Edinburgh

Edinburgh
A mother's Restlessness



Lebih dahsyat dari sebuah badai salju terburuk bagi Anette, ketika dia mendengar pengakuan mengejutkan dari putra sulungnya itu. Tak dapat Anette bayangkan, seorang pria seperti Aaron bisa berbuat demikian. Aaron yang baik dengan segala keramahan dan senyum hangat, telah mengkhianati seorang wanita yang dicintainya. "Apa maksudmu, Nak?" tanya wanita paruh baya tersebut. Dia hanya ingin meyakinkan diri.


"Ya, Bu. Aku mengkhianati Blaire dengan wanita lain." Aaron kembali menegaskan.


"Siapa wanita itu, Aaron?" tanya Anette dengan sorot mata tak percaya. Nada bicaranya pun tak sehalus seperti yang biasa Aaron dengar.


Aaron tak segera menjawab. Dia memilih untuk bangkit, lalu kembali duduk di ujung tempat tidur. Tepat di samping Anette, pria muda berambut pirang tadi kembali menopang kepala menggunakan kedua tangan. "Namanya Catriona McKay. Dia adalah gadis asal Inggris. Saat ini, Cathy tinggal dan bekerja di Glasgow. Dia ...."


"Apakah semalam kau bersamanya?" tanya Anette yang telah dipenuhi rasa curiga terhadap sang anak. Sementara Aaron tidak menjawab. Dia hanya menggguk lemah. Aaron seakan tak bermiat untuk menanggapi pertanyaan sang ibu.


"Astaga." Anette mende•sah pelan. Setitik butiran bening terjatuh dari pelupuk matanya. Wanita paruh baya tersebut berkali-kali menggelengkan kepala, menunjukkan rasa tak mengerti akan sikap Aaron yang tak pernah dia bayangkan sama sekali.


"Jadi, saat Blaire menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu ...." Anette menatap lekat putra sulungnya tadi dengan mata berkaca-kaca.


"Blaire sudah lebih dulu menghubungiku," ujar Aaron menyela ucapan sang ibu. "Blaire bukan gadis yang bodoh. Aku rasa dia pasti sudah dapat menebak hal itu. Namun, entah mengapa dirinya memilih untuk bungkam dan bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun. Blaire masih bersikap manis dan biasa saja terhadapku."


"Menurutmu Blaire mengetahui apa yang kau lakukan?" tanya Anette was-was. Dia menatap lekat Aaron yang memasang raut penuh keraguan. "Aku tidak menyukai ini, Aaron! Aku tidak menyukainya!" Nada bicara Anette meninggi. Wanita itu juga beranjak dari duduk, kemudian berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuh pada bufet kayu model antik berlaci tiga.


Anette melipat kedua tangan di dada. Sementara sorot matanya mengarah langsung, serta menghujam dengan begitu tajam kepada Aaron yang masih duduk sambil menopang kepala menggunakan kedua tangan. "Apa yang harus kukatakan kepada Viktorija jika dia mengetahui kelakuanmu ini, Aaron?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Anette, terdengar seperti sebuah tantangan yang harus ditaklukan oleh Aaron dengan berani.


"Kenapa Ibu harus mencemaskan nyonya Shuterland? Jujur saja bahwa aku sangat kecewa terhadapnya." Sebuah jawaban yang membuat Anette kembali menautkan alis karena tak mengerti.


"Apakah aku sudah ketinggalan banyak hal?" tanya wanita paruh baya itu lagi tanpa mengubah sikap berdirinya.


"Ada banyak hal, tapi tak penting sama sekali," ujar Aaron menanggapi pertanyaan sang ibu.


"Tidak. Bukan itu maksudmu," bantah Anette. "Tolong perjelas apa yang tak kau sukai dari Viktorija?"


Bukannya menjawab pertanyaan sang ibu, Aaron justru terdengar mengempaskan napas panjang. Pria itu tampak merasa ragu, untuk mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan dalam hatinya. Namun, Aaron tak ingin lagi menanggung keresahan seorang diri.


