Edinburgh

Edinburgh
Lost Focus



Hari beranjak siang. Blaire asyik menemani Ainsley menonton televisi, sementara Christian tampak tertidur pulas di atas sofa. Hingga menjelang sore, pria itu terbangun dan segera masuk ke kamar mandi. Sementara Ainsley telah terlelap setelah diberi obat.


"Apa kau masih merasa nyaman tak berganti pakaian sama sekali, Chris?" tanya Blaire sambil meringis geli.


"Mau bagaimana lagi," sahut Christian.


"Tak apa jika kau ingin pulang dan membawa baju ganti terlebih dulu," ucap Blaire. "Aku bisa menemani Ainsley di sini sendirian. Lagi pula, usiaku sekarang sudah dua puluh delapan tahun, Chris. Aku telah menjadi ibu selama lima tahun," ujarnya.


Mendengar ucapan demikian dari Blaire, Christian yang tengah duduk di tepian ranjang Ainsley pun segera menoleh. Pria itu kembali memandangi paras cantik yang masih sangat dirinya rindukan, tapi tak akan dia miliki.


"Jarak antara Glasgow dan Edinburgh hanya satu jam. Kau bisa pulang-pergi dalam satu hari. Itu juga jika dirimu sanggup dan tidak merasa lelah," gurau Blaire setengah meledek.


"Maksudmu? Kau pikir staminaku sudah berkurang karena usia?" Christian beranjak dari duduknya. "Jangan sembarangan, Nona Shuterland. Kau tidak tahu jika aku masih sanggup untuk ...." Christian tak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap Blaire dengan sorot yang terlihat sangat aneh.


Sementara Blaire hanya tersenyum tenang. Dia seakan menantang pria itu untuk melanjutkan ucapannya yang terjeda. "Lima tahun menghilang, kau jadi banyak bicara. Aku rasa kali ini dirimu tidak sependiam dulu, Chris?" ujar gadis cantik tersebut.


"Ya, dan justru dirimu yang kini menjadi pendiam. Padahal dulu kau sangat berisik dan juga begitu mengganggu, Nona Shuterland," balas Christian kemudian. Dia lalu duduk sambil membuka layar ponsel.


"Kau pikir aku tidak terkejut dengan segala hal yang terjadi dalam hidupku, Christian? Kenapa kau tidak bertanya tentang apa yang kulakukan, saat pertama kali mengetahui bahwa diriku sedang hamil."


"Kau pasti menangis sambil menjerit-jerit," sahut Christian tak acuh.


"Ah tidak juga. Aku sudah melempar kaca rias dengan botol parfume saat mengetahui kau pergi dari rumah itu," ujar Blaire. Untuk kali ini, dia dapat menceritakan kenangan buruk tersebut dengan raut tenang.


"Lalu apa yang kau dapat?" tanya Christian. Dia mengalihkan sejenak perhatiannya kepada Blaire yang saat itu tak menjawab. Gadis cantik tersebut hanya memandang dengan lekat. Merasa jika gadis di hadapannya tak berniat untuk memberikan penjelasan apapun, Christian lalu tersenyum simpul. "Apa kau ingin bicara dengan seseorang?" tawarnya beberapa saat kemudian.


"Siapa?" tanya Blaire penasaran.


"Kemarilah." Pria itu mengisyaratkan agar Blaire berpindah tempat duduk ke dekatnya. Tanpa merasa ada beban apapun, Blaire menurut saja. Dia bahkan duduk merapat kepada Christian, hingga dadanya bersentuhan langsung dengan lengan kekar pria itu. Hal tersebut membuat ayah kandung Ainsley tiba-tiba kehilangan konsentrasi. Christian tampak menelan ludahnya. Namun, dengan segera dia kembali menetralkan segala yang ada di dalam pikiran.


"Hola, Pandora. ¿Cómo estás? (Hai, Pandora. Bagaimana kabarmu?)," sapa Christian, ketika paras cantik sang adik sudah terlihat di layar ponselnya.


"Hai, Chris. Kabarku sangat baik. Keterlaluan sekali. Kenapa kau baru menghubungi sekarang? Astaga, aku sangat mengkhawatirkanmu." Pandora tampak merapikan rambut, setelah dari arah belakang terlihat seorang pria yang muncul kemudian mengacak-acaknya. "Hei, kau selalu saja!" protes wanita muda itu pada pria yang tak lain adalah sang suami, Bruce.


"Aku sangat sibuk. Putraku mengalami kecelakaan. Saat ini kami bahkan sedang berada di rumah sakit," sahut Christian yang berbicara dalam bahasa Spanyol.


"Ya semoga," balas Christian singkat. "Apakah kau ingin berbincang dengan seseorang?" tawarnya kemudian setelah melirik ke arah Blaire.


"Siapa ya? Apakah boleh kutebak?" Pandora tertawa renyah. Tampaknya dia sudah mengetahui siapa yang Christian maksud, terlebih ketika wajah sang kakak kini telah berganti menjadi paras cantik Blaire. "Ow ... hai, Blaire," sapa adik kandung Christian tersebut dengan hangat. Kali ini, dia berbicara menggunakan Bahasa Inggris.


