Edinburgh

Edinburgh
Sudden Death



"Chris?" Blaire mengernyitkan kening, saat melihat sosok yang tak pernah dia duga akan datang kembali ke rumahnya. "Apa ada masalah?" tanya gadis itu. Ragu dan penasaran bercampur menjadi satu, menghadirkan sebuah tanda tanya besar di hati Blaire.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Christian datar.


"Kau baru dari sini dan melihat keadaanku siang tadi," sahut Blaire. Dia menatap heran kepada pria tampan yang berdiri di hadapannya.


Belum sempat Christian menanggapi, dari dalam terdengar suara seruan seorang wanita yang tak lain adalah Viktorija. "Siapa yang datang, Blaire? Apakah tuan Gibson? Jika iya, langsung saja ajak masuk ke ruang keluarga," tanyanya.


"Christian yang datang, Bu!" sahut Blaire dengan setengah berseru pula. Namun, tak ada jawaban dari Viktorija. Wanita paruh baya tersebut, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang putri semata wayangnya. Melihat keberadaan Viktorija di sana, Christian pun mengangguk sopan, meskipun tanpa ekspresi atau sikap yang berlebihan. Seperti biasa, raut datarlah yang selalu dia tunjukkan saat itu.


"Oh kebetulan sekali, Chris. Bergabunglah untuk makan malam di sini," ajak wanita paruh baya tadi dengan ramah.


"Terima kasih, Nyonya Shuterland. Aku kemari untuk berbicara sebentar dengan putri Anda," sahut Christian datar, tapi berhasil membuat Blaire seakan terbang tinggi. Gadis itu pun seketika memperlihatkan senyuman khasnya yang begitu manis.


"Baiklah kalau begitu. Masuk dan bicara di dalam saja. Itu akan jauh lebih nyaman," saran Viktorija seraya mempersilakan Christian dengan hangat. Begitu juga dengan Blaire yang melakukan hal serupa. Tak terlihat sama sekali bahwa dirinya sedang terluka saat itu.


Christian terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria tampan nan misterius itu menatap penuh isyarat kepada Blaire. Akan tetapi, gadis cantik tersebut tak memahami maksud dari si pria. Blaire malah menaikkan sepasang alisnya dengan ekspresi yang juga sulit dimengerti oleh Christian.


"Kita bicara di sini saja, Nona Shuterland. Lagi pula, aku sedang terburu-buru," ucap Christian pada akhirnya.


"Oh baiklah. Aku harus kembali ke dapur," pamit Viktorija. Dia membiarkan Blaire dan Christian berdua saja di dekat pintu masuk.


Sepeninggal Viktorija, Christian maju beberapa langkah hingga jaraknya menjadi lebih dekat kepada Blaire. Pada awalnya, gadis itu merasa heran. Namun, semuanya langsung sirna, ketika Christian mengatakan sesuatu. "Apakah kau tahu di mana tempat tinggal Adam?" tanyanya.


"Adam?" Blaire mengernyitkan kening. "Ada urusan apa antara kau dan dia?" Blaire balik bertanya.


"Apa kau tidak melihat siaran di televisi?" tanya Christian lagi.


"Itulah kenapa kami menunggu tuan Gibson. Dia yang akan membetulkan televisi di sini. Sudah dua hari aku dan ibuku tidak bisa meno ...."


"Ayah dari sahabatmu itu telah meninggal dunia. Aku mengetahuinya dari breaking news di televisi beberapa saat yang lalu," potong Christian, yang seketika membuat Blaire terbelalak tak percaya.


"Tuan Fraser?" gumam Blaire dengan sorot mata yang tak dapat diartikan. "Ya, Tuhan. Lalu bagaimana dengan Adam dan ibunya?" pikir gadis itu setengah bergumam.


"Berikan alamat rumahnya padaku," pinta Christian.


"Kau akan ke sana, Chris?" tanya Blaire pelan. Christian hanya menanggapi dengan sebuah anggukan. "Kalau begitu aku harus ikut denganmu," tegas gadis itu. Namun, Christian tampak sedikit ragu. "Tak apa. Jangan meremehkanku." Blaire segera masuk meninggalkan Christian yang masih berdiri di depan pintu. Sayup-sayup terdengar suara Blaire yang tengah berbicara kepada ibunya. Gadis itu berpamitan untuk pergi ke kediaman milik orang tua Adam.


Tak berselang lama, Blaire muncul dengan mengenakan mantel kesayangan. Gadis itu juga memakai kupluk rajut berwarna senada. "Ayo," ajaknya yang telah bersiap untuk pergi.


"Kau yakin akan ikut denganku?" tanya Christian ragu.


