
Wajah lusuh Aaron seketika berubah ceria, saat mendengar pertanyaan tadi. Rasa sakit di kepalanya pun langsung hilang dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan yang tiada terkira. "Tentu saja, Blaire. Aku selalu menunggu jawaban darimu. Kuharap ini seperti yang ada dalam anganku selama ini." Aaron memandang penuh cinta kepada gadis cantik yang teramat istimewa di hatinya.
Sementara Blaire menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Dia mengangguk pelan, sebagai pertanda bahwa dirinya setuju dengan lamaran yang kemarin-kemarin Aaron layangkan. "Iya, Aaron. Aku bersedia menikah denganmu," jawabnya lirih.
Tak terkira betapa bahagia perasaan Aaron saat itu. Tanpa permisi, dia langsung saja memeluk Blaire dengan erat. "Terima kasih, Blaire. Terima kasih, Sayangku." Aaron terlampau bahagia, sampai-sampai dia tak hendak melepaskan dekapannya dari gadis tersebut.
Sementara Blaire berusaha sekuat tenaga untuk menghalau segala perasaan yang berkecamuk dalam dada. Dia harus menahan air mata agar tak jatuh dan menetes di pipinya. Blaire tak boleh memperlihatkan raut sedih apalagi terluka karena pilihan yang telah dia tentukan.
Sesaat kemudian, Aaron merenggangkan pelukan di antara mereka. Dia lalu memandang paras cantik Blaire, yang kini telah memantapkan hati untuk bersanding dengan dirinya. Begitu mesra dan penuh perasaan, pria itu mengecup kening sang kekasih. "Aku ingin secepatnya. Bagaimana jika pertengahan musim panas ini?" tawar pria berambut pirang tersebut.
"Apa?" Blaire membelalakan kedua mata karena tak percaya. "Pertengahan musim panas? Apakah itu tidak terlalu terburu-buru?" pikirnya.
"Tidak ada kata terlalu terburu-buru, Sayang. Aku ingin secepatnya dapat memilikimu. Kau tidak perlu khawatir atau memikirkan apapun, karena aku yang akan mengurus semuanya." Sepasang mata biru milik Aaron tampak begitu bersinar dengan indah. Binar kebahagiaan tersebut tampak begitu jelas di sana, membuat si pemiliknya tak henti menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Aku akan segera mengurus semuanya. Kau hanya tinggal duduk manis sampai nanti waktunya kita memilih desain kartu undangan serta gaun pengantin. Aku sudah tidak sabar lagi." Aaron terus saja tersenyum lebar.
Begitu juga dengan Blaire yang harus melakukan hal sama. Senyuman palsu tadi baru memudar, ketika dia telah berada di atas trotoar dalam perjalanan menuju kedai. Sambil terus melangkah tanpa melepaskan genggaman tangan dari Ainsley, Blaire tampak melamun.
Ingatan gadis itu kemudian tertuju pada beberapa tahun silam, ketika Christian mengatakan jika senyuman tak menggambarkan kebahagiaan. Saat itu, Blaire menegaskan bahwa dirinya tak akan pernah menjadi seseorang yang berpura-pura. Namun, kini kenyataan mengharuskan dia melakukan hal tersebut.
Lamunan ibu satu anak itu terus berlangsung, hingga dirinya tiba pada area deretan pertokoan di mana kedainya berada. Namun, Blaire terus saja melangkah meski dia telah tiba di depan kedai. Gadis itu baru berhenti, ketika sudah berada di depan toko milik Christian. Dia pun membuka pintu, kemudian masuk.
Tampaklah Christian yang baru menyelesaikan transaksi dengan seorang pembeli. Pria itu menoleh sejenak kepada Blaire dan juga Ainsley, yang langsung melambaikan tangan terhadapnya. Christian membalas sikap manis sang anak dengan senyuman. Setelah pembeli tadi pergi meninggalkan toko, barulah Christian menghampiri mereka berdua.
"Ainsley mengatakan padaku bahwa dia ingin bermain di sini. Apa kau tidak merasa keberatan?" tanya Blaire dengan suara bergetar.
"Tentu saja tidak. Ainsley boleh datang dan bermain sepuasnya di sini," jawab Christian menatap lekat Blaire. Sesekali, pria tersebut memicingkan kedua matanya.
