Edinburgh

Edinburgh
Little Life



Tak ingin membuang waktu, Aaron segera saja membuka pintu rumah Blaire kemudian berlari ke dalam. Dia menaiki tangga dengan secepat kilat menuju kamar gadis cantik tersebut. “Blaire!” serunya panik ketika melihat tubuh Blaire terduduk di lantai samping ranjang.


“Sakit sekali, Aaron,” rintih gadis itu dengan satu tangan yang mencengkeram erat bed cover. Sedangkan tangan lain memegangi perut besarnya.


“Bertahanlah, Blaire!” Pelan dan hati-hati, Aaron menggendong tubuh Blaire, kemudian membawanya menuruni anak tangga. Sekuat tenaga, dia membawa Blaire ke rumahnya yang hanya terhalang dua bangunan. Tanpa menurunkan gadis cantik yang tengah kesakitan itu, Aaron meneriakkan nama adiknya.


Beberapa saat kemudian, keluarlah sang ibu sambil tergopoh-gopoh. “Astaga. Ada apa ini, Aaron?” tanyanya panik.


“Panggilkan Natalie atau Sabrina, Bu! Suruh salah satu dari mereka untuk mengeluarkan mobil dari garasi. Aku akan membawa Blaire ke rumah sakit. Sepertinya dia akan segera melahirkan,” jawab Aaron panik.


“Astaga, baiklah! Tunggu sebentar.” Anette pun ikut panik. Wanita paruh baya tersebut masuk kembali ke dalam rumah. Tak berselang lama, rolling door garasi telah terbuka. Tampak Sabrina tengah menjalankan mobil sang kakak hingga keluar sampai ke jalan depan.


“Dudukkan Blaire di sini, Aaron!” Sabrina turun dari kendaraan, lalu membukakan pintu samping untuk Blaire.


Dengan hati-hati, Aaron mendudukkan Blaire dan memastikan gadis itu merasa nyaman dengan posisinya. “Sabrina, tolong hubungi nyonya Sutherland. Katakan padanya jika aku telah membawa Blaire ke rumah sakit,” titah Aaron sebelum memasuki kendaraan. Sesaat kemudian, pria tampan berambut pirang itu melajukannya dengan kencang menuju rumah sakit pusat kota.


Sesampainya di sana, beberapa petugas sigap membantu menurunkan Blaire. Mereka mendudukkan gadis itu di atas kursi roda. Seorang perawat meminta Aaron untuk terus mengikuti mereka hingga masuk ke ruangan bersalin. Tak mempunyai pilihan, Aaron akhirnya mengangguk dan terus berjalan di belakang para perawat.


“Chris, sakit!” Sebuah teriakan spontan, lolos dari bibir polos Blaire. Lagi-lagi, dia meneriakkan nama seseorang yang tak ada di dekatnya. Pria yang bahkan mungkin tak tahu, bahwa gadis yang masih mempertahankan perasaan cinta itu terhadap dia, tengah berjuang melahirkan keturunannya.


“Aku ada di sini, Blaire. Berjuanglah." Aaron maju dan menggenggam erat tangan gadis itu tanpa permisi. Sementara beberapa orang perawat tengah sibuk memasangkan selang oksigen ke hidung Blaire. Perawat lain menempelkan berbagai macam alat medis di lengan dan juga di atas perut Blaire yang membuncit.


“Sakit sekali, Aaron. Aku tidak kuat.” Blaire terus merintih dan meringis. Ini adalah pengalaman pertama bagi gadis itu merasakan sesuatu yang begitu menakutkan. “Di mana ibu? Kenapa ibu belum datang juga?” Jemari Blaire memucat saat dia ganti mencengkeram tangan kekar Aaron. Kuku-kukunya yang runcing bahkan menancap di punggung tangan pria berambut pirang tersebut.


“Nyonya Sutherland sedang dalam perjalanan, Sayang. Bertahanlah.” Jantung Aaron seakan berhenti berdetak, ketika dia kelepasan memanggil Blaire dengan sebutan ‘Sayang’. Namun, untungnya Blaire tak mendengarkan apa yang dia katakan tadi, karena gadis itu tengah berjuang melawan rasa sakit yang teramat sangat.


