
Sepasang mata berwarna hijau milik Blaire, menatap lekat kepada Aaron yang memperlihatkan raut penuh harap atas jawaban yang ditunggunya. Perasaan cemas dengan dada yang kian berdebar kencang, mendera secara tiba-tiba saat melihat rona wajah Blaire. Dia tak menunjukkan ekspresi layaknya gadis-gadis lain yang begitu antusias saat dilamar kekasih mereka.
"Kenapa, Blaire? Apakah kau merasa terkejut sampai tak dapat berkata-kata atau ...." Aaron menatap lekat gadis cantik yang kini mengubah posisi duduk jadi menghadap ke depan. Hati kecil pria bermata biru tersebut sepertinya sudah dapat mengartikan bahasa tubuh dari gadis itu. Seketika, raut penuh harapnya memudar. Aaron menggenggam erat kotak berlapis beludru warna hitam tadi. Dia pun ikut mengubah posisi duduknya dan menjadi setengah membungkuk.
"Beri aku waktu, Aaron. Aku ...." Blaire tertunduk menatap sepasang sepatu cantik yang menghiasi kakinya.
"Kenapa, Blaire? Apa lagi yang kau tunggu?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Aaron terdengar begitu berat dan dipenuhi rasa kecewa.
"Aku ... aku hanya ... aku hanya ingin jauh lebih fokus kepada Ainsley," kilah Blaire mengemukakan alasannya. Padahal, gadis itu tengah merasa galau atas pernyataan cinta dari Christian. Namun, tentu saja dia tak akan mengungkapkan yang sebenarnya kepada Aaron. Hingga kini, pria itu bahkan belum mengetahui bahwa pria yang berada di toko barang antik sebelah kedai adalah Christian, ayah kandung dari Ainsley.
"Baiklah jika itu yang kau mau, Blaire," ucap Aaron beberapa saat kemudian. "Kau ingin aku menunggumu lagi? Akan kulakukan dengan sepenuh hati." Aaron memantapkan diri atas tanggapan yang diberikan oleh Blaire tadi. Dia tak tahu bahwa lamaran yang dilakukannya telah membuat perasaan ibu satu anak itu menjadi kian tak karuan.
Hingga pesta berakhir, Blaire masih saja terlihat menyimpan kegalauan dalam raut wajah yang dia tutupi dengan senyuman palsu. Ketika siang telah berganti malam pun, Blaire masih menyimpan perasaan resahnya. Seusai makan malam, gadis itu langsung membawa Ainsley ke kamar untuk tidur.
Ainsley pun menurut. Dia hampir tak pernah membantah perkataan sang ibu, apalagi jika dirinya sudah melihat sorot mata Viktorija yang terlihat sangat tegas. Hingga sekitar pukul setengah sembilan malam, Blaire telah selesai melakukan tugas. Ainsley tertidur dengan clay berbentuk dinosaurus yang berjajar dengan rapi.
"Selamat malam, Bu," sapa Blaire sesaat sebelum Viktorija masuk ke kamarnya.
"Selamat malam, Blaire," balas sang ibu sambil sesekali menguap. "Hari ini aku benar-benar lelah. Sudah lama sekali tidak menghadiri pesta. Astaga, kakiku sungguh pegal. Punggungku juga sakit," keluh Viktorija seraya berkali-kali mengempaskan napas pelan.
"Beristirahatlah, Bu. Aku belum mengantuk." Blaire tersenyum sambil duduk nyaman di sofa.
"Baiklah. Jangan tidur terlalu larut," pesan Viktorija sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Blaire. Wanita paruh baya yang masih setia dengan rambut pendeknya tersebut segera melangkah ke bagian lain rumah itu.
Sepeninggal Viktorija, Blaire termenung sendiri di ruang keluarga. Untuk beberapa saat lamanya dia melakukan hal demikian. Lama-kelamaan, gadis cantik tersebut merasa bosan. Entah memiliki ide dari mana, dia lalu mengambil kunci kedai yang digantungkan di tempat biasa.
