
"Aku berhak untuk ikut campur, karena selama ini aku juga telah ikut merawat dan memperhatikannya. Aku yang menggantikan tugasmu saat kau pergi dan menghilang begitu saja, Christian!" Aaron tak ingin tinggal diam. Dia bergerak mendekat kepada Christian dan juga Blaire.
Seketika, perhatian Christian tertuju pada calon suami ibu dari putranya. Dia tak mengatakan apapun, tapi sorot mata abu-abu itu menyiratkan banyak hal yang tak pria tersebut ungkapkan. Untuk beberapa saat, kedua pria tampan berbeda negara tadi saling pandang dan seakan hendak mengalahkan satu sama lain.
"Satu kesalahan yang tak termaafkan adalah ketika diriku pergi meninggalkan Blaire dan membiarkannya hidup sendiri. Namun, sekarang aku kembali untuk menebus segala hal yang telah kujalani di masa lalu," ucap Christian kemudian. "Aku memang tak sebaik dirimu, Tuan Walsh. Banyak sekali perbuatan tidak terpuji yang telah kulakukan, sehingga nyonya Shuterland pun merasa jijik saat melihatku. Namun, Ainsley ... Ainsley adalah keajaiban yang selama ini tak pernah kudapatkan dalam hidup. Dia putraku, meskipun kau merasa telah memilikinya. Aku berusaha untuk merelakan Blaire denganmu, walau itu sama beratnya dengan ketika melihat kau bersikap bahwa seakan-akan dirimu adalah pemilik dan yang paling berhak atas mereka berdua!"
"Itulah kenyataannya, Christian. Waktumu sudah habis saat kau menyia-nyiakan Blaire yang tengah berbadan dua. Lalu, kini tiba-tiba kau datang dan bersikap seolah-olah bahwa dirimu adalah pria baik penuh kasih sayang," tegas Aaron setengah mencibir.
"Terserah apa katamu. Darahku mengalir di dalam tubuh Ainsley. Itu merupakan sesuatu yang tak bisa kau atau siapa pun pungkiri lagi!" Seusai berkata demikian, Christian lalu menoleh sejenak kepada Blaire yang hanya terdiam. Tanpa banyak bicara, dia pun berlalu dari sana.
Christian melangkah dengan gagah menjauh dari Aaron dan Blaire yang masih saling terdiam. Pria itu baru berhenti, ketika dia berpapasan dengan Viktorija yang sedari tadi memperhatikan mereka. Christian menoleh sejenak kepada wanita paruh baya tersebut. Sesaat kemudian, ayah kandung Ainsley pun melanjutkan langkahnya.
Sementara Viktorija berdiri terpaku. Segala rasa bercampur aduk dalam dada, sehingga membuat dirinya menjadi tampak gusar. Satu sisi hati wanita paruh baya tersebut mengatakan bahwa sikapnya terhadap pria itu memang telah sangat keterlaluan.
Sementara Christian kembali ke dalam. Dia memilih duduk tak jauh dari Sabrina dan juga Anette, yang memandang ke arahnya dengan raut heran bercampur penasaran. Akan tetapi, lagi-lagi Christian tak memedulikan apa atau siapa pun. Dia hanya duduk terpekur, dengan posisi setengah membungkuk sambil menopang kepala.
Tak berselang lama, Blaire dan Aaron serta Viktorija muncul di sana. Bersamaan dengan itu, dua orang perawat datang dan masuk ke ruang observasi. Tampaknya mereka akan memindahkan Ainsley ke ruang rawat inap.
Benar saja, kedua perawat tadi membawa Ainsley yang belum dipindahkan dari tempat tidurnya. Anak itu juga rupanya sudah mulai siuman. Dia tersenyum kecil, saat orang pertama yang dirinya lihat adalah Christian. "Ayah ...." Suara bocah lima tahun itu masih terdengar begitu parau.
"Aku di sini, Nak," balas Christian sembari mengikuti kedua perawat tadi.
Sementara Anette dan Sabrina seketika saling pandang. Pertanyaan mereka akhirnya terjawab sudah. Anette pun segera menarik lengan Aaron, yang saat itu hendak mengikuti ke arah ruangan di mana Ainsley akan ditempatkan. "Tunggu, Aaron!" cegah ibu tiga anak tersebut. "Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya memastikan.
Aaron pun menoleh. Dia lalu mengangguk pelan. "Ya, Bu. Dia adalah Christian. Ayah kandung Ainsley," jawab Aaron dengan malas.
