
"Kau akan pulang sekarang?” tanya Cathy sambil membetulkan letak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Gadis itu terus memperhatikan Aaron yang tengah berpakaian, lalu merapikan penampilan di depan cermin. “Apa kau akan datang lagi kemari, Aaron?” Suara Cathy terdengar lembut dan penuh harap.
Mendengar pertanyaan seperti itu dari Cathy, Aaron pun menghentikan aktivitasnya untuk sejenak. Dia berdiri mematung sambil menatap gadis yang tengah memandang dirinya melalui pantulan cermin. Aaron tak langsung menjawab pertanyaan tadi. Pria itu seakan tengah merangkai kata yang hendak disampaikan kepada sang partner ranjang.
“Kenapa, Aaron?” tanya Cathy. Dia seolah sudah dapat menebak jawaban apa yang akan Aaron katakan padanya. Cathy pun tersenyum kelu. Dia lalu turun dari ranjang dengan membelitkan selimut putih tadi di tubuhnya. Gadis itu berjalan menghampiri pria yang sudah dirinya puaskan beberapa saat lalu. “Aku lupa jika kau sudah mengambil keputusan,” ucap Cathy kemudian.
“Maafkan aku, Cathy. Aku akan segera menikah dengan Blaire,” balas Aaron pelan dan dalam. Dia lalu menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada bartender cantik berambut pirang tadi. “Aku sangat berterima kasih untuk semua yang telah kau berikan. Bagaimanapun juga, kau seperti air yang telah menghilangkan rasa dahaga di tenggorokanku. Itu sama artinya bahwa dirimu sudah menjadi penyambung hidup bagi diriku yang kehausan. Namun, ternyata aku tak mampu untuk benar-benar berpaling dari Blaire.”
“Tak apa, Aaron. Aku dapat memahaminya. Aku hanya berharap semoga suatu saat nanti gadis itu dapat menghargai dirimu dengan lebih baik. Bukan karena alasan lain, tapi sepenuhnya karena cinta,” balas Cathy. Gadis cantik berambut panjang tersebut memaksakan diri untuk tersenyum, walau ada sesuatu dari sudut hatinya yang lain terasa begitu menyakitkan. Namun, dari awal Cathy sudah bisa menempatkan diri dengan baik.
“Kau akan selalu menjadi teman terbaik, Cathy. Hari ini, esok, dan seterusnya. Kau akan tetap mendapat sebuah tempat yang istimewa di dalam hatiku. Tolong jangan membenci atau marah padaku.” Aaron meraih kedua tangan Cathy kemudian memegangnya dengan cukup erat.
Sementara Cathy membalas perlakuan pria tampan bermata biru itu dengan sebuah senyuman lembut. Cathy adalah contoh dari gadis mandiri yang berpikir dewasa. Dia sudah terbiasa menjalani hidup dalam kesendirian, mengatur segala hal seorang diri, termasuk saat harus menata hati yang hancur karena salah menembakkan sasaran. Peluru yang dia lesatkan berbalik padanya. Cathy pun harus rela menahan sakit, meski air mata tak mau diajak berkompromi.
Butiran bening itu akhirnya terjatuh dan membasahi sudut bibir, saat Aaron melangkah keluar dari dalam kamar tempat di mana mereka pernah memadu kasih semalam suntuk. Tak ada yang dapat Cathy lakukan untuk mencegah kepergian pria berambut pirang tadi, karena Cathy sepenuhnya menghormati keputusan yang telah Aaron ambil. Dari awal, memang tak pernah ada komitmen atau perjanjian apapun di antara dirinya dengan calon suami Blaire tersebut.
“Semoga kau dapat menemukan kebahagiaanmu, Aaron,” ucap Cathy pelan, sambil duduk dengan kepala tertunduk di ujung tempat tidurnya.
Itulah terakhir kali Aaron menginjakkan kaki di dalam apartemen tempat tinggal Cathy. Semenjak dirinya memutuskan untuk kembali fokus pada rencana awal bersama Blaire, Aaron bahkan tak pernah lagi menghubungi bartender cantik tersebut. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan, serta menyiapkan segala hal untuk hari besar yang akan dirinya songsong bersama sang pujaan hati.
Kondisi Ainsley pun berangsur membaik. Anak itu tak lagi duduk di atas kursi roda. Setiap hari, Christian mengajaknya latihan berjalan dengan menggunakan tongkat. Namun, seiring waktu berlalu, Ainsley pun dapat melepaskan diri dari tongkat itu meski dirinya harus sedikit tertatih dalam melangkah.
Semua memang membutuhkan proses.
Layaknya sebuah perasaan cinta. Dalam dunia ini, memang tak sedikit orang yang dapat saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, ada banyak pula yang membutuhkan waktu begitu lama untuk dapat menumbuhkan perasaan indah tersebut. Akan tetapi, entah hal itu berlaku bagi seorang Blaire Shuterland atau tidak.
Waktu terus berlalu. Hari berganti. Jam bergerak dan terus berputar membawa semua orang pada tujuan yang telah dirancang dengan begitu baik. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, ketika Aaron dapat mengenakan tuksedo yang membuatnya terlihat jauh lebih rapi serta tampan tentunya.
“Apa kau sudah siap? Pendeta Martin sudah menunggu kita di Holyrood Park. Kita harus lebih dulu datang dari mempelai perempuan,” ujar Anette yang terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih.