"Bu, aku merasa kecewa dengan Blaire dan juga nyonya Shuterland," ucap Aaron pelan. Dia kembali terdiam sejenak. Sementara Anette masih menunggunya untuk melanjutkan penuturan yang terjeda.


Akan tetapi, apa yang Aaron ungkapkan barusan bukanlah jawaban yang ingin Anette dengar. Wanita itu terlihat sangat kecewa. "Maksudmu Blaire ...." Anette tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


"Cobalah jika kau berada di posisiku, Bu. Aku melihat kedekatan Blaire dan Christian. Mereka menghabiskan waktu selama berhari-hari di rumah sakit. Pikiranku kacau dan ... dan aku tak ingin mengingat hal itu. Aku memilih untuk pergi ke pub, minum-minum di sana hingga mabuk. Selebihnya Ibu mengetahui sendiri dengan melihat wajahku yang babak belur."


"Aku marah, tapi perasaanku terhadap Blaire begitu besar. Kuputuskan untuk meminta maaf dan melupakan semuanya. Namun, ternyata tanpa sengaja aku mengetahui bahwa calon istriku berciuman dengan pria lain. Seseorang yang sangat dicintainya." Aaron kembali menopang kepala dengan kedua tangan.


Suasana hening sejenak. Aaron seperti tengah merangkai kata yang akan dirinya sampaikan kepada Anette. Sedangkan wanita paruh baya berambut pendek itu, masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku pergi menemui Cathy. Kami bicara banyak hal. Dia membuatku nyaman dengan segala sikap dan tutur katanya. Dia juga membuktikan bahwa ternyata aku bisa berpaling dari Blaire dengan mudah. Akan tetapi, tidak ...." Aaron menggeleng pelan. "Perasaanku terhadap Blaire ternyata tetap ada, Bu. Aku ingin memilikinya. Aku ingin dia menjadi pendampingku. Aku masih memuja dan mengagumi gadis itu. Kutahu dia yang terbaik, meskipun Cathy membuatku merasa jauh lebih bahagia dan juga dihargai."


"Yang benar saja!" Anette terdengar marah. Dia tak suka dengan apa yang telah Aaron utarakan padanya. "Ada masalah sebesar itu dan aku tak mengetahuinya sama sekali!" Ibu tiga anak tersebut berkali-kali mengempaskan keluhan bernada kecewa.


"Kupikir hubungan yang kau dan Blaire jalani selama ini adalah sesuatu yang normal. Ternyata aku keliru. Betapa tidak pekanya diriku sebagai seorang ibu!" Anette merutuki diri sendiri.


"Bukan Ibu yang tak peka, melainkan karena kami menutupinya dengan begitu rapi," sanggah Aaron.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Anette lagi. "Aku tak ingin kau menjadi pria brengsek seperti ayahmu, Aaron!" tegasnya.


"Aku juga tak ingin menjadi seperti ayah," ujar Aaron gusar.


"Lalu?" Nada bicara Anette, lagi-lagi terdengar seperti sebuah tantangan bagi sang anak.


"Lalu apa, Bu? Tentu saja aku akan melanjutkan rencana awal. Blaire sudah setuju dengan hal itu," sahut Aaron, meskipun paras tampannya menyiratkan sebuah keraguan yang terlihat sangat jelas.


"Kau yakin dengan keputusanmu, Nak?" tanya Anette. Dia merasa jauh lebih ragu dari ekspresi yang Aaron tunjukkan. "Pernikahan macam apa yang akan kalian jalani nantinya? Kau yakin untuk tetap melanjutkan rencana itu?"


"Ya, Bu. Aku sudah yakin. Aku dan Blaire akan menikah pada pertengahan musim panas ini," tegas Aaron.


Anette mendengus pelan, saat mendengar jawaban dari sang anak yang tetap akan melanjutkan rencana pernikahan. Namun, wanita berambut pirang sebahu itu tak ingin semakin terbawa emosi. Dia pun segera menenangkan diri. "Aku tahu kau sangat mencintai Blaire. Namun, hatiku terluka saat mengetahui bahwa dia tidak pernah mencintaimu."