Edinburgh

Edinburgh
Proposed



Tiga hari sudah berlalu sejak Aaron meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggal Blaire. Mungkin Blaire tak mencintai pria itu layaknya seorang kekasih. Namun, gadis cantik tersebut tulus menyayanginya sebagai seorang sahabat, yang selalu ada di sisi Blaire dalam situasi yang paling kacau sekalipun.


Ada setitik rasa kehilangan. Sebuah kehampaan di sudut hati ibunda Ainsley tersebut. Akan tetapi, hidup harus terus berjalan, sebesar apapun rintangan yang harus dihadapi. Lagi pula, ada satu pria lain yang juga tak pernah lelah mengejar cinta Blaire. Pria itu juga menyayangi Ainsley dengan segenap hati dan jiwa. Dialah Christian.


Pria itu tampak jauh lebih ceria dibandingkan hari-hari biasanya. Entah kabar gembira apa yang dia bawa, saat berjalan gagah memasuki ruang tamu Kediaman Sutherland.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Christian saat bertemu dengan Viktorija yang hendak pergi ke kedai.


"Selamat pagi, Chris. Apa kau tidak membuka toko hari ini?" tanya wanita paruh baya itu keheranan.


"Aku libur hari ini, Nyonya," jawab Christian sambil tersenyum. Tak ada lagi raut datar dan dingin pada paras rupawan pria asal Meksiko tersebut.


"Oh ya? Memangnya kau mau ke mana?" Viktorija menghentikan langkah dan menghadapkan diri sepenuhnya pada ayah kandung Ainsley itu.


"Aku akan menata barang-barang dan perabot yang baru saja kupesan dari London," jelas Christian kalem.


"Akan kau tata di mana?" Viktorija menautkan alisnya.


"Seperti yang kukatakan pada Aaron beberapa hari yang lalu, aku berencana membeli rumahnya dan dia setuju. Jadi, hari ini, aku akan langsung menempatinya. Kami tinggal mengurus berkas-berkas kepemilikan dengan notaris," jelas Christian.


"Kau berencana pindah ke rumah itu?" sahut Blaire yang ternyata diam-diam menyimak pembicaraan antara ibunya dengan Christian dari tangga. Tampak kepala mungil Ainsley menyembul dari balik tubuh sang ibu.


"Hai, Ayah," sapa bocah tampan itu ceria.


"Hai, Ains. Apa kabarmu hari ini?" Christian merentangkan kedua tangan sebagai isyarat agar Ainsley mendekat dan memeluknya. Dengan antusias, bocoh itu segera menghambur ke dalam pelukan sang ayah yang langsung mendekapnya erat.


"Chris, jawab aku. Apa kau hendak pindah ke rumah itu?" Blaire mengulangi pertanyaannya.


"Ya, Blaire. Aku berencana untuk menempatinya hari ini juga. Aku telah menrasnfer nominal yang disepakati dengan Aaron. Sekarang, rumah itu telah menjadi milikku lagi," jelas Christian. Terlihat jelas ekspresi bahagia dari wajah tampannya.


"Wah kebetulan. Ada pegawai baru yang bekerja di kedai milikku. Dia adalah keponakan Nyonya Charlotte, sehingga Blaire tidak perlu pergi ke kedai tiap hari," cetus Viktorija seraya tersenyum penuh arti.


"Baiklah, aku pergi dulu. Hari sudah mulai siang," pamit Viktorija. Dia melambaikan tangan kepada semua, sebelum menutup pintu depan dan menghilang di baliknya.


"Jadi, apakah kau mau membantuku, Ains?" tanya Christian mengalihkan pandangan kepada sang anak, yang masih berada dalam dekapannya.


"Apa kita akan berbenah di rumah paman Aaron?" tanya Ainsley dengan polos.


"Ya, Ains. Paman Aaron memberikan rumahnya untuk kita. Bagaimana menurutmu?" Christian memandang lekat ke arah bocah yang memiliki warna bola mata yang sama dengan dirinya.


"Berarti aku mempunyai dua rumah ya, Ayah?" Ainsley membelalakkan mata seraya mengacungkan dua jari tepat ke depan wajah Christian, membuat pria berambut gelap itu seketika terbahak sampai matanya menyipit. Hal yang tak lepas dari perhatian Blaire. Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya, di tengah-tengah anak tangga.


