
Hari, bulan, tahun, datang silih berganti dengan tanpa terasa. Semua berlalu bagaikan hembusan angin yang ada tapi tak terlihat. Musim demi musim dilalui. Blaire terus menanti dalam sebuah harapan. Selama itu pula, putranya Ainsley terus tumbuh.
Ainsley kecil kini telah berusia sekitar lima tahun.
Waktu yang sangat panjang untuk sebuah perjalanan hidup seorang Blaire Shuterland. Dia menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu tunggal. Namun, semua itu tak terasa begitu berat, karena di sisi Blaire ada sang ibu yang selalu membantu dan tentu saja Aaron Walsh yang tak pernah bosan mendampingi, serta memberikan perhatian istimewanya terhadap Blaire maupun Ainsley.
“Hey, Jagoan. Lihatlah. Aku membelikanmu robot kecil ini. Bukankah kemarin kau ....” Aaron tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia melihat Blaire sudah berdiri sambil melipat tangan di dada. Pria tampan berambut pirang itu pun meringis kecil. “Blaire ... aku janji ini yang terakhir ....” Aaron menggaruk tengkuk kepalanya. Dia terlihat sangat konyol.
“Tiga hari yang lalu kau juga mengatakan hal yang sama, Aaron. Selalu saja ‘ini yang terakhir’. Lalu, apa buktinya? Kau terus saja memanjakan Ainsley dengan mainan-mainan mahal seperti itu,” protes Blaire. Dia bahkan melotot kepada putra semata wayangnya yang hendak melakukan protes.
“Ibuku menyebalkan, Paman,” bisik Ainsley kepada Aaron, setelah Blaire berlalu ke dapur.
“Wajar saja. Ibumu tidak pernah dibelikan mainan sebagus ini,” balas Aaron menyeringai lucu. “Lihatlah. Jika kau menekan tombol merah, maka robotnya akan bergerak. Dia juga bisa mengeluarkan cahaya dan suara yang keren,” jelas Aaron sambil menunjukkan cara kerja mainan yang baru saja dia beli untuk Ainsley.
Ainsley pun bertepuk tangan dengan riang, melihat mainan robotnya melakukan banyak aksi. Anak itu tersenyum lebar, kemudian segera menghambur ke dalam pelukan Aaron.
“Terima kasih, Paman. Ini mainan yang sangat bagus,” ucapnya.
Perasaan dalam diri Aaron pun kian menghangat. Pria itu tersenyum lebar, karena kasih sayang yang selama ini dia berikan untuk Ainsley berbuah manis. Anak itu juga tampak sangat menyayangi dirinya. “Apapun akan kuberikan untukmu, Ains. Segalanya,” ucap Aaron setelah mengurai pelukan, kemudian mencubit pipi tembem si anak. “Kau mainlah dulu. Aku ingin bicara dengan ibumu.” Aaron menyentuh pucuk kepala Ainsley, kemudian beranjak dari duduknya. Dia menghampiri Blaire yang tengah berada di dapur.
“Sibuk sekali, Nona Shuterland,” sapanya hangat. “Apa ada yang bisa kubantu?” tawar Aaron seraya mendekat. “Aku bisa mencuci piring, menata sendok dan garpu, merapikan taplak meja, dan ....”
“Bisakah kau diam? Aku sedang marah padamu.” Blaire mendengus pelan.
Sedangkan Aaron justru hanya tertawa. Dia tahu jika Blaire kesal karena dirinya kerap memanjakan Ainsley secara berlebihan.
Namun, bagi Aaron itu bukan sesuatu yang salah. “Astaga, kau galak sekali,” ujar pria bermata biru tadi. “Lihatlah, Blaire. Ainsley sangat bahagia dengan mainan barunya. Bukankah itu bagus?” Aaron berdiri dengan setengah bersandar pada meja dekat bak cuci piring, di mana Blaire tengah sibuk membersihkan perabot bekas memasak beberapa saat yang lalu.
“Aku tahu itu, tapi kau baru membelikannya mainan mahal tiga hari yang lalu,” protes Blaire.