Keadaan menjadi terkendali, ketika seorang dokter kandungan memasuki ruangan. Dia mulai menuntun Blaire untuk melakukan persalinan secara normal. Selama rentang waktu itu, tak sedetik pun Aaron melepaskan genggamannya dari tangan Blaire. Pria itu memposisikan dirinya sebagai sosok pelindung untuk Blaire. Dia menggantikan tugas Christian yang lebih berhak berada di tempat bersalin tersebut dan menemani hingga bayi mereka lahir.


Namun, Aaron sudah tak peduli lagi, meskipun Blaire tak menyadari segala hal yang telah dia lakukan selama ini. Prioritasnya saat itu hanyalah agar Blaire dapat melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat.


Hampir satu jam lamanya, dokter kandungan berusaha mengeluarkan makhluk mungil dari dalam perut Blaire. Sesaat kemudian, terdengarlah tangisan yang begitu nyaring dari seorang bayi. Suaranya kuat dan membahana, bersamaan dengan kedatangan Viktorija di rumah sakit tersebut.


Blaire yang kelelahan bersimbah keringat, menatap haru pada makhluk kecil yang selama ini hanya dapat dia rasakan pergerakannya di dalam perut. Air mata menetes saat menyentuh bayi yang baru dia lahirkan tersebut.


"Bayimu laki-laki, Blaire. Lihatlah, dia mungil sekali," bisik Aaron. Ada rasa haru yang menyeruak dalam dada. Aaron masih lajang dan tak pernah menghamili gadis manapun. Akan tetapi, kini dia berada di posisi seakan dirinyalah ayah dari bayi suci yang terus bergerak pelan mencari sumber kehidupan dari sang ibu.


Sedangkan Blaire tak mampu berkata apapun. Perasaannya begitu campur aduk tak karuan. Dia seperti tengah berdiri di batas antara mimpi dan kenyataan. Kedua hal tersebut begitu sulit untuk dipercaya. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa kini dirinya telah menjadi seorang ibu.


"Sulit dipercaya. Akhirnya aku harus menyadari bahwa diriku memang sudah tua. Lihatlah, Aaron. Aku telah menjadi nenek dari bayi mungil ini." Viktorija tersenyum lebar, ketika dia meraih bayi yang telah dibersihkan itu ke dalam gendongannya.


"Apakah Anda sudah menyiapkan nama untuknya, Nyonya?" tanya Aaron yang sedari tadi tak jua berhenti tersenyum. Dia terus memperhatikan setiap gerakan kecil dari si bayi.


"Ainsley?" ulang Viktorija. "Nama yang bagus. Terdengar menenangkan," ucap wanita tersebut. "Baiklah. Selamat datang di keluarga kami, Ainsley Shuterland. Kuharap kau menjadi anak yang baik dan juga hebat." Viktorija mencium pipi cucunya dengan penuh kasih.


Sementara Aaron masih dengan senyumannya. Dia lalu mendekat ke arah ranjang, kemudian duduk di tepian sambil menghadap kepada Blaire. "Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa kau ingin sesuatu? Makanan atau apa ...."


"Tidak, Aaron. Terima kasih. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu," tolak Blaire dengan halus.


"Tidak usah sungkan, Blaire. Aku senang bisa melakukan semua ini untukmu," balas Aaron dengan tatapan lembutnya yang membuat Blaire merasa tak nyaman.


Gadis cantik berambut pirang tersebut semakin memahami seperti apa perasaan pria di hadapannya. Namun, tak tahu mengapa cinta itu masih saja tertaut pada seseorang yang entah berada di mana kini. Blaire pun tak mengerti kenapa dia begitu yakin, bahwa Christian pasti kembali. Akan tetapi, andai hal tersebut benar-benar terjadi, maka entah apa yang harus dia lakukan.


Ada rasa marah, sakit, dan juga kecewa yang teramat besar dalam hati gadis itu. Dia tahu jika Christian pasti memiliki alasan kuat yang hingga kini masih menjadi suatu misteri, sama seperti identitas asli dari pria dengan tatapan dingin dan tajam tersebut.