Blaire kemudian mengambil mantel dan memutuskan untuk keluar rumah. Dia melangkah sendiri menyusuri jalanan menuju kedai, dalam suasana yang sudah cukup sepi. Akan tetapi, gadis itu seakan tak peduli sama sekali. Dia terus saja mengayun kakinya hingga tiba di depan kedai.
Pelan dan hati-hati, Blaire membuka pintu tempat yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi dirinya beserta sang ibu. Setelah itu, dia lalu masuk dan menyalakan lampu. Dengan tenang, Blaire membuka laci, kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah benda yang tak lain merupakan buku yang pernah Christian berikan padanya.
Setelah mengambil buku tadi, Blaire keluar lagi dari dalam kedai. Dia kembali mematikan lampu, kemudian mengunci pintu depan rapat. Namun, sebelum dirinya memutuskan untuk pulang, gadis itu sempat tertegun hingga beberapa saat. Pandangannya lurus tertuju pada toko barang antik di sebelah. Entah ada dorongan kekuatan dari mana, sehingga dia dapat melangkah ke depan pintu toko tersebut.
Blaire terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengetuk pintu. "Astaga, apa yang kulakukan?" gumamnya. Pertanyaan pelan tadi segera terjawab, ketika muncul seraut wajah tampan yang seketika membuat segala kegalauan dalam hati gadis itu memudar. "Christian." Pelan tapi terdengar penuh penekanan, nada bicara Blaire saat menyebutkan nama pria yang berdiri gagah di hadapannya.
"Apa kabar, Blaire? Ada apa kau kemari malam-malam begini?" tanya Christian heran dan juga penasaran.
"Aku ... aku kemari untuk ...." Blaire terdiam. Dia tak memiliki alasan apapun dengan mengetuk pintu toko milik Christian. Sementara si pria berambut gelap yang tampak sedikit acak-acakan tadi, tampak sedang menunggu penjelasan darinya. "Aku ...." Blaire tertunduk dan menatap buku yang sedang dia pegang.
Satu alasan pun muncul dalam benaknya.
"Aku kemari untuk mengembalikan ini," ucap Blaire setelah beberapa saat kemudian. Dengan cepat dia menyodorkan buku tadi kepada Christian.
"Aku sudah memberikan buku ini untukmu. Kau tak harus mengembalikannya," tolak Christian yang tampak heran dengan sikap Blaire. Namun, gadis cantik tadi tampaknya tidak menghiraukan apa yang Christian ucapkan, karena ternyata Blaire hanya berdiri terpaku dengan tatapan aneh ke arah dirinya.
"Blaire?" Christian menautkan alis karena merasa heran. "Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu kemudian.
Blaire pun tersadar. Dia tampak gelagapan. Akan tetapi, dengan cepat gadis itu segera menguasai diri dan bersikap biasa. "Ya, aku hanya ... um ...." Namun, ternyata tak berhasil. Rasa gugup itu tak bisa Blaire hilangkan begitu saja.
Gadis itu pun mengangguk seraya melangkah masuk. Dia lalu berdiri dengan kikuk di dalam toko yang menyimpan banyak kenangan. Blaire berada beberapa langkah jaraknya dari Christian yang juga menatap lekat ke arah gadis cantik tersebut.
"Bicaralah, Blaire." Christian berkata dengan pelan dan dalam.
"Aku ...." Blaire tertunduk.
"Aku sudah mengatakan siapa diriku yang sebenarnya. Kau pasti memiliki pikiran yang jauh lebih buruk dari apa yang telah tertanam dalam benakmu selama ini. Namun, itulah aku, Blaire. Ada masa lalu kelam yang ingin dihapuskan dan juga kutinggalkan sejauh mungkin," ujar Christian menjelaskan. Tak biasanya dia banyak bicara seperti itu.
"Aku tak bisa menghakimi atas masa lalu yang telah kau lakukan, apalagi jika hal tersebut sudah berusaha kau lepaskan. Aku bukan Tuhan yang bisa mengatakan apakah kau berdosa atau tidak," sahut Blaire menanggapi.
