Edinburgh

Edinburgh
Morning Fight



Malam yang panjang dengan sejuta kisah masa lalu dari seorang Christian telah berlalu. Pagi itu, Blaire dan Viktorija sudah selesai menata meja makan untuk sarapan. Kedua wanita lintas usia tadi langsung saja tertegun dan menghentikan sejenak aktivitas mereka, ketika mendengar celotehan Ainsley yang baru muncul dari lantai atas. Dia turun sambil berjalan kaki dengan dituntun oleh Christian.


Untuk sesaat, Blaire dan Viktorija saling pandang dengan heran. Pasalnya, Ainsley tidak pernah bangun sepagi itu. Dia juga akan malas-malasan dan harus digendong tiap kali menuruni anak tangga. Namun, kali ini bocah lima tahun bermata abu-abu tersebut bahkan sudah terlihat rapi. Rambut pirangnya tersisir ke samping, serta telah berganti pakaian dengan yang baru.


"Duduklah, Ains." Christian menempatkan putranya pada salah satu kursi di meja makan. Dia lalu menurunkan tubuh di hadapan Ainsley. "Mulai hari ini, kau harus bangun pagi dan tidak boleh merengek lagi. Setelah itu, ikutlah sarapan bersama dengan ibu dan juga nenekmu."


Seusai berkata demikian, Christian kembali menegakkan tubuh. Dia menoleh sejenak kepada Blaire yang tengah menatap penuh perasaan terhadapnya. Sesaat kemudian, Christian lalu mengalihkan pandangan kepada Viktorija. "Selamat pagi, Nyonya Shuterland," sapa pria tampan tersebut.


"Selamat pagi," balas Viktorija tidak terlalu menanggapi sapaan Christian. Wanita paruh baya tersebut memilih untuk menghindar dan mencari kesibukan lain.


Melihat hal itu, Christian pun tahu diri. Dia kembali menoleh kepada Blaire yang tampak mengisyaratkan sesuatu. Tanpa harus diperingatkan, Christian kemudian beralih kepada Ainsley. "Aku pergi dulu. Makanlah yang banyak," ucapnya.


"Apa nanti malam Paman akan tidur lagi di kamarku?" tanya Ainsley dengan polos.


"Tidak, Sayang. Nanti malam aku yang akan menemanimu," sahut Blaire diiringi senyuman lembut.


"Sayang sekali," sesal Ainsley tampak merengut.


"Tidak apa-apa. Kau adalah anak laki-laki. Jadi, kau harus berani dan tentu saja menjadi pelindung bagi ibu dan juga nenekmu," ujar Christian menimpali.


Ainsley pun segera menoleh padanya. "Ibu dan nenekku adalah wanita pemberani, Paman," sahut Ainsley membuat Viktorija yang tengah menyibukan diri di dapur segera tertegun, lalu menghentikan aktivitasnya untuk beberapa saat.


"Aku tahu itu," balas Christian. "Sampai nanti, Ains." Christian lalu menatap Blaire untuk sejenak, sebelum akhirnya membalikkan badan. Pria itu melangkah gagah menuju pintu.


"Sampai nanti, Paman." Ainsley melambaikan tangan, ketika Christian menoleh, kemudian tersenyum simpul. Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Christian segera membuka pintu dan berjalan keluar dari dalam rumah.


Namun, baru saja kakinya melangkah sebanyak dua kali ayunan, sesosok tubuh yang sama tegap seperti dia telah berdiri menghadang. Christian pun berhenti. Ayah kandung Ainsley tersebut membalas tatapan aneh dari pria yang tak lain adalah Aaron Walsh. Tak ingin banyak bicara, Christian hanya mengangguk pelan. Dia pun bermaksud untuk melanjutkan langkah.


Akan tetapi, niat pria tampan bermata abu-abu itu harus dirinya urungkan, ketika Aaron tiba-tiba menyapa. "Apakah Anda pemilik toko sebelah kedai milik nyonya Shuterland?"


“Ya,” sahut Christian mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Dia dapat merasakan tatapan Aaron yang terus mengikuti dan seakan tengah menelisik dengan saksama.


Akan tetapi, pria asal Meksiko itu tak peduli. Dia terus berlalu meninggalkan pekarangan halaman rumah Blaire.


Sementara Aaron yang sempat terdiam sejenak, segera membalikkan badan dan mengetuk pintu kediaman Blaire. Tak berselang lama, sang pemilik rumah membukanya dengan wajah yang sedikit terkejut. Seperti biasa, gadis itu selalu tampak luar biasa di mata Aaron. “Kau sudah datang? Tumben sepagi ini,” ucap Blaire seraya tersenyum manis untuk menutupi rasa gugupnya.


“Ya. Kebetulan aku hendak ke London sebentar lagi. Rencananya aku akan menginap di sana selama dua hari,” ucap Aaron tanpa ditanya. Pria itu kemudian bergegas masuk setelah Blaire membuka pintu lebar-lebar. Mereka berdua lalu berjalan menuju meja makan, di mana Ainsley sudah menunggu. Bocah tampan tersebut sedang memainkan clay dinosaurusnya.


“Hei, jagoan. Apa itu yang sedang kau mainkan?” tanya Aaron seraya menurunkan tubuhnya di sebelah Ainsley.