"Hai, Pandora." Blaire membalas dengan diiringi sebuah senyuman. Kembali terbayang dalam ingatannya, ketika Pandora mengaku sebagai istri dari Christian. Sesuatu yang menjadi awal dari segala tragedi tak terduga yang telah mengubah hidup gadis berambut pirang tersebut. "Kau terlihat semakin cantik," sanjung Blaire berbasa-basi.


"Kau pun demikian, Blaire," balas Pandora. "Maafkan untuk pertemuan kita waktu itu. Jujur saja bahwa aku sangat sedih dan menyesal karena harus melakukannya, tapi kami tak memiliki pilihan lain. Kuharap kau juga bisa memaafkan Christian. Kakakku sengaja kembali ke Edinburgh untuk melihat keadaanmu, Blaire. Siapa sangka bahwa ternyata dia telah menjadi seorang ayah. Kuharap dia bisa menjadi panutan untuk Ainsley," tutur Pandora panjang lebar. Wanita muda berambut gelap tadi terlihat sangat ramah dan juga hangat. Karakter yang bertolak belakang dengan Christian.


"Ya, dia menjadi ayah yang sangat baik dan juga penuh tanggung jawab," sahut Blaire. "Jadi, kau sudah berkenalan dengan Ainsley?" tanya Blaire. Dia merasa nyaman berbincang dengan Pandora. Adik kandung Christian tersebut, memiliki karakter yang sama dengan dirinya.


"Kami sering melakukan panggilan video jika dia sedang berada di toko milik Christian. Anakmu sangat menggemaskan, Blaire." Pandora kembali tertawa renyah. "Bolehkah jika aku melihat keadaannya?"


"Oh tentu, tapi sekarang dia sedang tidur." Blaire berdiri sejenak, kemudian mengarahkan kamera ponsel ke arah ranjang di mana Ainsley terbaring.


"Ya, Tuhan. Kasihan sekali dia," sesal Pandora.


Perbincangan pun terus berjalan. Blaire dan Pandora bisa langsung akrab seperti itu. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan bagi seorang Christian. Beberapa saat kemudian, percakapan di antara dua wanita yang sangat berarti bagi Christian pun telah berakhir. Pria itu terdengar mengempaskan napas pelan. "Wanita," gumamnya pelan.


"Apa maksudmu dengan 'wanita'?" Blaire menatap Christian. Tatapan gadis itu terlihat aneh.


Akan tetapi, Christian tak menjawab. Dia hanya menyandarkan kepala dengan posisi mendongak. Pria itu juga memejamkan mata dan seakan tak hendak menanggapi pertanyaan Blaire.


"Hey, Chris!" Gemas karena Christian tak menggubris dirinya, Blaire pun menggoyang-goyangkan lengan pria berambut gelap tadi, hingga Christian membuka mata lalu menoleh tanpa mengubah posisi. "Kau memang sangat menyebalkan!" gerutu Blaire jengkel. Dia mencubit pinggang si pemilik mata abu-abu itu, hingga membuat Christian tersenyum padanya. Sedangkan Blaire duduk menghadap sambil memasang wajah kesal.


Tanpa mereka ketahui bahwa dari balik kaca pintu ruangan, ada seraut wajah tampan yang sejak tadi memperhatikan kebersamaan mereka. Aaron yang awalnya bermaksud untuk masuk dan menyapa Blaire serta Ainsley, langsung saja mengurungkan niat tersebut. Dia melangkah gontai dan kembali ke tempat di mana dirinya memarkirkan mobil. Tak berselang lama, sedan hitam itu pun melaju pergi dari area parkir rumah sakit tadi.


Selama dalam perjalanan, pria tampan bermata biru itu terus melamun. Pikirannya mulai bercabang. Bayangan Aaron sudah semakin tak karuan, apalagi ketika dia teringat bahwa selama sehari semalam Blaire dan Christian berada di dalam ruangan yang sama. Siapa yang tahu dengan apa yang mereka perbuat di sana.


Aaron semakin kehilangan fokusnya dalam mengemudi. Dia baru tersadar, ketika mobil yang dikendarainya hampir menabrak seorang yang tengah menyeberang jalan. Pria berambut pirang itu pun mengeluh pelan. Bagaimana tidak, jalur yang diambilnya bukanlah menuju ke Kota Edinburgh. Aaron kini justru berada di pusat hiburan kota Glasgow.


"Sialan!" gerutu calon suami Blaire tersebut sambil memukul kemudi. Merasa kepalang tanggung, Aaron pun melanjutkan perjalanan hingga dirinya tiba di depan sebuah pub yang baru buka. Dia mungkin menjadi pengunjung pertama di tempat yang masih sepi tadi. Namun, itulah yang sedang dia cari.


Akan tetapi, sepertinya Aaron tak akan benar-benar menghabiskan waktu seorang diri, karena seraut wajah cantik menyambut dia dengan sebuah senyuman hangat.