
Christian kembali melu•mat bibir gadis berambut pirang tadi. Dia menekan pelan tubuh Blaire hingga semakin merapat pada dinding. Pria itu tampak begitu bersemangat. Dia bahkan sudah menjalarkan sentuhan bibirnya ke leher dan dada Blaire. Adegan panas tadi mungkin saja akan terus berlanjut pada sesuatu yang lebih membakar keduanya, andai Blaire tak segera menghentikan gerak nakal si pria. “Tidak, Chris. Aku takut Ainsley terbangun saat kita sedang ….” Blaire tak melanjutkan kata-katanya. Gadis cantik bermata hijau itu tertawa renyah.
“Astaga.” Christian berdecak pelan. “Aku lupa bahwa anak itu sedang tidur di dalam kamar.”
“Sebaiknya kita kembali ke atas. Jangan sampai Ainsley terbangun dan mencari kita,” ajak Blaire.
“Baiklah, tapi beri aku satu ciuman lagi.” Christian menahan langkah Blaire dengan cara merengkuh pinggang ramping gadis itu. Dia mendekap erat tubuh Blaire seraya kembali menciumnya meski tak terlalu lama.
“Aku akan berbicara dengan Nyonya Shuterland secepatnya,” ucap Christian beberapa saat kemudian, sambil berjalan menuju kamar.
“Terserah kau. Aku ikut saja,” balas Blaire sembari tersenyum lembut penuh arti.
“Baiklah,” balas Christian ikut tersenyum.
......................
Keesokan malamnya, seperti yang telah dijanjikan. Christian datang ke rumah Keluarga Shuterland. Dalam kesempatan itu, dia akan berbicara serius kepada Viktorija tentang maksud dirinya yang hendak meminang Blaire.
Sambil menikmati santapan di atas meja makan yang telah disiapkan dengan istimewa oleh Blaire, Christian mulai mengutarakan niat suci tersebut. “Aku tak ingin membuang waktu lagi. Makin cepat akan semakin baik,” ucap pria asal Meksiko tersebut setelah meneguk minumannya. Dia lalu melirik Blaire yang hanya tersipu atas lamaran dari pria pujaan hatinya.
“Aku rasa ini juga yang sudah dinantikan oleh Blaire,” sahut Viktorija ikut menoleh kepada putri semata wayangnya. “Oh astaga. Aku merasa begitu jahat. Namun, makin lama aku semakin sadar bahwa Blaire tak akan bahagia bersama Aaron. Ya, walaupun banyak wanita yang dapat bertahan atas nama keutuhan rumah tangga. Akan tetapi, jika hal itu dapat dicegah dari awal, maka kenapa harus memaksakan serta menyiksa diri. Aku bukan perempuan penganut paham demikian. Bagiku, pernikahan adalah kebahagiaan antar dua hati yang dipersatukan Tuhan. Aku sama sekali tak ingin Blaire merasa tak nyaman karenanya.”
“Anda adalah wanita yang sangat cerdas serta modern, Nyonya Shuterland. Jujur saja bahwa aku sangat menyukai wanita dengan pemikiran terbuka seperti Anda. Kuakui bahwa karakter seperti itu terkadang menyulitkan kami para pria, tapi ….” Christian mengarahkan tatapannya kepada Blaire. Sorot mata pria itu dipenuhi rasa cinta yang mungkin tak dapat dirinya ungkapkan secara gamblang. “Aku membutuhkan wanita berotak cerdas untuk menjadi ibu dari putraku, karena seorang ibu merupakan guru pertama dan yang paling besar pengaruhnya.”
“Kau sepenuhnya benar, Chris,” balas Viktorija. “Jadi, kapan pesta pernikahan itu akan dilaksanakan?” tanya janda cantik tersebut tanpa berbasa-basi lagi.
“Akhir bulan ini,” jawab Christian terlihat tenang. Namun, tidak dengan Blaire. Gadis itu tampak melotot karena merasa terkejut.
“Apa-apaan ini? Akhir bulan hanya sekitar dua minggu lagi,” protes Blaire saat dirinya mengantar Christian yang hendak pulang.