"Apa kau akan ikut dengan kami, Blaire? Sesuai jadwal, truk pengantar barang tiba sebentar lagi," tawar Christian.


"Em, bagaimana dengan kuncinya?" tanya Blaire malu-malu ketika Christian memandang ke arahnya dengan sorot penuh cinta.


"Aaron langsung memberikannya padaku, sesaat sebelum pergi," jawab Christian sembari mengulum senyum.


"Oh, baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar." Blaire membalikkan badan dan kembali naik ke lantai dua. Gadis itu merapikan diri di kamarnya dengan tergesa-gesa.


Sementara Christian menunggu di teras depan sambil tetap menggendong Ainsley. "Apa kau sudah sarapan, Son?" tanyanya.


"Tentu saja sudah, Ayah. Permukaan piringku tadi sampai bersih dan licin," jawab Ainsley bangga.


"Baguslah." Christian tergelak, lalu mencium pipi putranya.


"Ayo." Tanpa permisi, Christian segera meraih pergelangan tangan Blaire menggunakan tangan kiri. Sedangkan Ainsley berada dalam gendongan di sebelah kanan. Perlakuan sederhana dari seorang Christian, yang dapat membuat hati Blaire begitu berbunga-bunga. Sejenak, dia terlupa akan hilangnya sosok Aaron. Blaire membiarkan Christian menuntunnya dengan hangat, hingga mereka tiba di depan rumah yang dulunya milik Aaron.


"Tunggu sebentar." Christian menurunkan Ainsley dengan hati-hati, lalu membuka kunci rumah. Bersamaan dengan itu, sebuah truk ekspedisi berhenti tepat di depan halaman.


"Kebetulan sekali, barang-barang yang kupesan sudah datang." Senyuman Christian semakin lebar, saat para petugas jasa tersebut menurunkan barang-barang dan menggotongnya masuk sesuai arahan sang pemilik rumah.


"Perabot milik siapa ini, Chris?" Blaire yang keheranan, terus mengikuti langkah Christian. sementara Ainsley sudah berlarian kesana kemari di ruangan yang masih kosong.


"Tentu saja milikku, Blaire. Memangnya milik siapa lagi," Christian tertawa pelan.


"Kau membelinya?" Blaire melotot tak percaya. "Perabot-perabot iu terlihat baru," pikir ibu satu anak tersebut


"Ya, aku membeli semuanya. Aku ingin memulai hidup baruku di rumah ini, bersama Ainsley dan juga ... dirimu. Itu pun jika kau bersedia," jawab Christian menatap sejenak kepada Blaire, kemudian beralih pada futniture yang harus segera ditata. "Lihatlah, semua barang yang kubeli merupakan keluaran terbaru. Aku juga sempat berpikir untuk merenovasi rumah ini, tapi itu rencana jangka panjang. Keluarga Walsh merawat tempat tinggal mereka dengan sangat baik."


"Ya. Nyonya Walsh memang orang yang sangat teratur. Dia tak membiarkan ada debu sedikit pun yang menempel pada permukaan setiap barang dalam rumahnya," timpal Blaire. Dia menggeser sebuah meja.


Christian pun segera membantunya. Mereka menata semua perabot, dari yang paling besar seperti sofa dan beberapa bufet kayu hingga karpet yang semuanya Christian beli dalam keadaan baru. Entah berapa banyak uang yang sudah pria itu keluarkan. Namun, semua tak sebanding dengan rasa bahagianya, karena dapat kembali tinggal di dekat kediaman Keluarga Shuterland.


Hingga menjelang tengah hari, semua pekerjaan sudah hampir selesai. Perabot yang tadi ditata, telah berada di posisinya. Begitu juga dengan tempat tidur. Ainsley yang terlalu asyik bermain di kasur baru sang ayah, bahkan hingga tertidur di sana karena kelelahan.


"Astaga, anak itu." Blaire berdecak pelan. Dia tersenyum melihat putra semata wayangnya yang sudah terlelap dalam posisi tidak beraturan.