"Terima kasih atas pengertianmu. Kupikir kau akan merasa takut padaku." Christian tersenyum kelu.
"Takut atau tidak, aku yakin kau tak akan melakukan apapun pada ibu dari putramu," ujar Blaire pelan. "Aku menemukan foto di dalam buku ini." Blaire terdiam sejenak. "Jadi, kau menyimpan fotoku secara diam-diam?"
Mendengar pertanyaan tadi, Christian menyunggingkan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. "Maaf," ucap pria itu singkat.
"Lalu, siapa Pandora? Apakah dia benar-benar istrimu?" tanya Blaire lagi.
Untuk kali ini, senyuman yang tersungging di bibir Christian tampak jauh lebih lebar. Pria itu pun berjalan mendekat sehingga jaraknya dengan Blaire hanya tersisa sekitar satu langkah saja. "Pandora adalah adik perempuanku. Usianya sama denganmu. Ada satu masalah yang membuatku harus terus membawanya pergi dan bersembunyi. Dari mereka, orang-orang yang pernah kau temui dulu. Namun, maaf karena aku tak akan menjelaskan apapun tentang itu padamu. Lagi pula, kau tak akan mengerti. Kuharap kau tak memaksaku." Christian menggumam pelan.
"Jadi, itu artinya kau tidak memiliki seorang istri?" tanya Blaire memastikan.
"Aku tak memikirkannya, Blaire. Karena itulah hingga saat ini hidupku ...." Christian menjeda kata-kata dan hanya menatap lekat ke arah Blaire berada. "Kumohon izinkan aku agar bisa dekat dengan Ainsley."
"Kau terlalu banyak bicara, Chris. Ini seperti bukan dirimu." Blaire tertawa pelan. Dia juga tampak kebingungan. "Sebaiknya aku pulang saja." Blaire pun membalikkan badan. Dia bermaksud untuk menuju pintu keluar.
Namun, dengan segera Christian menahan langkahnya, sehingga Blaire tertegun dan menoleh. "Ini sudah terlalu malam. Biarkan aku mengantarmu pulang," ucap Christian. Walaupun nada bicaranya terkesan datar, tapi sorot mata pria itu penuh harap dia layangkan kepada Blaire. "Kau adalah ibu dari Ainsley. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu."
"Banyak alasan," sahut Blaire. Dia segera memalingkan wajahnya yang tampak tersipu atas ucapan Christian. Blaire menunggu sejenak hingga Christian kembali dari mengambil jaket serta topi.
Seperti beberapa tahun yang lalu. Adegan itu terulang kembali, saat keduanya berjalan berdampingan menyusuri jalanan di antara bangunan tinggi dan tampak sangat khas. Christian melangkah gagah dengan kedua tangan di dalam saku jaket. Sedangkan Blaire memeluk buku di dada seperti orang yang tengah bersedekap.
Awalnya, tak ada percakapan apapun di antara mereka berdua. Christian masih tampak biasa saja dengan tatapan lurus ke depan. Berbanding terbalik dengan Blaire yang terlihat salah tingkah. Dia merasa tak nyaman atas kebisuan yang merajai keduanya.
"Ainsley sangat berterima kasih, karena kau telah membuatkan teman-teman untuk dinosaurusnya." Blaire pun memberanikan diri memulai percakapan.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya," balas Christian melirik sejenak ke arah Blaire, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan.
"Lalu, di mana adikmu sekarang?" tanya Blaire lagi.
"Amerika. Dia menikah dengan pria asal New York. Aku merasa tenang sebab pria itu berani menjamin keselamatannya. Karena itulah diriku kembali kemari," jelas Christian sambil terus melangkah. Tanpa terasa, keduanya telah memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Blaire. Christian pun mengantar hingga ke depan rumah gadis itu.
"Terima kasih, Chris. Aku ...."
"Blaire?" Terdengar suara seseorang yang tiba-tiba menyela.