“Tak apa, Blaire. Lagi pula, itu tidak memberatkanku sama sekali. Aku justru sangat bahagia karena bisnisku saat ini berkembang pesat. Keputusan untuk berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri ternyata tak harus kusesali jika hasilnya seperti ini,” tutur Aaron yang selalu memperlihatkan raut wajah ceria dan hangat.
Blaire yang baru menyudahi pekerjaannya, segera menoleh. Dia lalu melepas apron, kemudian menggantungkannya di tempat biasa dia meletakkan benda tersebut. “Aku turut senang mendengarnya, Aaron. Kuharap akan seterusnya seperti ini. Kau pria pekerja keras dan juga sangat baik. Semua itu pasti akan memberikan balasan yang positif untukmu.” Blaire ikut berdiri di sebelah Aaron. Sementara pandangannya tertuju pada Ainsley yang tengah asyik dengan mainan barunya.
“Bagaimana jika malam ini kita keluar?” tawar Aaron seraya menoleh kepada Blaire.
“Ke mana?” Blaire membalas tatapan pria tampan di sebelahnya. Tak sekalipun Aaron memandang dia tanpa sorot lembut penuh cinta. Sulung dari tiga bersaudara tersebut, begitu sabar dalam menghadapi Blaire yang tak juga bersedia membuka hati untuk pria lain.
“Bagaimana jika menonton ke bioskop? Sayang sekali karena cuaca cerah seperti ini tidak kita manfaatkan dengan baik,” ujar Aaron setengah merayu.
Blaire menggaruk alisnya. Setelah itu dia lalu tersenyum. “Katakan, apakah aku boleh mengajak Ainsley atau ... atau ini merupakan acara kencan berdua?”
“Pilihan yang sangat sulit untuk kujawab. Namun, jika kau anggap ini sebagai kencan, maka ....” Aaron mendehem pelan. Dia lalu tersenyum. “Aku harap kita pergi berdua saja,” lanjut pria itu kemudian.
“Oh baiklah.” Blaire manggut-manggut. “Kalau begitu sebaiknya kau segera pulang, lalu jemput aku pukul tujuh nanti malam. Sekarang aku akan memandikan Ainsley dan memberinya makan yang banyak agar dia tidur nyenyak,” ujar gadis itu diiringi tawa renyah.
“Astaga. Kau sungguh ibu yang luar biasa, Blaire.” Aaron berdecak seraya menggeleng pelan. Dia lalu menegakkan tubuh, kemudian menghampiri Ainsley yang masih asyik bermain seorang diri. “Hey, Jagoan! Aku pulang dulu. Sekarang mandilah sebelum ibumu berteriak keras,” suruhnya sembari mengacak-acak rambut anak itu.
Sementara Blaire hanya berdiri memperhatikan adegan tadi. Untuk sejenak, gadis itu berpikir. Usianya kini sudah dua puluh delapan tahun. Sekian lama dia menantikan seorang Christian dan berharap pria itu kembali. Namun, ternyata pria tampan yang mengaku berasal dari Meksiko tersebut tak sekalipun menunjukkan batang hidungnya.
Sementara itu di sisi lain, Aaron memberikan segenap perhatian dan juga kasih sayang terhadap Ainsley. Sang tetangga bahkan bersikap seakan dialah ayah dari anak kecil itu. Satu kegalauan yang muncul dalam diri seorang Blaire. Haruskah dia mengakhiri segala penantian semunya, dan mulai membuka hati untuk yang lain?
Malam telah tiba. Blaire pun sudah bersiap dengan skinny jeans dan sebuah crop top yang dilapisi jaket. Gadis itu juga menggerai rambut panjangnya yang indah. Blaire kemudian mengempaskan napas pelan. Dia menatap dirinya dalam pantulan cermin. Sudah lama sekali Blaire tidak berdandan. Namun, malas rasanya untuk memoleskan alat-alat rias yang ada di atas meja.
Baru saja Blaire meraih sebuah lipstik, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan di pintu kamar. “Blaire! Aaron sudah menunggumu!” seru Viktorija dengan tidak terlalu nyaring.