"Terima kasih, Chris," balas gadis cantik berambut pirang itu. Dia lalu menyodorkan tangan mungil Ainsley yang sejak tadi dirinya genggam. "Jangan nakal. Jangan buat ayahmu kerepotan," pesan Blaire membuat Christian seketika mengernyitkan kening.
"Iya, Bu. Aku janji tidak akan membuat ayah merasa pusing," sahut Ainsley dengan gaya bicaranya yang terdengar lucu dan menggemaskan. Anak itu kemudian memandang ke arah di mana sang ayah berada. Ainsley pun tersenyum ceria. Akan tetapi, lain halnya dengan Blaire. Gadis itu tak tersenyum sama sekali. Dia hanya mengangguk sebelum membalikkan badan, lalu melangkah ke dekat pintu.
Perlahan, Blaire membalikkan badan. Tanpa bicara sepatah kata pun, gadis itu langsung saja menyembunyikan paras cantiknya dalam dekapan pria yang teramat dia cintai. Isakan pelan terdengar dalam ruangan toko, membuat Christian semakin bertanya-tanya.
"Ada apa, Blaire?" tanya Christian sekali lagi.
Akan tetapi, Blaire tak segera menjawab. Gadis itu terus menangis, menumpahkan segala keresahan hati yang sejak tadi dirinya tahan. Seperti sebuah gunung meletus dan mengeluarkan segala hal yang ada di dalam perut bumi, isak kepedihan Blaire pun tercurah sepenuhnya di hadapan seorang Christian.
"Katakan sesuatu padaku," pinta Christian yang semakin merasa penasaran.
"Chris, aku ...." Blaire tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Terlalu berat untuk mengungkapkan pilihan besar yang telah dia putuskan secara mendadak. Entah seperti apa ke depannya, ibu satu anak itu pun tak memiliki gambaran sama sekali. Blaire hanya akan bersikap pasrah, sama seperti ketika dia menanti kembalinya seorang Christian.
"Kenapa, Blaire? Bicaralah," pinta Christian yang kian merasa penasaran. Pria itu bahkan kini telah dirasuki perasaan cemas, meski tak dia tunjukkan secara berlebihan.
"Chirs, aku ... aku telah memutuskan untuk menerima lamaran dari Aaron," ucap Blaire di sela isakannya. "Pertengahan musim panas ini kami akan melangsungkan pernikahan."
Christian semakin mengeratkan pelukannya, ketika dia mendengar apa yang Blaire katakan barusan. Kedua lengannya melingkar erat bagaikan seekor ular yang akan melumpuhkan mangsa. Sementara tatapan tajam nan dingin ciri khas pria itu, makin lama semakin sayu. Perlahan dan begitu lembut, Christian mengecup pucuk kepala ibu dari anak laki-laki yang kini tengah berdiri memperhatikan kedua orang tuanya berpelukan.
"Chris ...." Suara Blaire terdengar begitu lirih, menggetarkan relung hati terdalam Christian. "Apa yang harus kulakukan?" Gadis itu masih terisak pelan.
"Andai saja aku tak pernah meninggalkanmu saat itu, mungkin ceritanya akan menjadi lain." Christian kembali mengecup pucuk kepala Blaire. Dia juga mere•mas lembut rambut panjang wanita yang telah berhasil membuatnya menjadi seseorang yang berbeda, dengan menghadirkan sosok lucu nan menggemaskan, si kecil Ainsley.
"Apa kau merasa yakin dengan keputusanmu, Blaire?" Christian merenggangkan sedikit pelukannya, kemudian menangkup paras cantik Blaire dengan kedua telapak tangan.
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga, Aaron telah melakukan banyak hal untukku dan Ainsley. Dia ...."
"Dia juga sangat mencintaimu, Blaire. Ketika mabuk pun Aaron masih dapat mengatakan hal itu padaku," sela Christian.
"Lalu bagaimana denganmu, Chris? Apa kau akan menerima ini dengan begitu saja?" Blaire menatap paras tampan yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Sorot mata gadis cantik tersebut mengharapkan sesuatu yang lebih dari si pria.
"Aku mencintaimu bahkan sebelum Aaron datang. Aku sudah lebih dulu merasakannya, Blaire. Hingga saat ini pun rasa cintaku tak pernah berubah, apalagi dengan hadirnya Ainsley di antara kita. Namun, aku tak ingin membuat hidupmu berada dalam dilema. Kau berhak untuk memperoleh yang terbaik." Christian kemudian mengecup lembut bibir gadis itu.