“Sekawanan dinosaurus, Paman. Bagus, ‘kan?” Ainsley menunjukkan beberapa claynya di depan wajah Aaron.


“Ya, ini bagus sekali." Aaron tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambut Ainsley yang sudah tersisir rapi.


“No!” cegah Ainsley. Dua tangannya menahan laju tangan Aaron tiba-tiba. “Rambutku sudah bagus. Jangan diacak-acak, Paman,” protesnya sambil merengut lucu.


“Oh maafkan aku, Ainsley. Aku tak melihatnya,” ujar Aaron seraya tergelak. Dia pun akhirnya memperhatikan rambut pirang Ainsley yang memang tampak jauh lebih rapi dari biasanya. “Siapa yang menyisir rambutmu? Ibu atau nenek?” tanya pria itu dengan raut sok penasaran.


“Paman tampan?” ulang Aaron. Sorot mata birunya kemudian beralih pada Blaire yang tengah mengisi semangkok sereal untuk Ainsley. “Apakah paman tampan itu adalah pria pemilik toko barang antik yang baru saja keluar dari rumahmu, Blaire?” Nada bicara Aaron terdengar penuh selidik.


“Ya,” jawab Blaire singkat. Dia sengaja menghindari kontak mata dengan Aaron. Blaire tak sanggup memandang sorot yang penuh keingintahuan dari pria tampan tersebut.


“Untuk apa dia datang kemari sepagi ini?” tanya Aaron lagi merasa aneh sekaligus penasaran.


“Paman tampan datang sejak semalam. Aku mimpi buruk, lalu paman tampan menggendong serta menemaniku tidur,” sela Ainsley, berusaha menjawab pertanyaan Aaron yang sebenarnya tak ditujukan kepadanya.


“Oh ya?” Aaron terbelalak sempurna mendengarkan penjelasan Ainsley. “Benarkah itu?”


Blaire hanya bisa mengangguk, lalu menunduk dalam-dalam. Gadis itu berharal agar Aaron tak bertanya lebih jauh tentang Christian. Namun, harapannya itu tak terkabul, karena Aaron sudah bersiap untuk mengorek informasi yang lebih banyak lagi.


“Untuk apa dia menginap di sini, Blaire? Kenapa dia sampai harus ikut menidurkan Ainsley? Tidakkah ini aneh menurutmu?” cecar Aaron yang tampak sangat serius.


“Dia ….” Blaire menelan ludah sambil berpikir. Dua sisi hati gadis cantik tersebut saling berperang, antara menceritakan yang sebenarnya atau tidak, hingga Blaire pun memilih untuk bercerita. “Dia adalah Christian. Ayah kandung Ainsley,” jawabnya dengan tegas.


Tak hanya Aaron yang terkejut. Demikian pula halnya dengan Ainsley. “Ayah?” ucap keduanya secara bersamaan.


“Apakah benar dia ayahku, Bu? Lalu kenapa nenek mengatakan jika ayah sudah meninggal?” Mata abu-abu Ainsley mulai berkaca-kaca.


“Jadi, itukah sebabnya kau tidak segera menerima pinanganku, Blaire? Karena dia sudah datang kembali dalam hidupmu?” Aaron ikut menyahut. Raut tampannya terlihat begitu kecewa.


“Tidak, Aaron. A-aku ....” Blaire tergagap. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan keningnya. Entah jawaban apa yang akan dia persembahkan untuk sang kekasih yang telah banyak berjasa tersebut.


“Baiklah. Aku mengerti,” sela Aaron sambil tersenyum getir. Untuk beberapa saat lamanya, dia memandang wajah cantik Blaire yang tanpa polesan make up. “Aku pergi dulu,” pamitnya sambil bergegas meninggalkan ruang makan.


Sedangkan Blaire hanya terpaku di tempat dia berdiri. Gadis itu sama sekali tak berusaha mengejar Aaron. Dia terus terdiam sampai Viktorija masuk dari pintu dapur yang berbatasan langsung dengan kebun belakang.


“Katakan bahwa aku tidak salah dengar, Blaire,” pinta wanita paruh baya itu dengan penuh penekanan. “Aaron melamarmu?” Nada bicara Viktorija terdengar bergetar.


“Begitulah,” jawab Blaire malas-malasan. Dia lebih memedulikan Ainsley yang berubah murung. “Kau tidak apa-apa ‘kan, Sayang?” tanyanya lembut.


“Tidak, aku sedih sekarang, Bu. Kau dan nenek sudah membohongiku,” jawab Ainsley dengan bibir melengkung.


“Oh, Ainsley.” Blaire mencoba untuk merengkuh tubuh mungil sang putra. Akan tetapi, bocah itu sudah lebih dulu menghindar. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berpindah ke kursi yang lain.


“Ainsley.”


“Blaire.”


Viktorija dan putrinya berucap dalam waktu yang bersamaan.


“Kumohon, Bu. Ini bukanlah waktu yang tepat.” Blaire menggeleng lemah.


“Aku tidak mau tahu. Apapun yang terjadi, kau harus menerima lamaran Aaron!” tegas Viktorija, tanpa memedulikan cucunya yang mulai menangis.