Edinburgh

Edinburgh
Blue Eyes Man



Entah kenapa Viktorija begitu memaksa Blaire agar bersedia pulang bersama Aaron. Tetangga baru itu sendiri tampaknya tak keberatan sama sekali, saat harus menunggu hingga Blaire selesai membantu sang ibu menutup kedai.


“Memangnya kau tak punya pekerjaan lain?” gerutu Blaire seraya memandang tak suka ke arah Aaron.


“Aku sedang mengajukan cuti selama tiga hari untuk membantu ibuku pindah rumah dan menata barang-barang. Kebetulan hari ini rumah sudah tertata rapi. Tinggal kedua adikku yang akan meneruskan sisanya,” jawab Aaron dengan santai.


Sedangkan Blaire hanya mendengus kesal. Dilihatnya sang ibu yang sengaja berjalan lambat di belakang. Viktorija melambaikan tangan ketika Blaire melambai kepadanya. Wanita paruh baya itu juga tersenyum lebar. “Ya ampun.” Gadis cantik itu berdecak pelan seraya kembali mengarahkan pandangan ke depan.


“Ibumu cantik sekali, Blaire. Kalian terlihat seperti kakak beradik,” celetuk Aaron.


“Kau tertarik pada ibuku? Jika iya, maka aku ama sekali tak keberatan. Kebetulan dia juga sudah terlalu lama melajang,” sahut Blaire dengan tak acuh.


Bukannya tersinggung, Aaron malah terbahak saat mendengar ucapan Blaire. “Ibumu pasti wanita yang luar biasa, sama seperti ibuku. Dia menghidupi ketiga anaknya seorang diri sejak kami masih balita,” tuturnya.


“Memangnya ayahmu ke mana?” tanya Blaire yang tiba-tiba saja merasa tertarik pada cerita pria tampan yang berjalan di sebelahnya itu.


“Dia pergi. Entah ke mana,” jawab Aaron dengan tatapan menerawang jauh ke depan. “Ayahku adalah seorang pemabuk yang tak bertanggung jawab. Suatu hari, dia pergi begitu saja meninggalkan kami yang masih kecil. Namun, bagiku itu justru jauh lebih baik. Tak ada gunanya terus menunggu seseorang yang sama sekali tak pantas untuk diharapkan. Kenyataannya, hidup kami saat ini baik-baik saja, karena jalan takdir tak berhenti hanya pada satu orang," tutur pria berambut pirang itu seraya melirik ke arah Blaire.


Gadis itu tak segera menanggapi. Dia semakin membenamkan kedua tangan di dalam saku mantelnya. Ketika mereka pulang sore itu, hujan telah berhenti meskipun udara masih terasa dingin.


Blaire sesekali menunduk. Kemarin-kemarin, jalanan itu dia lalui bersama Christian. Dia mengejar pria tersebut hanya untuk menanyakan sesuatu yang hingga kini tak pernah terjawab. Betapa konyol apa yang telah dilakukannya. Ya, kebodohan yang membawa Blaire dalam sebuah pusaran semu atas nama cinta.


"Apa kau baik-baik saja, Blaire?" tanya Aaron beberapa saat kemudian.


"Tidak," jawab Blaire. Gadis berambut pirang tersebut, kembali menoleh kepada sang ibu yang membawa dua buah payung di tangannya. "Bu, biarkan aku yang membawa payung itu," ucapnya sedikit nyaring, berhubung Viktorija berada beberapa langkah di belakang.


"Tidak usah, Blaire. Aku masih kuat membawa benda seringan ini," tolak Viktorija kembali tersenyum lebar.


"Biar aku yang membawakannya untukmu, Nyonya Shuterland," ucap Aaron menimpali. Dia lau menghampiri janda cantik itu. "Seharusnya aku melakukan ini sejak tadi," ucapnya. Aaron tersenyum kalem. Sikap ramahnya mungkin menurun dari Anette sang ibu. Bagi Viktorija, akan jauh lebih menyenangkan memiliki tetangga yang hangat seperti mereka.


