
Blaire tertunduk. Ditatapnya sandal berbulu tebal dengan bagian depan berbentuk kepala panda. Dia baru menyadari sesuatu. Ingatannya kemudian tertuju pada ketiga pria aneh yang menghadang mereka dan berbicara dengan Christian. "Eagle Eye," gumam Blaire lirih.
"Apa maksudmu, Blaire?" tanya Adam tak mengerti. Begitu juga dengan Viktorija yang menautkan alisnya seraya menoleh pada kedua muda-mudi itu secara bergantian.
Akan tetapi, Blaire tak menjawab apalagi menjelaskan sesuatu. Gadis itu bergegas kembali ke kamar, kemudian membuka tirai jendela kaca lebar-lebar. Dia menatatap ke luar, pada suasana malam di lingkungan tempat tinggalnya yang sunyi. Blaire masih berharap bahwa Christian ada di salah satu sudut kawasan itu dan tengah mengawasi dari kejauhan.
"Christian ...." desahnya lirih. Air mata kembali membasahi pipi dan sudut bibir gadis itu. "Apa kau pergi karena mereka?" tanya Blaire seperti pada dirinya. Sedikit demi sedikit, dia mulai mencerna alasan di balik kepergian Christian yang begitu tiba-tiba dan tanpa pamit sama sekali.
"Siapa kau sebenarnya? Siapa mereka? Siapa wanita yang mengaku sebagai istrimu itu?" Semua pertanyaan tersebut terus berputar dalam kepala Blaire. Dia berpikir dengan keras, tetapi tak menemukan satu jawaban pun. Akhirnya, Blaire memutuskan untuk merebahkan tubuh dalam posisi meringkuk.
Hal itu terus berlangsung hingga Viktorija masuk ke dalam kamar dan menegurnya. "Adam sudah pulang. Dia berpamitan sesaat setelah kau pergi dengan begitu saja dari ruang tamu." Viktorija kemudian berjalan mendekat ke arah jendela. Dia bermaksud untuk menutup kembali tirai yang terbuka.
Namun, dengan segera Blaire mencegahnya. "Tidak, Bu! Biarkan tirainya terbuka," ucap Blaire pelan.
"Kenapa?" tanya Viktorija tak mengerti. Dia memandang keheranan pada putri semata wayangnya.
"Biarkan tirainya terbuka, agar aku bisa melihat keluar sewaktu-waktu," sahut Blaire lagi.
"Untuk apa?" Viktorija kembali menautkan alisnya karena semakin tak mengerti dengan sikap dan ucapan putrinya.
"Siapa tahu tiba-tiba Christian datang dan menungguku di luar. Aku tahu dia pergi karena sebuah alasan yang tak bisa dirinya ungkapkan padaku. Dia ... dia ...."
"Hentikan, Blaire!" sergah Viktorija dengan tegas. Dia hampir saja terbawa emosi atas sikap anak gadisnya yang seakan masih mengharapkan seorang Christian. Padahal, sudah jelas pria itu sudah pergi dengan begitu saja.
"Sadarlah, Nak," tegur Viktorija dengan intonasi yang kembali lembut. Dia lalu berjalan ke dekat tempat tidur dan duduk di tepiannya. Kembali dibelai kepala Blaire yang masih meringkuk dengan posisi membelakangi. "Kumohon, jangan bersikap seperti ini," pinta wanita paruh baya berambut pendek tadi tanpa menghentikan belaian lembutnya.
"Sadarlah, Blaire. Christian telah pergi. Aku tahu jika hal seperti ini pasti akan terasa berat untukmu, karena itu pernah kukatakan agar jangan sampai jatuh cinta dengan terlalu dalam. Walaupun aku juga tidak dapat mengatur atau mengendalikan perasaan seperti itu, tapi setidaknya tetap jaga kewarasanmu. Jangan sampai kau hilang kendali atas segala akal sehat."
