Edinburgh

Edinburgh
Full Spirit



Beberapa hari telah berlalu. Aaron sibuk menyiapkan pesta pernikahan yang akan dilangsungkan pada pertengahan musim panas ini. Dengan alasan itulah, dia jauh lebih sering menemui Blaire. Terkadang, pria tampan tersebut langsung datang ke rumah. Namun, tak jarang pula dia menemui Blaire ketika gadis cantik tersebut sedang berada di kedai. Sengaja atau tidak, Aaron kerap memperlihatkan sikapnya yang manis dan romantis di hadapan semua orang, termasuk Christian, yang saat pria itu baru mengembalikan Ainsley kepada ibunya.


"Ibu!" seru Ainsley seraya berlari menghambur ke dalam pelukan Blaire.


"Kau wangi sekali," ucap Blaire seraya mengendus, lalu mencium pipi sang anak.


"Aku tadi dimandikan oleh ayah. Aku juga sudah makan. Perutku sangat kenyang, Bu." Ainsley tersenyum lebar sembari mengusap-usap perutnya yang bulat.


"Astaga. Kuharap kau tidak merepotkan ayahmu, Sayang," balas Blaire lembut.


"Hai, Jagoan!" sapa Aaron seraya meraih tubuh mungil Ainsley dari dalam rengkuhan Blaire. Dia menggendong anak itu dengan satu tangan, karena tangan yang lain dirinya gunakan untuk mengambil sebuah paper bag dari atas meja. "Lihat apa yang sudah kubelikan untukmu," ucapnya seraya mendudukkan Ainsley di sebelah paper bag tadi.


"Apa ini, Paman?" tanya bocah lima tahun bermata abu-abu itu sumringah. Sementara Christian hanya berdiri mematung, sambil memperhatikan mereka dengan sorot mata yang menjadi ciri khasnya.


Aaron kemudian mengeluarkan sebuah kotak cukup besar dari dalam kantong kertas tadi. Adalah sebuah mainan mobil remote control yang sangat bagus, dan sebenarnya tidak terlalu cocok untuk anak seusia Ainsley. Namun, itulah Aaron. Dia selalu memanjakan anak semata wayang Blaire tersebut, yang tak lama lagi akan menjadi putra sambungnya.


"Ini bagus sekali, Paman. Terima kasih." Ainsley bersorak gembira mendapatkan mainan mahal seperti itu.


"Kau menyukainya?" tanya Aaron.


"Aku sangat menyukainya, Paman," sahut Ainsley.


"Kalau begitu, berikan aku sebuah pelukan," pinta Aaron sambil merentangkan kedua tangan. Calon suami Blaire itu pun tersenyum lebar, saat menerima pelukan hangat dari Ainsley yang terlihat sangat bahagia.


"Ayah, lihat ini!" seru Ainsley mengalihkan perhatian kepada Christian yang sejak tadi hanya terpaku di tempatnya. Anak itu meminta untuk turun dari atas meja, kemudian berlari ke arah pria dengan t-shirt hitam lengan panjang yang berdiri tak jauh dari pintu.


"Apa menurutmu ini bagus?" tanya Ainsley polos.


"Itu sangat bagus dan pasti mahal. Kau harus menjaga mainan ini dengan baik, karena ada beberapa hal yang tak bisa diperbaiki setelah ia rusak. Jadi, sebelum kau menyesal dan bersedih, maka ...." Christian tersenyum kelu. Dia sadar bahwa apa yang dirinya ucapkan tak akan dimengerti oleh Ainsley.


"Paman, ayahku mengatakan bahwa ini mainan yang bagus!" seru Ainsley riang.


Tawa lebar Ainsley nyatanya berbanding terbalik, dengan raut wajah sendu yang ditunjukkan oleh Blaire. Dia menatap nanar kepada Christian yang berusaha untuk terlihat biasa saja. Pria itu bahkan masih sempat menyunggingkan sebuah senyuman samar di sudut bibirnya.


Blaire memilih untuk mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lain, terlebih karena Viktorija muncul dari dalam dapur. Wanita itu telah bersiap untuk menutup toko. "Sudah, sudah. Ayo, sebaiknya kita segera pulang," ajak ibunda Blaire tersebut, setelah meraih semua barang-barang pribadinya. Mereka pun keluar dari dalam kedai, tak terkecuali Christian.


"Tunggu, Blaire!" cegah pria berambut gelap dengan t-shirt hitam lengan panjang itu.


Blaire yang hendak menuju ke dekat mobil milik Aaron pun segera menghentikan langkah, kemudian menoleh. Raut wajahnya seketika berseri, saat Christian berjalan semakin mendekat. Sementara Aaron segera berdiri di sebelah gadis itu, dengan satu tangan yang masih memangku Ainsley. Sedangkan Viktorija memperhatikan dari jarak tak terlalu jauh.