“Ya, bu!” sahut Blaire. Dia meletakkan kembali lipstik tadi pada tempatnya. Blaire hanya merapikan rambut, kemudian segera keluar dari dalam kamar.
Di ruang tamu, terdengar Aaron yang tengah bercanda bersama Ainsley. Sementara Viktorija sesekali menimpali keakraban cucu dengan putra dari tetangganya tersebut. Bagi janda yang masih tetap terlihat bugar itu, Aaron adalah sosok ideal yang layak untuk mendampingi putrinya.
“Selamat malam,” sapa Blaire yang segera disambut oleh Ainsley. Anak itu menghambur ke dalam pelukan sang ibu. “Jangan tidur terlalu larut. Jangan membantah ucapan nenek, dan juga jangan lupa gosok gigi. Saat berkumur jangan sampai kau menelan airnya,” pesan Blaire kepada sang putra.
“Kenapa Ibu terus berkata ‘jangan’?” tanya Ainsley.
“Itu artinya kau tak boleh melakukannya, Ains,” sahut Aaron, membuat anak itu segera menoleh padanya untuk sesaat.
Setelah itu, Ainsley kembali mengarahkan pandangan kepada sang ibu.
“Ibu juga jangan pulang terlalu malam,” ucapnya polos.
Sementara ketiga orang dewasa yang mendengar ucapan polosnya tadi segera tertawa. “Kau tidak usah khawatir, Ains. Aku akan mengembalikan ibumu tepat waktu,” sahut Aaron sambil berdiri. Dia lalu menghampiri Blaire, kemudian berdiri di sebelah gadis itu. “Apa kau sudah siap?” tanyanya. Sedangkan Blaire hanya menanggapi dengan sebuah isyarat.
“Kalian pergi saja. Jangan khawatir. Ainsley akan tidur tepat waktu,” ucap Viktorija.
“Baiklah, Bu. Kami pergi dulu,” pamit Blaire. Dia lalu mencium pipi Viktorija. Setelah itu, Blaire juga tak lupa untuk berpamitan kepada buah hatinya yang segera melambaikan tangan, saat Aaron telah membuka pintu dan membawa dirinya keluar dari dalam rumah.
Malam itu memang sangat cerah. Suasana pun terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Orang-orang berlalu lalang dengan segala obrolan dan keceriaan mereka. Tak jauh berbeda dengan apa yang Aaron rasakan saat itu.
Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, ketika dirinya dapat mengajak seorang Blaire pergi berdua saja. Selama ini, mereka kerap ke mana-mana bertiga atau bahkan berempat dengan Viktorija. Tak jarang pula hingga berlima, jika Anette memaksa untuk ikut.
“Malam ini adalah pemutaran perdana film yang sudah lama kutunggu,” ucap Aaron yang terlihat penuh semangat. Usianya sudah tiga puluh tahun, tapi dia masih memiliki jiwa muda yang teramat besar.
“Aku ikut saja,” sahut Blaire yang duduk di sebelah pria itu. Mereka pun tampak begitu serius menyimak adegan demi adegan yang disuguhkan dalam film tersebut.
Hingga sekitar dua jam kemudian, keduanya telah keluar dari gedung bioskop. Aaron lalu mengajak Blaire untuk menikmati kudapan yang dijajakan di jalanan yang mereka lalui. Keduanya terlihat sangat akrab, saling berbagi canda dan tawa layaknya pasangan kekasih.
“Ainsley pasti sudah tidur, tapi aku tetap harus pulang tepat waktu,” ucap Blaire ketika Aaron telah mengantarnya hingga depan rumah.
“Terima kasih untuk malam ini,” ucap Aaron yang tak bisa melepaskan senyumannya.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau telah melakukan banyak hal untuk kami. Untukku dan juga Ainsley,” balas Blaire.
“Jangan bicara seperti itu, Blaire. Aku senang bisa melakukannya. Aku bahagia menjadi bagian dari kalian ... um maksudku ....” Aaron tampak kebingungan untuk meralat kata-katanya. Terlebih karena tatap mata Blaire saat itu tampak sangat berbeda.