Sepasang calon pengantin itu akan mengadakan pemberkatan pernikahan, sekaligus pesta resepsi. Kedua acara tadi akan berlangsung di sebuah taman kota Edinburgh yang terkenal. Aaron memang sudah berencana mengadakan sebuah pesta kebun.
“Ya, Bu. Aku sudah siap." Aaron membalikkan badan ke arah sang ibu, membuat Anette seketika menitikkan air mata.
“Kau tampan sekali, Nak," sanjung wanita paruh baya itu. Dia tak mampu menghalau rasa haru sekaligus bahagia saat melihat putra sulung yang selama ini menjadi tumpuan keluarga, telah siap mengarungi bahtera rumah tangga bersama wanita pilihannya.
“Kaulah yang berada di balik mapannya kehidupan kedua adikmu. Jadi, tidak berlebihan rasanya jika aku hanya menginginkan kebahagiaan yang seutuhnya untukmu,” tutur Anette lembut seraya mengusap pipi Aaron. “Natalie sudah hidup sejahtera bersama suaminya. Sabrina juga akan bekerja di firma terkenal di London. Semuanya berkat kerja kerasmu, Nak. Kau selalu mendukung kami,” sambungnya.
“Itu memang sudah menjadi tanggung jawabku, Bu. Aku bersyukur bisa menjadi seseorang yang berguna dalam hidupmu," Aaron meraih kedua tangan sang ibu, lalu mengecupnya penuh perasaan.
“Blaire adalah gadis yang paling baik, Bu. Aku pasti bisa menghabiskan sisa hidupku bersamanya dalam kebahagiaan,” ucap Aaron yakin.
“Baiklah. Kalau begitu, aku tidak ingin menangis lagi. Aku takut riasan ini menjadi luntur,” gurau Anette.
“Aku juga tidak ingin kita terlambat.” Aaron tertawa pelan, seraya menyeka pipi sang ibu yang basah oleh air mata.
“Ya. Kedua adikmu pasti sudah gelisah menunggu kehadiran kita di taman,” ujar Anette. Dia lalu menggandeng tangan Aaron menuruni tangga rumah dan terus berjalan ke arah pintu depan. Tepat pada saat wanita paruh baya tersebut membukanya, saat itu pula seorang wanita cantik berambut pirang tengah mengangkat satu tangan hendak mengetuk pintu. Anette kebingungan, sebab dia tak pernah melihat gadis cantik itu sebelumnya.
Sedangkan Aaron langsung terbelalak dan tertegun, ketika menatap mata indah gadis di hadapannya. “Cathy?” gumamnya lirih. Namun, Anette dapat mendengarnya dengan jelas.
“Cathy?” ulang Anette setengah tak percaya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Aaron yang diliputi rasa heran.
“Maaf, apakah ini bukan waktu yang tepat?” Cathy malah balik bertanya. Nada bicaranya terdengar ragu.
“Ya. Sejujurnya sekarang bukanlah waktu yang tepat,” jawab Anette sebelum Aaron sempat membuka mulutnya. “Putraku harus segera berangkat ke Holyrood Park, karena dia akan melangsungkan pemberkatan pernikahan di sana,” jelasnya.
Cathy seketika membeku setelah mendengar jawaban Anette. Gadis itu terlihat sangat gelisah. Wajah cantiknya pun tampak gusar. “Ja-jadi … kau akan menikah hari ini?” desisnya.
Aaron tak segera menjawab. Dia malah serius memperhatikan raut gadis itu yang berubah memucat. “Apakah ada masalah, Cathy? Apa kau sakit?” tanya pria tampan berambut pirang itu. Dia bahkan lupa untuk mempersilakan Cathy agar masuk.
“Ti-tidak. Aku tidak sakit ... hanya saja … aku ….”
“Maaf, apakah kita bisa mengobrol sambil berjalan, Nak? Kami benar-benar akan terlambat. Semua orang termasuk pendeta, sudah menunggu kami,” potong Anette sebelum Cathy sempat melanjutkan kata-katanya.
“Maaf, tapi aku harus bicara di sini bersama putramu, Nyonya,” pinta Cathy memohon.
“Baiklah. Kalau begitu cepat katakan masalahmu, Cathy,” desak Aaron.
Bukannya segera menjawab, Cathy malah memperhatikan Aaron dengan lekat. “Kau terlihat sangat tampan,” bisiknya pelan, sesaat kemudian. “Maaf, Aaron. Mungkin kehadiranku akan merusak hari bahagiamu.” Gadis itu bersikap semakin aneh. Kini dia menangis sesenggukan di depan Aaron dan Anette, membuat ibu dan anak itu saling pandang dengan terheran-heran.
“Masuklah dulu, tenangkan dirimu,” putus Anette pada akhirnya. Dia tak tega melihat seorang gadis muda yang tampak kebingungan berdiri di depan rumah dan menghalangi langkahnya.
“Aku hamil, Aaron! Aku mengandung anak kita. Selama kita berhubungan sampai pada saat kau pergi, aku tak pernah tidur dengan siapa pun selain dirimu. Aku sangat yakin bahwa ini adalah anakmu!” ucap Cathy bagaikan serentetan peluru yang melesat cepat dari selongsong, dan langsung menembus tepat ke dalam jantung Aaron dan juga Anette.