"Oh, Aaron. Kau benar-benar manis dan juga perhatian. Itu merupakan dua hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap wanita, yang tengah merasa kesepian dan juga terpuruk," ujar Viktorija yang lagi-lagi bersikap berlebihan dengan terus menyanjung pria muda di hadapannya. Sedangkan Blaire tak ingin menanggapi sama sekali.


"Kalian berdua saling menyanjung. Itu manis sekali," sindir Blaire yang segera ditanggapi tawa renyah oleh Aaron.


"Aku hidup di antara para wanita," ujar si pemilik mata biru itu menanggapi sindiran yang dilontarkan oleh Blaire, membuat gadis cantik tadi seketika menoleh. "Um ... maksudku ... ya, kehidupanku selalu berkaitan dengan para wanita." Aaron meralat ucapannya.


"Kedengarannya sangat menyenangkan." Lagi-lagi, kalimat bernada menyindir terlontar dari bibir seorang Blaire.


Sementara Aaron kembali tertawa renyah. "Jadi, aku hidup dengan ibu dan kedua adikku. Mereka semua perempuan. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Setiap hari aku harus membiasakan diri dengan segala sikap dan karakter aneh yang dimiliki oleh seorang wanita ...."


"Apa? Aneh?" sela Blaire yang seperti hendak melakukan protes atas perkataan Aaron barusan. "Bagimu wanita itu memiliki sikap dan karakter aneh?" Blaire menoleh sesaat kepada pria yang berpostur lebih tinggi dari dirinya, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan.


"Ya, menurutku sangat aneh. Kalian bisa menjadi sangat tak terkendali apalagi jika sedang memasuki masa-masa PMS," ujar Aaron seraya berdecak pelan.


"Kau harus tahu bahwa ada banyak sekali hormon yang memengaruhi, dan membuat kami jauh lebih emosional ketika berada dalam masa itu. Lagi pula, kau tak berhak menyebutnya sebagai 'aneh' Aku lebih menyukai kata 'unik'. Aku rasa kau pasti memahaminya," protes Blaire tanpa mengalihkan pandangan dari depan.


"Baiklah. Sejujurnya aku tak suka jika harus berdebat dengan seorang wanita, karena bagaimanapun juga mereka tak akan pernah bisa menerima kesalahan ...."


"Hey, kau ...." Blaire meluruskan telunjuk dan akan kembali melakukan protes. Namun, tatapan lembut Aaron seketika membuatnya mengurungkan hal itu. Blaire justru malah memperhatikan sepasang bola mata biru milik pria berwajah tampan nan ramah tersebut.


"Aku tidak suka pria bermata biru!" dengus Blaire seraya mempercepat langkah. Kebetulan, saat itu ketiganya telah memasuki kawasan tempat tinggal mereka yang asri dan juga begitu tenang. Gadis berambut pirang itu terus berjalan cepat meninggalkan Aaron yang tampak kebingungan.


Sedangkan Viktorija yang berada di belakang mereka, segera menghampiri putra sang tetangga. "Apa semua baik-baik saja, Aaron?" tanyanya.


"Aku rasa putri Anda sedang PMS, Nyonya," jawab Aaron seraya menggaruk kening menggunakan tangan kiri.


"Putriku sedang sensitif. Namun, dalam beberapa hari juga dia akan kembali membaik. Blaire adalah gadis yang sangat menyenangkan. Bukan karena dia putriku, tapi ... memang seperti itulah," terang Viktorija seraya meraih payung dari pegangan Aaron. "Terima kasih, Aaron. Kapan-kapan mampirlah ke rumah kami untuk makan malam." Viktorija melayangkan senyumannya, sebelum berlalu meninggalkan pria itu di depan rumah yang kemarin masih ditempati oleh Christian.


"Tentu, Nyonya. Terima kasih atas undangan Anda," sahut Aaron yang merasa terkesan dengan keramahan Viktorija. Pria itu mematung untuk sejenak di trotoar depan rumah.


Tak berselang lama, dia teringat akan sesuatu. "Nyonya, tunggu!" cegahnya setengah berseru. Dia lalu menghampiri Viktorija yang segera menoleh. "Apakah Blaire mengalami trauma terhadap pria bermata biru?" tanya Aaron penasaran.