"Astaga! Sejak kapan pria itu muncul? Bukannya dia pergi dan ...."
"Bu, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Aku sangat mencemaskan Ainsley dan ingin melihat kondisinya," ujar Aaron mencoba menghindari pembahasan tentang Christian.
"Pria itu pernah datang ke rumah kita, Bu. Dia bahkan berbincang akrab dengan Aaron," sela Sabrina ikut menimpali, membuat Anette semakin membelalakan kedua matanya. "Kejutan," celetuk adik pertama Aaron tersebut.
"Jika membutuhkan sesuatu, silakan tekan tombol ini. Nanti petugas kami akan segera kemari," pesan salah seorang dari kedua perawat tadi. Dia menunjuk pada tombol yang berada di atas ranjang Ainsley. "Sebaiknya jangan terlalu banyak orang di dalam kamar. Kami sarankan cukup dua orang saja yang menjaga anak ini, agar pasien tidak terganggu dan dapat beristirahat dengan maksimal."
Christian dan Blaire mengangguk secara bersamaan. Sementara Aaron tak banyak bicara, apalagi saat dirinya melihat Christian yang tengah memberikan Ainsley minum dengan menggunakan sedotan. Dia pun berlalu keluar kamar, dan akan melihat kondisi anak itu nanti setelah keadaannya jauh lebih stabil.
Tak berbeda dengan Aaron, Viktorija pun melakukan hal yang sama. Setelah melihat keadaan sang cucu untuk sejenak, wanita paruh baya tersebut segera keluar diikuti oleh Blaire. Sedangkan Christian masih duduk di tepian ranjang sambil menemani Ainsley.
"Aku rasa sebaiknya Ibu pulang saja. Aku dan Christian yang akan menjaga Ainsley di sini. Lagi pula, Ibu harus membuka kedai besok pagi," ujar Blaire menyarankan.
"Blaire ...." Aaron sepertinya hendak melakukan protes.
Akan tetapi, sebelum pria berambut pirang tersebut melanjutkan ucapannya, dengan segera Viktorija kembali mengatakan sesuatu. "Baiklah kalau begitu. Lagi pula, ini sudah terlalu sore. Aku akan kembali lagi besok dan membawakan barang-barang yang kau butuhkan. Ayo, Aaron. Kau harus mengantarkanku pulang ke Edinburgh." Viktorija menoleh kepada calon menantunya.
"Tentu, Nyonya Shuterland. Aku juga harus mengantarkan ibu beserta adikku kembali ke sana, tapi izinkan aku untuk berbicara sebentar dengan Blaire." Tanpa menunggu jawaban dari Viktorija, pria bermata biru itu segera meraih pergelangan tangan Blaire. Dia membawa gadis cantik tersebut sedikit menjauh dari calon ibu mertuanya.
"Ada apa, Aaron?" tanya Blaire penasaran.
"Apa kau akan tetap merawat Ainsley di sini? Maksudku ... bagaimana jika dipindahkan saja ke rumah sakit di Edinburgh. Dengan begitu, kami juga jadi lebih mudah jika ingin menjenguknya," usul Aaron.
"Baiklah. Aku akan membicarakan hal itu dengan Christian terlebih dulu. Lagi pula, saat ini kondisi Ainsley masih sangat lemah."
"Ya, pikirkanlah. Menurutku itu bukan ide yang buruk. Aku rasa, Christian pun pasti akan setuju dengan usulan tadi," ucap Aaron lagi setengah mendesak. Selain alasan mobilitas yang jauh lebih mudah, tentu saja Aaron tak ingin membiarkan Blaire terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan Christian.
"Ya. Aku akan membicarakannya dengan Christian. Kau tidak perlu khawatir." Blaire tersenyum kecil.
"Satu hal lagi, Blaire," ujar Aaron kemudian. “Kuharap kebersamaanmu dengan Christian saat merawat Ainsley, tak membuat kau menjadi berubah pikiran apalagi sampai membatalkan rencana pernikahan kita." Aaron berkata demikian dengan perasaan tak enak. Dia berharap agar Blaire tidak tersinggung atas ucapannya. Namun, pria itu pun tidak sanggup jika harus menahan kegelisahan yang terus mengusik karena rasa cemburu.
"Apa maksudmu, Aaron? Kenapa kau berkata begitu?" Blaire menatap lekat calon suaminya dengan raut keheranan.
"Aku tidak bodoh, Blaire. Aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Perasaan dan tatapan penuh cinta darimu untuk Christian."