“Apa masalahnya? Kita bisa memulai persiapan dari sekarang. Kau tinggal menyusun daftar undangan dan menyerahkannya pada pegawai percetakan. Minta agar pembuatan kartu undangan pesanan kita dipercepat. Jika perlu langsung saja lunasi pembayaran dan beri sedikit bonus. Kau boleh mengundang siapa pun. Lagi pula, aku tak mengenal siapa-siapa di sini selain Keluarga Shuterland.” Christian terdengar begitu tenang dan menganggap semuanya semudah apa yang dia katakan.
“Astaga, Chris! Kau pikir semuanya semudah itu?” protes Blaire lagi dengan kesal.
“Kenapa kau harus merasa risau? Jika memang tak ada waktu untuk membuat kartu undangan, maka ajaklah tetangga terdekat saja. Pesan gaun pengantin, setelah itu kita pergi ke gereja. Pernikahan yang sederhana, bukan berarti tanpa makna. Setelah itu, aku akan melimpahimu dengan segala hal yang kau dan Ainsley butuhkan. Apapun. Semuanya. Sudahlah, Baire. Aku tidak terbiasa harus banyak bicara seperti ini. Pipiku terasa pegal.” Christian mengembuskan napas pelan.
“Kau memang menyebalkan!” dengus Blaire sambil melipat tangan di dada. Wajah cantiknya pun tampak cemberut.
Akan tetapi, lain dengan Christian. Pria tampan bermata abu-abu tersebut justru masih terlihat sangat tenang. Tatapannya terhadap Blaire pun tak berubah, masih dipenuhi dengan sorot penuh cinta. “Apakah Ainsley sudah tidur?” tanyanya beberapa saat setelah puas memandangi wanita yang tak lama lagi akan menjadi calon istrinya.
“Ainsley tidur cepat malam ini. Dia pasti akan protes padaku saat terbangun besok pagi, karena tak ikut makan malam denganmu,” ujar Blaire dengan raut wajah yang berangsur berubah.
“Melakukan apa?” tanya Blaire penasaran.
Namun, Christian tak menjawab. Pria itu menarik tangan Blaire dengan lembut, lalu menuntunnya keluar dari halaman. Dia membawa gadis cantik berambut pirang tadi ke rumah yang baru dibelinya dari Keluarga Walsh beberapa hari lalu.
“Chris ….” Blaire membelalakan mata kepada pria tampan yang hanya tersenyum padanya, ketika mereka telah berada di dalam kamar. “Apa maksud semua ini?” Blaire mengangkat sebelah alisnya.
“Kau tahu bukan bahwa tempat tidurku masih baru,” ucap Christian menyiratkan banyak makna.
“Lalu?” Blaire mengernyitkan kening.
“Berhubung kau akan menjadi istriku, itu artinya kau akan tidur di sana setiap malam. Aku ingin kau memastikan apakah tempat tidur tersebut nyaman atau tidak untukmu. Jadi ….” Christian memandang lekat wanita cantik di hadapannya.
Sementara Blaire hanya terdiam. Dia telah sangat memahami maksud dari ucapan pria asal Meksiko tersebut. Blaire tersenyum lembut dan tak menghindar, ketika Christian semakin mendekat lalu membelai rambut serta wajahnya. Gadis itu justru terlihat menyukai hal tersebut. Kedua matanya terpejam diiringi suara desa•han pelan tertahan, saat dia kembali merasakan betapa nikmat sentuhan bibir seorang Christian.
Dua hal yang paling berkesan dan tak akan pernah tergantikan oleh apapun bagi Blaire, ialah ketika moment kelahiran Ainsley dan juga saat dirinya menghabiskan waktu bersama Christian. Gadis itu seakan ingin menghentikan perputara jarum jam, agar semuanya tak segera berakhir. Segala keindahan duniawi rasanya tak berarti apa-apa. Cantiknya Kota Edinburgh pun seakan tak sempurna, jika hanya dia nikmati seorang diri.
Kehadiran Christian mengubah segalanya. Pria asal Meksiko itu memang teramat istimewa bagi Blaire. Terlepas dari segala kisah kelam masa lalunya, tapi Christian merupakan sosok baik dan penuh kasih. Dia adalah pria lembut, meskipun karakter yang Christian tunjukkan terlihat sebaliknya. Sikap dan cara pria itu dalam memperlakukan Blaire, benar-benar telah berhasil membuat gadis dua puluh sembilan tahun tersebut selalu merasa terbuai.
