan turun, sebelum dirimu mengatakan apa yang tadi kau tanyakan padaku," sahut Blaire dengan sikapnya yang lagi-lagi membuat kedewasaan seorang Christian diuji.
Pria bermata abu-abu itu pun mengempaskan napas dalam-dalam. Tanpa banyak bicara, Christian segera melepas sabuk pengaman kemudian turun dari mobil. Dia lalu melangkah ke pintu sebelah. Segera dibukanya lebar-lebar, lalu dia lepaskan sabuk pengaman yang masih melintang di dada Blaire. "Ini yang kau inginkan?" Wajah tampan Christian saat itu berada tepat di hadapan gadis cantik tersebut.
Blaire tersenyum manis. Wangi aroma parfume menguar dari tubuh pria tampan di hadapannya. Pikiran nakal seorang Blaire Shuterland, kembali melayang pada nikmatnya sentuhan bibir Christian Alvarez Teixeira. "Apa kau tidak berminat untuk menciumku lagi, Chris?" Entah sadar atau tidak, gadis itu mengutarakan pertanyaan demikian.
"Apa?" Christian yang masih dalam posisi membungkuk dengan tubuh setengah di dalam mobil, segera memicingkan mata saat mendengar pertanyaan konyol tadi. Sedangkan Blaire hanya tersenyum nakal.
"Kau sudah pulang, Blaire?" Suara Viktorija seketika mengembalikan kesadaran gadis itu. Christian pun langsung menegakkan tubuhnya.
"Nyonya Shuterland. Selamat pagi," sapa Christian yang terlihat salah tingkah.
"Selamat pagi," balas Viktorija yang terlihat sudah bersiap untuk pergi ke kedai. Dia menatap sang putri dan Christian secara bergantian. "Aku akan segera ke kedai, karena ini sudah terlalu siang. Kupikir kau akan pulang lebih cepat, Blaire," ujarnya. Bahasa tubuh janda satu anak tersebut begitu elegan dan juga anggun. Terlihat jelas bahwa Viktorija merupakan seorang wanita yang cerdas dan berkarakter.
"Ya ini masih pagi, Bu," sahut Blaire ragu. Ekor matanya kemudian melirik ke arah Christian berada. Pria itu juga melakukan hal yang sama.
Viktorija mengangguk pelan. "Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kau juga tidak minum obat sejak semalam," ucap wanita berambut pirang itu lagi dengan raut wajahnya yang selalu terlihat tegas, meskipun dia merupakan seorang ibu yang berhati lembut.
"Aku sudah sarapan. Pihak motel yang ...." Blaire tak melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Christian hanya dapat menggaruk kening yang tidak gatal.
"Ya sudah," balas Viktorija. "Aku akan ke kedai, jika kau ingin menyusul ... jangan lupa kunci pintunya. Aku baru tahu jika beberapa waktu lalu ada yang menerobos masuk ke dalam rumahmu, Chris." Wanita dengan bola mata sama seperti putrinya tersebut, mengarahkan pandangan kepada Christian. Begitu juga dengan Blaire yang tampak sangat terkejut.
"Dari mana Ibu mengetahui hal itu?" tanyanya kembali menoleh kepada sang ibu.
"Nyonya Anderson yang melihatnya. Dia sedang bersantai di dekat jendela kamar sambil menyulam. Wanita itu pikir bahwa yang masuk adalah dirimu, Chris. Namun, ketika dirinya memastikan lagi, ternyata ... apa kau sudah mengurus hal itu?" Viktorija belum mengalihkan pandangannya dari sosok Christian.
"Aku tidak kehilangan apapun dari dalam rumah. Jadi, kupikir itu hanya orang iseng. Namun, aku sudah memasang CCTV sekarang," jelas Christian dengan tenang.
"Itu jauh lebih bagus, Chris. Sejujurnya aku hanya merasa heran, karena lingkungan ini sangat aman. Selama puluhan tahun kami tinggal di sini, belum pernah terdengar satu kasus pencurian atau sejenisnya," terang Viktorija.
Sedangkan Blaire berpikir lain. Dia yakin jika orang yang yang telah menerobos masuk ke dalam rumah milik Christian, pastilah merupakan salah satu dari komplotan penguntit yang dilihatnya semalam. Namun, gadis itu memahami dengan jelas bahwa Christian merahasiakan sesuatu dari dirinya dan juga semua orang. Mungkin karena itulah, Christian terkesan menutup diri dari siapa pun yang pria itu temui termasuk para tetangga.
"Ayolah, Bu. Semua orang yang tinggal di sini, terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kenyataannya tak ada yang peduli saat Kenneth menusukku malam itu. Selain Christian," ujar Blaire mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
"Ya, itu juga menjadi salah satu alasan. Sudahlah, aku harap tak ada lagi kejadian seperti itu di sini. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua," pungkas Viktorija. Dia lalu mendekat kepada Blaire, kemudian mengecup keningnya. "Aku berangkat dulu." Wanita itu pun berlalu dari hadapan dua sejoli tadi. Namun, baru beberapa langkah saja, Viktorija kembali menoleh. "Tadi Eileen kemari. Dia hendak berpamitan padamu sambil mengembalikan mantel yang katanya semalam tertinggal di mobil." Setelah berkata demikian, Viktorija kembali melanjutkan niat untuk pergi dan membuka kedai.
🍒🍒🍒
Rekomendasi novel keren lagi. Yuk mari, jangan cuma dilihat sekilas.