Keesokannya, Blaire sudah diizinkan pulang. Sejak saat itu, dia melewati banyak moment berbeda dalam hari-hari yang dirinya jalani. Blaire mengikuti pertumbuhan si kecil Ainsley yang juga tak pernah lepas dari perhatian seorang Aaron.


Pria tampan tersebut bersikap sangat baik dan juga begitu peduli. Aaron kerap mengajak Ainsley bermain atau sekadar berjalan-jalan di sekitar kawasan perumahan, dari mulai balita lucu itu belajar merangkak, duduk, hingga berlatih berdiri. Tanpa terasa, Ainsley kecil pun sudah bisa berjalan dengan lancar.


Ainsley, dia memiliki rambut pirang seperti Blaire. Kulitnya putih dan bersih serta bibir kemerahan. Satu hal yang selalu membuat perasaan Blaire menjadi tak karuan adalah, bola mata putranya begitu mirip dengan milik Christian. Balita menggemaskan itu juga teramat aktif. Blaire dan Viktorija kerap merasa kewalahan dalam mengasuhnya. Akan tetapi, dengan melihat Ainsley tumbuh sehat serta normal, itu sudah menjadi sebuah anugerah yang benar-benar tak ternilai bagi kedua wanita tersebut.


"Duduk manis dan makanlah." Blaire menempatkan putranya pada kursi khusus bayi, yang dia letakkan tak jauh dari dirinya. Sesekali, Blaire menoleh kepada Ainsley yang tengah asyik mengunyah biskuit selagi dia melayani pembeli.


Ya, Blaire kembali ke kedai untuk membantu sang ibu di sana, karena Natalie sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Jadi, adik pertama Aaron tersebut memutuskan untuk berhenti bekerja di kedai.


"Apa itu anakmu?" tanya seorang wanita yang sedang melakukan pemesanan. Dia menatap kepada Ainsley dengan sorot hangat.


"Iya. Usianya delapan belas bulan," jawab Blaire ramah. Dia menoleh sejenak kepada sang anak yang masih asyik menyantap biskuit. Sementara sekitar mulutnya sudah belepotan dengan sisa-sisa makanan.


"Kau memiliki anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Lihatlah, dia juga sangat baik dan tahu jika ibunya sedang sibuk bekerja. Dia tak merengek atau mengganggumu sama sekali," ucap wanita tadi tanpa mengalihkan pandangan dari Ainsley, yang bahkan tak peduli dengan hal lain selain makanan di tangannya.


"Aku membiasakannya untuk ini," balas Blaire. Dia lalu mengambil pesanan si wanita dan segera menyodorkannya. "Ini pesanan Anda," ucapnya.


"Ah, terima kasih. Kuharap kau dan putramu selalu sehat dan berbahagia. Suamimu juga pasti bangga, karena sepertinya kau tipe wanita pekerja keras," ucap wanita itu lagi sambil meletakkan uang pembayaran di atas meja.


Sedangkan Blaire hanya menanggapi dengan sebuah senyuman, sambil menyodorkan uang kembalian. "Terima kasih atas kunjungannya." Blaire masih memasang senyuman, bahkan hingga wanita asing tadi berbalik dan keluar dari dalam kedai.


Wanita yang baru keluar tadi, merupakan pembeli terakhir untuk hari itu. Setelahnya, Blaire dan Viktorija segera menutup kedai. Seperti biasa, setiap hari tatap mata ibunda Ainsley tersebut tak pernah untuk tidak melihat ke arah toko sebelah yang hingga detik itu masih tertutup rapat.


"Mingkinkah jika Christian tidak menjual serta tokonya, Bu? Hingga saat ini, tempat itu masih dibiarkan tutup," ucap Blaire sambil mendorong stroller di mana Ainsley berada.


"Mana kutahu. Pria itu memang sangat aneh," sahut Viktorija terdengar sedikit ketus. Adalah hal yang wajar jika dia bersikap demikian. Blaire pun memilih untuk tak menanggapi lagi. Gadis itu tak ingin berdebat dengan sang ibu, yang begitu tak suka saat mendengar nama Christian disebut dalam perbincangan mereka.