"Biarkan Ainsley beristirahat. Seharian ini dia menjadi yang paling sibuk ke sana kemari," ujar Christian ikut tersenyum. Siapa yang menyangka bahwa jalan hidup akan membawa sang mantan pembunuh bayaran tersebut, pada sebuah keluarga kecil yang membuat dirinya merasa begitu yakin untuk memulai hal baru.


Christian kemudian menoleh kepada Blaire yang masih memandangi Ainsley. "Ayo ikutlah," ajaknya. Pria itu meraih pergelangan tangan Blaire, lalu menuntunnya ke bagian lain rumah dengan ukuran luas sama seperti kediaman milik Viktorija. "Ini adalah pintu menuju gudang bawah tanah. Aku tak tahu apakah Keluarga Walsh menggunakannya atau tidak. Namun, aku tetap harus membereskannya," ujar Christian. Dia membuka pintu yang dirinya tunjukkan tadi.


Setelah pintu itu terbuka, Christian kemudian mengajak Blaire untuk menuruni anak tangga. Gudang bawah tanah tersebut berukuran tidak terlalu luas, dengan pencahayaan memakai bohlam berwarna kuning.


"Sepertinya Nyonya Walsh telah meringankan pekerjaanmu, Chris," ucap Blaire setelah melihat kondisi gudang yang tertata rapi.


"Ya, kau benar. Aku hanya tinggal membersihkannya lagi. Anak laki-laki biasanya senang bermain di tempat seperti ini. Mereka menjadikannya sebagai markas rahasia," ujar Christian menoleh sesaat kepada Blaire.


"Iyakah?" Blaire menaikkan sebelah alisnya.


"Ya. Itu pengalamanku sewaktu kecil, tapi entah dengan Ainsley." Christian kemudian menggeser lemari tempat menyimpan beberapa dus tak terpakai. Setelah lemari dengan ukuran tidak terlalu besar itu berpindah dari tempatnya berada, Christian kemudian meraba permukaan dinding di baliknya lalu mendorong dengan perlahan.


Tanpa diduga, dinding tadi terbuka seperti sebuah pintu. Blaire pun begitu terkejut saat menyaksikan hal tersebut. "Ruangan apa itu, Chris?" tanyanya penasaran. Namun, Christian tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil, kemudian mengajak Blaire untuk masuk.


Setelah berada di dalam ruangan tadi, Blaire langsung terpaku dengan sorot tak percaya. Betapa tidak, tampilan di sana layaknya sebuah kamar. Terlihat sangat nyaman, dilengkapi berbagai perabotan termasuk televisi.


"Kamar siapa ini?" tanya Blaire lagi sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang tidak terlalu lebar tersebut.


"Ini adalah kamar yang sengaja kubuat untuk menyembunyikan Pandora. Adikku jarang sekali keluar dari sini,” jawab Christian menjelaskan. “Aku rasa Keluarga Walsh tidak mengetahui ruang rahasia ini. Kondisinya masih sama seperti saat kutinggalkan dulu.” Christian membuka kain penutup tempat tidur dan kursi kayu di dekat ranjang. Dia juga menyingkirkan plastik bening berukuran lebar yang melapisi televisi dengan meja kecilnya.


Sementara perhatian Blaire justru tertuju pada selembar foto yang dia temukan di atas meja dekat televisi. Foto yang sama, seperti dalam buku pemberian Christian dulu. “Kau sangat menyayangi Pandora,” ucapnya pelan.


“Dia satu-satunya yang kupunya di dunia ini. Sebelum aku memiliki Ainsley dan ….” Tiba-tiba, Christian meraih tubuh ramping Blaire kemudian menyandarkannya pada dinding. Dia menahan gadis itu agar tak ke manapun. “Menikahlah denganku, Blaire. Biarkan aku menjagamu dan juga Ainsley. Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan tak merestuimu bersama Aaron, karena kau hanya akan menjadi milikku.”


“Christian ….” Blaire tak dapat berkata apa-apa. Dia mere•mas t-shirt bagian depan yang dikenakan Christian, ketika pria itu menciumnya.


Sesaat kemudian, Christian melepaskan tautan. Dia meraih jemari Blaire, lalu memasangkan sebuah cincin di sana.