Edinburgh

Edinburgh
Sad Ending



"Blaire!" panggil suara yang diketahui milik Aaron. Dia sudah menunggu di depan halaman rumah Viktorija, entah sejak kapan tepatnya dia berada di sana. Satu yang pasti, dia terlihat begitu senang saat melihat kehadiran Blaire di sana, meskipun pada kenyataannya gadis yang dia tunggu memilih untuk mundur dan bersembunyi di balik tubuh tegap Christian.


Dengan tenang, Aaron berjalan mendekat. Dia baru berhenti tepat di hadapan Christian. Araon berdiri sejenak, kemudian memandang ke arah pria berpostur tegap yang tengah Blaire gunakan sebagai perisai diri. Namun, saat itu tatap matanya terlihat sangat berbeda. Tak seperti biasa, pria tampan bermata biru tersebut tampak jauh lebih tenang. "Bolehkah aku berbicara dengan Blaire?" tanyanya.


"Kenapa harus meminta izin padaku? Tanyakan sendiri kepada Blaire, apakah dia bersedia atau tidak untuk berbicara denganmu," ujar Christian datar.


Tanpa menanggapi ucapan Christian, Aaron kemudian memiringkan kepala ke samping kanan. Dia berharap dapat melihat wajah Blaire yang bersembunyi di belakang tubuh tegap Christian. "Blaire," panggilnya pelan dan lembut. Akan tetapi, gadis yang dia panggil tak menyahut sama sekali. Blaire bahkan tak bersedia memperlihatkan wajahnya, di hadapan pria yang telah membatalkan rencana pernikahan mereka.


"Aku tahu kau sangat marah, tapi tolong dengarlah dulu apa yang akan kusampaikan padamu. Setelah ini, aku tak akan memaksa dirimu untuk dapat menerima penjelasan dariku," tutur Aaron dengan penuh harap.


"Bicaralah. Aku yakin Blaire akan mendengarkanmu," ucap Christian tanpa ekspresi sama sekali.


"Di hadapanmu, Chris?" Aaron terdengar ragu.


"Aku yakin bahwa Blaire tak akan bersedia jika hanya bicara berdua denganmu. Bukankah begitu, Blaire?" Christian berkata demikian sambil menoleh ke belakang, di mana gadis dengan rambut pirang itu berada. Sedangkan Blaire tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, meskipun dari kedua pria tadi tak ada yang bisa melihat apa yang dilakukannya sebagai tanggapan pertanyaan Christian.


"Baiklah. Tak apa meski kau mendengar apa yang akan kukatakan kepada Blaire. Lagi pula, aku yakin jika dia sudah berbicara banyak hal padamu, Chris," ucap Aaron pada akhirnya.


"Kuharap kau tidak sedang mabuk saat ini," balas Christian dengan ekspresi yang sangat datar.


"Ah tentu saja tidak. Jangan khawatir. Aku sepenuhnya dalam kondisi sadar," sahut Aaron yang tampak sedikit kikuk. Dia berkali-kali mengusap tengkuk kepalanya.


"Lalu?" tanya Christian lagi.


Aaron tak segera menjawab. Dia tampak berpikir untuk beberapa saat. Pria itu merasa bingung harus memulai dari mana. Sejujurnya saja, semua untaian kata yang sudah dirinya persiapkan tadi, tiba-tiba menguap dan sirna seketika saat melihat Blaire sudah berada di hadapannya. Aaron kini harus kembali merangkai kata per kata lagi, agar menjadi satu kalimat penuh makna.


"Kuakui bahwa aku tidak memiliki keteguhan hati. Kupikir penantian panjangku atas cintamu, bisa membuat diriku menjadi seseorang yang jauh lebih dewasa dalam bersikap. Aku memang tulang punggung keluarga. Ada tanggung jawab besar di pundakku. Akan tetapi, pada kenyataannya sisi lain dari diriku bertolak belakang dengan semua itu." Aaron memulai apa yang hendak dirinya sampaikan kepada Blaire.


"Seperti yang kau lihat saat ini, Blaire. Aku adalah pria yang menyedihkan, ketika harus menata perasaan karena cinta. Aku tidak pandai dalam permainan seperti ini." Aaron mengempaskan napas berat secara perlahan dan juga teratur.