“Apa kau merindukanku, Nona Shuterland?” bisik Christian menghangat di telinga Blaire. Christian melepas T-Shirt lengan panjang yang dia kenakan, lalu melemparnya begitu saja. Pria tampan itu kembali mendekat kepada Blaire, yang sedari tadi tak mengalihkan pandangan dari dirinya.
Sementara gadis itu memejamkan mata sekali lagi. Dia tak ingin berkata apapun, selain meresapi sentuhan bibir pria yang selama ini menjadi pengisi hatinya. Blaire merasa bagaikan terbang ke angkasa, ketika lengan kokoh Christian mendekap erat tubuh rampingnya yang masih berpakaian lengkap. “Ah … Chris ….” Desa•han manja Blaire terdengar begitu indah di telinga Christian, yang tengah asyik menciumi leher jenjang berhiaskan kalung kecil itu.
Blaire mencari pegangan, hingga dia mendapatkan lengan kuat Christian. Gadis cantik tadi mengusapnya dengan lembut serta penuh perasaan. Blaire ingat bahwa dulu dia pernah tertidur nyenyak dalam dekapan lengan milik pria tersebut. Rasanya memang hangat dan begitu nyaman.
Sentuhan tangan Blaire kemudian beralih pada dada, lalu turun ke perut. Semuanya terasa kokoh. Jemari lentik gadis itu bermain sesaat pada permukaan perut Christian. Blaire pun tersenyum. Dia mengangkat wajah, lalu memandang pria tampan di hadapannya.
Dalam suasana temaram, gadis itu samar menatap sepasang mata abu-abu milik si pria. Makin lama, semakin dalam. Terbayang oleh Blaire, seperti apa bentuk mata serta cara pria berambut gelap tadi melihat dirinya. “Aku mencintaimu, Chris,” ucap Blaire pelan. Dia mencium Christian dengan lembut. Setelah itu, Blaire mendudukan pria tadi di ujung tempat tidur.
Christian sendiri hanya diam memperhatikan, ketika Blaire melepas pakaiannya satu per satu hingga tanpa sisa. Kini, tubuh semampai ibunda Ainsley tersebut tampak jelas, dengan lekukan indahnya dan juga sesuatu yang membuat Christian menelan ludah dalam-dalam.
Christian langsung menyambut saat Blaire mendekat. Lengan kokohnya pun melingkar erat pada pinggang ramping gadis itu. Christian bahkan membenamkan wajahnya di dada Blaire, hingga si pemilik rambut pirang tadi kembali memejamkan mata sambil mere•mas lembut tengkuk kepala pria tersebut.
Malam terus merayap pelan. Dalam balutan suasana sepi, kedua sejoli tadi mengisi kamar berpencahayaan temaram itu dengan kehangatan. Desah pelan nan manja, berbaur dan saling berpacu bersama helaan napas berat memburu. Blaire takluk dalam kegagahan Christian. Gadis cantik tadi menikmati setiap hentakan yang terasa menyiksa gairahnya. Si pemilik mata hijau tersebut tak jua merasa puas, meski peluh telah membasahi tubuh mereka.
Sementara Christian tersenyum puas, saat melihat wajah lusuh Blaire yang terus berusaha mengimbangi dirinya. Pria itu merasa semakin berkuasa, atas tubuh yang makin lama semakin kehilangan tenaga untuk melakukan perlawanan. Blaire yang tadi seakan menantang, pada akhirnya hanya dapat terkulai tak berdaya ketika Christian menyiksanya dengan keras dan tanpa ampun. “Apakah ini sudah cukup, Nona Shuterland?” bisik Christian yang merasa telah menang telak dalam pertarungan sengit tadi.
Blaire tak menjawab. Dia menatap pria tampan tersebut, kemudian menyunggingkan sebuah senyuman. Gadis cantik tadi kembali memejamkan mata, ketika dia merasakan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. Bersamaan dengan itu, sebuah ciuman mesra pun mendarat di bibir Blaire sebagai penutup dari permainan panas yang telah mereka lakoni.