Edinburgh

Edinburgh
Interesting Story



Christian seketika mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Adam. Dia belum terlepas dari Blaire yang memaksanya untuk ikut ke pesta demi potongan harga, kini Adam pun menginginkan agar pemuda itu bisa terlihat seperti dirinya. Entah kegilaan macam apa yang tengah dialami oleh seorang Christian, si pria misterius tersebut.


"Astaga," keluhnya seraya berdecak pelan.


"Kenapa, Tuan? Apa kau keberatan? Tenang saja. Aku sudah berhenti kuliah dan selama ini hanya menjadi beban orang tuaku. Rasanya mencari kesibukan lain akan sangat menyenangkan, meskipun tak mendapat upah sama sekali. Aku rasa selain bisa belajar agar dapat terlihat keren sepertimu, orang tuaku juga pasti akan sangat bangga karena aku memiliki kegiatan yang positif," ujar Adam kembali membujuk Christian agar bersedia menerima dirinya.


"Maaf, karena aku tidak punya waktu untuk permainan konyol seperti ini," tolak Christian seraya kembali melanjutkan langkah.


Sedangkan Adam hanya terpaku untuk sejenak. Sesaat kemudian, pemuda itu kembali menyusul Christian yang sudah berjalan cukup jauh darinya, padahal baru beberapa detik saja pria itu melangkah. "Hey, Tuan! Tunggu!" seru Adam. Dia berusaha untuk menyejajari pria berpostur tegap tadi. Walaupun harus kembali terengah-engah, tapi Adam tak ingin menyerah.


"Jangan mengikutiku. Aku sangat sibuk. Permisi." Christian menggeleng pelan.


Sedangkan Adam terus saja mengikutinya, seperti anak anjing yang tak ingin ditinggal oleh sang majikan tersayang.


“Kalau begitu, izinkan aku membantumu! Untuk hari ini saja, aku akan menjadi asisten yang baik dan belajar dengan cepat tentunya!” pinta Adam setengah berseru.


“Ya ampun.” Christian memijit tengkuknya. Seketika dirinha merasa sangat lelah. Dia berpikri andai saja pemuda itu tak dituruti, maka tak menutup kemungkinan ketenangan hidupnya akan terus terganggu. Setelah melalui proses berpikir yang cukup lama, dia pun berhenti dan menghadapkan tubuhnya kepada Adam. “Baiklah, tapi hanya untuk hari ini saja!” tegas Christian.


“Tentu!” Adam bersorak riang dan berniat hendak memeluk Christian. Akan tetapi, pria itu sigap bergerak mundur sambil memasang tampang menakutkan.


“Pelajaran pertama, jaga tingkah lakumu!” desis Christian dengan sorot mata dingin seraya mengangkat jari telunjuknya.


“Siap!” Adam mengambil sikap hormat, kemudian berjalan di samping Christian sampai mereka tiba di depan toko antik miliknya.


“Apa kau tidak ada pekerjaan lain?” Christian melirik sekilas kepada Adam, yang terus memperhatikan dirinya saat memutar kunci dan membuka pintu toko.


“Biar aku saja,” cegah pemuda berambut pirang itu, saat Christian hendak membalik papan kecil bertuliskan open yang tergantung di pintu kaca. “Sebenarnya ayahku memaksa untuk magang di firmanya. Akan tetapi, rasanya jiwaku bukan di sana. Ya, walaupun aku lulusan fakultas hukum,” celoteh Adam. Dia lalu mengikuti Christian ke belakang meja kasir. “Di mana peralatan kebersihannya, Tuan?” tanyanya.


“Tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan," larang Christian. Dia lalu mengalihkan pandangan pada satu bagian toko.


"Ambil di sana, pintu pertama di balik dinding,” tunjuk Christian ke arah bagian dalam toko. Sekarang giliran dia mengikuti gerak-gerik Adam yang sigap mengambil peralatan kebersihan dari dalam ruang penyimpanan khusus. “Jadi, ayahmu memiliki firma?”


“Ya, Tuan. Dia mendirikan firma hukum bersama tiga orang sahabatnya. Sudah puluhan tahun berjalan. Ayahku adalah seseorang yang sangat idealis. Dia benar-benar menjunjung tinggi keadilan. Ayahku bahkan sering memberi bantuan hukum pada orang-orang yang tidak mampu. Mereka bisa menyewa jasa pengacara tanpa dipungut biaya sepeser pun, alias gratis,” tutur Adam menggebu-gebu. Ada kebanggaan dalam sorot matanya kala bercerita tentang sang ayah.