"Aku berencana untuk mengajak Ainsley ke Kastel Edinburgh besok. Kuharap kau memberi izin untuk itu. Namun, jika tidak maka ...."


"Ainsley adalah putramu juga. Kau tak perlu meminta izin padaku untuk hal seperti ini," sahut Blaire pelan, tapi penuh keyakinan.


"Aku ingin ibu ikut dengan kita, Ayah," ucap Ainsley tiba-tiba.


“Kurasa itu bukan ide yang bagus, Ains. Ibu pasti sedang sibuk mempersiapkan persiapan pernikahannya,” bujuk Christian pelan dan hati-hati.


“Aku benar-benar ingin kita berangkat sama-sama. Ibu dan ayah terlihat keren saat bersama.” Wajah menggemaskan Ainsley mulai cemberut, lalu menunduk dalam-dalam. Dia tampak merajuk, sampai-sampai dirinya tak mau disentuh oleh Christian.


“Kau harus meminta izin pada paman Aaron terlebih dulu, Nak.” Christian mengempaskan napas pelan. Dia sama sekali tak ingin jika rencana untuk berjalan-jalan dengan putra semata wayangnya itu gagal.


“Oh itu tidak masalah bagiku, asalkan Blaire tidak keberatan,” sahut Aaron sambil memperhatikan calon istrinya. Rasa cemburu datang menerjang ketika wajah Blaire menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat.


“Benarkah itu, Aaron? Terima kasih atas pengertianmu.” Blaire sampai melonjak kegirangan, lalu memeluk pria tampan berambut pirang itu erat-erat.


“Baiklah. Sampai jumpa besok pagi di rumahmu, Blaire.” Christian mengangguk sopan sebelum berlalu dari hadapan pasangan calon pengantin tersebut.


Keesokan harinya, Christian datang tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan. Pria itu membawa mobil sedan mewah berwarna hitam, membuat Blaire dan Ainsley tampak terheran-heran.


“Mobil siapa ini, Chris?” tanya gadis bermata hijau itu.


“Aku menyewanya,” jawab Christian singkat seraya tersenyum. “Baiklah. Apakah kalian sudah siap berangkat?”


“Yes!” jawab Ainsley penuh semangat. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas saking senangnya. Blaire juga tampak hendak menimpali. Akan tetapi, belum sempat dia mengeluarkan sepatah kata pun, datanglah kendaraan Aaron yang segera berhenti di belakang mobil Christian.


“Aaron?” Blaire mengernyit keheranan saat calon suaminya itu datang dan berjalan mendekat sambil merentangkan tangan.


“Hei, apakah kita akan berangkat sekarang?” seru Aaron ceria.


“Bukankah kau kemarin mengatakan padaku jika hari ini kau akan pergi ke London untuk sebuah urusan penting?” tanya Blaire dengan raut bingung.


“Tak ada yang lebih penting dari acara jalan-jalan bersama seperti ini,” dalih Aaron sembari tersenyum penuh arti. “Ayo!” ajaknya.


Christian menggeleng pelan sambil menahan tawa. Bagaimana tidak, pria bermata biru itu bersikap paling semangat dibandingkan Ainsley. “Ya, sudah. Mari kita berangkat sekarang. Makin pagi, semakin bagus. Kita tidak akan antri terlalu lama,” ujar Christian sambil merengkuh Ainsley ke dalam gendongannya.


Pria rupawan itu kemudian mendudukkan putranya di kursi belakang. Dia bahkan sudah menyiapkan kusi pengaman khusus untuk balita seusia Ainsley. Sementara Blaire tampak kebingungan. Entah mobil siapa yang akan dia naiki. Terlebih saat itu, Christian sudah selesai mendudukkan Ainsley dengan nyaman, lalu mengalihkan perhatiannya pada Blaire yang masih berdiri terpaku. Demikian pula Aaron yang bersiap di sisi mobil sambil membukakan pintu depan untuk calon istrinya.


“Duduklah bersamanya, Blaire. Biar Ainsley bersamaku,” ucap Christian lembut.


Seandainya bisa, Blaire akan berlari menghambur ke arah Christian, memeluk dan menciumnya, lalu duduk di samping pria itu. Blaire membayangkan dirinya di dalam mobil yang melaju, memperhatikan wajah menawan seorang Christian yang tengah mengemudi.


Akan tetapi, dia harus menerima kenyataan bahwa pria yang akan menjadi pasangan hidupnya bukanlah Christian, melainkan Aaron yang sedang menatap penuh harap.