"Dengarkan aku, Blaire. Jatuh cinta dan mencintai seseorang memang terasa indah. Kau seperti memiliki dan dapat membuat setiap hal dalam hidupmu menjadi jauh lebih berwarna, lebih berarti, dan tentu saja itu merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa."
Viktorija mengecup kepala Blaire yang masih meringkuk dalam posisi membelakangi. Dia lalu beranjak dari duduknya. Wanita paruh baya tersebut bermaksud hendak keluar dari dalam kamar.
"Aku akan menunggunya kembali. Aku yakin jika Christian pasti akan menemuiku lagi," ucap Blaire seperti tidak ditujukan kepada siapa pun.
Viktorija yang sudah memegangi gagang pintu dan hendak memutarnya, kembali tertegun kemudian menoleh. "Terserah kau, Blaire. Namun, jika pada akhirnya dirimu merasa lelah, maka jangan memaksakan diri. Akan selalu ada tempat yang bisa kau jadikan sebagai sandaran, bukan hanya pundak seorang Christian," balasnya menanggapi.
"Selamat malam, Blaire. Ingatlah bahwa kau sudah mengatakan untuk selalu bangun pagi, tanpa harus menungguku berteriak membangunkanmu," pesan Viktorija sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar putrinya tersebut.
Kini, Blaire tinggal seorang diri di dalam kamar. Pandangannya kemudian tertuju pada jendela kaca dengan tirai yang terbuka lebar. Tampaklah langit pekat yang menyelimuti kota. Langit yang sama, seperti pada malam itu ketika dirinya dan Christian tengah asyik memadu kasih pada bangku taman, di bawah bukit. "Apakah kau juga tengah menatap langit yang sama sepertiku, Chris?" tanya gadis cantik bermata hijau tersebut lirih.
Angan Blaire terus melayang jauh, menembus dinding pemisah antara khayalan dan kenyataan. Makin lama semakin dalam. Terus menjauh hingga Blaire tak tahu sedang berada di mana dirinya saat itu. Gadis cantik tersebut tak tahu serta tidak dapat mengenali tempat yang tengah dia pijak kini.
"Blaire!" Terdengar suara berat yang teramat Blaire kenal. Dia memanggil nama gadis itu dengan cukup nyaring.
"Christian? Kau di mana?" Blaire memutar tubuhnya, mencari sosok si pemilik suara yang tak dapat dia temukan. "Christian!" panggil gadis itu lagi tanpa berhenti mengedarkan pandangan. Namun, tempat tadi terasa aneh. Dia dapat mendengar suara orang yang memanggilnya, tapi suaranya sendiri hanya memantul di dalam sana.
"Christian!" Blaire kembali berteriak dengan lebih kencang sambil terus berlari ke sana-sini, mencari sudut dari ruangan yang gelap sepenuhnya. Namun, lagi-lagi dia tak menemukan apapun. Tempat itu seakan tak memiliki dinding atau sekat dan seperti tak berujung.
"Christian!" seru Blaire, ketika dia melihat sosok tegap yang dicarinya tengah berdiri dalam jarak beberapa meter. Namun, pria itu seperti tak berniat untuk mendekat. Dia hanya tersenyum sembari melambaikan tangan.
Blaire kemudian berlari ke arah di mana Christian berada. Akan tetapi, makin gadis itu mempercepat geraknya, maka Christian pun terasa semakin menjauh. Pada akhirnya, Blaire merasa lelah. Gadis itu tertegun, kemudian membungkuk dan memegangi kedua lutut dengan telapak tangan sambil terengah-engah.
Lekat, sepasang mata hijau Balire memandang ke depan. Makin lama, sosok yang diyakininya sebagai Christian tadi tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan asap hitam yang membumbung ke udara.
Pengejaran yang sia-sia. Seberapa kuat pun Blaire berusaha untuk meraih seorang Christian, pada kenyataannya dia hanya mendapatkan rasa lelah yang tak terkira. Christian sudah menghilang seperti asap yang membumbung tinggi ke angkasa. Sesuatu yang tidak mungkin dapat dia raih kembali. Merelakannya akan jauh lebih baik.