"Memangnya kenapa?" Blaire yang terlihat resah, menoleh kepada Christian untuk sejenak. "Adam adalah teman dekatku. Bagaimana mungkin aku membiarkannya sendirian dalam menghadapi musibah seperti ini. Aku tahu seperti apa rasanya ...." Blaire tak melanjutkan kata-kata yang memang sengaja dia tahan. Gadis itu pun berlalu begitu saja dari hadapan Christian.


Tanpa banyak membuang waktu, Christian pun segera mengikuti langkah Blaire. Dia bahkan berjalan lebih cepat dari gadis di sebelahnya, hingga terdapat jarak beberapa langkah antara mereka berdua. Sedangkan Blaire tak sanggup jika harus berlari untuk menyusul pria itu. Tak seperti hari-hari biasa, sebelum dirinya mengalami cedera.


Sementara Christian pun langsung tertegun. Pria itu kemudian menoleh. “Maaf, aku lupa jika pinggangmu terluka,” ucapnya sembari mengulurkan tangan kepada Blaire.


Gadis cantik itu awalnya kebingungan. Akan tetapi, pada akhirnya dia menyambut tangan kekar itu dan membiarkan Christian menuntunnya.


“Apakah rumah keluarga Fraser jauh dari sini?” tanya pria rupawan tersebut.


“Lumayan jauh. Mungkin kau perlu menggunakan mobilmu,” saran Blaire. “Kau punya mobil, bukan?”


“Ya. Aku punya mobil tua di garasi.” Christian tampak berpikir untuk sejenak. “Baiklah. Kalau begitu, tunggulah sebentar di sini,” ucapnya. Christian kemudian meninggalkan Blaire di trotoar depan rumahnya. Tak berselang lama, dia kembali lagi sambil mengendarai mini cooper keluaran lama. “Masuklah,” suruhnya dari balik kemudi.


Blaire mengangguk dan menurut, lalu duduk di samping Christian. Dia melajukan mobilnya perlahan sambil mengikuti petunjuk arah dari gadis berambut pirang di sebelahnya.


Setengah jam kemudian, kendaraan yang ditumpangi mereka berdua telah tiba di kawasan perumahan mewah pusat kota Edinburgh. Mobil mini cooper milik Christian berhenti di salah satu rumah megah berlantai tiga yang tampak ramai. Banyak orang keluar masuk dari sana.


“Tuan Andrew merupakan salah seorang pria terpandang di kota ini. Dia terkenal sebagai pengacara kelas satu. Pantas saja, kabar kematiannya mengejutkan banyak pihak. Lihatlah para pelayatnya banyak sekali,” celoteh Blaire tanpa henti.


“Apakah kita akan tetap di sini atau turun menemui Adam?” tanya Christian dengan tatapan yang terus tertuju pada kediaman keluarga Fraser.


“Oh, iya. Tentu.” Blaire bergegas turun, diikuti oleh Christian. Mereka berjalan melewati kerumunan hingga berhasil masuk ke ruang tamu.


Adam merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Dia yang bertanggung jawab menyambut para pelayat. Sementara ibu dan kedua adiknya masih berada di rumah sakit untuk mendampingi proses autopsi. Wajahnya yang terlihat begitu murung, seketika tersenyum lebar ketika melihat sosok Blaire hadir di sana.


“Kau datang?” seru Adam dengan sorot tak percaya.


“Aku turut berduka.” Blaire menghampiri pemuda itu, kemudian memeluknya erat untuk beberapa saat. Dia mengurai pelukan setelah Adam berdiri di sisinya.


“Aku sungguh tak mengira bahwa akan berakhir seperti ini.” Christian turut mengucapkan belasungkawa sembari mengulurkan tangannya.


“Terima kasih atas kedatanganmu, Tuan.” Adam begitu terharu. Dia menepiskan tangan Christian dan memilih memeluk pria itu.


“Apakah ayahmu meninggal karena sakit?” bisik Christian sesaat setelah melepaskan pelukan.


“Ayahku tak pernah mengeluh sakit. Namun, tadi pagi dia menelepon dan menyuruhku untuk pulang. Aku tak menyangka bahwa itu adalah pertemuan kami berdua, sebelum ayahku dilarikan ke rumah sakit,” sesal Adam. Dia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan air matanya.


“Apakah ayahmu tak berpesan apapun?” tanya Christian lagi.


“Sebenarnya ... ada.” Adam menatap Christian dengan sorot yang sulit diartikan. “Bisakah kau tinggal lebih lama di sini? Aku ingin membicarakan tentang sesuatu denganmu," pintanya.


🍒🍒🍒


Rekomendasi novel keren. Yuk, mampir dan ramaikan. Jangan cuma diintip.