“Akan tetapi, semuanya berubah ketika salah satu dari sahabat ayahku meninggal secara misterius. Dia menjadi orang yang tertutup dan temperamen. Ayahku juga berubah menjadi seseorang yang selalu memaksakan kehendaknya, terutama padaku. Dia melarangku untuk memperdalam seni lukis dan menuntut agar diriku menyelesaikan pendidikan hukum.” Adam mengakhiri ceritanya dengan wajah lesu.


“Siapa nama ayahmu?” tanya Christian. Ekspresi pria itu berubah serius, sembari melipat tangan di dada. Dia juga menatap tajam kepada Adam.


“Ayahku bernama Andrew. Andrew Dalton Fraser lengkapnya,” jawab Adam.


Sementara Adam sedikit berlama-lama di bagian belakang toko yang berfungsi sebagai gudang. Dengan cermat, dia membersihkan setiap barang-barang yang ada di sana. Mengelap, membersihkan benda-benda kaca, lalu menyapu lantainya. Entah apa yang membuat pemuda itu seperti kerasukan, sehingga melakukan hal-hal semacam tadi. Dia pun tak mengerti.


“Apa kau suka kopi? Kalau kau mau, aku akan memesankannya di kedai nyonya Sutherland,” tawar Christian saat Adam berpindah ke ruangan toko bagian depan.


“Tidak usah, Tuan. Aku tak terbiasa minum kopi, karena aku penyuka teh,” jawab Adam dengan polosnya.


“Ya sudah.” Dengan gayanya yang selalu terlihat dingin, Christian mengalihkan perhatian pada ponsel, lalu mengetik sesuatu di sana.


“Jika aku sudah selesai membersihkan seluruh sudut ruangan di toko ini, apakah kau akan mengajariku sesuatu?” tanya Adam tiba-tiba, membuat Christian yang awalnya serius menunduk pada layar ponsel, segera mendongak sambil mengernyit keheranan.


“Memangnya apa yang ingin kau pelajari dariku?” Christian menautkan alis tanda tak mengerti.


“Banyak hal, salah satunya adalah, bagaimana kau bisa menarik perhatian Blaire,” jawab Adam tanpa ragu.


“Astaga. Kenapa anak muda zaman sekarang sangat menganggap penting masalah percintaan? Bukankah ada masalah lain yang jauh lebih penting yang harus dipikirkan?” pikir Christian sambil menggelengkan kepala.


“Justru itu,” sahut Adam, “salah satu hal yang membuatku jatuh cinta terhadap Blaire adalah, dia memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Saat dulu kami berkuliah di kampus yang sama, dia sudah terkenal dengan kegiatan sosialnya. Blaire juga aktif dalam badan amal dan membuat program untuk anak-anak jalanan di Inggris,” beber pemuda itu.


“Hal itu pulalah yang mengawali pertemuan Blaire dengan Kenneth. Dia adalah salah satu pemuda jalanan yang mengikuti program musim panas yang dicanangkan olehnya. Tanpa diduga, mereka berdua menjadi dekat. Blaire mengira bahwa dirinya bisa mengubah Kenneth menjadi lebih baik, tapi ternyata dia keliru. Setidaknya itulah yang Blaire ceritakan padaku tadi pagi,” cerocos Adam.


“Oh, jadi begitu rupanya.” Tak disangka, Christian amat tertarik dengan cerita Adam tentang Blaire. Terlihat dari raut wajah yang serius memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir pemuda itu. Ternyata, ada satu sisi lain dari Blaire yang baru diketahuinya “Jadi, kalian dulu berkuliah di kampus yang sama?” tanyanya.


“Kampus yang sama, tapi fakultas yang berbeda. Dulu aku hanya bisa mengaguminya dari jauh. Dia adalah gadis yang sangat cantik dan cerdas, memiliki banyak teman dan selalu ramah pada siapa pun. Akan tetapi, hanya sebatas itu,” jelas Adam.


“Maksudnya?” Christian kembali mengernyitkan kening.


“Ya, seperti yang kau tahu, Blaire adalah gadis yang ramah dan baik hati. Akan tetapi, ada satu hal yang tak banyak orang tahu. Dia adalah seseorang yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Oleh karena itu, aku teramat heran dan penasaran ….” Adam seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Penasaran kenapa?” tanya Christian tak sabar.


“Bagaimana bisa kau menarik perhatiannya seperti tadi? Aku tak pernah melihat Blaire memandang pria manapun seperti caranya saat memandangmu,” jawab Adam.


🍒🍒🍒


Hai, semua. Jangan lupa cek novel keren di bawah ini.