"Cathy adalah pelarianku atas cintamu yang menyakitkan. Aku tahu bahwa kau tak pernah menganggap diriku lebih dari sekadar sahabat. Aku menyadari hal itu sepenuhnya sejak awal. Namun, cinta yang besar telah memaksaku untuk terus mengikatmu. Pada akhirnya, kau terluka dan aku pun tak mendapat apa-apa selain penyesalan. Namun, aku tak ingin menjadi pecundang untuk yang kedua kalinya." Aaron menatap Christian untuk sejenak, sebelum kembali memiringkan kepala, berusaha agar dapat melihat wajah Blaire.


“Lalu, momen saat kau melahirkan. Hal itu adalah salah satu kenangan paling indah dan tak akan pernah kulupakan, Blaire. Meskipun pada akhirnya aku tak bisa memilikimu dan Ainsley. Namun, Ainsley akan selalu mendapat tempat yang istimewa di dalam hatiku. Kalian berdua tak akan tergantikan.”


“Maafkan aku jika harus melepasmu di waktu yang tidak tepat, Blaire. Akan tetapi, aku tidak bisa mengambil jalan lain selain ini.” Selesai berkata demikian, Aaron menunduk dalam-dalam. “Satu-satunya yang kusesali dalam kebersamaan kita selama beberapa tahun ini, hanyalah melihatmu menangis karena ulahku. Aku sudah gagal membahagiakanmu, Blaire. Maafkan aku.” Entah sudah berapa kali Aaron mengucapkan kata itu. Nyatanya, dua kata sakti tersebut tetap tak bisa menghilangkan gundah di hatinya.


“Pergilah, Aaron,” ujar Blaire lirih setelah beberapa saat lamanya terdiam. “Kau juga berhak berbahagia bersama seseorang yang benar-benar mencintai dan menyayangimu dengan tulus. Orang yang bisa menghargaimu lebih dari aku.”


Perlahan, tubuh ramping Blaire keluar dari persembunyiannya. Dia lalu menyodorkan baju pengantin yang dirinya peluk dari tadi kepada Aaron.


“Berikan ini pada kekasihmu. Setidaknya, kau membeli gaun pengantin tanpa sia-sia,” ucap Blaire pelan.


Ragu-ragu, Aaron menerima gaun yang Blaire sodorkan dengan tangan bergetar. Dia mendekapnya erat-erat, lalu jatuh bersimpuh di halaman berumput. Aaron menangis tersedu. Seorang pria yang terbiasa menjadi besi pelindung bagi ibu dan kedua adiknya, kini telah kehilangan wibawa dan kekuatannya.


Air mata terus menetes, membasahi pipi pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah. Tangisan pilunya terdengar hingga ke telinga Viktorija di lantai dua. Diam-diam, wanita paruh baya itu melihat adegan tadi dari jendela kamar Ainsley.


“Aku mencintaimu, Blaire. Maafkan aku ….” Suara Aaron terdengar begitu lirih di antara tangisannya.


Akan tetapi, Blaire sudah tak ingin menanggapi apa yang Aaron katakan. Dengan langkah pelan, dia berjalan masuk ke rumah tanpa menoleh lagi ke belakang.


“Berdirilah. Tak pantas kau berlutut seperti ini.” Suara berat Christian menegur Aaron yang tetap bersimpuh di atas tanah.


“Biarkan saja. Harga diriku sudah habis sejak dulu,” tolak Aaron sambil tetap menunduk.


“Benar apa yang Blaire katakan. Kau memang pria yang baik. Sekarang saatnya bagimu menjemput kebahagiaan yang nyata. Jangan khawatir, biarlah aku yang akan menggantikanmu. Kupastikan untuk menjaga Blaire serta merawat Ainsley dengan penuh tanggung jawab. Mereka akan mendapatkan yang terbaik dariku. Akan kuganti lima tahun yang hilang dan terabaikan,” ucap Christian penuh keyakinan. Mungkin itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan kepada seseorang. “Terima kasih karena kau telah menjaga Blaire dan Ainsley selama ini, Aaron,” pungkasnya seraya membalikkan badan dan ikut masuk ke rumah Blaire.


Sementara Aaron hanya bisa terpaku di tempatnya sampai suara lembut sang ibu menyapa. “Sedang apa kau di sini, Nak? Pulanglah. Cathy menunggumu.”


Dengan segera, Aaron berdiri sambil mengusap air mata. Sambil membawa gaun pengantin yang seharusnya menjadi milik Blaire, dia menghambur ke arah sang ibu dan memeluknya erat-erat. “Bu, aku ingin kita pindah dari sini,” ucap Aaron penuh haru.